Seorang wanita bernama Nirmala harus kembali ke desa terpencil tempat kakeknya tinggal setelah menerima surat misterius. Di desa itu, ada mitos tentang "Wewe Putih", sosok yang konon mencuri anak-anak, namun hanya anak yang "dilupakan" oleh keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
Malam di pinggiran Jakarta biasanya bising oleh suara kendaraan, namun di dalam rumah Ibu Sekar, suara itu telah lama lenyap, digantikan oleh kesunyian yang berat dan "berdenyut". Bau minyak telon yang tadinya menenangkan kini telah kalah oleh aroma tajam tanah makam yang basah dan bau anyir serbuk gergaji yang menyumbat saluran udara.
Nirmala meringkuk di atas ranjang, tubuhnya melengkung dalam posisi janin yang menyakitkan. Setiap tarikan napasnya terdengar seperti suara kertas amplas yang digesekkan ke permukaan logam. Paru-parunya terasa penuh, seolah-olah ribuan spora jamur telah mekar di dalamnya.
"Sakit... Ibu Sekar, tolong..." rintih Nirmala. Suaranya bukan lagi suara gadis dua puluh tahunan suaranya pecah, bergetar dengan nada ganda yang menyerupai gergaji yang memotong tulang.
Ibu Sekar mendekat dengan tangan gemetar, membawa mangkuk berisi air doa. Namun, saat ia menyentuh dahi Nirmala, ia memekik dan menarik tangannya kembali. Kulit dahi Nirmala bukan lagi lunak, melainkan keras dan dingin seperti batu nisan, dengan guratan-guratan halus menyerupai serat kayu tua yang mulai muncul ke permukaan.
Tiba-tiba, Nirmala menjerit melengking. Jari kelingking tangan kanannya bergetar hebat. Dengan suara plok yang menjijikkan, kuku kelingkingnya terlepas begitu saja, jatuh ke atas sprei putih yang seketika ternoda oleh cairan hitam kental. Dari lubang bekas kuku yang menganga itu, bukannya darah merah yang mengalir, melainkan tunas kayu berwarna pucat yang tajam dan kasar. Tunas itu tumbuh dengan kecepatan yang terlihat oleh mata, merobek daging jari Nirmala dari dalam, mencuat keluar seperti taring yang haus.
"Allahu Akbar... Allahu Akbar..." Ibu Sekar mundur hingga menabrak lemari. Matanya terbelalak melihat kuku-kuku Nirmala yang lain mulai menghitam dan terangkat dari bantalannya, satu per satu siap untuk lepas.
"Panas, Bu... di dalam dadaku ada yang terbakar!" Nirmala mencengkeram dadanya sendiri. Kulit di lengannya mulai pecah-pecah, mengelupas seperti kulit pohon yang tersambar petir. Dari balik luka-luka itu, getah hitam yang kental dan panas merembes keluar, menetes ke lantai ubin dan mengeluarkan suara mendesis, meluluhkan keramik hingga berlubang.
Di dalam gua yang gelap di lereng Merapi, Arka tidak lagi merasakan tubuhnya sendiri. Pikirannya telah ditarik paksa oleh Aki ke dalam inti dari kegelapan Sandiwayang. Di depan matanya, ia melihat sebuah adegan yang membuatnya ingin memuntahkan seluruh isi perutnya.
Ia melihat Baskoro, ayah Nirmala, berdiri di depan akar raksasa Pohon Randu Alas yang sedang berdenyut. Di tangan Baskoro ada sebuah bungkusan kain kafan yang basah oleh darah. Saat bungkusan itu dibuka, Arka melihat sebuah jantung manusia yang masih berdetak tapi jantung itu bukan milik Baskoro.
Baskoro menanam jantung itu ke dalam sebuah lubang di akar pohon, menyiramnya dengan air mata dan darahnya sendiri sambil merapalkan mantra yang membuat udara di sekitar mereka membeku.
"Hiduplah, Nirmala... Hiduplah dari sisa nyawa mereka yang telah kalah." bisik Baskoro dalam memori itu.
Arka menyadari kebenaran yang mengerikan. Nirmala tidak diciptakan dari kehampaan. Jantung yang sekarang berdetak di dada Nirmala adalah milik seorang tumbal sebelumnya yang "dicuri" oleh Baskoro agar anaknya bisa memiliki kehidupan. Nirmala adalah persembahan yang diberi nyawa, sebuah paradoks biologis yang ditenun dari sisa-sisa kematian.
"Kau lihat, Cucu?" suara Aki bergema di kepala Arka. "Mereka tidak menginginkan Nirmala karena dia tumbal. Mereka menginginkan jantung itu kembali karena itu adalah bagian dari mesin abadi mereka. Jantung yang ditanam ayahmu adalah jangkar yang menahan Sandiwayang agar tetap bisa menjangkau dunia manusia."
Tiba-tiba, sesosok makhluk bertubuh tinggi besar dengan kulit yang menyerupai kulit pohon yang membusuk muncul di depan visi Arka. Wajahnya tidak rata, dengan lubang-lubang tempat ulat kayu menggeliat keluar masuk. Itulah Sang Penjaga, manifestasi fisik dari kehendak Randu Alas. Ia mengulurkan tangannya yang panjang, kukunya yang menyerupai parang siap mencabik jiwa Arka.
BRAAK!
BRAAK!
Pintu depan rumah Ibu Sekar dihantam oleh sesuatu yang memiliki kekuatan raksasa. Seluruh bangunan berguncang. Di luar jendela, kabut tidak lagi hanya putih, tapi berubah menjadi abu-abu pekat yang bergerak-gerak seperti ribuan tangan yang mencoba masuk.
"Nirmala... buka pintunya... Ibu ingin melihat wajahmu untuk terakhir kali..."
Suara itu kini berada tepat di balik kaca jendela kamar. Nirmala menoleh. Apa yang ia lihat membuat kewarasannya hampir hilang.
Wanita berbaju biru itu menempelkan wajahnya ke kaca. Tapi itu bukan lagi wajah ibunya. Wajah itu telah terbelah secara vertikal, dari dahi hingga dagu. Di dalam belahan yang menganga itu, tidak ada tengkorak atau otak, melainkan gumpalan akar yang saling melilit dan ribuan serangga tanah yang merayap keluar. Mata wanita itu berada di posisi yang salah satu di kening, dan satu lagi di pipi bagian bawah keduanya menatap Nirmala dengan lapar.
"Ibu..." Nirmala merangkak mundur, namun kakinya yang sudah mengeras seperti kayu berderak keras, membuatnya sulit bergerak.
Wanita itu mulai menghantamkan kepalanya ke kaca jendela.
DUAK!
DUAK!
DUAK!
Darah hitam dan getah menyiprat ke kaca, menutupi pandangan Nirmala. Setiap kali kepala itu menghantam kaca, suara yang keluar bukan suara benturan, melainkan suara jeritan ratusan orang yang digabung menjadi satu.
Ibu Sekar mencoba mendekat untuk menutup gorden, namun tiba-tiba lantai ubin di bawah kakinya pecah. Akar-akar hitam yang besarnya setebal paha manusia mencuat keluar, melilit kaki Ibu Sekar dan menariknya jatuh.
"Arka! Tolong, Nak!" teriak Ibu Sekar.
Ia mencoba meraih tasbihnya, namun sebuah akar yang lebih kecil masuk ke dalam mulutnya, membungkam suaranya dengan rasa pahit tanah dan lumut. Ibu Sekar ditarik perlahan menuju sudut ruangan yang gelap, di mana lantai rumah itu seolah-olah telah berubah menjadi mulut tanah yang terbuka lebar.
Nirmala yang melihat itu mencoba berdiri. Ia merasa sangat haus bukan haus akan air, tapi haus akan getah. Ia merasa jiwanya ditarik oleh sosok di balik jendela. Dengan gerakan yang kaku dan dipenuhi rasa sakit dari kuku-kukunya yang terus lepas, ia berjalan menuju pintu kamar mandi, berniat mencari air untuk menyiram Ibu Sekar.
Namun, saat ia membuka pintu kamar mandi, ia tidak menemukan bak mandi atau wastafel. Di depannya terbentang kegelapan yang tak berujung. Bau udara yang masuk bukan lagi bau sabun, melainkan bau hutan rimba setelah hujan darah.
Di tengah kegelapan itu, di kejauhan, berdiri Pohon Randu Alas yang raksasa, bercahaya merah seperti bara api. Di bawah pohon itu, puluhan sosok tanpa wajah sedang berdiri menunggu, menengadahkan tangan mereka.
"Masuklah, Nirmala... Kembalilah ke asalmu." bisik suara-suara itu dari dalam kegelapan.
Nirmala berdiri di ambang pintu, kakinya gemetar. Separuh tubuhnya kini sudah tertutup serat kayu kecokelatan yang kasar. Ia menoleh ke belakang, melihat Ibu Sekar yang hampir seluruh tubuhnya dililit akar, dan melihat "Ibu" yang sedang memecahkan kaca jendela dengan wajah terbelahnya.
Tepat saat kaca itu pecah dengan suara denting yang memekakkan telinga, sosok berbaju biru itu melompat masuk ke dalam kamar. Ia merangkak di dinding seperti laba-laba, gerakannya patah-patah dan mengeluarkan suara tulang yang remuk.
"Jantungku... berikan jantungku, Anak Terkutuk!"
Sosok itu melompat ke arah Nirmala, tangan kayunya yang tajam mengincar tepat ke arah dada Nirmala.
Untuk Othor Juga... Selamat Hari Raya ya, Maapkan pembaca ini yang mungkin sering ngeluh di komentar🤣Mohon maap lahir dan batin kak🙏🙏🙏