''Semua laki-laki sama, termasuk kamu."
Duniaku hancur saat tahu Ayah punya keluarga lain. Malam itu juga, aku pergi meninggalkan rumah, kenangan, dan laki-laki yang paling mencintaiku tanpa satu pun kata pamit. Bagiku, cinta hanya sebuah kepalsuan.
Lima tahun berlalu, aku kembali sebagai wanita mandiri yang keras hati. Namun, takdir mempertemukanku lagi dengannya di sebuah persimpangan.
Dia tidak lagi mengejarku. Dia hanya memilih duduk di sampingku saat aku menangis, mendengarkan tanpa banyak tanya, dan menjagaku dari kejauhan.
Apakah aku sanggup membuka hati, saat bayang-bayang pengkhianatan Ayah masih menghantui? Bisakah aku berdamai dengan luka, jika memaafkan saja terasa begitu mustahil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Malam semakin larut, namun butik masih terasa hangat oleh pendar lampu kristal di tengah ruangan. Aku sedang membantu Ibu merapikan beberapa gaun display saat suasana menjadi sunyi, hanya ada suara detak jam dinding dan deru halus mesin jahit di ruang belakang yang sudah mati.
"Rana," panggil Ibu pelan sambil melipat sehelai kain sutra. "Apa kamu tidak pernah merasa lelah?"
Aku menoleh, menatap wajah Ibu yang kini tampak begitu tenang. "Lelah kenapa, Bu?"
"Lelah menyimpan semuanya sendirian. Ibu tahu, sejak kita pindah ke sini, kamu tidak pernah benar-benar membiarkan siapa pun masuk ke hidupmu. Kamu bekerja seperti mesin, kamu menjaga Ibu seolah-olah dunia ini akan menyerang kita setiap saat."
Aku terdiam, jari-jariku tanpa sadar meraba tekstur kain yang kasar. "Rana hanya ingin memastikan kita nggak akan pernah merasakan sakit yang sama lagi, Bu. Rana nggak butuh siapa-siapa selama ada Ibu."
Ibu berjalan mendekat, lalu menggenggam tanganku. "Ibu bangga padamu, Rana. Kamu asisten manajer yang hebat, kamu bisa beli mobil dari tabungan kita, kamu sudah menata hidupmu dengan luar biasa. Tapi, Nak... jangan sampai kamu membangun tembok yang begitu tinggi sampai kamu sendiri lupa cara untuk merasa bahagia."
Aku menunduk. Bayangan wajah Farez di mobil tempo hari kembali muncul. Kalimatnya tentang "jangan jadikan kesuksesanmu sebagai penjara" seolah bergema lagi, kali ini melalui suara Ibu.
"Rana bahagia begini, Bu. Melihat Ibu sehat dan butik ini ramai, itu sudah cukup."
Ibu tersenyum tipis, tapi matanya menyimpan sorot yang dalam. "Dulu, Ibu juga berpikir begitu. Ibu pikir dengan menutup diri dan menangis setiap malam, Ibu sudah melindungi kamu. Tapi Ibu salah. Ibu baru merasa benar-benar hidup saat Ibu berani membuka butik ini, saat Ibu berani memaafkan masa lalu."
"Ibu... sudah benar-benar memaafkan Ayah?" tanyaku lirih, sebuah pertanyaan yang selama lima tahun ini selalu kutahan.
Ibu mengangguk mantap. "Bukan memaafkan perbuatannya, Rana. Tapi memaafkan kenyataan bahwa dia pernah ada dalam hidup kita. Ibu sudah berdamai dengan luka itu. Dan Ibu harap, suatu saat nanti, kamu juga bisa begitu. Bukan untuk dia, bukan untuk laki-laki mana pun, tapi untuk dirimu sendiri."
Malam itu, setelah butik tutup, aku berdiri di teras rumah sambil menatap langit malam yang bersih. Kata-kata Ibu tentang "berdamai dengan luka" terasa jauh lebih berat daripada semua pekerjaan di kantor.
Aku merasa sudah cukup kuat, tapi ternyata aku hanya sedang bersembunyi. Aku sukses, aku mandiri, tapi di dalam sini, aku masih Rana lima tahun lalu yang selalu ketakutan setiap kali melihat siluet laki-laki di persimpangan jalan.
Besok, aku harus kembali ke kantor. Kembali menghadapi Farez yang penuh sindiran dan Bagaskara yang penuh kekaguman. Dan untuk pertama kalinya, aku bertanya pada diriku sendiri: Sampai kapan aku harus terus berlari?
Sinar matahari pagi yang masuk lewat jendela kantor tak mampu menghangatkan jemariku yang mendadak dingin. Di atas meja, sebuah memo dari Pak Hanan tergeletak angkuh: Peninjauan Lokasi Proyek Wira Pratama – Pukul 10.00.
Ini adalah ironi terbesar. Aku, yang setiap sore membantu Ibu menjahit harapan di butik kami yang kecil namun hangat, hari ini harus menginjakkan kaki di gedung yang menjadi cikal bakal kekaisaran butik Ayah.
"Mbak Rana, sudah siap?" Maya melongok dari balik pintu. "Pak Bagaskara sudah menunggu di lokasi. Katanya, Pak Farez dari Abiwangsa juga akan hadir untuk memastikan koordinasi distribusi kain dan logistik butik berjalan lancar."
Aku mengangguk, menyambar kunci mobil putihku. "Aku berangkat sekarang, May."
Lokasi itu adalah Wira Pratama Signature, butik pusat yang paling mewah. Begitu aku memarkirkan mobil, dadaku berdenyut nyeri. Aku ingat tempat ini. Dulu, Ayah pernah membawaku ke sini saat peresmian, mengangkatku tinggi-tinggi di antara deretan gaun mahal dan berjanji bahwa suatu hari akulah yang akan mendesain gaun-gaun di sini.
Janji itu kini menjadi sampah.
"Ibu Rana! Tepat waktu seperti biasa," sapa Bagaskara. Ia berdiri di depan pintu masuk butik yang sedang direnovasi. "Mari masuk, koleksi heritage yang akan kita rebrand sudah dipajang di dalam."
Aku melangkah masuk, aroma wangi parfum ruangan yang mahal bercampur dengan debu konstruksi menyapa indra penciumanku. Namun, langkahku tertahan saat melihat sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti di depan gedung. Sosok tinggi besar keluar dari sana.
Farez.
Sebagai Direktur Utama Abiwangsa Group yang memegang kendali logistik distribusi kain untuk butik-butik besar, kehadirannya di sini sangat krusial. Dia berjalan dengan langkah mantap, kemeja putihnya tampak sangat kontras dengan dinding butik yang sedang dibongkar.
"Selamat siang, Pak Bagaskara," sapa Farez formal. Matanya beralih padaku sejenak—tajam, menyelidik, namun penuh proteksi. "Saya ingin memastikan gudang penyimpanan kain sutra di butik ini memenuhi standar suhu agar tidak merusak seratnya."
"Tentu, Pak Farez. Mari ke lantai dua, itu akan menjadi area Private Suite untuk pelanggan VIP," Bagas menyahut penuh hormat.
Kami menaiki tangga melingkar yang megah. Sesampainya di atas, Bagas mulai menjelaskan visinya tentang "Warisan Butik Wira". Namun, fokusku terpecah. Di dinding sudut ruangan, sebuah foto besar masih tergantung. Foto Ayah, Bagas yang masih kecil, dan seorang wanita anggun yang memakai gaun rancangan pertama butik ini.
Duniaku serasa berputar. Wanita itu bukan Ibuku. Gaun itu bukan buatan tangan Ibuku.
"Ayah saya membangun butik ini sebagai simbol cinta untuk keluarga kami, Ibu Rana," suara Bagas terdengar seperti sembilu.
Aku berpegangan pada manekin kosong di sampingku, buku-buku jariku memutih. Rasa mual itu kembali lagi. Jadi, sementara Ibu menjahit baju orang lain untuk menyambung hidup kami di pengasingan, Ayah membangun istana kain ini untuk mereka?
"Ibu Rana? Wajah Anda pucat sekali," Bagas mendekat dengan raut cemas.
Sebelum Bagas sempat menyentuh bahuku, sebuah bayangan tinggi menutupi pandanganku dari foto itu. Farez sudah berdiri di depanku, membelakangi foto tersebut.
"Pak Bagaskara," suara Farez terdengar berat dan memerintah. "Sepertinya sirkulasi udara di area tekstil ini kurang baik untuk Ibu Rana. Bisa tolong ambilkan berkas spesifikasi kain dari asisten saya di lobi bawah? Saya perlu mendiskusikannya dengan Anda."
Bagas berkedip bingung, namun tidak berani membantah wibawa Direktur Abiwangsa itu. "Oh, baik. Maafkan saya. Tunggu sebentar."
Begitu Bagas menjauh, Farez tidak membuang waktu. Ia tidak menyentuhku, namun posisinya sangat dekat hingga aroma kayu cendananya mengubur bau debu butik ini.
"Keluar dari sini, Rana," bisiknya tajam. "Jangan paksa dirimu untuk meninjau 'istana' yang dibangun dari air mata ibumu."
"Aku harus profesional, Rez. Ini proyek kantorku," jawabku dengan suara bergetar.
"Profesionalisme tidak menuntutmu untuk berdiri di sini dan membiarkan Bagas menusukmu berkali-kali dengan cerita 'keluarga bahagia'-nya," sahut Farez. Matanya menatapku lurus. "Pulanglah. Biarkan aku yang mengurus Bagas dan teknis di sini. Bilang pada kantormu bahwa kamu tiba-tiba sakit."
Aku mendongak, menatap Farez. Di butik milik Ayah ini, di hadapan laki-laki yang menjadi Direktur sukses dan tahu rahasiaku, ziraku benar-benar hancur.
"Kenapa kamu peduli, Rez? Bukankah aku hanya menganggapmu kerikil?"
Farez tersenyum pahit, sangat tipis. "Karena bahkan jika aku hanya kerikil, aku adalah kerikil yang akan memastikan kakimu tidak berdarah saat menginjak tempat kotor ini."