"Jika tubuhku tak lagi bisa memelukmu, biarkan 'dia' yang melakukannya untukku."
Lee Seo Han mengira hidupnya sudah sempurna bersama Kim Sae Ryeon di Jeju. Namun, vonis ALS menghancurkan segalanya. Di saat raganya mulai lumpuh dan ia bersiap meninggalkan Sae Ryeon, sebuah teknologi rahasia menawarkan jalan keluar yang gila: Sebuah robot pengganti.
Satu sosok yang memiliki rupa, suara, bahkan memori yang sama persis dengan Seo Han.
Kini, Seo Han harus menyaksikan cintanya berjalan bersama "dirinya" yang lain. Di tengah rasa sakit yang kian menggerogoti, sebuah pertanyaan besar muncul: Apakah Sae Ryeon mencintai jiwanya yang sekarat, atau robot yang sempurna itu? Dan apa yang terjadi jika sang robot mulai memiliki perasaan sendiri?
Sebuah kisah tentang pengorbanan, teknologi, dan cinta yang menolak untuk mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rahmad faujan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LUKA YANG TERBUKA KEMBALI
Matahari pagi menyelinap melalui celah tirai, memaksa Seo Han untuk membuka mata. Ia terduduk di tepi ranjang, terdiam cukup lama seperti sedang berusaha mengumpulkan nyawa yang tercecer.
"Ahh, badanku sakit semua. Rasanya seperti habis memikul truk tronton sendirian," batinnya. Ia mencoba berdiri, namun lututnya terasa goyah sejenak, seolah sarafnya lupa bagaimana cara menopang berat tubuh.
Saat ia baru saja selesai mengenakan kemeja, ponsel di atas nakas bergetar hebat. Sebuah nomor asing tanpa identitas. Seo Han mengangkatnya dengan perasaan tidak enak.
"Halo?" ucapnya hati-hati.
"Dasar anak bodoh! Kenapa kamu mengganti namamu, hah?! Kamu pikir Ayah setuju?!"
Seluruh tubuh Seo Han membeku. Suara itu... suara yang dulu sangat ia hormati, kini berubah menjadi belati yang mengiris harga dirinya. Amarah dari masa lalu itu langsung merasuk hingga ke sumsum tulang.
"Kenapa baru menelepon sekarang?" suara Seo Han berubah menjadi dingin dan tajam. "Aku pikir Anda sudah mati, atau setidaknya sudah lupa padaku. Lagian itu masa lalu. Aku bukan lagi properti Anda. Namaku Lee Seo Han, dan aku yang memegang kendali atas hidupku sendiri!"
BIP!
Ia memutus panggilan itu dengan tangan yang gemetar hebat. Darahnya terasa mendidih, memenuhi rongga dada hingga ia sulit bernapas. Karena kalap, ia melempar ponselnya ke kasur, namun benda itu terpental dan jatuh menghantam lantai kayu dengan suara keras.
"Kenapa sekarang? Kenapa saat aku mulai merasa tenang?!" desisnya pedih.
Ia memungut ponsel itu. Sebuah retakan panjang menjalar di permukaan layar yang dingin. "Tuh kan, layarnya retak," keluhnya getir. Retakan itu tampak seperti gambaran hatinya saat ini: terlihat masih utuh dari jauh, tapi hancur berkeping-keping di baliknya.
Sementara itu, di sebuah gedung pencakar langit di Seoul, Lee Yeong Jun meletakkan ponsel dengan tangan yang lemas. Wajahnya tampak jauh lebih tua dari usianya, dipenuhi guratan penyesalan yang mendalam.
"Ayah tahu kamu marah, Nak... tapi Ayah punya alasan untuk semua ini," gumamnya parau.
Ia menoleh pada asisten setianya. "Asisten Park, kosongkan semua jadwal saya. Belikan tiket ke Jeju. Paling cepat."
"Baik, Pak."
Yeong Jun menatap foto lama di atas mejanya. Foto seorang anak kecil bernama Rey saat kelulusan SD. "Tunggu Ayah di sana, Nak. Ayah akan menebus semua waktu yang hilang."
Seo Han keluar rumah dengan topeng yang sudah terpasang rapi. Ia memaksakan senyum ramah kepada setiap tetangga yang menyapa di sepanjang jalan Gimnyeong-ri.
"Selamat pagi, Nak Seo Han!"
"Pagi juga, Pak," jawabnya ramah, meski di dalam kepalanya, suara ayahnya masih berdengung seperti lebah yang menyengat.
Sesampainya di rumah Jae Hyun, pagar sudah terbuka. Jae Hyun berdiri di sana dengan dua kotak makanan di tangannya. Wajahnya ceria, kontras dengan mendung di hati Seo Han.
"Nih, buat kamu," Jae Hyun menyerahkan salah satu kotak.
"Apa ini?" tanya Seo Han. Saat menerima kotak itu, tangannya tiba-tiba terasa lemas, membuat kotak itu hampir merosot jika ia tidak cepat-cepat mencengkeramnya dengan kedua tangan.
Jae Hyun menyipitkan mata, menyadari ada bayangan gelap di mata Seo Han yang tidak biasa. "Sudah, bawa saja. Nanti juga tahu. Ayo ke warung, Ibu sudah menunggu."
Jae Hyun tahu ada yang salah, tapi ia memilih diam. Ia tahu kapan harus bertanya dan kapan harus memberi ruang.
"Ayo," jawab Seo Han, memaksakan sebuah senyum.
Kehangatan Jae Hyun, sesederhana kotak makanan di tangannya, perlahan mulai meredakan badai di kepala Seo Han. Namun, ia tidak tahu bahwa retakan di ponselnya hanyalah awal. Retakan yang lebih besar—yang akan menghancurkan seluruh syaraf motoriknya—sedang menunggu di tikungan musim panas ini.
Yang paling aku suka adalah deskripsi tempat dan perasaannya yang mengalir. Ya, semoga aja ni MC segera di ruqyah 🤣🤣🤣
karena makan-tidur jadi gemoy gitu ya /Facepalm/