Rachel kembali ke masa lalu dan terjebak dengan sang mantan.
"Kali ini kamu tidak akan bisa kabur dariku," ucap Zen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 - Tidak Akan Pernah Siap Jika Tidak Mencoba
"Zen," panggil Amanda tiba-tiba.
Dia datang ke ruang tengah dan melihat Zen telah duduk di sana, namun sayangnya Zen tidak sendirian. Zen bersama wanita asing itu.
Sejak tadi Zen dan Rachel memang bicara di sini, pembicaraan mereka terjeda karena kedatangan Amanda. Tak terasa waktu pun telah cepat berlalu, kini waktu sudah menunjukkan jam makan malam.
Karena itulah Amanda keluar.
"Ayo kita ke meja makan," ajak Zen pada sang istri, dia tidak menjawabi sapaan Amanda.
Rachel pun tak punya minat untuk meladeni wanita itu, dia masih mencerna semua cerita Zen. Memang, ada sedikit kelegaan setelah dia mengetahui semuanya.
Tapi meski begitu tak bisa dengan mudah membuat perasaannya kembali seperti dulu. Sebab Rachel sudah pernah mencintai pria lain, dan kini bahkan membenci pria lain pula.
Rasanya Rachel butuh waktu untuk sendiri.
"Aku akan tetap tinggal di sini Zen, mama Sonya yang meminta ku tinggal," ucap Amanda, sebelum kedua orang itu pergi.
Bagaimana pun mama Sonya memang masih punya hak atas mansion ini, jadi Zen tak bisa melarang.
"Terserah mu saja, tapi yang jelas hubungan kita sudah berakhir. Sekarang ada Rachel di sini, jadi jaga sikapmu," jawab Zen pula, suaranya yang dingin membuat Rachel de Javu. Sama seperti saat dia pertama kali bertemu dengan Zen dulu.
Pria yang nampak dingin seolah tak bisa disentuh. Tapi sekalinya dekat Zen tak akan melepaskan. Seperti saat ini, dia selalu menggenggam erat tangan Rachel.
"Baik, aku akan jaga sikapku. Aku akan menjadikan Rachel temanku," jawab Amanda.
"Aku tidak butuh teman," balas Rachel dengan cepat.
Amanda terdiam, bertanya-tanya kenapa Zen memilih wanita bar-bar seperti itu untuk jadi istrinya. Wanita seperti Rachel hanya akan membuat Zen malu, sebab Rachel tak bisa menjaga sikapnya.
Kini Amanda bisa lebih tenang dari pada siang tadi. Mama Sonya telah memantapkan posisinya di rumah ini. Kata mama Sonya, pernikahan Zen dan Rachel tak akan bertahan lama. Jadi kini Amanda hanya tinggal menunggu, melihat kehancuran pernikahan itu.
Perhatian mereka semua teralihkan saat melihat Lucas turun. Pria dengan senyum miring itu menghampiri semua orang.
"Halo kakak ipar," sapa Lucas, lengkap dengan sebelah matanya yang berkedip pada Rachel.
"Namaku Lucas," ucap Lucas memperkenalkan diri.
Rachel belum sempat menjawab, namun dia sudah lebih dulu ditarik oleh Zen untuk pergi dari sana.
"Dia terlihat baik," bisik Rachel pada sang suami.
"Seseorang yang terlihat baik justru paling mengerikan," balas Zen.
Rachel jadi mencebik.
Mereka berempat makan malam bersama. Mama Sonya tak bisa turun karena butuh istirahat.
Kata Amanda mama Sonya harus menyelesaikan semua masalah yang dibuat oleh Zen hari ini. Mengacaukan pernikahan sama saja mengacaukan nama baik keluarga Wallace.
Saat Amanda menjelaskan hal tersebut tak da satupun yang mendengarkan, bahkan Lucas tetap fokus pada makananya sendiri.
Lucas dan Zen justru terkejut melihat porsi makan Rachel yang cukup banyak.
Selesai makan malam Zen kembali membawa sang istri untuk masuk ke dalam kamar.
"Kenapa kamu tidak mengatakan pada kakek jika ingin kembali membuka kasus kematian kedua orang tuamu?" tanya Rachel langsung, dia masih penasaran.
"Tidak, kakek selalu melarangku melakukan hal itu. Jadi aku akan melakukannya secara diam-diam."
"Kenapa kakek melarang? kenapa kasusnya di akhiri? aku ingin tahu semua Zen," balas Rachel.
Zen tidak langsung menjawab, Rachel malah fokus pada masalah keluarga ini. Padahal ada hal lain yang harus dibicarakan. Rachel sudah setuju untuk mengaku tentang pernikahan mereka, jadi harusnya malam ini mereka melakukan malam perttama.
Tentang pertanyaan Rachel itu pun, Zen tak pernah tahu jawaban pasti. Namun kakek selalu melarangnya, bahkan memaki dan terus menyalahkan tentang kematian kedua orang tuanya. Hanya karena Zen lah yang mengantarkan teh untuk kedua orang tuanya sebelum mereka meninggal.
Saat itu Zen masih berusia 7 tahun, bagaimana bisa dia membunuh kedua orang tuanya sendiri.
"Apa kamu sedang mengalihkan perhatian ku Hel?" tanya Zen kemudian.
"Apa maksud mu?" tanya Rachel pula, dia tak paham kemana arah pembicaraan Zen. Sebab dia benar-benar merasa penasaran dengan semua yang terjadi. Membuka kasus lama juga pasti bukan hal yang mudah, jelas banyak bukti yang telah hilang.
"Ini malam perttama kita, kenapa selalu membahas yang lain."
Deg! Rachel seketika tersentak hatinya. Bagaimana bisa Zen justru memikirkan hal mesyum seperti itu di saat seperti ini.
"Aku belum siap," balas Rachel singkat dan cepat.
"Sampai kapanpun kamu tidak akan pernah siap jika tidak mencobanya," balas Zen.
Jantung Rachel jadi bergemuruh saat mendengar hal tersebut. Zen lebih dulu naik ke atas ranjang dan duduk di sana, lalu memberi isyarat agar Rachel menyusul.
"Kamu membuat ku takut," ucap Rachel, dia selalu meluapkan apa yang dia rasakan.
Saat Rachel sudah naik dan duduk di samping Zen, pria itu langsung menahan tengkuknya dan mencium bibir Rachel dengan lembut. Melepasnya lalu mencium lagi dan kemudian dilepas.
Rachel memang tidak membalas, namun nafasnya ikut terengah.
Di dalam hati Rachel dia justru merasa tindakannya kali ini untuk membalas apa yang telah Harley lakukan. Dia bisa bersama dengan Viana, maka Rachel pun bisa bersama dengan pria yang lain.
Malam ini mereka tidak melakukan lebih dari sekedar ciuman. Namun Zen memeluk Rachel saat tidurnya.
Ketika pagi menyapa, ponsel Zen terus berdering berulang kali. Panggilan masuk dari nomor baru.
"Zen, ponselmu bunyi," ucap Rachel, dia megambil ponsel itu dan melihat siapa yang menelepon.
Deg! Jantungnya berdenyut saat melihat nomor yang tak asing.
Nomor ponsel milik Harley, akhirnya pria itu tiba di kota Newest.
#btw ini aku baca yg kesekian kalinya. habis gabut gda bacaan lagi
jahat bener tuh kakek tua