Bagi Raka, menikah dengan Aluna itu bencana, seperti Gempa dengan kekuatan 10 SR. Dan sialnya, dia tidak bisa mengelak karena perjodohan konyol orang tuanya.
Dan, bagi Aluna, menikah dengan Raka adalah ajang balas dendam, karena Raka yang selalu menghukumnya di sekolah.
Tapi ternyata, ada satu hal yang mereka lupa, bahwa waktu bisa merubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang Selatan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Peluk
Aku membolos dari sekolah, ya kali aku nggak bolos sedangkan seragamku sudah banyak darah bekas mimisan Raka. Oh iya, Raka di Pulang kan kerumah Mama, orang tua Raka. Karena teman-temannya tahu Raka tinggal disana. Aku juga ikut pulang kerumah mama Raka, menemui nya.
Reaksi Mama saat aku kesana sangat heboh karena banyak bercak darah di seragamku, aku menjelaskan kalau Raka mimisan dan pakaianku kena korbannya.
"Ivan itu sejak kecil memang gampang sakit, apalagi kalau kecapean." tutur Mama.
"Terus, Ivan juga kalau lagi sakit manja banget, mama harap kamu sabar yah ngadepin Ivan."
"Hm, iya Ma." gumamku ogah-ogahan karena kepalang capek.
"Yaudah, ganti baju yah, punya Raka aja yah, biar kalian makin akrab. " kata Mama.
Aku hanya mengangguk, lalu menuju kamar Raka. Aku lihat Raka sedang tidur, kelihatannya nyenyak sekali. Aku segera membuka seragamku, kayaknya nggak apa-apa kan, ganti di sini, toh, Raka juga sedang tidur pulas.
Aku memilih-milih beberapa baju yang aku rasa cocok aku kenakan. Aku melihat kaos hitam dengan lambang Akatsuki, saat ku kenakan ternyata tidak begitu buruk.
Hm, ternyata Raka juga suka Naruto, Ya.
Aku tidak mengganti Rok ku, karena memang tidak ada darah dan tidak kotor juga.
"Eem."
Raka bersuara, namun matanya masih terpejam, mengigau mungkin.
Terakhir kali aku kesini saat aku dan si galak resmi menikah dua minggu yang lalu, Mama Raka sangat baik, Papanya juga sama, dan Selena juga adik penurut. Kayaknya semua orang dia sini ramah-ramah, ya, kecuali Raka.
Aku membawa seragamku ke kamar mandi, lalu ku rendam dengan deterjen dan ku tinggalkan begitu saja.
"Nanti biar Teteh aja yah yang nyuci." tutur Teh Ijah, asisten rumah Raka. Aku hanya tersenyum ke arahnya "Nggak usah teh." jawabku.
"Beneran?"
"Iya cuma satu doang ini kok."
Aku kembali lagi ke kamar Raka, dan lagi-lagi dia masih tidur, aku ikut naik ke kasur, merengsek masuk dalam selimut yang dia pakai. Aku membelakanginya, dan mengambil ponselku di pinggir tempat tidur.
Ketika aku lagi asik melihat-lihat Instagram, ada pergerakan dari belakangku.
"Ngapain lo kesini." Tanyanya.
Aku mendengus "Nyusul lo lah." gumamku masih dengan posisi yang sama.
Aku mampu merasaman Raka mendekat ke arahku. "Terus kenapa pake baju gue." omelnya.
Aku hanya memutar bola mataku malas. Lalu segera berbarik ke arahnya.
"Aw!" kening kami bertabrakan. Lalu kompak mengaduh.
Aku menatap Raka, jarak kami sangat dekat, hanya beberapa CM saja. Raka juga sama memperhatikanku dengan tatapan anehnya, tatapan yang tidak bisa aku tebak.
"Em..." dia bergumam tidak jelas.
"Kenapa nggak bawa Bubu sekalian kalau kesini." tuturnya
Bubu itu boneka beruang raksasanya. Aku mendengus kesal. "kalau gue pulang dulu, gue nggak punya uang buat gue kesini." dengusku.
Dia terkekeh, "Benera juga yah." katanya.
Setelahnya kami hanya saling diam-diaman dengan masih posisi yang sama. Dia masih menatapku dengan tatapan yang tidak bisa aku artikan, dan aku hanya menatapnya bingung.
Tangannya menyentuh rambutku, lalu merapihkannya. Lalu beranjak ke alisku, dia memainkan alisku, dan sialnya otakku tidak mampu mencerna apapun selain diam, sialan.
Jemarinya turun di hidungku, lalu bibirku. Dia berhenti di situ cukup lama. Lalu bergumam "Lo itu cewek nakal, buat onar, nyebelin, nyusahin..."
Aku mengerucutkan bibirku. "Lo pikir, emang lo nggak nyebelin gitu?"
Dia hanya terkekeh. Lalu berbalik membelakangiku. "Kayaknya malam ini kita nginep di sini yah..." gumamnya, aku hanya mengangguk, lalu kemudian sadar bahwa dia tidak melihat anggukan kepalaku. "Ya."
...***...
Malam ini Mama mengajaku untuk ke Apotek, membelikan obat untuk si galak Raka. Mama bilang cuma badan Raka aja yang besar, tapi sebenarnya dia sering sakit. Raka sering ngedrop kalau udah bener-bener kelelahan, dan dia sejak kecil memang sering mimisan.
"Mama tahu nggak kalau si galak ngajar les?" tanyaku yang sedang duduk di samping Mama.
Mama menatapku bingung, kemudian
Tertawa. "Si galak yah. Hahahah."
"Kan Raka galak, Ma." kataku.
"Mama setuju soal itu." kata Mama sambil mengangguk.
"Ya, Mama tahu kalau dia ngajar les, karena sebelum dia memberitahukan kamu, dia sudah bilang ke mama."
Aku hanya ber-ooh saja.
"Papa menawarinya untuk kerja dengan Papa, menjadi asisten papa di kantor. Tapi Ivan nggak mau, katanya pengen coba kerja tanpa bantuan orang tua." kata Mama.
Aku hanya diam mendengarkan.
"Ivan itu, Istimewa untuk Mama, Luna." gumam Mama lalu sudut bibirnya terangkat menunjukan bahwa ia sedang tersenyum.
"Ivan itu anak yang baik, bertanggung jawab, makanya Mama pilih kamu untuk menjadi Istrinya karena Mama tahu kamu juga anak yang baik, Luna." tutur Mama.
Eh.
"Tapi kan, Luna nggak baik, Ma. Luna di cap anak nakal lho di sekolah." gumamku.
Mama menatapku, lalu satu tangannya mengelus rambutku. "Mama sudah mengenal kamu lebih dari diri kamu sendiri, Luna." ujar Mama.
Aku bingung, namun aku tidak lagi bertanya karena mobil baru saja terparkir di depan Apotek.
Sepulang dari Apotek, aku melihat Raka sedang makan di temani Selena yang sedang memainkan ponselnya.
"Kak Luna sudah pulang." Selena menatapku sambil tersenyum. "Begitulah." kataku seadanya.
Aku meletakan obat Raka di hadapannya. "Nanti minum obatnya." kataku tajam, dia menatapku sinis. "Nggak mau."
"Ivan nggak bisa minum obat Luna." tutur Mama. Lah
"terus kalau nggak bisa minum obat, kenapa kita beli obat Ma?" tanyaku polos.
Mama tertawa. "Maksud Mama, Ivan nggak bisa minum obat di telen, harus berupa serbuk gitu." jelas Mama. Aku hanya tersenyum, aku menatapnya yang sedang menatapku sinis, sekarang aku pulang bahan bulian untuknya selain membuli dia yang senang meluk boneka.
Mama menyodorkan alat semacam cobek dari kramik warna putih, aku biasa melihat itu di rumah sakit atau di posyandu, itu alat untuk menggerus obat.
Aku menerimanya dan mulai mengambil obat untuk Raka.
Setelah semuanya selesai, aku menyuapinga obat pada Raka, manja banget sumpah.
Raka hanya nurut, lalu ku sodorkan air minum padanya, dia menegaknya dengan sekali tegakan.
"Makasih." gumamnya pelan.
Jam delapan, Raka mengajakku ke kamar untuk tidur, katanta efek obatnya sudah bereaksi.
"Aku pengen peluk." kata Raka saat aku membereskan tempat tidur.
"Peluk guling aja." gumamku.
Dia menggeleng. "Nggak mau."
"Gue juga nggak mau." kataku, dia menatapku sebal, tapi tidak melakukan apapun selain berbaring di tempat tidur. Aku belum mengantuk, jadi hanya duduk saja di kursi menghadap cermin.
Aku mampu melihat Raka yang hanya berguling-guling di atas kasur tidak nyaman. Menyebalkan, selain dia itu galak ternyata dia itu cukup menyusahkan.
Aku naik ke tempat tidur, lalu berbaring di sampingnya, dia hanya menatapku. Lalu ku dekap dia di pelukanku, dia balas memelukku. "Makasih yah." gumamnya.
*CUPLIKAN EPISODE SELANJUTNYA*
Aku baru saja sampai kontrakan petang ini, Raka yang membawa motor. Aku berjalan masuk ke kamarku, kontrakan ini tidak luas, hanya ada dua kamar tidur, satu ruang tamu dan satu lagi ruangan dapur dan kamar mandi, itupun kecil sekali. Aku pikir hidupku akan sama seperti yang di novel-novel yang aku baca setiap malam, nikah muda, di jodohin, tinggal di Apartemen mewah, lalu LDR karena kuliah terus selesai. Ku pikir sesimpel itu, tapi nyatanya nggak.
Kami hanya tinggal di kontarakan kecil, yang bahkan berada di gang sempit yang bahkan mobil saja tidak bisa masuk kedalam. Jika di tanya apakah Raka punya mobil, ya aku jawab bahwa si nyebelin Raka punya mobil pribadinya, tapi dia hanya simpan di garasi rumahnya sebagai rongsokan. Padahal jika dia membawa mobilnya aku bisa menggunakan motornya untuk ke sekolah, bukannya jalan kaki sepuluh meter lalu naik angkutan umum menuju sekolah.
Sifat menyebalkan Raka kambuh lagi, dia membawa Bubu ke kamarku, lalu menatapku datar