Ganti judul: Bunda Rein-Menikah dengan Ayah sahabat ku
"Rein, pliss jadi bunda gue ya!!" Rengek Ami pada Rein sang sahabat.
"Gue nggak mau!" jawab Rein.
"Ayolah Rein, lo tega banget sama gue!"
"Bodo amat. Pokok nya, gue nggak mau!!" tukas Rein, lalu pergi meninggalkan Ami yang mencebik kesal.
"Pokoknya Lo harus jadi bunda gue, dan jadi istri daddy gue. Titik nggak pake koma!" ujarnya lalu menyusul Rein.
Ayo bacaa dan dukung karya iniii....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mey(◕દ◕), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
**Bab 8 sudah revisi ya. **
Happy Reading:)
***
Rein dengan Gerakan pelan mengusap ketiak Davin meskipun tidak basah hanya sedikit lembab saja. “Om aku ukur suhu om dulu ya?” Rein meminta izin sembari menatap gadis itu. Davin hanya mengangguk lemah, tubuhnya terasa tidak mampu untuk banyak bergerak.
Rein dengan lembut menekan tombol daya hingga menunjukan angka nol membuat thermometer yang ada ditangan nya itu siap untuk digunakan. Ujung sensor thermometer (bagian perak) Rein letakan tepat pada ketiak Davin. Rein sendiri memastikan bahwa thermometer itu tepat mengenai kulit Davin. Setelah itu Rein menekan lengan Davin dengan rapat namun pelan.
Beep
Sekitar 60 detik kemudian, thermometer tersebut berbunyi, membuat Rein segera mengambil nya. Rein segera melihat angka yang cukup tinggi pada layer thermometer tersebut.
39,2OC“Tinggi banget om! Ayo kerumah sakit!” gadis itu menunjukan angka yang tertera di layer pada Ami dan Davin. “Ayo kerumah sakit aja. Aku takut papa kenapa-kenapa!” Rein langsung menyetujui ucapan Ami.
Davin sendiri pasrah dengan keadaan nya, kepala nya terasa pening, bahkan untuk sekedar menjawab saja rasa nya dia tidak mampu.
***
Lorong putih khas bau obat-obatan tercium. Rein menenangkan Ami yang sedari tadi tidak berhenti kesana kemari, menunggu Davin yang sedang diperiksa. “Om Davin pasti baik-baik aja, Mi!” ucap gadis itu menenangkan. Ami hanya mengangguk sembari menatap ruangan didepan nya.
Tidak lama pintu terbuka, seorang pria dengan setelan jas putih khas seorang dokter berdiri dihadapan Ami dan Rein. “Maaf, dengan keluarga bapak Davin?” tanya nya sopan. Ami dan Rein segera mengangguk. “Dokter, gimana keadaan papa saya?” tanya Ami cepat.
Dokter tersebut tersenyum menenangkan. “Kondisi pasien sekarang sudah lebih baik. Tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan lagi. Kami sudah memberikan obat penurun panas (antipiretik). Setelah itu, baru dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui penyebab demam.” Jelas dokter tersebut.
“Baik dokter terimakasih. Kami boleh jenguk kan?” tanya Rein sambil menatap ruangan Davin. Dokter tersebut mengangguk. “Boleh, setelah pasien dipindahkan ke ruang inap.”
Ami dan Rein mengangguk mengerti tidak lupa mengucapkan terimakasih. Kedua gadis itu kemudian menunggu Davin untuk segera dipindahkan ke ruang inap dari UGD.
***
“Gimana kondisi papa, sudah baikan belum?” tanya Ami sembari menatap Davin khawatir. Pria itu sudah berada di ruang inap milik nya. Sebuah ruangan besar dengan nuansa putih.
Davin tersenyum menenangkan. “Papa baik-baik aja. Jangan khawatir!” ujar nya. Ami menggenggam tangan Davin kemudian berucap. “Papa nggak boleh sakit. Ami takut papa ninggalin Ami sendiri!” gadis itu mecebik, raut wajah nya sendu menatap Davin dengan khawatir.
“Anak papa jelek kalau nangis!” lengan yang terbebas dari infus itu terangkat mengusap pipi Ami pelan. “Papa pasti sembuh. Mana mungkin papa mau ninggalin anak cantik papa ini!” ujar nya dengan senyum kecil.
Ami segera memeluk Davin dengan pelan. “Janji ya! Soal nya papa belum nikah sama Rein, jadi nggak boleh kenapa-kenapa!” Davin segera mencubit pelan pipi Ami membuat gadis itu memekik pelan. “Kamu ini!” Davin mengedarkan pandangan nya mencari keberadaan Rein.
“Dimana Rein?” tanya nya pelan. Ami segera menatap Davin dengan senyum tengil. “Papa kangen ya sama Rein?” Davin mengusap wajah Ami pelan membuat gadis itu merengut kesal. “Rein pulang sebentar mau mandi terus ambil baju. Nanti balik lagi kok. Tadi kami buru-buru, jadi nggak bawa apa-apa kesini.” Gadis itu memberitahu sembari mengupas jeruk yang ada dimeja. Davin menghela nafas pelan, kemudian menerima jeruk yang baru diberikan Rein.
Rein mengetuk pintu pelan, kemudian masuk. Davin menatap Rein membuat gadis itu tersenyum kecil menyapa. “Gimana om, sudah baikan?” tanya Rein sembari menyimpan barang bawaan nya diatas sofa.
“Sudah lebih baik. Terimakasih.” Davin menatap Rein lembut, membuat gadis itu mendekat sembari mengecek suhu tubuh nya yang sudah turun. “Eh iya sudah turun. Om sudah sarapan?” tanya Rein, membuat Davin mengangguk. “Sudah. Tadi perawat antar bubur kesini.” Jelas nya.
“Ami kemana om?” tanya Rein yang sadar gadis itu tidak ada disini. “Keluar sebentar. Kamu sudah sarapan?” Rein mengangguk sembari menatap Davin. “Sudah om. Tadi pulang terus sarapan sekalian bawa baju untuk Ami sama om. Maaf tadi saya nggak izin masuk kamar om.”
“Tidak apa-apa. Terimakasih sekali lagi.” Rein hanya mengangguk membalas. “Om istirahat aja, biar cepat pulih.”
Suasana kamar terasa lebih hangat dari biasanya. Rein sibuk dengan laptop sembari duduk di sofa, sedangkan Davin kembali memejamkan matanya untuk beristirahat.
***
Siang ini Rein dan Ami terpaksa meninggalkan Davin dirumah sakit sendiri. Keduanya ada jam kuliah siang. Ami sudah membujuk untuk izin saja, namun Davin meminta kedua nya untuk tetap masuk. Katanya tidak usah khawatir, karena ada perawat yang menjaga.
Seperti biasa keduanya sedang dikantin. Namun Rein perhatikan wajah Ami tampak tidak semangat. Entah apa lagi yang terjadi dengan gadis itu. “Kamu kenapa lagi?” tanya nya sembari mengelus rambut gadis itu.
Ami yang sedang menelungkupkan kepala dikedua tangan nya yang berada diatas meja sejenak menatap Rein. “Rein. Bang Aldo ternyata sudah punya pacar!” ujar gadis itu dengan wajah murung. “Ya sudah, lagian masih banyak cowok kok didunia ini!” ujar Rein dengan tawa pelan. Ami menggeleng pelan tidak setuju. “Banyak tapi nggak ada yang seganteng bang Aldo, sejauh ini!” gumam nya dengan nafas berat.
Ami adalah tipe gadis yang suka melihat pria tampan, jadi Rein berasumsi bahwa gadis itu sebentar lagi akan move on, jika menemukan pria yang lebih tampan dari Aldo. Sudah pernah terjadi, maka dari itu Rein sangat yakin akan apa yang tengah dia pikirkan.
Aldo adalah kakak tingkat mereka. Sekarang dia sudah semester 7, Aldo cukup ganteng menurut Rein dan juga baik. Di kampus dia cukup populer, selain kegantengan nya dia juga salah satu mahasiswa pintar. Tidak heran Ami sangat menyukai pria itu.
"Udahlah nggak usah sedih, selama jalur Kuning belum melengkung, dia masih bisa di gapai," hibur Rein, karena tak tega melihat Ami yang tampak lemas tidak bersemangat.
“Hmm…” gumam gadis itu membalas.
***
Setelah dirawat empat hari dirumah sakit Davin akhirnya kembali kerumah. Pria itu sudah benar-benar pulih. Dokter juga kemarin melakukan tes darah dan urin untuk memastikan tidak ada tanda infeksi (seperti tipes) ataupun virus (seperti DBD). Dokter hanya mengatakan bahwa Davin terlalu Lelah dan kekurangan cairan, sehingga menyebabkan kenaikan suhu yang signifikan, jika dalam dunia medis biasa dikenal dengan nama kelelahan panas (heat exhaustion).
Sore ini ibu Davin, Fitriani atau kerap disapa Fitri itu tiba-tiba datang tanpa mengabari. Wanita yang sudah cukup berumur itu sengaja datang saat mengetahui bahwa anak nya sakit. “Davin, gimana kondisi kamu?”
Davin yang sedang duduk dengan laptop dipangkuan nya tersentak mendengar suara Fitri. “Mama kapan datang?” tanya nya. Davin segera meletakan laptop nya kemudian menyalami Fitri dengan sopan.
“Baru saja. Mama dengan kamu sakit, jadi mama kesini. Kenapa nggak ngabarin mama sih?” tanya wanita itu dengan kesal. Davin hanya menatap ibu nya dalam diam. “Davin sudah sehat, mama nggak usah khawatir!”
Fitri mengangguk kemudian berucap. “Makanya kamu nikah lagi. Biar ada yang urusin kamu!” celetuk nya ringan membuat Davin membatu.
“Mah. Sudah berapa kali Davin bilang, Davin nggak akan menikah lagi!” balas nya dingin. Fitri memutar mata malas. “Kamu masih muda Davin. Mamah tau kamu sangat mencintai Carissa! Tapi mama mau kamu sadar, Carissa sudah nggak ada. Kamu harus melanjutkan hidup kamu Davin!” wanita itu membalas tidak mau kalah. “Kamu juga tau, mama sayang sekali dengan Carissa tapi mama juga mau kamu bahagia!” wanita itu menatap Davin yang diam membisu.
“Aku sama Ami sudah bahagia! Hanya berdua tidak ada yang lain!” balas Davin bergumam, membuat Fitri mengerang kesal.
“Bahagia? Mama tidak peduli, apalagi dengan anak itu! Gara-gara dia menantu mama pergi!” balas Fitri tajam. Sejak kematian Carissa, Ami kecil terus disalahkan oleh Fitri. Wanita itu masih tidak menerima kepergian Carissa dan beranggapan bahwa Ami adalah penyebab nya.
Davin heran dengan ibu nya ini. Dari Ami kecil hingga sebesar ini, dia tidak pernah menyukai gadis itu. Padahal mereka semua tau, bahwa kepergian Carissa memang karena takdir.
Rein dan Ami yang baru saja tiba setelah seharian jalan-jalan terpaku mendengar ucapan wanita itu. “Mah! Berapa kali harus Davin jelaskan ini sudah takdir!” suara Davin dingin. Fitri selalu menguji kesabaran nya, membuat Davin menatap nya tajam.
“Mi, itu om Davin!” Ami menggeleng, kemudian menarik tangan Rein untuk menuju kamar. Ia tidak ingin sahabat nya melihat apa yang sedang terjadi. Namun saat akan melewati keduanya, suara Fitri terdengar.
“Sini kamu!” tunjuk nya pada Ami, membuat gadis itu memutar mata malas sembari menatap nya. “Kenapa?” tanya nya dengan suara dingin. Rasanya terlalu malas menghadapi wanita tua ini.
Rein yang notaben orang luar disitu merasa kikuk ingin melangkah atau tetap ditempatnya. Dia hanya bisa mengelus lengan Ami menguatkan gadis itu.
“Kamu ini nggak ada sopan santun nya ya” Ami merengut kecil mendengar itu. “Oma yang ngapain kesini? Kalau cuma mau ajak ribut, mending oma pulang aja!” balas Ami kesal. Tangan gadis menunjuk pintu keluar, membuat Fitri menatap nya melotot.
“Kamu berani usir saya? Davin lihat kelakuan anak mu itu!” Davin yang sudah lelah dengan tingkah Fitri hanya menatap wanita yang berstatus sebagai ibu nya itu dengan dingin. "Mama mending pulang aja!"
Terimakasih:)
'mas kenapa?
"pengenpeluk!