NovelToon NovelToon
Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Poligami / Tamat
Popularitas:893.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: tompealla kriweall

Seosen 1

"Aku yang pertama, tapi bukan yang utama." Anjani Ashita.

"Aku cinta pertamanya, tapi bukan satu-satunya." Adhisti Andriani.

"Mereka berdua, adalah istri pertama bagiku, dan tidak ada yang kedua." Elang Samudra.

Seosen 2

Anak-anak Anjani, sudah beranjak dewasa. Banyak lika-liku kehidupan, yang harus dilalui.

Ara dengan rasa cintanya, yang diam-diam, dan tidak tahu untuk siapa.

Begitu juga dengan perasaannya Nanda.

Ara ada dalam kebimbangan, antara cowok yang dekat dan memiliki perasaan terhadap dirinya.

Lalu, bagaimana Ara akan menyikapi hal ini?

Bagaimana Anjani dan Abimanyu, memberikan nasehat kepada Ara?

Karena Anggi juga sudah menjadi remaja.

Dan permasalahan akan terus ada, seiring waktu dan bertambahnya permasalahan anak-anak mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permasalahan Elang

Adhisti, selalu memperhatikan Elang saat pulang ke rumah. Dia merasa heran, sebab, akhir-akhir ini, Elang lebih sering pulang malam, dan langsung tidur tanpa mengobrol terlebih dahulu seperti biasanya.

"Mas Elang kenapa ya?" tanya Adhisti dalam hati.

Adhisti, pernah mencoba untuk bertanya, tapi jawaban dari Elang, suaminya itu, hanya "Aku sedang capek Sayang." Selalu begitu jawaban yang diberikan oleh suaminya.

Tapi, lain hari, saat Elang pulang ke rumah depan, rumahnya Anjani, dia terlihat bersemangat. Ada saja yang dia bicarakan dengan Anjani. Itu Adhisti lihat dari balik tirai jendela, saat dia mengintip keluar.

"Apa Mas Elang sudah tidak lagi mencintaiku, dan mulia memiliki rasa dengan Anjani?" Adhisti, jadi banyak berprasangka terhadap sikap suaminya, yang dia pikir telah berubah karena Anjani.

"Mas. Apa Aku tidak layak mendapatkan perhatian? Apa hanya Anjani yang perlu perhatian khusus dari Kamu? hiks, hiks..."

Adhisti, terisak sendiri, mengingat bahwa suaminya kini telah berubah. Dia tidak habis pikir, bagaimana mungkin, Elang sayang dan perhatian dengan istri sirinya itu, padahal wajahnya terlihat menakutkan.

"Seminggu lagi, mereka berdua akan ke Korea. Aku ingin ikut, tapi itu tidak mungkin. Mama mertua pasti akan merasa jika Aku terlalu mengekang mas Elang nanti. Ah, Aku jadi bingung sendiri."

Sebenarnya, Adhisti terus menerus memikirkan bagaimana sebenarnya hubungan antara suaminya itu dengan Anjani. Apakah mereka berdua selayaknya sepasang suami istri seperti dirinya juga, jika sedang bersama Elang, atau hanya seperti yang Elang katakan, bahwa mereka hanya sebatas teman yang sudah seperti adik dan kakak.

"Mana mungkin, ada dua orang dewasa yang berjenis kelamin berbeda dan sering bersama-sama, tidak memiliki perasaan apa-apa. Apalagi, mereka juga sudah sah secara agama. Apa mungkin, Mas Elang juga melakukannya dengan Anjani atau memang seperti yang dia katakan?"

Adhisti, terlalu banyak berpikir dan curiga. Dia hanya mengikuti apa yang dia rasakan saat ini. Dia merindukan sosok suami yang hanya untuknya, sama seperti dulu, saat masih menjadi sepasang kekasih, tanpa ada pihak lainnya.

*****

Dikantornya, elang sedang mempelajari laporan keuangan yang dia curigai ada masalah. Di saat dia sedang serius meneliti, handphone miliknya berdering, dan saat dia lihat, ternyata itu telpon panggilan dari mamanya.

..."Halo Ma."...

..."Elang. Tadi Mama baru saja transfer uang ke rekening Kamu, untuk biaya ke Korea. Nanti, jika masih kurang, saat berada di sana, Kamu kasih kabar saja. Pokoknya, jangan sia-siakan Anjani. Dia itu butuh perhatian dan dukungan juga. Kamu yang harus melakukannya karena Kamu juga yang menyebabkan dia jadi seperti itu."...

..."Iya Ma. Apa bisa Elang juga membawa Adhisti? Aku kasihan Ma, kalau dia nanti merasa terabaikan olehku."...

..."Dia kan sedang hamil muda, ngapain pergi jauh-jauh sampai ke luar negeri? Kalau ada apa-apa di jalan, justru Kamu yang akan kerepotan."...

..."Iya Ma. Tapi, Elang merasa kasihan Ma."...

..."Jangan terlalu memanjakan Istrimu itu. Dia juga harus tahu, kalau Kamu itu, juga punya istri yang lainnya juga."...

Elang, menghela nafas panjang untuk membuang sesak di dadanya. Dia, tidak mungkin membantah lagi perkataan dari mamanya. Sudah di restui untuk menikah dengan Adhisti saja, Elang sudah sangat bersyukur. Karena, menurut mamanya, perhitungan jodohnya dengan Adhisti itu tidak cocok.

..."Baik Ma. Elang akan kasih dia pengertian padanya nanti, jika dia ingin ikut."...

..."Nah, begitu saja. Ya sudah ya, Mama mau ada arisan dulu."...

..."Iya Ma. Terima kasih ya Ma."...

Sambungan telepon terputus. Elang kembali menghela nafas panjang. Dia harus bisa menata hati dan pikiran untuk semua hal yang dia rasakan saat ini.

Saat malam, Elang pulang paling akhir. Kantor sudah sepi. Dia harus bisa segera menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada, agar saat dia pergi ke Korea, tidak ada lagi yang harus dia khawatirkan.

Kini, titik temu permasalahan tersebut sudah bisa atasi. Besok tinggal dia memanggil beberapa stafnya yang bersangkutan dengan pembukuan keuangan perusahaan.

Sampai di rumah, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Ini bukan hanya karena Elang pulang malak dari kantor, tapi jalanan Jakarta memang ada saja kemacetannya.

"Terima kasih Pak," ucap Elang, pada supirnya, begitu dia turun dari mobil.

Elang, masuk ke dalam rumah. Langsung menuju ke kamar, untuk membersikan badannya yang terasa lengket.

"Mas," sapa Adhisti dari ruang makan, karena dia belum makan juga, menunggu suaminya pulang. Dia hafal jadwalnya Elang, harus pulang ke rumah yang mana, jadi tadi, Adhisti sengaja menunggu suaminya itu, untuk bisa makan bersama.

"Sayang. Mas mau mandi dulu ya, rasanya lengket ini," jawab Elang yang memang belum sempat untuk masuk ke dalam kamar.

"Iya Mas," jawab Adhisti dengan menganggukkan kepalanya.

Elang, langsung berlalu menuju ke dalam kamar. Adhisti, kembali ke ruang makan untuk memanaskan kembali makanan yang sudah terlanjur dingin.

"Nyonya, biar Saya saja Nya," pinta bibi pembantu yang menemani keseharian Adhisti. Kebetulan, tadi bibi ke dapur untuk mengambil air minum.

"Iya, terima kasih ya Bi," jawab Adhisti, kemudian menyerahkan panci sayur yang dia pegang.

Beberapa saat kemudian, Elang sudah datang ke ruang makan. Dia sudah terlihat lebih segar dari tadi, sewaktu batu pulang.

"Maaf ya Sayang. Aku pulangnya malam. Ad sesuatu yang harus Aku selesaikan. Tadi jalanan juga macet kok," kata Elang, kemudian mencium kening istrinya dan mengelus perutnya, yang mulai membuncit.

"Iya Mas. Tidak apa-apa. Apakah sedang ada masalah di kantor?" tanya Adhisti ingin tahu.

"Tidak apa-apa. Kamu tidak usah khawatir. Konsentrasi saja dengan kehamilan Kamu ini ya," jawab Elang dengan tersenyum manis, seperti biasanya.

"Nya,. Makanannya sudah siap," lapor bibi pembantu pada Adhisti.

"Oh ya Bi, terima kasih."

Adhisti mengandeng tangan suaminya, untuk di ajak makan bersama. Meskipun sebenarnya, waktunya sudah terlambat.

"Kamu, tidak perlu menunggu Aku jika untuk makan Sayang. Kasihan anak kita yang masih ada di perut, ikut menuggu untuk sekedar makan malamnya," kata Elang, memperingatkan istrinya itu.

"Tapi, Aku ingin menunggu Mas. Ingin makan bersama juga," rengek Adhisti, dengan manja.

Elang, hanya membuang nafas kasar. Dia tidak ingin membuat istrinya itu menjadi semakin cemberut, dan itu akan berpengaruh pada 'jam malamnya' nanti.

*****

Keesokan harinya, saat Elang sudah berangkat ke kantor, Adhisti berkunjung ke rumah Anjani. Dia datang untuk mengobrol dengannya seperti biasanya.

"Jani, kenapa Mas Elang akhir-akhir ini sering pulang malam ya? Apa dia juga begitu saat ke pulang ke rumah ini?" tanya Adhisti sedikit curiga. Dia berpikir, jika Elang hanya beralasan saja.

"Sama saja Mbak. Mas Elang kan sedang ada masalah di kantor." Anjani, menjawab pertanyaan dari Adhisti, sesuai dengan apa yang dia ketahui.

"Masalah apa?" tanya Adhisti cepat.

"Ada kebocoran keuangan atau apa ya kemarin itu, saat Mas Elang cerita."

Adhisti, menjadi kaget dengan jawaban yang diberikan oleh Anjani. Dia tidak menyangka, jika Elang justru diam saja dan tidak memberikan penjelasan saat dia tanya semalam. Tapi kenapa pada Anjani, justru Elang mau bercerita tentang permasalahan perusahaan yang sedang terjadi. Padahal, Adhisti lebih tahu, bagaimana keadaan perusahaan Elang sedari dulu.

"Kenapa Kamu mulai berubah Mas?" tanya Adhisti dalam hati.

1
Jessa Jeje
semangat berkarya
Jamilatul Fauziah
thor cerita nya kok diluar ekspektasi sih,dari awal cerita gk ada sinyal" Adisti wanita rakus and matre loh, kenapa jadi alurnya begini
TK: plot twist itu, kak 🙏
total 1 replies
Jamilatul Fauziah
lanjut dong thor 💪
Jamilatul Fauziah
apa sebenarnya elang sudah mulai ada rasa sm anjani,kok aku jadi kasihan sm Adisti🥺, kalau benar sprti itu mending kamu minta cerai aja dis, karena semua wanita pasti tidak mau berbagi suami 😤
Darmanita Djohan
Luar biasa
TK: terima kasih untuk apresiasinya 🙏🙏
total 1 replies
sasip
orang serakah memang susah untuk merasa bahagia yak? 🤔 kaga bakalan bisa menerima hidup apa adanya.. selalu saja ada yg kurang, karena kata "cukup" ga ada dlm kamus kehidupannya.. 😩🤨
TK: Hemmm, begitulah
total 1 replies
Soraya
permisi numpang duduk dl ya kak
TK: silahkan Kak 🙏
total 1 replies
👑Gre_rr
Awas aja Elang sampai pisah sama Adhisyi!!!! ancaman ini Thor
Erni Sari
Emang benar, kalau sih hujan air mah. gpp atuh
Kar Genjreng
lage baca sinopsis eh merinding bagus yo... emang cerita Mu apik ko Author Ella..
Kar Genjreng: Ell opo ono neh Novel Mu sing nyar...iki wis Tamat to opo gung
total 4 replies
Kar Genjreng
terusane enek ga Anggi bi Ahmed ketoe lucu😂😂😋😋
TK: aamiin 🤲
total 3 replies
Kar Genjreng
oh wisentek yo... selamat yo Othor Ella duwe Anak he he he 🤭🤭🤭
TK: matur suwun 😍🙏
total 1 replies
Kar Genjreng
wawn beneran jadi orang baik ya... Anggi senengnya usil. he he he
TK: 😂😂😂🙏🙏🙏
total 1 replies
Kar Genjreng
ternyata menjadi orang baik juga tidak semulus jalan tol yo mas wawan... lah si mami piye kui waduh apa sido duda.. neh wis to mas mas apes tenan di gae bi Author.. he he he😁😁😁
TK: wkwkwk 😂
total 1 replies
Kar Genjreng
Ayah Abi kena jebakan Batman... gara-gara Cucunya.. supaya balik jakarta..... Wawan ternyata benar-benar sudah baik.. shukur deh... sudah insaf... semoga istrinya baik ya Mas. 😗😗
TK: kan bumil harus dituruti
apalagi ini yang Bumil anaknya sendiri 🤗
total 1 replies
Kar Genjreng
hua hua hua🤗🤗 menantu Ayah Abi benar-benar jempol koyo sing nulis
TK: 😂😂🤫🤫🤫
total 1 replies
Kar Genjreng
kasih sayang orang tua sepanjang masa... kasih ayah sepanjang galah.. kasih ibu sepanjang jalan... tapi Kita lahir juga dari tulang rusuk Ayah juga... 🤣🤣🤣🤣maaf bukan menggurui yo thor sepurane🙏🙏
TK: yeee 👏👏
total 1 replies
Kar Genjreng
miko pokonya kita kocak ya
TK: ok Tante 😂
total 1 replies
Kar Genjreng
baik banget awan dan 4 orang yang pernah dika sakiti kecuali Nanda.. 🤭🤭🤭🤭
Kar Genjreng
hidup di desa enak menurutku ada enaknya ada ga nya😞😞..
TK: ya di mana2 ya ngono
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!