Sedang tahap Revisi:
Liliana—atau Lili—tak bisa diam. Energi dan suaranya seolah tak pernah habis, berpindah dari satu cafe ke cafe lain, menyalurkan hobinya bernyanyi. Hidup baginya sederhana, selama masih bisa menyanyi dan tertawa, dunia baik-baik saja.
Sementara itu, Andra Wijaya lebih suka menyendiri. Cowok pendiam ini punya dunia kecilnya sendiri, mendesain pakaian, menjahit, dan memotret dirinya sebagai model. Semua dilakukan dari rumah, jauh dari hiruk-pikuk orang.
Dua dunia yang sangat berbeda. Namun, siapa sangka satu kejadian kecil membuat keduanya saling bertabrakan. Sejak itu, hidup mereka tak lagi sesunyi atau seceria sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lavinka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 7
Seorang gadis tengah duduk di depan meja rias dalam sebuah kamar hotel mewah. Lampu-lampu kuning hangat menyinari wajahnya yang sedang dirias dengan penuh ketelitian oleh tangan profesional.
Ia adalah Liliana, si penghibur panggung yang sedang dipersiapkan untuk menjadi pengisi acara di salah satu pesta pernikahan anak dari orang ternama di kota ini.
Wajahnya tampak berbeda dari biasanya. Matanya lebih tajam, bibirnya lebih tegas berwarna merah mawar, dan rambutnya disanggul anggun dengan sentuhan modern. Namun, di balik tampilan memesona itu, dia tetaplah Lili. Seseorang yang akan memberikan performa terbaiknya di setiap acara, meski kadang harus berpura-pura kuat di balik tawa dan tepuk tangan.
Setiap klien punya permintaan yang berbeda. Ada yang minta Lili tampil glamor, ada yang minta tradisional. Dia selalu bisa menyesuaikan. Akan tetapi, satu hal yang tidak bisa dinegosiasikan, harga dirinya.
Tak jarang ada yang menyangka dirinya bisa “dibooking” lebih dari sekadar untuk tampil di atas panggung. Ada yang mengira senyum manisnya bisa dibayar dengan uang. Lili selalu menanggapi itu dengan senyum tipis, lalu dengan halus, tapi tegas menolak.
Baginya, kehormatan itu bukan sesuatu yang bisa dibeli. Ia ingin menyerahkan mahkota-nya hanya pada orang yang benar-benar menghargai dirinya. Suaminya kelak.
“Udah kelar, Li. Lo mau lihat rundown acara ke depan atau nunggu giliran di sini aja?” tanya Echa, si penata rias yang juga sahabat dekatnya sejak SMA.
Lili menatap bayangan dirinya sekali lagi di cermin. Kemudian ia bangkit, berjalan ke sofa panjang yang ada di sisi ruangan, dan menjatuhkan diri di atasnya dengan pelan.
“Gue di sini aja. Lo ke depan aja kalau mau liat-liat. Nanti pas bagian gue, tinggal panggil.”
“Oke, gue tinggal, ya,” jawab Echa, lalu keluar dari ruangan, meninggalkan Lili dalam keheningan.
Fuuuuh.
Lili menghela napas panjang, lalu memejamkan matanya sejenak. Dalam balutan gaun anggun berwarna gold rose, ia tampak sempurna dari luar.
“Kapan gue punya acara nikahan sendiri? Bukan cuma ngeramein punya orang lain.” Pikiran itu melintas begitu saja, meninggalkan rasa hangat yang tidak nyaman di dada.
"Apa wajah gue jelek? Apa karena kerjaan gue kayak gini? Tapi, kenapa sih, susah banget nemuin cowok yang mau diajak susah sama gue? Yang nggak sekadar kagum sama penampilan doang.”
Sebenarnya, bukan karena nggak ada yang mau. Justru banyak yang mendekat. Namun, Lili lah yang tak kunjung bisa membuka hati. Terlalu banyak luka, terlalu banyak cerita yang membuatnya berpikir dua kali untuk memberi harapan.
Lili meraih ponsel dari clutch mungilnya. Jari-jarinya menyentuh layar, membuka Instagram, dan seperti biasa, yang pertama terlihat adalah kabar pernikahan, foto bayi, honeymoon ke luar negeri, dan senyum-senyum manis pasangan yang seolah tanpa cela.
"Tinggal gue doang, ya? Yang masih sendiri, yang belum tahu siapa bakal nemenin pulang.”
Bosan, Lili berdiri dan keluar dari kamar. Gaun panjangnya menyapu karpet lorong hotel yang senyap. Langkahnya membawanya menyusuri jalur menuju hall utama, tempat acara berlangsung. Suara musik dan gelak tawa tamu undangan mulai terdengar makin jelas.
Begitu sampai di ujung lorong, Lili berdiri di balik dinding kaca besar yang membatasi ruang tunggu dengan ballroom. Dia memperhatikan pesta dari kejauhan. Para tamu sibuk bersosialisasi, bercanda, dan berfoto dengan pasangan mereka. Lampu kristal menggantung megah di tengah ruangan, menyorot ke arah panggung yang telah disiapkan untuknya.
Akan tetapi, matanya justru menangkap sosok lain. Seorang pria berdiri di dekat meja high table, memegang gelas minuman, berbicara dengan dua tamu lain. Posturnya tegap, gaya bicaranya tetap tenang, dan wajahnya.
“Wait!” Lili menyipitkan mata. Napasnya sedikit tercekat. Itu dia, Andra.
Lelaki yang selama ini diam-diam membuat dadanya ribut sendiri. Lelaki yang membuatnya merasa kecil setiap kali bertengkar, tetapi justru membuatnya gelisah jika tak bertemu.
“Kenapa dunia sesempit ini?” Lili mendengkus kecil. Dia tidak menyangka akan bertemu di tempat seperti ini.
Pikirannya langsung berputar. "Kenapa sedekat ini tapi terasa sejauh itu? Kenapa setiap aku ingin mendekat, kamu malah menjauh? Apa aku nggak cukup pantas buat ada di sampingmu, Ndra?"
***
Sementara itu, Andra yang entah kenapa merasa diawasi, mulai mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Tatapannya waspada, seolah mencari seseorang. Namun, terlalu banyak tamu malam ini. Terlalu banyak senyum basa-basi dan tatapan lapar dari para wanita yang membuatnya jengah.
"Kenapa gue ngerasa dia di sini?" gumamnya dalam hati. Sudah sebulan lebih dia tidak bertemu Lili. Sejak kejadian di rumah neneknya, sejak ia dengan bodohnya mendorong wanita itu menjauh.
Andra menggeleng pelan, menepis perasaannya sendiri. "Nggak mungkin dia di sini. Lo jangan ngayal, Ndra! Nikmatin aja malam ini."
***
Sementara itu, dari balik pilar, Lili buru-buru menyembunyikan diri saat Andra tampak melirik ke arahnya.
"Aigoo, gue cari-cari ternyata lo malah mojok di sini.” Suara Echa membuat Lili tersentak. "Sekarang untuk udah waktunya lo naik panggung."
Tanpa banyak kata, Lili mengangguk. Ia menarik napas panjang sebelum melangkah keluar dari tempat persembunyiannya. Gaun satin warna navy yang membalut tubuhnya berkilau di bawah lampu ballroom. Tatapannya mantap, senyumnya tipis. Ia siap menyembunyikan semua luka di balik suara indahnya.
Andra yang berada cukup dekat dengan panggung, sontak menoleh ketika suara riuh tamu mulai terdengar. Matanya membulat sesaat saat melihat Lili melangkah anggun melewati mereka.
Senyum Lili sempat mengarah padanya, singkat, tetapi cukup jelas.
Refleks, Andra memalingkan wajah. Namun, dadanya bergetar tak karuan. Sementara teman-temannya langsung melongo, saling berbisik sambil terus menatap Lili di atas panggung.
“Cantik banget, bro. Siapa, tuh?”
“Kayak penyanyi profesional, ya, ampun.”
Andra mendesis pelan, jari-jarinya mencengkeram gelas soda di tangannya. Bukan karena tidak setuju, melainkan karena dia membenci perasaan cemburu yang tiba-tiba hadir.
Sementara itu, di atas panggung, Lili membuka acara dengan suara yang tenang dan ramah, menyampaikan ucapan selamat kepada kedua mempelai. Lalu musik mulai dimainkan. Sebuah lagu khas pesta yang ringan, bahagia, dan penuh semangat.
Akan tetapi, yang benar-benar menarik perhatian adalah saat Lili memegang mic dan berkata, “Lagu berikut ini adalah request dari seseorang yang tidak ingin disebutkan namanya. Katanya, lagu ini spesial. Jadi, buat yang tahu lagunya, boleh ikut nyanyi bareng, ya."
Lili sempat melirik ke arah Andra, sekilas—cukup cepat untuk menyamar sebagai bagian dari gestur profesional, tetapi cukup lambat untuk mengirimkan pesan tersirat.
🎵🎶 “Harusnya aku yang di sana, dampingimu dan bukan dia…” 🎶🎵
Tamu undangan bersorak. Lagu dari Armada itu menggema di seluruh ruangan. Banyak yang ikut bernyanyi, bergoyang pelan, dan menyoraki setiap bait patah hati yang dinyanyikan Lili.
Sementara Andra, diam membeku.
Matanya tertuju penuh pada Lili. Suara perempuan itu menggema langsung ke dadanya, mengaduk emosi yang selama ini ia tolak. Liliana menyanyikannya dengan ekspresi yang tulus dan sedikit sendu. Di tengah alunan musik, mata mereka kembali bertemu.
“Tatapan itu. Tatapan yang selalu membuat Andra tidak tenang.
🎵 *Aku terluka... melihat kau bermesraan dengannya...* 🎵
Lili segera memalingkan wajah, suaranya sempat parau sebelum ia berusaha menormalkannya lagi. “Aduh, jadi ikutan baper, ya,” candanya, mencoba mencairkan suasana.
“Pokoknya buat pengantin hari ini, semoga kalian langgeng dunia akhirat. Amin. Nah, habis baper-baperan, kita nyanyi lagu happy, yuk!” serunya riang. Namun, hati Lili tidak riang. Jantungnya berdetak terlalu keras, dan ia tahu kenapa.
Setelah satu jam lebih bernyanyi dan menghibur para tamu, Lili pun menutup penampilannya. Ia menuruni panggung dengan senyum lega dan rasa lelah yang tidak hanya fisik, tetapi juga batin.
Seseorang menyambutnya di bawah panggung dengan tangan terulur, Bumi. Sahabat sekaligus manajernya, yang selama ini setia berada di sisinya.
Lili menyambut tangan itu dengan senyum manis. Ia menggenggam tangan Bumi, dan membiarkan dirinya dipandu turun.
Andra melihat semua itu. Dadanya terasa seperti ditusuk sesuatu yang tajam. Tangannya mengepal. Gelas soda di genggamannya kosong karena tadi ia habiskan dalam satu tegukan penuh amarah yang tertahan.
“Berani banget dia cuekin gue. Biasanya dia yang ribut cari perhatian gue. Sekarang malah gandengan depan umum?" Andra memasukkan tangannya yang terkepal ke saku celana. Wajahnya menegang, tetapi ia tetap menatap kepergian Lili dan Bumi dengan mata tajam yang penuh gejolak.
“Gue nggak suka ini. Gue nggak suka perasaan ini. Tapi, kenapa hati gue justru makin rusuh gara-gara dia?”
mampir juga di novelku yah🥰🙏
Dtunggu yg kak up nya. Semangat juga bt nls nya
syiap lah. ditunggu next chap nya yah.
semangat dan sehat selalu Thor
di tunggu up selanjutnya 🥰
semangat Thor..jangan lupa mampir juga😁