Suatu kehormatan, seorang gadis muda belia memilih menikah dengan seorang dokter duda tua, daripada menjual harga diri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon harsupi fakihudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tentang mereka
Pagi harinya dokter Ilham bangun
"Ya Tuhan, semalam aku tertidur disini rupanya"
Jam masih menunjukkan pukul 04:10 pagi
Ilham berjalan kearah dapur, ternyata mbok siti masih sibuk disana
" Mbok" Panggilnya sambil membenahi penampilannya yang acak acakan
Mbok siti menoleh, dan mendekati tuannya yang berdiri sambil memainkan jari kaki serta jari tangan sampai pada bunyi
"Ya tuan "
" Biasa ya mbok "
"Baik tuan"
Simbok paham, ia segera kembali kedapur dan membuat empat kopi gelas. Setelah aksinya selesai, iapun menaruhnya dimeja makan untuk tuannya, sedang sisanya ia membawanya keluar kepos satpam.
Simbok kembali sibuk dengan dunianya, sedangkan dokter Ilham mulai membersihkan diri untuk segera menunaikan ibadah subuhnya.
Ilham turun masih menggunakan koko serta sarung berwarna putih. Ia duduk dikursi meja makan, mengambil koran dan mulai membacanya.
Ilham mulai menyesap kopi hitamnya, mengambil roti bakar yang sudah disediakan oleh mbok Siti. Ia terus mengunyah sambil melamun. Iya, dokter Ilham sering melamun dengan kaki selonjor dibawah sana.
Dalam hatinya hanya hampa, hampa dan hampa
Tak berapa lama, hari ini, sepagi ini, ada panggilan darurat, dari rumah sakit
Bahwa, ada pasien yang menjerit jerit ingin segera ditindak. Gilanya, pasien hanya ingin dokter Ilham saja yang menangani, padahal dokter penanganan ibu melahirkan caesar, bukan Ilham saja, masih banyak dokter dokter yang muda dan cekatan.
Mungkin, pasien tersebut adalah pasien dokter Ilham, jadi pasien tersebut tetap ingin dokter Ilham saja yang menangani. Entahlah?
Ilham berjalan cepat dan segera membenahi diri untuk pergi kerumah sakit.
Pak Dar yang melihat tuannya sudah rapih segera membuntuti
"Tuan, tuan dokter akan berangkat kerumah sakit sekarang?" Tanyanya sambil terus membuntuti Ilham berjalan
"Ia pak Dar, mesin mobil sudah beres kan?"
"Sudah tuan"
"Mana kontaknya" Ilham meminta kunci mobil, artinya, lagi lagi jabatan sang sopir pribadi tertanggalkan lagi buat pak Dar.
Pak Dar hanya pasrah "Ini tuan"
Setelah Ilham sudah berada didalam mobil, satpan penjagapun sudah siap dipintu gerbang untuk membukakan pintu agar sang tuan bisa keluar dengan mudah.
"Selamat pagi tuan?" Hormatnya sambil menunduk hormat
-
Sifa sudah menata kakaknya seperti biasa agar tidak apek, dan mendudukkannya diatas kursi roda. Lalu mendorongnya agar kakaknya bisa menonton acara televisi terfavorit " Betul, betul, betul" yaitu menonton film animasi kesukaannya.
Sifa mulai menyuapi kakaknya dengan lauk andalannya paha ayam menu idolanya. Tak lupa, Sifa selalu sibuk dengan menata dagangannya agar tidak kesiangan. Masalah sarapan, ia selalu ngemil apa yang ada dirumah. Dan tak lupa Sifa selalu bawa bekel nasi serta lauk didalam box andalannya.
Mak Tun sudah datang sebelum subuh, jadi, sebelum jam 6 pagi, barang dagangan sudah siap tertata dikardus mie instan agar tidak rusak.
"Kakak, jangan rewel ya? Kalau film ini sudah selesai, pencet aja nomer empat ya?"
" Ap apa? pil pilem ap apa?" Ucap Latifah gagap
Sifa tersenyum senang, peningkatan kesehatan kakaknya mulai terlihat jelas.
"Wihhh, kakak sudah pandai berbicara?"
Latifah manggut manggut ikut senyum juga
"Ini," Sifa menunjuk remot tivi agar kakaknya paham "Pencet nomer empat"
Latifah manggut manggut lagi
"Bag bagus?"
"Iya, kakak pasti suka. Filemnya cacing (Larva)"
Sifa memperagakan joget seperti uget uget dengan tubuhnya, latifah terpingkal pingkal
"Sudah jangan ngakak, nanti kakak tersedak"
"I iya"
-
Sifa sudah mulai memanaskan motornya, memeriksanya sebelum berangkat kerja,itu memang sudah kebiasaannya, takut ban rodanya kempes atau apalah bisa berabe kalau itu terjadi.
Setelah dirasa beres, iapun mulai naik keatas motor " Maaakkkk Sifa berangkat ya maak"
Mak Tun yang sedang sibuk membenahi dapur, menjawabnya sambil berteriak "Iya neeeeng, hati hati"
-
Dirumah sakit
Sifa sudah mengepel seluruh ruang mawar, termasuk ruangan dokter Ilham.
Sifa sudah memasuki ruangan yang biasa ia sambangi untuk berbagi kue. Ada yang mendapatkan lontong isi kentang, ada yang mendapat risol isi kentang, terserah Sifa karena ini hanya sisa hitungan.
Dari jauh tak sengaja dokter Ilham melintas dikoridor antara kamar kamar pasien sehabis tugasnya membedah pasien secara caesar, Ia melihat seorang gadis yang tidak asing, masuk kekamar pasien satu, dan keluar dari kamar pasien yang lain. Bukan menyapu ataupun mengepel, melainkan membawa kresek hitam dan hanya mengangguk kepada semua orang yang berada didepan kamar kamar pasien
Dokter Ilham tidak ambil pusing, apa yang dilakukan Sifa dia juga tidak tau. Dan bukan wewenangnya untuk menegurnya.
Dokter sudah masuk kedalam ruangannya, dilihatnya ada segelas teh hangat sedikit panas, ada mika berisi lontong dan risol juga masih hangat, berarti ini baru saja diletakkan. Bathin Ilham
Ilham kembali berjalan menuju pintu, ia melongok dan melihat sosok anak itu lagi yang masih sibuk keluar masuk pintu pasien diujung koridor "Sebenarnya, anak itu lagi ngapain? kalau jingkrak jingkrak begitu ngapain dirumah sakit. Tapi apa yang ia lakukan? kenapa sepertinya semua orang yang bertemu dengannya hanya tersenyum" Ilham bermonolog
Ilhampun kembali masuk, ia mulai mengambil lontong hangat menggoda perutnya yang sedikit lapar "Enak"
Setelah habis lontongnya, iapun mengambil risol dan memakannya pula " Nggak bosen , enak juga " Setelah meminum wedang hangatnya "Lha, kok rasanya wedang jae, nggak salah nih"
Tiba tiba ada ketokan pintu dari luar
"Masuk"
"Dok, Visit pada pasien yang akan melahirkan dulu ya dok "
Dokter Ilham mengernyitkan dahi
"Ini pasien datang semalam dok, dan ingin diperiksa oleh dokter Ilham, pasien tidak mau diganti dengan dokter lain. Terus, dokter yang lain juga belum datang "
"Baiklah ayo" Ilhampun menggiring para dayang dayang yang membantunya melaksanakan tugas.
Dokter kandungan disini, kebanyakan membuka praktik sendiri diklinik klinik mereka, akhirnya tugas dirumah sakit selalu dinomor duakan.
Berbeda dengan Ilham, dia memegang "karsa dan karya demi kemanusian yang dibutuhkan banyak orang" itulah yang tersemat dalam hati seorang Ilham.
Meskipun dia punya banyak uang untuk membangun klinik atau rumah sakit ibu dan anak (RSIA) , ia tidak melakukannya. Alasannya simpel, Tenaga dan waktu. Ia tidak mau menghabiskan tenaga dan waktu hanya demi uang.
Ilham hanya mempunyai satu bisnis lain yaitu apotik. Apotik yang bersebelahan dengan rumah sakit ini, sangat menjanjikan. Penghasilannya sudah lebih dari cukup, pengunjungnya banyak, tidak melibatkan dia sepenuhnya. Ilham datang, jika ingin berkunjung saja, karena selain itu, dia jarang singgah.
Ilham mempercayakan seseorang untuk mengelolah bisnisnya.
Dia memperkerjakan beberapa karyawan biasa, dan mempercayakan pada seorang apoteker handal dan jujur tentunya, dan bukti dari kejujurannya, tiap hari uangpun mengalir deras kekantong Ilham. Bengkaklah kantong Ilham..
Sayang, jodoh belum menyambutnya, dan Ilham belum tersentuh untuk mencarinya
Bersambung...
kangen sama cerita lama...
kangen pengen baca lagi...
sakjane ki aku kangen karro karrya mu thor...😩
gak buat karya lagi kah🤔
kata *samoza* jadi kelingan sama novel ini🙈
klw suami di dunia nyata kayak bgtu.. ummmm senangx