Dianjurkan membaca Novel TK berjudul Lelaki Berkacamata agar lebih paham jalan cerita novel berikut ini.
Annemie, biasa di panggil Anne. Dia adalah anak yang cerdas, ceria dan baik hati. Dia dibesarkan di panti asuhan sejak masih bayi. Entah dari mana asalnya.
Berbanding terbalik dengan Anna teman sebayanya di panti asuhan. Meskipun Anna juga anak yang cerdas tapi dia lebih pendiam dan juga perasa.
Seiring berjalannya waktu, banyak cinta yang datang dengan cara yang tidak biasa. Ada Alan, Larry, dan Dinda yang mengelilingi mereka membuat cinta menjadi lebih rumit. Apakah mereka masih akan bertahan sebagai saudara atau saling benci karena cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab VII
Kau tahu
Ada rasa ragu di hatiku
Ada berjuta tanya
Ada rasa yang aku pun tak tahu kenapa
Tawamu mengingatkan aku pada seseorang
Tingkah laku yang sama juga kau tunjukkan
Lalu dimana aku bisa membedakan
Jika yang ada hanya persamaan
*****
Dengan langkah pasti Anne keluar dari toilet menuju ke ruang kelasnya. Tapi ternyata dugaannya benar, kelas sudah dimulai dan pintu tertutup seperti biasanya.
Hati-hati Anne mengetuk pintu. Sekali, dua kali dan saat ingin mengetuk untuk ketiga kalinya pintu kelas terbuka. Dari dalam kelas terlihat pak Bakti yang mempunyai kumis panjang melihatnya dengan sanggar.
"Dari mana Anne?" tanya pak Bakti dengan suara beratnya yang terkesan sangar.
"Dari toilet pak" jawab Anne datar. Dia yakin jika Larry sudah membantunya dengan memberi tahu pada pak Bakti tentang kosongnya kursi tempat duduknya.
"Kenapa tidak bilang pada salah satu teman agar bisa menjelaskan tentang kekosongan tempat duduk kamu?" tanya pak Bakti lagi masih dengan suaranya yang terdengar sangar.
Anne tidak menjawab. Dia malah mengerutkan keningnya bingung. Dia berpikir jika tadi sudah meminta bantuan untuk memberikan ijin jika ada guru yang datang kepada Larry. Apakah Larry tidak memberikan penjelasan kepada pak Bakti?
"Tadi Anne sudah memberitahu pada Larry pak jika sedang sakit perut dan harus ketoilet segera. Anne juga sudah minta bantuan untuk memberikan penjelasan jika ada guru yang datang. Apa Larry tidak menjelaskan kepada bapak?" Anne menjawab pertanyaan pak Bakti dengan penjelasan yang sejelas-jelasnya. Dia juga bertanya apakah Larry tidak memberikan penjelasan.
Pak Bakti tertegun sebentar. Dia berpikir jika tadi Larry sama sekali tidak membuka suaranya sedikit pun.
Akhirnya pak Bakti mempersilakan Anne untuk masuk dan kembali duduk di tempatnya.
Pak Bakti beralih atensi kepada Larry yang sedari tadi diam dan tidak mengeluarkan suara sama sekali.
"Larry. Benarkah tadi Anne sudah memberitahu kamu jika sedang sakit perut dan harus ke toilet segera?" tanya pak Bakti kepada Larry.
Larry tampak mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan pak Bakti.
"Kenapa kamu diam saja dan tidak memberi tahu kepada bapak?" tanya pak Bakti lagi dengan wajah penuh tanda tanya. Wajahnya menjadi terlihat lebih sangar dibanding yang tadi.
Ternyata semua itu tidak berpengaruh terhadap sikap Larry yang tetap pada mode wajahnya yang datar.
"Bapak tidak bertanya." Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Larry. Setelahnya dia kembali diam tanpa bermaksud untuk bicara lagi.
Anne yang sudah duduk di tempatnya yang berada di belakang tempat duduk Larry hanya mendengus kesal.
"Dasar es!" gerutu Anne dengan menghembuskan nafasnya kasar. Dia sedikit heran dengan sikap Larry yang terlalu acuh.
Larry hanya diam tanpa merespons dan membantah apa yang dia dengar dengan ucapan Anne. Padahal dia sangat jelas mendengar jika perkataan Anne ditujukan kepadanya.
"Aku pikir tadi pamit pada kamu yang lebih dekat tempat duduknya. Eh... malah gak tahunya cuma patung doang!" Anne masih saja menggerutu tidak jelas. Mengeluarkan semua rasa gemas yang masih dua rasakan atas sikap Larry.
"Anne!" Tegur pak Bakti karena melihat Anne yang masih terlihat grasak-grusuk tidak tenang di tempatnya duduk.
"Apa masih sakit perut?" Pak Bakti kembali bertanya dengan nada khawatir. Dia tidak mau disalahkan pihak sekolah jika harus memaksa muridnya untuk menerima pelajaran saat dalam keadaan sakit.
"Masih sedikit pak!" jawab Anne dengan mimik wajah seperti orang yang sedang menahan sakit. Dia hanya pura-pura biar pak Bakti yang sangar bisa melunak sedikit demi absen kelas pagi ini.
"Ya sudah kamu ke klinik sana minta obat. Kalau gak kuat istirahat saja. Nanti pelajaran yang tertinggal bisa pinjam temannya!" Pak Bakti memberikan solusi untuk masalah Anne pagi ini.
"Terima kasih pak, Anne masih bisa bertahan kok. Nanti kalau istirahat saja Anne ke klinik" kata Anne menolak tawaran pak Bakti. Tentu saja Anne menolak. Dia bukan termasuk anak yang suka memanfaatkan situasi. Dia mengeleng dengan tersenyum canggung.
"Ya sudah kalau begitu. Kita lanjut lagi pelajarannya!" kata pak Bakti pada semua siswanya. Saat melangkah kembali ke depan kelas, pak Bakti melirik ke arah Larry yang hanya diam saja sedari tadi. Wajahnya juga tampak datar dan tidak berexpresi.
"Hah...!" Terdengar hembusan nafas kasar Anne yang merasa lega karena absen paginya bisa di selamatkan. Dengan sengit Anne melihat punggung Larry yang ada didepannya.
"Awas saja nanti!" Ancam Anne dengan suara geram. Ingin rasanya dia menendang tempat duduk Larry agar terjungkal saat itu juga.
Dari tempatnya duduk, Larry hanya tersenyum tipis mendengar semua umpatan dan kekesalan Anne. Dia semakin ingin melihat tingkah laku Anne yang tidak semua orang tahu saat sedang kesal tapi tidak bisa berbuat apa-apa juga.
*****
Saat istirahat tiba.
Anne segera beranjak dari tempat duduknya, kemudian mendekat ke tempat duduk Larry yang belum juga beranjak dari tempatnya duduk.
"Woii Bambang cakep... kenapa pesan aku pagi tadi dicuekin!" Teriak Anne tepat di depan Larry. Dia menatap langsung ke arah mata Larry yang tidak kaget sedikitpun.
"Jawab bisa kan!" gerutu Anne yang merasa kesal sendiri karena tidak ada komentar dari mulut Larry.
Dari arah pintu kelas tampak Anna yang berjalan tergesa beriringan dengan Alan.
"Kamu sakit Inne?" tanya Anna khawatir. Dia memegang tangan Anne untuk memastikan keadaan suhu tubuh Anne.
"Gak papa, cuma sakit perut saja kok tadi pagi. Ini udah mendingan" jawab Anne santai agar Anna tidak merasa khawatir lagi.
"Ya sudah ayok ke kantin, biar perut kamu ada isinya lagi." Alan mengajak keduanya untuk segera keluar kelas menuju kantin.
"Ayok bro ikut!" Ajak Alan pada Larry yang masih berdiam diri di tempatnya.
"Gak usah ajak dia. Nanti kalau lapar juga kesana sendiri!" kata Anne ketus. Dia masih dalam mode juteknya.
"Biar rame Anne... lagian dia juga jalan sendiri ini. Ayok bro!" Sekali lagi Alan menawari Larry untuk ikut bergabung bersama mereka ke kantin.
Akhirnya Larry beranjak dari tempat duduknya dan mengikuti mereka bertiga menuju kantin sekolah. Sepanjang jalan banyak siswa-siswi yang berpapasan dengan mereka menatap kagum dengan keserasian dari keempatnya.
"Kan jadi risih!" gerutu Anne saat mereka memasuki kantin dan terlihat olehnya banyak anak-anak yang memandang kearah mereka.
"Udah cuek saja!" kata Alan tanpa menghiraukan tatapan aneh yang ditunjukkan oleh Dinda, sepupunya yang duduk bersama teman-teman gengnya.
Mereka pun ikut antri satu persatu untuk menerima kotak makanan dari petugas kantin. Setelahnya mereka mencari tempat duduk yang masih kosong agak longgar agar mereka bisa duduk bersama juga.
"Anna, kamu kok tahu aku tadi pagi sakit?" tanya Anne pelan saat mereka sudah duduk dan menunggu Alan yang sedang mengambil botol minuman dari tempat yang berbeda dari antrian kotak makan.
"Dinda yang kasi tahu" jawab Anne pelan agar tidak terdengar oleh Dinda yang memang duduknya tidak seberapa jauh dari tempatnya.
"Ah.. sudah aku duga!" kata Anne kesal dengan melirik tajam ke arah Dinda dan kawan-kawanya.
"Udah Anne... dia sebenarnya baik kok. Sama juga kayak kamu" kata Anna menenangkan Anne yang terlihat masih kesal.
"Jangan bandingkan aku dengannya!" Anne memberikan peringatan kepada Anna.
Tapi Anna hanya tersenyum saja menangapi Anne yang masih dalam keadaan kesal saat ini.
lanjut...