"Setelah lima tahun menjadi pelayan tak bergaji bagi suami dan keluarga mertuanya, Rania pergi membawa luka dan kembali sebagai badai yang akan menghancurkan kerajaan mereka."
Selamat membaca...jangan lupa dukung authir yaa...terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penjarahan di Tengah Kegelapan
Kegelapan di dalam rumah mewah Wijaya terasa sangat menekan. Tanpa pendingin ruangan, udara terasa pengap dan panas, menambah aroma frustrasi yang menguar dari setiap sudut ruangan.
Rendra duduk di lantai ruang tamu, bersandarkan sofa yang kini terasa keras dan tidak nyaman. Hanya ada cahaya dari layar ponselnya yang redup, menunjukkan sisa baterai dua persen.
Ia baru saja menghabiskan waktu mencoba menghubungi kolega bisnisnya, sayangnya hasilnya nihil. Rendra merasa seperti sampah yang dibuang ke pinggir jalan.
Tiba-tiba, telinganya menangkap suara langkah kaki yang terburu-buru dari arah lantai dua. Rendra mengerutkan kening. Ibu? Atau Tyas? Tapi langkah itu terlalu ringan dan tergesa-gesa.
Rendra bangkit berdiri, menggunakan sisa tenaga di kakinya yang lemas. Ia berjalan menuju tangga, dan tepat saat itu, sesosok bayangan turun dengan memeluk dua kotak perhiasan besar dan menenteng tas jinjing penuh.
"Gisela?" Rendra tertegun. Ia segera menyalakan senter dari ponselnya.
Gisela tersentak. Ia berdiri di anak tangga tengah, wajahnya yang cantik kini tampak pucat dan penuh keringat. Di belakangnya, seorang pria yang tidak dikenal Rendra—yang ternyata adalah sopir sewaan—sedang menggotong koper besar milik Gisela yang selama ini disimpan di kamar tamu atas.
"Gisela, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu mengemas semua barangmu?" tanya Rendra dengan suara parau.
Gisela tidak langsung menjawab. Ia justru mendengus, rasa takutnya berubah menjadi kejengkelan karena ketahuan. "Mas, jangan bodoh. Kamu pikir aku akan tinggal di rumah yang lampunya saja mati? Aku ke sini untuk mengambil barang-barangku yang tertinggal. Perhiasan, tas, dan dokumen mobil yang kamu berikan padaku."
"Tapi kita bisa bicara, Sayang. Aku sedang dalam masalah, aku butuh kamu—"
"Mas!" Gisela memotong dengan suara tajam yang menggema di ruang tamu yang kosong. Ia melangkah turun, mendekati Rendra dengan tatapan penuh kebencian. "Bicara apa? Bicara soal bagaimana polisi akan datang besok pagi karena kasus penggelapan dana yang kamu lakukan? Rania sudah memberitahukan semuanya padaku! Dia bilang namaku terseret karena aku menerima aliran dana darimu. Aku tidak mau dipenjara gara-gara pria pecundang sepertimu!"
Rendra ternganga. "Rania menghubungimu?"
"Ya! Dia memberitahuku segalanya. Dia memberitahuku bahwa semua kemewahan yang kamu kasih ke aku itu uang panas yang jejaknya sudah dia serahkan ke auditor," ucap Gisela sambil memberi isyarat pada pria di belakangnya untuk terus membawa koper ke luar. "Jadi, sebelum asetmu disita dan aku tidak bisa mengambil apa-apa, lebih baik aku ambil sekarang. Termasuk perhiasan ini, ini milikku!"
"Gisela, itu perhiasan yang aku beli dengan uang tabungan Abid! Jangan dibawa!" Rendra mencoba menahan lengan Gisela, namun wanita itu menepisnya dengan kasar.
"Lepas! Kamu itu sudah miskin, Rendra! Kamu sukses karena otak istrimu, dan sekarang setelah dia pergi, kamu tidak lebih dari sekadar pria malas yang tidak punya masa depan. Untuk apa aku bertahan dengan pria yang bahkan tidak punya akses ke rekeningnya sendiri?"
Gisela meludah ke lantai, tepat di depan sepatu Rendra. Sebuah penghinaan yang lebih menyakitkan daripada tamparan fisik.
"Jalan!" perintah Gisela pada pria pengangkut barangnya.
Rendra hanya bisa berdiri mematung saat melihat barang-barang mewah yang ia beli dengan mengorbankan kebahagiaan anak istrinya, kini dibawa pergi oleh wanita yang selalu memujinya setinggi langit. Gisela tidak pamitan karena sayang; dia kembali karena dia serakah dan tidak mau meninggalkan satu pun barang berharga di rumah yang akan runtuh itu.
"Gisela! Kamu tega!" teriak Rendra saat mobil di luar mulai menyala.
Gisela tidak menoleh. Ia masuk ke dalam mobil, dan tak lama kemudian, deru mesin itu menjauh, meninggalkan rumah Wijaya dalam kesunyian yang mencekam.
"Mana dia?! Rendra! Ibu dengar suara keributan!" Ibu Ratna muncul dari kegelapan sambil memegang lilin yang apinya bergoyang-goyang. "Siapa yang pergi?!"
Rendra jatuh terduduk di lantai yang dingin. "Gisela, Bu. Dia menjarah semuanya. Dia mengambil barang-barangnya ... dan perhiasan yang Ibu mau pakai besok."
"Apa?! Perhiasan Ibu dibawa juga?! Dasar maling! Kejar, Rendra! Kejar!" Ibu Ratna histeris, ia memukuli bahu Rendra. "Kenapa kamu diam saja?! Itu emas Ibu!"
"Sudah tidak ada gunanya, Bu..." Rendra terisak, tangisnya pecah di tengah kegelapan ruang tamu.
"Rania benar. Kita ini memang pantas dihancurkan. Kita membuang berlian demi sampah yang sekarang malah merampok kita."
Tepat saat itu, ponsel Rendra yang sisa baterainya tinggal satu persen bergetar untuk terakhir kalinya. Sebuah pesan masuk.
Pesan dari Rania:
"Bagaimana? Sakit? Melihat wanita yang kamu puja menjarah sisa hidupmu di depan matamu sendiri. Aku sengaja memberi tahu Gisela bahwa asetmu akan segera disita agar dia menunjukkan sifat aslinya: Seorang parasit yang akan lari saat inangnya mati. Nikmatilah malam pertamamu dalam kehampaan, Rendra. Besok, giliran hukum yang akan menyapamu."
Layar ponsel itu mati total. Gelap. Sesak.
Rendra meraung di dalam kegelapan itu. Ia ingin memutar waktu, ia ingin kembali ke malam di mana ia seharusnya menggendong Abid ke rumah sakit. Ia ingin kembali ke waktu di mana ia seharusnya memeluk Rania dan mengucapkan terima kasih atas kopinya.
Tapi waktu adalah satu-satunya hal yang tidak bisa dibeli dengan sisa uang korupsinya.
Di sisi lain kota, di sebuah kantor yang menghadap gemerlap lampu Jakarta, Rania sedang duduk berhadapan dengan Elang. Di atas meja mereka, terdapat sebuah peta kekuatan aset Wijaya Corp yang kini mulai retak.
"Gisela baru saja keluar dari rumah itu," ucap Elang sambil menatap layar monitor pengawas yang ia pasang di sekitar area rumah Rendra.
"Sesuai prediksimu, dia mengambil apa pun yang bisa dia bawa."
Rania menyesap tehnya dengan tenang. "Biarkan dia membawanya, El. Dia tidak tahu bahwa perhiasan itu sudah masuk dalam daftar barang yang akan disita. Dia hanya membantu polisi mempercepat proses pengumpulan barang bukti tanpa dia sadari. Saat dia mencoba menjualnya besok, sistem akan memberikan notifikasi pada pihak berwajib."
Elang menatap Rania dengan rasa kagum yang sulit disembunyikan. "Kamu menggunakan keserakahan Gisela untuk menjeratnya sendiri. Taktis sekali."
"Aku hanya memberikan apa yang mereka inginkan, El," sahut Rania dingin. "Mereka ingin uang, mereka ingin harta, dan mereka ingin kebebasan tanpa tanggung jawab. Jadi, aku biarkan mereka saling berebut hingga akhirnya mereka semua masuk ke lubang yang sama."
Rania berdiri, merapikan dokumen di atas meja.
"Besok adalah hari lelang. Aku ingin mengambil alih gedung kantor Wijaya Corp. Aku akan mengubah namanya menjadi Arania International. Aku ingin Rendra melihat dari balik jeruji besi bagaimana perusahaan yang ia sia-siakan itu tumbuh menjadi raksasa di bawah tangan wanita yang dulu ia panggil 'istri bawang'."
Malam itu, Rania tidur dengan nyenyak. Tanpa perlu memikirkan menu sarapan untuk mertua yang tidak tahu terima kasih, dan tanpa perlu merapikan dasi untuk suami yang mengkhianatinya.
Besok, kejutan yang sesungguhnya akan dimulai. Dan kali ini, Rania tidak akan menyisakan sedikit pun celah bagi Rendra untuk bernapas lega.
pst dapat cap pelakor😄🤭