NovelToon NovelToon
Arumi

Arumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​Dicap sebagai janda rendahan, dipermainkan oleh pria tak bertanggung jawab, dan dicemooh oleh keluarga sendiri karena kemiskinannya, Arumi memiliki segalanya untuk hancur. Namun, Arumi memilih untuk bangkit dari abu.

​Ia mematikan hatinya, menolak bantuan siapa pun, dan bekerja dalam diam hingga namanya disegani.

Saat ia kembali, ia tidak datang untuk memohon. Ia datang untuk menagih setiap air mata yang pernah ia jatuhkan.

​Karena pembalasan yang paling manis adalah kesuksesan yang membuat musuhmu tidak mampu lagi menatap matamu.

Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Arumi.
By - Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 7

Pagi itu, Butik Griya Anggun tampak lebih sibuk dari biasanya. Arumi datang lebih awal, memastikan setiap sudut ruangan bersih dan manekin mengenakan koleksi terbaru.

Namun, ada yang aneh. Beberapa rekan kerjanya sesama penjahit berbisik-bisik saat ia lewat, lalu mendadak diam ketika Arumi menoleh.

Arumi mencoba mengabaikannya. Ia menarik napas dalam, memegang amplop cokelat di tasnya yang kian menebal. 'Sedikit lagi, Arumi. Sedikit lagi kita punya tempat tinggal yang layak,' batinnya menguatkan diri.

Di ruang kerja Bu Sarah, suasana tampak tegang. Pemilik butik itu menatap layar ponselnya dengan dahi berkerut.

Sebuah kiriman anonim masuk ke akun pribadinya, serangkaian foto Arumi yang sedang dimaki oleh istri Reza di lobby kantor beberapa waktu lalu. Di bawah foto itu tertulis pesan singkat.

'Apakah Butik Griya Anggun sekarang menjadi tempat penampungan pelakor dan pencuri ?'

Lonceng pintu berdenting. Arumi segera berdiri di posisi menyambut. Namun, yang masuk bukanlah pelanggan biasa. Dinda melangkah masuk dengan gaun sutra berwarna zamrud, kali ini didampingi oleh Reni.

Keduanya mengenakan kacamata hitam besar, melangkah dengan keangkuhan yang memenuhi ruangan.

"Oh, lihat siapa yang masih di sini," suara Dinda melengking, sengaja dikeraskan agar didengar oleh dua orang pelanggan kelas atas yang sedang mencoba gaun di dekat sana.

Arumi menatap mereka datar. "Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?"

Dinda tidak menjawab. Ia mulai berkeliling, menyentuh kain-kain mahal dengan gerakan kasar. "Kainnya bagus, tapi kalau disentuh oleh tangan kotor, baunya jadi tidak enak, ya?"

Reni tertawa kecil, menutupi mulutnya dengan tangan yang dihiasi kuku palsu. "Betul, Din. Apalagi kalau tangan itu sudah terbiasa meraba milik orang lain."

Arumi mengepalkan tangannya di balik seragamnya. Ia melihat Bu Sarah keluar dari ruangannya, menatap pemandangan itu dengan wajah gelisah.

Tiba-tiba, saat Arumi hendak melewati Dinda untuk mengambilkan pesanan pelanggan lain, Dinda sengaja menyenggol bahu Arumi dengan keras. Tas bermerek milik Dinda terjatuh, isinya berhamburan.

"Aduh! Jalannya pakai mata, dong!" bentak Dinda.

Arumi refleks berjongkok untuk membantu memungut barang-barang tersebut. "Maaf, Nyonya. Saya tidak sengaja."

Namun, saat Arumi berdiri kembali, Dinda tiba-tiba berteriak histeris. "Dompetku! Mana dompet kulit buayaku? Tadi ada di dalam tas ini!"

Suasana butik seketika membeku. Bu Sarah mendekat dengan terburu-buru. "Ada apa ini, Jeng Dinda?"

"Dompetku hilang, Bu Sarah! Tadi pelayan ini yang paling dekat denganku. Dia menyenggolku dan berjongkok di dekat tas ini!" Dinda menunjuk hidung Arumi dengan telunjuknya yang gemetar karena akting yang sangat meyakinkan.

"Saya tidak mengambilnya, Bu," ucap Arumi tegas, matanya menatap tajam ke arah Dinda.

"Halah! Jangan bohong!" Reni menimpali, melangkah maju ke tengah kerumunan pelanggan yang kini mulai berbisik-bisik. "Ibu-ibu sekalian, hati-hati dengan wanita ini. Namanya Arumi. Dia ini janda yang diusir dari lingkungan rumahnya karena jadi pelakor. Dia juga suka mencuri uang keluarga!"

Salah satu pelanggan, seorang istri pejabat, segera memeluk tasnya erat-erat seolah Arumi adalah wabah penyakit. "Benarkah? Wah, ngeri sekali. Bu Sarah, kenapa mempekerjakan orang seperti ini?"

"Saya saksinya!" teriak Reni lagi. "Kami teman SMA-nya. Dari dulu sifatnya memang panjang tangan. Dia itu janda miskin yang terobsesi hidup mewah dengan cara singkat. Entah menggoda suami orang, entah mencuri."

Arumi merasa kepalanya berdenyut. Penghinaan ini jauh lebih publik dan menyakitkan dibanding sebelumnya. Ia menoleh ke arah Bu Sarah, berharap ada secercah kepercayaan di sana.

Namun, Bu Sarah hanya diam, wajahnya pucat menatap ponselnya, mungkin memikirkan foto-foto anonim yang ia terima tadi pagi.

"Periksa tasnya!" teriak Dinda. "Jangan biarkan dia keluar sebelum dompetku ketemu!"

"Saya tidak keberatan diperiksa," sahut Arumi dingin. "Tapi jika tidak ketemu, Anda harus meminta maaf secara terbuka di sini."

Dinda tersenyum licik. "Minta maaf? Pada pencuri? Jangan mimpi!"

Arumi memberikan tas kerjanya yang diletakkan di bawah meja kasir. Namun, sebelum Bu Sarah sempat membukanya, Dinda tiba-tiba menunjuk ke arah tumpukan kain display di sudut ruangan yang baru saja ditata Arumi.

"Coba lihat di sana! Dia pasti menyembunyikannya di antara kain-kain itu!"

Reni berlari ke arah kain-kain tersebut dan mengobrak-abriknya. Benar saja, sebuah dompet mungil berwarna cokelat terjatuh dari lipatan kain satin biru.

"Ini dia!" Reni mengangkat dompet itu tinggi-tinggi.

Arumi terpaku. Ia tahu Dinda atau Reni pasti sudah menyelipkannya saat ia sedang sibuk tadi.

"Kurang ajar!" Bu Sarah akhirnya angkat bicara, suaranya bergetar karena marah dan malu. "Arumi... saya memberi kamu kesempatan karena saya pikir kamu orang baik. Ternyata apa yang dikatakan orang-orang ini benar?"

"Saya dijebak, Bu," bisik Arumi. Namun, suaranya kalah oleh sorakan pelanggan yang merasa jijik.

"Lihat mukanya, sudah ketahuan mencuri masih saja berbohong. Dasar janda gatal, pencuri pula!" maki salah satu pelanggan.

Dinda melangkah mendekati Arumi, menatapnya dengan kemenangan yang mutlak. "Kamu pikir kamu bisa naik kelas, Arumi? Sampah tetaplah sampah. Seberapa pun harum parfum di butik ini, bau busuk dari statusmu tidak akan pernah hilang."

Dinda kemudian berbalik ke arah Bu Sarah. "Bu Sarah, kalau wanita ini masih bekerja di sini besok, saya pastikan tidak ada satu pun dari teman-teman sosialita saya yang mau menginjakkan kaki di butik ini. Kami tidak mau kehilangan barang berharga hanya karena Anda memelihara kriminal."

Setelah Dinda dan Reni pergi dengan tawa penuh kemenangan, butik menjadi sunyi sesaat, meninggalkan Arumi yang berdiri mematung di tengah ruangan. Pelanggan lain segera pergi dengan wajah tidak senang, berjanji tidak akan kembali lagi.

Bu Sarah menatap Arumi dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara kecewa, marah, dan takut akan kelangsungan bisnisnya.

"Arumi, masuk ke ruangan saya sekarang," perintah Bu Sarah dingin.

Di dalam ruangan, Bu Sarah melemparkan ponselnya ke atas meja. Layarnya menampilkan foto Arumi saat dipermalukan oleh istri Reza.

"Saya bisa mentoleransi kemiskinanmu, Arumi. Tapi saya tidak bisa mentoleransi skandal dan pencurian," ucap Bu Sarah. "Bisnis ini adalah segalanya bagi saya. Nama 'Griya Anggun' sudah saya bangun belasan tahun, dan hari ini, reputasinya hancur hanya dalam sepuluh menit karena namamu disebut sebagai pelakor dan pencuri."

"Ibu tahu saya dijebak," ucap Arumi pelan.

"Tahu atau tidak, itu tidak penting lagi!" bentak Bu Sarah. "Dunia luar melihat kamu sebagai masalah. Dan saya tidak bisa memelihara masalah."

Arumi memejamkan mata. Ia bisa merasakan jaring fitnah Dinda sedang menariknya masuk ke dalam lubang kegelapan yang lebih dalam. Ia sudah bekerja begitu keras, menjahit hingga jemarinya berdarah, melayani pelanggan yang cerewet, semuanya demi satu hal, martabat. Dan kini, martabat itu kembali diludahi.

"Besok adalah acara peluncuran koleksi baru kita," lanjut Bu Sarah. "Banyak pers dan tamu penting yang datang. Saya tidak mau ada drama lagi."

Arumi berdiri di depan cermin butik, melepas seragam putihnya yang bersih. Ia menatap pantulan dirinya. Di pojok ruangan, Kirana menatapnya dengan wajah bingung dan takut.

Arumi tidak menangis. Ia justru merasakan sesuatu yang membeku di dalam dadanya. Ia mengambil gunting jahit yang ia simpan, memasukkannya ke dalam tas.

'Terima kasih, Dinda,' batinnya. Terima kasih karena telah mengingatkanku bahwa kejujuran tidak ada harganya di dunia ini. Kamu telah menyelesaikan tugasmu menghancurkan Arumi yang lemah. Sekarang, biarkan aku menunjukkan kepadamu siapa Arumi yang sebenarnya.'

Arumi keluar dari butik dengan punggung tegak, sementara Bu Sarah sedang menelepon seseorang untuk memastikan berita pencurian itu tidak menyebar lebih jauh, padahal ia tidak tahu, Dinda sudah menyiapkannya untuk menjadi viral.

...----------------...

To Be Continue ...

1
THAILAND GAERI
👍👍kpn up thor
Dew666
💎💎💎💎
Enny Suhartini
semangat Arumi
Dyas31
bagus cerita nya KK, mengandung konflik berat, tetep semangat KK kuuuu 😘😘😘😘
Enny Suhartini
ayo Arumi semangat 💪
Sulfia Nuriawati
kok ni crta keterlaluan skali konflik nya, dlm dunia nyata bs d siksa tu yg sk fitnah knp jatuhnya arumi sampai sdh bangkit jd kesel bc nya
Enny Suhartini
semangat ya Arumi
Enny Suhartini
Miss Ra kenapa kok kejam banget
Enny Suhartini
kok kejam sekali sih
Enny Suhartini
sabar dan kuat ya Arumi 💪
Enny Suhartini
ayo semangat Arumi💪
Enny Suhartini
cerita penuh perjuangan
semoga kuat dan sabar Arumi
Dew666
☀️☀️
Dew666
🔥🔥🔥🔥
Himna Mohamad
sdh mampir baca,,lanjut kk
Ma Em
Miss Ra , Arumi atau Arini namanya , tapi semoga sukses Arini dgn usahanya dan balas tuh perbuatan mbak Sari yg menyebalkan selalu menghina dan merendahkan Arini tunjukan pada mereka yg sdh menghina kamu Arini bahwa Arini bisa sukses .🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Miss Ra: ooh sori, saya ingatnya arini yg di novel baru yg belum rilis..
nanti saya rubah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!