NovelToon NovelToon
Idola Kampus Itu Pacarku

Idola Kampus Itu Pacarku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Woy, lihat! Itu Kak Baskara!"

​Bisikan-bisikan itu menyebar cepat seperti api yang menyambar rumput kering. Lara yang awalnya sibuk merapikan buku catatannya, refleks mendongak ketika suasana mendadak hening selama satu detik, lalu pecah oleh riuh tepuk tangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

asisten sementara

Mobil sport Baskara berhenti dengan halus tepat di depan gerbang kecil klinik kampus. Lokasi ini memang agak tersembunyi, jauh dari keramaian gerbang utama yang biasanya menjadi titik kumpul mahasiswa baru.

​Lara turun dari mobil sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. "Untung banget masih sepi, Kak. Kayaknya mahasiswa baru belum ada yang sampai ke area sini," bisik Lara dengan nada lega.

​Baskara menyusul turun, jalannya sedikit pincang namun ia tetap berusaha menjaga postur tubuhnya agar tetap terlihat tegap. "Itulah gunanya saya berangkat lebih pagi. Saya nggak mau ada drama tambahan kalau kita terlihat berdua di jam sibuk."

​Mereka melangkah masuk ke dalam klinik yang beraroma khas obat-obatan dan antiseptik. Suasananya sangat tenang, hanya terdengar suara pendingin ruangan yang mendengung pelan. Di balik meja administrasi, seorang perawat senior sedang sibuk mencatat sesuatu di buku besar.

​"Permisi, Bu," sapa Baskara sopan.

​Perawat itu mendongak, kacamatanya sedikit melorot ke ujung hidung. "Oh, Nak Baskara? Kenapa pagi-pagi sudah ke sini? Ada yang luka?"

​"Kaki saya terkilir saat futsal semalam, Bu. Mohon bantuannya untuk diperiksa sebentar," jawab Baskara.

​"Oh, ya sudah. Langsung duduk di bed pemeriksaan itu saja," ujar perawat itu sambil menunjuk ke arah bilik yang hanya dibatasi oleh tirai hijau. Kemudian, matanya beralih ke arah Lara yang berdiri kaku di belakang Baskara. "Lho, ini siapa? Pacarnya ya?"

​Lara langsung gelagapan, tangannya melambai panik. "Eh, bukan! Bukan, Bu! Saya... saya maba, cuma mau menemani Kak Baskara karena saya ketua kelompok yang..."

​Lara mendadak terhenti saat melihat Baskara hanya diam, bahkan tidak membantah ucapan perawat itu. Baskara malah menoleh ke arah Lara dengan tatapan yang sulit diartikan.

​"Iya, Bu. Dia yang akan membantu saya selama kaki saya belum sembuh total," sahut Baskara santai, membuat mata Lara membelalak.

​"Wah, syukurlah kalau ada yang jagain. Sini, Dek maba, bantu pegang kaki Kakaknya ya saat saya kasih salep pereda nyeri," perintah sang perawat.

​Lara hanya bisa pasrah. Ia melangkah mendekat, duduk di kursi kecil di samping bed pemeriksaan. Di bawah lampu klinik yang terang, ia harus membantu memegang pergelangan kaki Baskara yang sedikit bengkak. Jarak mereka yang sangat dekat membuat Lara bisa merasakan tatapan Baskara yang terus-menerus tertuju pada kepalanya, sementara perawat itu mulai mengoleskan obat dengan telaten.

​Di sela-sela pemeriksaan kakinya, Baskara merogoh saku celananya dengan gerakan tenang. Meski sedang menahan nyeri, otoritasnya sebagai ketua panitia tidak luntur sedikit pun. Dengan lincah, jempolnya mengetikkan pesan di grup koordinasi panitia.

​Baskara Langit:

Perhatian untuk semua divisi. Karena ada kendala teknis di lapangan utama, seluruh materi PKKMB hari kedua dialihkan ke Gedung Perpustakaan Pusat. Randy, handle pembukaan di sana. Saya akan menyusul setelah urusan di klinik selesai.

​Tak butuh waktu lama, ponselnya bergetar hebat karena balasan dari Randy yang panik sekaligus bingung.

​Randy:

Lho, kok mendadak, Bas? Bukannya lapangan sudah oke? Terus kamu di klinik sama siapa? Perlu gue susul?

​Baskara mendengus pelan, lalu mengetik balasan terakhir yang membuat Lara—yang sedang memperhatikan dari samping—merasa nasibnya baru saja ditentukan sepihak.

​Baskara Langit:

Nggak perlu. Saya sudah ada yang jaga. Lara Wijaya saya tugaskan sementara untuk asisten medis pribadi saya di sini sampai kaki saya bisa jalan normal. Jangan ada yang ganggu.

​Baskara meletakkan kembali ponselnya ke saku dan menoleh ke arah Lara yang tampak bingung.

​"Kenapa, Kak? Jadi dipindah ke perpustakaan?" tanya Lara polos.

​"Iya. Dan kamu nggak perlu ke sana sekarang," ucap Baskara datar. "Saya sudah kirim instruksi ke Randy. Tugas kamu hari ini bukan duduk di aula dengerin materi, tapi jaga saya di sini sampai pemeriksaan selesai. Kamu keberatan?"

​Lara mengerjapkan mata, sedikit kaget dengan penugasan yang sangat spesifik itu. "Eh... tapi, Kak, absen saya gimana?"

​"Saya yang pegang absen pusat, Lara. Kamu mau saya kasih nilai A plus untuk kedisiplinan atau kamu lebih pilih lari keliling lapangan yang lagi kosong?" goda Baskara dengan nada rendah.

​Lara langsung menggeleng cepat dengan wajah cemberutnya yang manis. "Nggak, Kak! Ya sudah, saya jaga di sini."

​Perawat yang melihat interaksi itu hanya tersenyum simpul sambil terus membalut kaki Baskara. "Nah, gitu dong. Lagipula, perpustakaan itu adem, Nak Baskara pinter pilih tempat biar pacarnya—eh, asistennya ini nggak kepanasan."

​Baskara tidak membantah, ia justru menyandarkan punggungnya ke bantalan bed, menatap Lara dengan pandangan kemenangan yang tersirat.

1
ASTRI LIANTI
kok di paragraf atas ga berjilbab kok di sini berjilbab sih
Zet3: mksh kak koreksi nya,aku perbaiki yaa🙏🏻
total 1 replies
Ryuu
semangat terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!