NovelToon NovelToon
RONALD & FANIA

RONALD & FANIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama
Popularitas:376
Nilai: 5
Nama Author: WILONAIRISH

Menjalin hubungan yang cukup lama, apalagi setelah satu atap bersama. Membuat seorang Fania merasa bosan dan jenuh pada hubungannya bersama sang suami, Ronald.

Hingga suatu hari kejujuran Fania membawa perubahan baru dalam kehidupan mereka.

Sebagai seorang suami, Ronald yang begitu mencintai Fania akan selalu berusaha memenuhi keinginan istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WILONAIRISH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7

Fania menggeleng pelan, sesuai kesepakatan mereka. Mereka akan berlaku saling asing di luar.

"Kita selesaikan makan siang ini, dan kembali ke butik" ujar Fania yang hanya bisa ditanggapi anggukan oleh asisten pribadinya, Livia.

Langkah kaki Fania terdengar pelan saat ia keluar dari restoran mewah itu bersama Livia. Mereka telah selesai dan harus segera kembali bekerja.

Di belakangnya, asisten pribadi sekaligus sahabatnya masih sibuk berbicara mengenai jadwal esok hari.

“Besok pagi meeting jam sembilan, dan siangnya ada ...”

Ucapan Livia terhenti begitu Fania tiba-tiba memperlambat langkahnya.

Di hadapan mereka, seorang pria baru saja keluar dari pintu yang sama. Tubuh tinggi dengan aura dingin yang begitu familiar.

Ronald, suaminya. Tampaknya pria itu juga telah selesai meeting bersama kliennya. Karena dia terlihat sendiri tak bersama pria yang makan bersamanya.

Tak ada perubahan pada ekspresi Fania. Wajahnya tetap tenang, nyaris tak terbaca.

Ronald pun sama. Tatapannya sekilas bertemu dengan Fania, datar, tanpa emosi. Seolah mereka hanyalah dua orang asing yang kebetulan berada di tempat yang sama.

Tak ada sapaan. Tak ada senyuman. Bahkan tak ada anggukan kecil sekalipun. Mereka berpapasan begitu saja. Terasa hening.

Langkah keduanya tetap berlanjut, saling menjauh tanpa menoleh kembali.

Livia yang menyaksikan kejadian itu hanya mampu mengerjap bingung. Ia menoleh ke belakang, lalu kembali menatap Fania yang berjalan santai di sampingnya.

“Fan…” panggil Livia ragu.

Fania hanya melirik sekilas. “Kenapa?”

“Itu suamimu bukan?”

Fania terdiam sesaat, lalu mengangguk ringan. “Ya, kau melihatnya dengan jelas”

Jawaban singkat itu justru membuat kening Livia semakin berkerut.

“Kenapa kalian tak saling menyapa, kau bertengkar dengannya?”

Fania tak langsung menjawab. Ia justru melangkah menuju mobilnya, membuka pintu dengan gerakan tenang, lalu duduk di dalam.

Livia segera menyusul, masih dengan ekspresi penuh tanda tanya.

Mobil mulai melaju, meninggalkan restoran yang kini semakin jauh di belakang.

“Fan, aku serius bertanya,” ujar Livia lagi. “Kalian suami istri, aneh rasanya”

Fania menoleh, menatap lurus ke depan. “Aku tak menyangkalnya.”

Livia mulai tak sabar, iya terlihat kesal. “Maksudnya?”

Fania menghela napas pelan. Tangannya terlipat di pangkuan, sikapnya tetap tenang, namun ada sesuatu yang tak terucap di balik matanya.

“Aku punya kesepakatan dengannya,” ucapnya singkat.

“Kesepakatan untuk bersikap asing begitu? Itu tak masuk akal." Livia tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

Fania tersenyum tipis. “Kurang lebih begitu.”

Livia menggeleng pelan, masih mencoba mencerna. “What? Aku hanya asal, tapi ... kau benar-benar melakukannya dengan suamimu? Sumpah ini gila."

Fania terdiam sejenak.

“Memang,” jawabnya akhirnya, suaranya lembut namun tegas.

Keheningan menyelimuti mobil itu untuk beberapa saat. Hanya suara mesin dan lalu lintas malam yang terdengar samar.

Livia menatap Fania dari samping, mencoba membaca ekspresi atasan sekaligus sahabatnya itu.

“Tapi… apa kau tak merasa aneh?” tanyanya hati-hati.

Fania memejamkan matanya sejenak, lalu membukanya kembali.

“Aneh itu relatif, Vi” ujarnya pelan. “Kalau dari awal memang dibangun seperti ini, lama-lama jadi biasa.”

“Biasa?” Livia mengulang lirih.

Fania menoleh ke arah jendela, menatap bangunan-bangunan tinggi yang terus bergerak.

“Setidaknya… aku mencoba membiasakan diri.”

Jawaban itu menggantung di udara.

Livia tak lagi bertanya, namun jelas raut wajahnya masih dipenuhi kebingungan.

Sementara itu, di tempat lain, Ronald berdiri di samping mobilnya. Pandangannya lurus ke depan, namun pikirannya entah ke mana.

Satu detik.

Dua detik.

Ia menghela napas pelan, lalu masuk ke dalam mobil tanpa berkata apa pun. Seolah pertemuan singkat tadi tak pernah terjadi.

***

Mobil melaju membelah jalanan kota yang mulai lengang. Lampu-lampu jalan berbaris rapi, memantulkan cahaya kekuningan yang terasa hangat, namun tak mampu mengusir dingin yang menggantung di antara mereka.

Mereka sudah selesai dengan jam kerja hari ini, mengingat hari juga sudah mulai malam. Jika biasanya Fania akan pulang sendiri, kali ini Livia ada bersamanya.

Melihat sejak pertemuan mereka dengan Ronald, Fania terlihat murung. Livia menjadi khawatir dan menawarkan diri untuk mengantar sahabatnya pulang.

Livia masih sesekali melirik ke arah Fania. Ada banyak pertanyaan yang berputar di kepalanya, namun ia menahan diri. Fania terlihat tenang. Terlalu tenang.

Jemarinya bertumpu ringan di atas pahanya, sementara pandangannya lurus ke depan. Tak ada yang berubah dari ekspresinya sejak tadi.

Namun justru itu yang terasa janggal.

“Fan…” panggil Livia lagi, lebih pelan kali ini.

Fania menoleh sedikit. “Hm?”

“Kau yakin baik-baik saja?” tanyanya hati-hati.

Fania terdiam sejenak. Pertanyaan itu sederhana, namun entah mengapa terasa berat.

“Aku terlihat kenapa?” balas Fania tenang.

“Karena itu,” sahut Livia cepat. “Kau terlalu biasa. Terlalu datar.”

Fania tersenyum tipis, namun tak sampai ke matanya.

“Bukankah bagus?”

Livia menggeleng pelan. “Tidak selalu.”

Keheningan kembali hadir. Mobil terus melaju, hingga akhirnya berhenti di halaman rumah besar milik Fania. Pintu gerbang terbuka perlahan. Lampu taman menyala terang, menyambut kedatangan mereka.

Fania keluar dari mobil tanpa banyak bicara. Livia mengikutinya dari belakang, masih dengan pikiran yang belum menemukan jawaban.

Begitu memasuki rumah, suasana hangat yang biasanya terasa kini seperti menghilang.

Sepi.

Terlalu rapi.

Terlalu tenang.

“Selamat malam, Nyonya,” sapa salah satu pelayan dengan sopan.

Fania hanya mengangguk. “Malam.”

Langkahnya tetap ringan, namun terarah. Ia berjalan menuju tangga, seolah tak ingin berlama-lama di ruang bawah.

“Fan,” panggil Livia lagi sebelum Fania benar-benar naik.

Fania berhenti, menoleh sedikit.

“Jika kau lelah, kau bisa ceritakan padaku,” ucap Livia pelan.

Tatapan mereka bertemu. Untuk sesaat, ada sesuatu yang bergetar di mata Fania. Sesuatu yang hampir terlihat. Namun hanya sesaat.

“Aku baik-baik saja, tidurlah di kamar biasa yang kau tempati” jawabnya singkat.

Jawaban yang sama.

Livia menghela napas pelan, tak melanjutkan. Ia tahu, jika Fania sudah menutup diri seperti itu, tak akan mudah membuatnya berbicara.

"Hm" gumam Livia akan menginap di kamar yang biasa Ia tempati jika menginap di rumah Fania. Bukan hal aneh jika ia menginap di sini, mengingat Ia kerap menemani Fania saat Ronald harus keluar kota atau keluar negeri.

Sementara Fania melanjutkan langkahnya menaiki tangga. Setiap langkah terdengar jelas di tengah keheningan rumah itu.

Di lantai atas, ia berhenti sejenak di depan pintu kamarnya. Tangannya terangkat, hendak membuka. Namun terhenti, entah apa yang ia pikirkan.

Perlahan, ia menarik napas, lalu membuka pintu dan masuk ke dalam. Ruangan itu sama seperti biasanya. Rapi, bersih, dan teratur. Namun terasa kosong.

Fania berjalan menuju jendela, menyingkap tirai sedikit. Dari sana, ia bisa melihat gerbang rumah. Tak lama kemudian, sebuah mobil hitam masuk perlahan.

Ronald.

Fania menatap tanpa ekspresi. Mobil itu berhenti. Ronald keluar, langkahnya tegas seperti biasa. Ia berjalan masuk ke dalam rumah tanpa menoleh ke arah mana pun.

Fania menutup tirai kembali, tangannya turun perlahan. Ia berdiri diam beberapa detik. Sunyi. Lalu ia berbalik, berjalan menuju ranjang dan duduk di tepinya. Tatapannya kosong.

Seolah sedang memikirkan sesuatu atau justru berusaha untuk tidak memikirkan apa-apa.

Sementara itu, di lantai bawah, Ronald melangkah masuk ke dalam rumah. Pelayan menyapanya, namun ia hanya membalas dengan anggukan singkat.

Langkahnya tak berhenti hingga ia mencapai tangga. Tanpa sadar, ia sedikit melambat.

Pandangannya sempat terarah ke atas. Namun hanya sesaat. Ia kembali melangkah, menaiki tangga tanpa ekspresi. Tampaknya Fania juga sudah pulang.

NEXT .......

1
Dian
suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!