NovelToon NovelToon
Always His

Always His

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daena

Catherina Lawrence (24 tahun) mengira pernikahannya dengan Adrian Mettond, senior di kampusnya dulu, adalah pelabuhan tenang setelah badai masa lalu yang kelam. Namun, belum genap satu tahun berjalan, kenyataan pahit menghantamnya. Adrian ternyata tidak siap menjadi ayah bagi putra mereka, Liam, dan sang ibu mertua terus memperlakukannya layaknya orang asing yang tak diinginkan.

Di tengah dinginnya sikap Adrian, Catherina dihantui oleh bayang-bayang Everest Cavanaught—mantan kekasih sekaligus "pangeran berandalan" dari masa Lalunya. Hubungan Empat tahun itu berakhir karena keegoisan Catherina, meninggalkan luka yang belum sembuh. Ironisnya, semakin Liam tumbuh, wajah sang bayi justru semakin menyerupai Everest, bukan Adrian.

Terjebak dalam rumah tangga yang hampa dan penuh tuntutan, Catherina mulai mempertanyakan segalanya.

Apakah Adrian benar-benar mencintainya?
.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#7

Lampu-lampu kota melesat di balik kaca jendela mobil sedan hitam yang dikendarai Everest. Di kursi kemudi, wajahnya yang biasanya sedingin es kini dihiasi oleh seulas senyum misterius—senyum yang jarang sekali terlihat sejak ia meninggalkan Los Angeles setahun yang lalu. Tangan kanannya terangkat, menyentuh pelan pipinya yang masih terasa sedikit hangat bekas tamparan Catherina di restoran tadi.

Tamparan itu tidak membuatnya marah. Sebaliknya, itu memberinya kepuasan yang aneh.

"Liam... anak kita, Sayang," bisik Everest pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh deru mesin. "Dan kuharap kau tidak akan pernah mengingat malam itu. Biarlah itu menjadi rahasia yang terkubur bersamaku."

Pikiran Everest melayang kembali ke malam wisuda Berbulan-bulan yang lalu. Malam yang seharusnya menjadi perpisahan resmi bagi angkatan Catherina. Everest, dengan segala kekuasaan dan akses yang dimiliki keluarga Cavanaught, telah merencanakan kepulangannya secara rahasia. Ia tidak bisa membiarkan gadisnya pergi begitu saja tanpa satu kenangan terakhir, terutama setelah ia mendengar kabar yang menghancurkan hatinya siang itu: Catherina telah menerima lamaran Adrian Mettond.

Everest tahu Catherina tidak mencintai Adrian. Ia tahu Catherina hanya mencari pelarian. Dan ego Everest yang terluka menolak untuk melepaskan begitu saja.

Malam itu, di tengah riuhnya pesta wisuda, Everest bergerak seperti bayangan. Catherina, yang saat itu merasa sangat haus setelah berdansa, meraih segelas jus jeruk dari meja saji. Ia tidak tahu bahwa jus itu telah dicampur dengan sesuatu yang akan membuatnya kehilangan kesadaran secara perlahan—sebuah rencana besar yang disusun Everest agar ia bisa membawa Catherina pergi dari keramaian tanpa drama.

Sekitar jam delapan malam, saat pesta baru saja memuncak, Catherina mulai merasa pusing luar biasa. Dengan langkah gontai, ia pamit pada teman-temannya untuk kembali ke kamar asramanya lebih awal. Lorong-lorong asrama yang biasanya ramai kini sepi senyap, karena semua orang sedang berpesta hingga dini hari.

Everest sudah menunggu di sana. Ia memiliki kunci cadangan—kunci yang tidak pernah ia kembalikan sejak mereka masih bersama.

Saat pintu kamar asrama terbuka, Everest masuk dengan wajah tanpa dosa. Ia menatap Catherina yang sudah tergeletak di atas ranjang kecilnya, masih mengenakan gaun wisuda yang indah namun tampak sangat rapuh.

"Kau cantik sekali malam ini, Cathe," bisik Everest, duduk di tepi ranjang sambil membelai pipi Catherina yang merona karena pengaruh minuman. "Kenapa kau harus menjadi milik orang lain?"

Rasa cemburu yang membakar membuat Everest melakukan hal gila. Ia tahu ini salah, ia tahu ini melanggar batas, namun keinginan untuk meninggalkan "jejak" yang tak terhapus pada wanita yang ia cintai mengalahkan segalanya. Ia tidak siap melihat Catherina berjalan di altar bersama pria seperti Adrian.

Malam itu menjadi malam penyatuan yang paling panjang sekaligus paling menyakitkan bagi Everest. Di bawah remang lampu kamar asrama, ia mencumbu Catherina dengan seluruh sisa cinta dan amarah yang ia miliki. Kenangan tentang empat tahun kebersamaan mereka mengalir seperti film di benaknya—bagaimana Catherina tertawa di bawah hujan Los Angeles, bagaimana mereka berbagi rahasia di perpustakaan, dan bagaimana mereka pernah berjanji untuk tidak saling meninggalkan.

"Ingatlah rasa ini, Cathe," gumam Everest di sela napasnya yang memburu. "Bahkan jika besok kau bangun dan tidak mengingatku, tubuhmu akan selalu mengenali siapa pemiliknya yang sebenarnya."

Jam menunjukkan pukul dua belas malam. Everest, yang sudah sangat mengenal setiap jengkal tubuh Catherina, mulai melakukan misi pembersihan jejaknya. Dengan kain lembut dan air hangat, ia membasuh seluruh tubuh Catherina dengan sangat hati-hati, memastikan tidak ada bukti fisik yang tertinggal. Ia mengganti pakaian Catherina dengan gaun tidurnya yang biasa, seolah-olah Catherina hanya tertidur lelap karena kelelahan setelah pesta.

Sesaat sebelum ia pergi, di tengah suara ketukan pintu dari luar—mungkin teman sekamar Catherina yang pulang lebih awal atau petugas keamanan—Everest melakukan satu hal gila lainnya. Ia mengambil ponselnya, mengatur timer, dan berbaring di samping Catherina yang tak sadarkan diri. Ia mengambil beberapa foto mereka berdua—sebuah bukti rahasia bahwa di malam pertunangan Catherina, ia justru berada di pelukan Everest.

"Malam ini milikku, Cathe. Selamanya milikku," bisiknya sebelum menyelinap keluar melalui jendela balkon.

Kembali ke masa sekarang, Everest memarkirkan mobilnya di pelataran apartemen mewah miliknya. Ia melangkah keluar dengan senyum yang masih tertahan. Ia tidak pernah menyangka bahwa malam nekat itu akan menghadirkan Liam ke dunia.

Ia masuk ke dalam lift, di mana Stefhanie sudah menunggunya dengan dahi berkerut.

"Kau terlihat seperti orang gila, Ev," ujar Stefhanie, menatap tanda merah di pipi kakaknya. "Ditampar oleh istri orang tapi malah tersenyum? Apa kepalamu terbentur saat di London kemarin?"

Everest tertawa pelan, sebuah tawa yang terdengar sangat ringan. "Kau tidak akan mengerti, Stef. Melihat Catherina yang gelisah dan Adrian yang penuh kebencian... itu adalah tontonan terbaik tahun ini."

Everest melangkah menuju balkon apartemennya yang menghadap langsung ke arah lampu-lampu kota. Ia membayangkan Adrian Mettond saat ini sedang berada di rumah mewahnya, mungkin sedang memaki-maki atau mengabaikan bayi yang ia kira adalah darah dagingnya.

"Bagaimana rasanya membesarkan anak orang lain, Adrian?" bisik Everest pada kegelapan malam. "Bagaimana rasanya memiliki segalanya, tapi tidak memiliki hati istrimu dan darah dagingmu sendiri?"

Everest merogoh saku jasnya, mengambil sebuah folder foto digital yang ia simpan di dalam memori tersembunyi ponselnya. Ia melihat foto lama mereka—hingga foto dirinya dan Catherina di kamar asrama lalu. ia membandingkannya dengan ingatannya.

"Liam," gumamnya dengan nada penuh kasih. "Anakku yang malang. Ibu dan ayahmu memang rumit, tapi setidaknya kau memiliki mata Cavanaught. Dan suatu hari nanti, aku akan menjemputmu kembali ke tempatmu yang seharusnya."

Stefhanie yang berdiri di ambang pintu balkon hanya bisa menggelengkan kepala. Ia merasa kakaknya sedang merencanakan sesuatu yang sangat berbahaya. Namun bagi Everest, ini bukan sekadar rencana bisnis atau balas dendam. Ini adalah tentang mengambil kembali apa yang menjadi miliknya.

Perang dingin antara Mettond dan Cavanaught baru saja dimulai, dan senjata rahasia Everest adalah seorang bayi berusia satu bulan yang kini sedang tidur di bawah atap musuhnya.

"Kau jangan bermain api, Everest," Stefhanie memperingatkan.

"Biar saja, Stef," jawab Everest tanpa menoleh. "Api ini yang menghangatkanku selama ini. Dan kali ini, aku tidak akan membiarkan api ini padam sampai semuanya hangus terbakar."

🌷🌷🌷🌷

Happy reading Dear😍

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!