"Gue gak akan pergi," jawab Angga akhirnya. Suaranya tegas. Pasti. Tidak ada keraguan. "Itu cuma mimpi. Gue di sini. Nyata. Dan gue gak kemana-mana."
Adea menghela napas lega. Matanya yang tadinya tegang mulai mengendur.
"Janji?"
"Janji."
"Sumpah?"
Angga tersenyum kecil. "Sumpah pake kucing."
Adea menoleh ke bawah. Cumi sedang duduk manis di samping kursinya, menatap bolak-balik antara Angga dan Adea.
"Cumi jadi saksinya," ucap Angga.
"Meong," sahut Cumi, seolah mengiyakan.
Emang boleh sahabat jadi cinta? Emang boleh sahabat tapi tinggal se atap? Emang boleh manja-manjaan ke 'sahabat'..... Emang boleh~
Ikut cerita dua anomali ini yaaa~~~~
Intip dikit gpp lahhh~ kalo betah ya tinggal, kalo nggk ya skip ajaaaa~~~~~
Happy Reading ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Janji?
Siang hari.
Jam di dinding rumah menunjukkan pukul setengah satu. Matahari Lombok berada di titik tertingginya, menyengat tanpa ampun. Tanaman-tanaman di halaman mulai menundukkan daun, seolah ikut lelah.
Tapi di dalam rumah, di ruang kerja kecil yang juga berfungsi sebagai studio, Angga baru saja menyelesaikan lukisannya.
Ia mundur dua langkah, menyilangkan tangan di dada, menatap kanvas di hadapannya dengan mata menyipit.
Seorang perempuan tua sedang duduk di teras rumah panggung, tangan kanannya memegang cangkir kopi, tangan kirinya mengelus seekor kucing oren yang tidur di pangkuannya. Latar belakangnya adalah sawah yang menguning, gunung di kejauhan, dan langit senja yang jingga.
Lukisan itu dipesan oleh seorang kolektor dari Jakarta. Harga? Cukup untuk bayar makan, keperluan rumah, hobi shopping Adea dan jajan Adea sebulan.
"Selesai," gumam Angga puas.
Ia membersihkan kuas-kuasnya, mencuci palet, merapikan cat minyak yang berserakan. Cumi yang sedari tadi tidur di atas tumpukan koran bekas di sudut ruangan mengangkat kepalanya, menguap, lalu kembali tidur.
Angga melihat jam tangannya.
Jam setengah satu.
Kuliah Adea selesai jam setengah tiga.
Tapi kelas ekonomi Angga sudah selesai sejak jam sebelas. Perkuliahan pagi, karena dosennya sedang ada penelitian lapangan.
"Masih dua jam lagi," bisiknya pada diri sendiri.
Ia menatap lukisan yang masih basah, lalu menatap Cumi, lalu menatap langit-langit.
Dua jam.
Apa yang bisa ia lakukan dalam dua jam?
Ia memutuskan untuk mandi.
---
Jam dua siang.
Angga sudah berdiri di depan cermin kamar mandi, rambutnya yang sedikit panjang ia sisir ke belakang. Jaket kulit hitamnya tergantung di lemari, ia memilih kemeja lengan panjang warna abu-abu gelap, digulung sedikit di bagian siku. Sepatu kets putih yang masih bersih.
Penampilan sederhana.
Tapi untuk ukuran anak ekonomi yang habis nge-gym, tubuhnya terlihat kekar bahkan di balik kemeja biasa.
"Cumi, jagain rumah," ucapnya sambil mengelus kepala kucing yang mengikuti ke mana pun ia pergi.
"Meong."
Angga mengambil helm, mengambil kunci motor, dan melangkah keluar.
---
Sore hari.
Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ekonomi berada di kampus yang sama, tapi di gedung yang berbeda. Jaraknya sekitar lima menit jalan kaki atau dua menit jika berlari seperti Adea.
Tapi Angga tidak pernah menunggu di depan gedung kedokteran.
Ia selalu menunggu di halaman depan gedung fakultas utama, di bawah pohon rindang dekat gerbang. Di tempat yang sama. Setiap hari.
Di sana ia bisa melihat semua mahasiswa keluar. Termasuk Adea, yang harus melewati halaman itu untuk sampai ke parkiran.
Angga bersandar di motornya, satu tangan di saku celana, satu tangan memegang helm biru. Matanya menyusuri pintu keluar gedung, sabar.
Beberapa mahasiswi berbisik ketika melewatinya.
"Itu laki-laki yang biasa jemput cewek kecil itu ya?"
"Iya, ganteng banget sih. Pacarnya kali ya?"
"Kayaknya bukan, deh. Temenan kayaknya."
"Temenan? Gila, temenan kok se-sweet itu."
Angga tidak mendengar atau pura-pura tidak mendengar. Matanya tetap fokus pada pintu.
Dan di dalam gedung, di lorong fakultas kedokteran, Adea baru saja selesai dengan praktikum terakhirnya.
Ia lelah.
Bukan lelah biasa. Lelah kedokteran yang berarti seharian berdiri, memegang buku tebal, menghafal nama-nama tulang, menggambar sistem peredaran darah, dan berlari dari satu ruangan ke ruangan lain.
Tapi wajahnya tetap riang.
"Dea, lo gak capek?" tanya Eli, sahabatnya yang kemarin pingsan di UKS. "Muka lo kayak abis liburan, padahal hari ini hectic banget."
"Capek sih, capek banget," jawab Adea sambil merapikan rambutnya yang berantakan. "Tapi gue punya alasan buat tetep semangat."
"Alasan apa?"
Adea tersenyum misterius. Tidak menjawab.
Ia melambai pada Eli dan berjalan cepat menuju pintu keluar.
---
Di halaman fakultas.
Pintu kaca gedung utama terbuka.
Adea keluar.
Matanya langsung mencari dan menemukan.
Angga berdiri di bawah pohon rindang itu. Sama seperti biasa. Satu tangan di saku, helm biru di tangan lainnya. Wajahnya datar seperti tidak melakukan hal istimewa.
Tapi Adea tahu.
Dia sudah menunggu. Mungkin sejak satu jam yang lalu.
"Anggaa~"
Adea berlari.
Tidak laju. Tidak seperti pagi tadi yang ringan seperti kupu-kupu. Sekarang larinya lebih lambat, lebih berat. Sepatu ketsnya menyeret sedikit di aspal. Tas ransel merah mudanya bergoyang ke kanan dan kiri.
Tapi dia berlari.
Dengan wajah riang meskipun energi hampir habis. Dengan senyum yang tidak bisa ia sembunyikan. Dengan kedua tangan yang akhirnya terangkat sedikit seperti anak kecil yang ingin dipeluk.
"Anggaaa~" ucapnya sekali lagi ketika jarak mereka tinggal dua langkah.
Ia berhenti tepat di depan Angga, napasnya terengah-engah. Wajahnya sedikit memerah karena lelah atau karena hal lain.
Angga menatapnya.
Rambut Adea berantakan. Ada coretan pulpen biru di punggung tangannya. Kemeja putihnya sedikit kusut di bagian kerah. Dan matanya... matanya tetap berbinar seperti pagi hari.
"Capek?" tanya Angga pelan.
"Capek," jawab Adea jujur.
"Pulang?"
"Pulang."
Angga tidak bertanya lagi. Ia membuka kaca helm biru itu dan memasangkannya ke kepala Adea perlahan, lembut, seperti biasa. Lalu ia mengangkat gadis itu ke atas jok belakang motor.
Adea langsung memeluknya erat tanpa diminta.
"Angga."
"Hm?"
"Besok gue praktikum lagi. Selesainya jam empat."
"Gua jemput."
"Janji?"
Angga menyalakan mesin. Suara Ninja menggelegar pelan.
"Janji."
Adea mengubur wajahnya di punggung Angga. Di balik helm, ia tersenyum.
Dan Angga, di balik helm hitamnya, tersenyum juga.
---
Bersambung...