"Menikahlah denganku dan akan kupastikan semua kebutuhanmu kupenuhi tanpa terkecuali."
Sebuah tawaran yang tentu saja tidak akan bisa ditolak oleh Calista mengingat ia butuh uang untuk pengobatan Ibunya yang sudah lama menderita penyakit jantung.
Rupanya tawaran dari Dennis Satrya memiliki syarat yang cukup sulit. Yaitu, membuat Calista harus dibenci oleh keluarga Dennis.
Bagaimana kisahnya? Mari ikuti dan simak cerita mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Pagi itu, cahaya matahari menembus jendela kaca besar di ruang makan kediaman Satrya, memantul di atas meja marmer yang dipenuhi hidangan mewah yang aromanya memenuhi ruangan. Namun, bagi Calista, suasana itu jauh dari kata hangat. Tubuhnya terasa kaku, dan setiap gerakan kecil bahkan sekadar menoleh membuat kulit di leher serta tulang selangkanya terasa berdenyut perih, seolah-olah sisa panas dari bibir Denis semalam masih tertinggal di sana.
Ia sengaja mengenakan gaun sutra berwarna champagne dengan kerah yang sedikit terbuka bukan karena ia ingin pamer atau merasa bangga, melainkan karena perintah Mas Denis sebelum mereka turun tadi. "Jangan ditutupi. Biar mereka melihat siapa pemilikmu sekarang. Biarkan mereka menelan harga diri mereka sendiri saat melihat jejakku di tubuhmu," bisik pria itu dingin di depan cermin besar kamar mereka.
Calista duduk di samping Denis, mencoba fokus pada potongan buah kiwi di piring porselennya yang mahal. Ia bisa merasakan tatapan tajam yang menusuk dari seberang meja. Di sana, Susi dan Puput sudah duduk dengan punggung tegak, menatapnya dengan pandangan yang bisa menyayat kulit jika saja tatapan bisa melukai secara fisik. Keheningan yang mencekam itu hanya dipecahkan oleh denting sendok perak yang beradu dengan porselen, menciptakan irama yang menyiksa pendengaran.
Susi meletakkan cangkir tehnya dengan dentuman pelan yang disengaja, membuat air di dalamnya sedikit berguncang. Matanya terpaku pada jejak kemerahan yang kontras, beberapa bercak ungu kebiruan yang menghiasi leher putih Calista bak noda yang tak terhapuskan. Sebuah senyum sinis tersungging di bibirnya yang dipulas lipstik merah menyala.
"Wah, sepertinya ada yang lupa daratan semalam karena merasa sudah di atas awan," ujar Susi dengan nada bicara yang dibuat seringan mungkin, namun sarat dengan penghinaan yang kental. "Denis, Mama tidak menyangka seleramu ternyata serendah ini. Memberi tanda pada wanita seperti itu... seolah-olah dia adalah hewan ternak yang baru saja kau beli dari pasar loak dan harus diberi cap permanen."
Puput tertawa kecil yang dibuat-buat, menutup mulutnya dengan serbet sutra seolah sedang menyembunyikan rasa jijik. "Bukan hewan ternak, Ma. Mungkin lebih tepatnya seperti barang obralan yang harus diberi label harga besar-besar agar tidak tertukar dengan sampah lainnya. Lihatlah tanda-tanda itu, sangat mencolok dan vulgar. Benar-benar tidak punya kelas. Gadis dari keluarga terhormat tidak akan pernah membiarkan dirinya terlihat 'kotor' dan 'murahan' seperti itu di meja makan keluarga Satrya."
Calista terdiam sejenak, jemarinya meremas serbet di bawah meja hingga buku jarinya memutih. Ia melirik Denis yang duduk di sampingnya. Pria itu tampak sangat tenang, menyesap kopi hitamnya tanpa gula sedikit pun, seolah-olah ia sedang menonton pertunjukan teater yang menarik. Denis tidak menunjukkan niat sedikit pun untuk membelanya. Sebaliknya, ia justru menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, melipat tangan di dada, dan menatap Calista dengan kilatan mata yang provokatif, seolah menantang: Ayo, gunakan taring yang kuberikan semalam.
Calista meletakkan garpunya dengan perlahan, tidak ingin menunjukkan kegetaran sedikit pun. Ia mendongak, memperbaiki posisi duduknya, dan menatap Susi serta Puput bergantian dengan tatapan yang sangat datar, dingin, dan hampir hampa. Rasa takutnya seolah menguap, digantikan oleh amarah yang ia kemas dalam ketenangan yang mematikan.
"Kotor? Murahan?" Calista mengulang kata-kata itu dengan nada bertanya yang tenang, hampir seperti sedang mengejek. Ia dengan sengaja menyentuh salah satu tanda merah yang paling gelap di tulang selangkanya dengan ujung jari telunjuknya, lalu tersenyum tipis sebuah senyum yang terlihat sangat sombong dan penuh kemenangan.
"Nyonya Susi, saya rasa Anda sedang memproyeksikan rasa tidak aman Anda sendiri. Ini bukan tanda kotor. Ini adalah tanda kekuasaan dan kepemilikan mutlak," suara Calista terdengar jernih, bergema di ruang makan yang luas itu. "Mas Denis memberikan ini karena dia sangat menikmati setiap inci dari apa yang sekarang sah menjadi miliknya. Sesuatu yang sangat eksklusif dan bernilai tinggi memang harus memiliki segel yang jelas agar orang luar tidak berani menyentuhnya, bukan?"
Wajah Susi menegang, otot-otot di rahangnya tampak mengeras. "Kau... berani sekali bicara soal nilai dan eksklusivitas di depanku? Kau itu hanya orang asing yang beruntung!"
"Tentu saja saya berani," balas Calista tajam, matanya kini menghunus ke arah Puput yang tampak geram hingga mukanya memerah. "Dan untukmu, Puput... kau bilang ini tidak punya kelas? Mungkin itu karena kau sendiri belum pernah merasakan bagaimana rasanya diinginkan sedemikian hebat oleh pria yang memiliki kuasa penuh seperti Mas Denis. Rasa irimu sangat mencolok, bahkan jauh lebih mencolok daripada tanda di leherku ini. Kau tampak menyedihkan dengan gaun mahalmu tapi hati yang penuh kedengkian."
Puput menggebrak meja hingga piring-piring bergetar. "Kau jalang kecil! Kau pikir karena sudah tidur dengan kakakku semalam, kau bisa menghina kami di rumah kami sendiri?"
Calista tidak gentar sedikit pun dengan gertakan itu. Ia justru mencondongkan tubuhnya ke arah mereka melewati meja makan, membuat tanda-tanda merah hasil karya Denis terlihat semakin jelas di bawah pantulan lampu kristal yang megah.
"Dengar baik-baik," bisik Calista, namun suaranya memiliki kekuatan yang sanggup membungkam suasana. "Tanda-tanda ini adalah bukti otentik bahwa mulai detik ini, suara saya di rumah ini memiliki bobot yang sama dengan suara Mas Denis. Jika kalian terus-menerus meributkan 'karya seni' suami saya ini, saya bisa saja dengan mudah meminta Mas Denis untuk meninjau ulang fasilitas yang kalian nikmati, termasuk menghentikan aliran dana untuk kemewahan kalian. Bukankah begitu, Mas?"
Calista menoleh ke arah Denis, memberikan tatapan menantang sekaligus sedikit godaan yang ia tahu akan disukai pria itu.
Denis akhirnya melepaskan tawa rendah yang dingin, suara yang membuat bulu kuduk Susi dan Puput berdiri. Ia meraih tangan Calista, menggenggamnya erat, lalu mengecup punggung tangan istrinya itu dengan sangat posesif tepat di depan mata kedua wanita itu yang nyaris meledak karena amarah dan rasa malu.
"Istriku benar," ucap Denis tanpa mengalihkan pandangan dari mata Calista yang kini tampak berkilat berani. "Apa yang aku torehkan di tubuhnya adalah hakku sebagai suaminya. Dan jika kalian merasa terganggu dengan cara kami merayakan pernikahan kami... mungkin kalianlah yang sudah tidak lagi pantas berada di meja makan ini."
Susi berdiri dengan kasar hingga kursinya terjatuh ke belakang, wajahnya pucat pasi karena terhina secara telak di depan para pelayan yang menyaksikan. Ia menarik tangan Puput dengan kasar dan melangkah pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Calista menarik napas panjang dan berat setelah mereka hilang dari pandangan, bahunya sedikit merosot karena ketegangan luar biasa yang baru saja ia lalui.
"Luar biasa," gumam Denis, jemarinya kini berpindah mengusap tanda merah di leher Calista dengan kasar namun penuh kepuasan. "Kau mulai belajar dengan cepat bagaimana caranya menjadi predator yang dominan di rumah ini. Teruskan aktingmu, dan kau akan mendapatkan apa pun yang kau mau."
Calista hanya terdiam, merasakan perih di lehernya akibat usapan Denis. Di balik kemenangan telaknya atas Susi dan Puput, ia menyadari dengan pedih bahwa setiap serangan yang ia lontarkan sebenarnya hanyalah senjata yang dipinjamkan oleh Denis. Tanda-tanda merah itu memberikan kekuatan semu, sekaligus menjadi rantai tak kasat mata yang menegaskan bahwa ia hanyalah tawanan paling berharga di dalam istana emas milik Denis Satrya.
Lanjut lagi gk nih?