NovelToon NovelToon
TEN DYNASTY LEGEND ( Sepuluh Dinasti Legendaris )

TEN DYNASTY LEGEND ( Sepuluh Dinasti Legendaris )

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: muhammad rivaldi

Chapter 1-20= Prologue & Origin Arc (Arc Pembuka dan Asal-usul)

Chapter 21- 35 = Sura Training Arc (Arc Latihan di Desa Sura)

Chapter 36 - 45 = Road to Tianjian Capital Arc ( Arc Perjalanan Menuju Ibu Kota Tianjian )

Chapter 46 - ? = Ten Dynasties Tournament Arc ( Arc Turnamen Sepuluh Dinasti )

Di tengah perang besar, seorang bayi misterius diselamatkan dari kejaran pasukan kerajaan. Bertahun-tahun kemudian, bayi itu tumbuh menjadi pemuda bernama Cang Li, yang hidup sederhana di sebuah desa kecil tanpa mengetahui masa lalunya.
Namun hidupnya mulai berubah ketika kekuatan aneh dalam dirinya bangkit sedikit demi sedikit. Kilatan petir ungu, rahasia kalung misterius, dan bayangan masa lalu perlahan membuka kebenaran tentang asal-usulnya.
Tanpa ia sadari, Cang Li adalah pusat dari rahasia besar yang dapat mengguncang dunia.
Kini, di tengah bahaya, pengkhianatan, dan kekuatan yang terus terbangun, Cang Li harus mencari tahu siapa dirinya sebenarnya… sebelum semuanya terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 7 — Sebuah Perpisahan

Tujuh tahun telah berlalu sejak malam berdarah yang mengguncang Dinasti Leiting.

Waktu berjalan tanpa pernah menoleh ke belakang. Luka yang dulu terasa seperti akhir dunia perlahan tertutup oleh debu tahun demi tahun, meninggalkan bekas samar yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang masih mengingat.

Namun, ada hal-hal di dunia ini yang tidak pernah benar-benar hilang. Beberapa rahasia hanya tertidur, menunggu saat yang tepat untuk bangkit kembali.

Di atas sebuah bukit sunyi di Desa Jianxin, pagi itu datang dengan damai seperti biasanya.

Kabut tipis menggantung di antara pepohonan pinus. Embun masih menempel di ujung rumput liar. Udara pagi terasa sejuk, bersih, dan tenang—jauh dari bau darah, teriakan perang, atau dentuman teknik spiritual yang pernah menghancurkan kehidupan banyak orang.

Di halaman sebuah rumah kayu sederhana, suara langkah kecil terdengar berulang-ulang.

Tap. Tap. Tap.

Seorang anak laki-laki berusia sekitar tujuh tahun sedang berdiri dengan kaki terbuka selebar bahu, menggenggam tongkat kayu di kedua tangannya. Tubuhnya masih kecil, bahkan sedikit kurus untuk anak seusianya, namun posturnya tegak dan matanya menyimpan keseriusan yang tidak biasa.

Ia mengenakan pakaian latihan sederhana berwarna abu-abu kusam. Ujung lengan bajunya sudah basah oleh keringat, dan rambut hitamnya menempel sedikit di dahi.

Namun meski napasnya mulai berat, ia tidak berhenti.

Dengan wajah serius, ia kembali mengangkat tongkat kayunya.

“Satu...”

Swish!

“Dua...”

Swish!

“Tiga!”

Swish!

Tongkat itu membelah udara dengan gerakan yang masih mentah, namun cukup rapi untuk ukuran anak kecil.

Anak itu adalah Cang Li… atau lebih tepatnya, seseorang yang kini hidup dengan nama itu.

Sudah tujuh tahun ia tumbuh di desa kecil ini. Tujuh tahun hidup jauh dari takhta, jauh dari perang, jauh dari nama besar yang seharusnya diwarisinya sejak lahir.

Bagi dunia, ia hanyalah anak biasa yang tinggal bersama paman dan bibinya di sebuah bukit di pinggir desa—tidak lebih, dan tidak kurang.

Dan justru karena itulah, ia masih bisa tersenyum tanpa tahu bahwa sejak ia lahir, begitu banyak orang telah mati demi melindungi napas kecilnya.

Cang Li mengusap peluh di dahinya dengan lengan baju, lalu menatap tongkat kayu di tangannya dengan bibir sedikit mengerucut.

“Masih kurang cepat...”

Ia menarik napas, mengatur posisi kakinya lagi seperti yang diajarkan berulang kali selama bertahun-tahun.

Lalu ia mengayunkan tongkat itu sekali lagi.

Swish!

Gerakannya kali ini lebih baik.

Namun belum sempurna.

Bocah itu menggigit bibir bawahnya, lalu mencoba lagi.

Di dalam rumah, dari balik jendela kayu yang sedikit terbuka, seseorang sedang memperhatikannya dalam diam.

Itu adalah Ye Chen.

Ia berdiri tegak dengan kedua tangan di belakang punggung, menatap Cang Li yang sedang berlatih di halaman, sementara wajahnya tetap tenang.

Namun justru karena itulah, ada sesuatu yang berat di dalam sorot matanya.

Ia melihat bagaimana anak itu tumbuh dari bayi yang bahkan tidak bisa membuka matanya dengan benar...

Ia tumbuh menjadi seorang bocah kecil yang mulai belajar berdiri dengan kekuatannya sendiri, melewati setiap luka kecil di lututnya dan setiap tangisan saat terjatuh.

Setiap senyum polos saat berhasil mengayunkan tongkat untuk pertama kalinya.

Ye Chen mengingat semuanya.

Dan justru karena itulah...

keputusan yang akan ia ambil pagi ini terasa begitu menyakitkan.

Tak jauh darinya, Ye Ruoxi berdiri sambil membawa baki teh.

Namun begitu ia melihat ekspresi adiknya, langkahnya perlahan berhenti.

Ia tahu tatapan itu.

Tatapan seseorang yang telah mengambil keputusan besar.

Dan biasanya, keputusan seperti itu... tidak pernah membawa sesuatu yang baik.

“Chen...” panggil Ye Ruoxi pelan.

Ye Chen tidak langsung menoleh.

Ia masih memandang Cang Li di luar sana, seolah ingin menghafal pemandangan itu untuk terakhir kalinya.

Baru setelah beberapa saat, ia berkata dengan suara rendah,

“Aku mendengar kabar dari jaringan lamaku.”

Nada suaranya begitu datar, namun justru itu yang membuat dada Ye Ruoxi mendadak terasa tidak nyaman.

“Empat dinasti itu...” lanjut Ye Chen, “sudah mulai bergerak lebih aktif.”

Ye Ruoxi seketika menegang.

Matanya langsung tertuju padanya.

“Bergerak ,apa maksudnya?”

Ye Chen akhirnya menoleh.

Tatapannya tajam, namun di balik ketajaman itu tersimpan sesuatu yang sulit disembunyikan—kekhawatiran.

“Mereka membentuk organisasi rahasia.”

Ruangan itu mendadak terasa lebih dingin.

“Mereka menyebar ke seluruh sepuluh dinasti. Bergerak diam-diam. Memburu siapa pun yang dicurigai memiliki jejak garis darah Petir Kuning.”

Wajah Ye Ruoxi perlahan memucat.

“Maksudmu... mereka masih mencarinya?”

“Bukan masih.”

Ye Chen menatap lurus ke arahnya.

“Mereka tidak pernah berhenti.”

Kalimat itu jatuh begitu saja, tapi dampaknya terasa berat.

Tujuh tahun mereka hidup dengan hati-hati. Tujuh tahun berusaha membangun kehidupan sederhana. Tujuh tahun menanam ilusi bahwa mungkin, hanya mungkin, dunia sudah melupakan malam itu.

Namun ternyata tidak. mereka hanya sedang menunggu momen yang tepat.

Ye Ruoxi menatap ke arah luar jendela.

Ke arah Cang Li yang masih sibuk mengayunkan tongkat kayunya dengan wajah serius, sama sekali tidak tahu bahwa hidupnya sedang dibicarakan seperti nyala lilin kecil di tengah badai.

Suara Ye Chen kembali terdengar.

“Aku harus pergi, Ruoxi.”

Ye Ruoxi hanya diam.

Bibirnya sedikit terbuka, tapi tak ada suara yang langsung keluar.

Ia menoleh cepat.

“Apa...?”

Ye Chen menatapnya dengan tenang, namun ketenangan itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan.

“Aku harus meninggalkan dinasti Jianxin.”

“Tidak.”

Jawaban Ye Ruoxi keluar begitu cepat, hampir seperti refleks, sementara wajahnya langsung menegang.

“Tidak. Kenapa harus sekarang? Kenapa harus pergi?”

Ada sesuatu dalam suaranya yang bergetar tipis.

Bukan karena ia lemah.

Tapi karena ia terlalu paham apa arti kepergian seperti ini.

Ye Chen menarik napas perlahan.

“Karena aku adalah masalah terbesar di disini.”

Ye Ruoxi hanya terdiam, sementara Ye Chen melanjutkan dengan suara rendah

“Identitasku sebagai salah satu dari Tujuh Pendekar Pedang Legendaris sudah terlalu dikenal. Selama aku tetap tinggal di sisi Cang Li, cepat atau lambat orang-orang itu akan menemukan jejakku.”

Tatapannya turun sejenak.

“Dan begitu mereka menemukanku...”

Ia tidak melanjutkan kalimatnya, karena Ye Ruoxi sudah memahami maksudnya.

Yaitu mereka akan menemukan Cang Li, menyeret masa lalu hingga ke depan pintu rumah ini, dan menghancurkan seluruh ketenangan yang telah dibangun selama tujuh tahun dalam satu malam.

“Aku tidak pergi untuk meninggalkannya,” lanjut Ye Chen pelan. “Aku pergi... justru untuk menjauhkan bahaya darinya.”

Ye Ruoxi menatap adiknya dalam diam, ingin membantah dan mengatakan bahwa pasti ada cara lain serta memaksanya tetap tinggal, tetapi jauh di dalam hatinya ia tahu bahwa Ye Chen benar.

Selama Ye Chen masih berada di sini, Cang Li tidak akan pernah benar-benar aman, karena Ye Chen bukan orang biasa, melainkan legenda yang berjalan—dan legenda selalu menarik bayangan masa lalu ke mana pun ia pergi.

“Aku akan tetap mengawasinya dari jauh,” kata Ye Chen. “Apa pun yang terjadi, aku tidak akan membiarkan sesuatu menyentuh anak itu.”

Suara Ye Ruoxi akhirnya keluar, sangat pelan.

“Lalu... berapa lama kamu akan pergi?”

Ye Chen terdiam cukup lama.

Tatapannya kembali jatuh ke arah bocah kecil di luar sana.

Cang Li baru saja salah langkah dan hampir tersandung oleh tongkatnya sendiri, lalu buru-buru memperbaiki posisi sambil mengerucutkan bibir dengan wajah kesal.

Pemandangan kecil itu membuat mata Ye Chen meredup.

“Entah.”

Satu kata yg sederhana tapi terasa berat .

“Mungkin beberapa tahun.”

Ia berhenti sejenak.

Lalu suaranya turun sedikit lebih rendah.

“...atau mungkin aku tidak akan pernah kembali.”

Kalimat itu menghantam dada Ye Ruoxi jauh lebih keras daripada yang ia duga.

Matanya langsung membesar.

“Chen!”

Namun Ye Chen hanya tersenyum tipis.

Senyum yang terlalu tenang bahkan terlihat pasrah.

“Jangan pasang wajah seperti itu,” katanya pelan. “Aku belum mati.”

“Itu bukan hal yang pantas kau ucapkan.”

Nada suara Ye Ruoxi terdengar lebih tajam dari biasanya.

Untuk pertama kalinya pagi itu, emosi di wajahnya benar-benar pecah.

“Selama tujuh tahun terakhir dia tumbuh dengan memanggilmu ‘Paman’. Dia menunggumu tiap sore untuk latihan. Dia mencari wajahmu setiap kali dia berhasil mempelajari sesuatu yang baru.”

Matanya mulai memerah.

“Dan sekarang kau ingin pergi begitu saja?”

Ye Chen terdiam, karena setiap kata itu terasa tepat dan sulit dibantah.

Ia memang bukan ayah kandung Cang Li.

Namun selama tujuh tahun ini, sebagian besar dunia kecil anak itu... dibangun di sekeliling dirinya.

Ye Chen memejamkan mata sejenak.

Saat membukanya lagi, sorot matanya telah kembali mantap.

“Karena itulah aku harus pergi sekarang.”

Ye Ruoxi menatapnya dengan napas tertahan.

“Kalau aku menunggu lebih lama...”

Suara Ye Chen merendah.

“...aku mungkin tidak akan sanggup pergi.”

Ruangan itu mendadak sunyi.

Hanya suara tongkat kayu dari luar yang sesekali terdengar menembus keheningan.

Swish.

Swish.

Swish.

Suara latihan seorang anak kecil...

yang tidak tahu bahwa hidupnya akan berubah pagi itu.

Ye Ruoxi perlahan menundukkan pandangan.

Jari-jarinya mencengkeram sisi baki teh sedikit lebih erat.

Lalu akhirnya, dengan suara yang nyaris pecah, ia bertanya,

“Lalu apa yang harus kulakukan selama kau tidak ada?”

Ye Chen berjalan mendekat.

Nada suaranya kembali tenang, seperti seseorang yang sedang menitipkan seluruh hidupnya pada orang yang paling ia percaya.

“Jaga dia baik-baik.”

.Ye Chen melanjutkan pembicaraan.

“Jangan biarkan dia pergi terlalu jauh dari desa. Hutan di luar wilayah Jianxin bukan tempat aman untuk anak seusianya. Banyak monster dan binatang iblis berkeliaran di luar batas bukit.”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan,

“Dan saat usianya menginjak sepuluh tahun... kirim dia ke Sword Academy.”

Ye Ruoxi sedikit mengangkat kepala.

“Academy?”

Ye Chen mengangguk.

“Dia tidak bisa terus tumbuh hanya dengan latihan dasar di desa ini. Kalau dia ingin bertahan hidup di masa depan, dia harus belajar menguasai pedang dengan benar.”

Tatapannya mengeras sedikit.

“Dia harus punya kekuatan untuk melindungi dirinya sendiri.”

Kalimat itu terdengar biasa.

Namun Ye Ruoxi dapat merasakan makna lain di balik kata-kata itu—Ye Chen tidak sedang berbicara tentang latihan biasa, melainkan sedang mempersiapkan Cang Li untuk dunia yang suatu hari pasti akan datang mencarinya.

Beberapa saat, Ye Ruoxi hanya diam.

Lalu perlahan, ia mengangguk.

Air di pelupuk matanya mulai berkumpul, tapi ia menahannya sekuat mungkin.

“Aku mengerti.”

Suaranya pelan, namun tegas.

“Aku akan menjaganya.”

Ia menarik napas.

Lalu menatap adiknya lurus-lurus.

“Dengan nyawaku.”

Ye Chen menatapnya cukup lama.

Dan untuk pertama kalinya pagi itu, sesuatu yang menyerupai kelegaan samar muncul di matanya.

Ia mengangguk pelan.

“Terima kasih.”

Tak ada lagi kata-kata setelah itu.

Karena beberapa perpisahan tidak pernah bisa dibuat lebih ringan hanya dengan bicara.

Ye Chen berbalik dan melangkah menuju pintu.

Setiap langkahnya terdengar pelan di lantai kayu.

Namun di telinga Ye Ruoxi, langkah itu terasa jauh lebih berat daripada derap pasukan perang mana pun yang pernah ia dengar.

Tepat saat tangannya hampir menyentuh gagang pintu, Ye Chen berhenti.

Tanpa menoleh, ia berkata pelan,

“Ruoxi.”

“Ya?”

“Kalau suatu hari dia mulai menunjukkan tanda-tanda kekuatan yang tidak biasa... jangan panik.”

Ye Ruoxi membeku.

“Tanda-tanda seperti apa?”

Ye Chen terdiam sesaat.

Lalu menjawab pelan,

“Petir Emas.”

Satu kata itu cukup untuk membuat napas Ye Ruoxi tercekat.

Namun sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, Ye Chen sudah membuka pintu dan melangkah keluar.

End Chapter 7

1
KETUA SEKTE
Jelek👍
KETUA SEKTE
👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!