NovelToon NovelToon
Balas Dendam Menantu Terhina

Balas Dendam Menantu Terhina

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Xavero Ravindra—pria yang pernah diremehkan oleh keluarga mantan istrinya. Dipandang rendah karena status, diabaikan seolah tak punya nilai.

Namun di balik diamnya, ia menyimpan keteguhan yang tak mudah dipatahkan. ia tidak membalas dengan kata-kata. Ia memilih bangkit... dan membuktikan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retak

Brum! Brum! Brum!

Xavero mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, meninggalkan kediaman Mahendra.

Pengkhianatan.

Perendahan.

Semua itu kembali ia rasakan.

Ia sudah tidak mampu lagi menahan semuanya, perlakuan mertuanya dan istrinya yang terus menekan batinnya. Dengan masih mengenakan seragam kerja, Xavero memilih pergi untuk menenangkan diri, menjauh dari rumah yang terasa semakin menyesakkan.

Angin malam berhembus dingin saat Xavero terus melaju membelah jalanan kota.

“Brum… brum…” suara mesin motornya terdengar keras, tapi tidak cukup untuk menutupi sesak di dadanya.

Beberapa menit kemudian, ia berhenti di depan gerbang pemakaman yang sudah sepi.

Lampu jalan remang-remang, hanya beberapa yang masih menyala. Daun-daun berguguran tertiup angin, menciptakan suasana sunyi yang menusuk.

Xavero turun dari motor, melepas helmnya perlahan.

Ia menatap ke dalam area makam itu lama.

“Sudah malam,” gumamnya pelan. “Tapi aku nggak punya tempat lain.”

Langkahnya berat saat ia masuk.

Sepatu kerjanya masih berdebu, seragamnya masih rapi tapi wajahnya sudah jauh dari kata baik-baik saja.

Beberapa menit kemudian, ia berhenti di dua nisan yang berdampingan.

“Bapak… Ibu…”

Suaranya nyaris pecah.

Ia berjongkok di depan makam itu, tangannya menyentuh tanah dingin di atas nisan.

“Hari ini… aku dimarahi lagi.”

Ia tertawa kecil, tapi bukan tawa bahagia. Lebih seperti luka yang dipaksa keluar.

“Mereka bilang aku nggak tahu tempat. Nggak tahu harga diri keluarga mereka.”

Xavero menarik napas panjang, matanya mulai berkaca-kaca.

“Aku udah berusaha, Pak… Bu… aku kerja dari pagi sampai malam. Aku nggak pernah mengeluh.”

Ia menunduk lebih dalam.

“Tapi kenapa… setiap aku pulang, aku selalu salah?”

Angin malam berhembus lebih kencang.

Xavero terdiam sesaat, lalu melanjutkan dengan suara lebih pelan.

“Aku memberikan emas itu… aku pikir itu cukup. Aku pikir… setidaknya kali ini aku nggak akan salah.”

Ia menggeleng pelan.

“Ternyata tetap salah.”

Air matanya jatuh satu, lalu cepat ia hapus dengan punggung tangan.

“Pa… Ma… kalau kalian masih ada… aku harus bagaimana?”

Ia menatap dua nisan itu lama, seakan berharap jawaban muncul dari sana.

“Aku harus terus bertahan… atau aku harus berhenti saja jadi orang yang mereka mau?”

Hening.

Tidak ada jawaban.

Hanya suara jangkrik dan angin malam yang lewat di antara nisan.

Xavero terus mencurahkan isi hatinya kepada kedua orang tuanya. Ia tahu tidak ada jawaban yang akan datang, namun hanya itu yang membuatnya sedikit tenang.

“Bu, Pak… tolong datanglah ke mimpiku. Beri aku petunjuk harus bagaimana. Berhenti, atau tetap berusaha membuat mereka melihat aku?”

Xavero tersenyum pahit. Saat ia hendak melanjutkan, ponselnya berdering.

Ia menghela napas berat, lalu merogoh ponselnya. Nama atasannya tertera di layar, dan ia segera mengangkatnya.

“Halo, Bos?”

“Kamu di mana?”

Xavero terdiam sejenak. Tidak mungkin ia mengatakan keberadaannya saat ini. “Di luar, Bos. Ada apa? Tumben telepon malam-malam?”

“Kebetulan kamu di luar, saya mau minta tolong. Bisa?”

“Tentu, Bos. Ada apa?”

“Tolong ambilkan berkas meeting yang tertinggal di hotel tempat saya mengadakan meeting tadi pagi. Istri saya sedang sakit, jadi saya tidak bisa pergi. Kamu bisa?”

“Tentu, Bos. Saya akan ke sana malam ini.”

“Baik. Staf manajer hotel sudah menunggu kamu di lobi.”

“Baik, Bos.”

Tut!

Xavero menutup telepon dan menyimpannya kembali. Ia menatap makam kedua orang tuanya dengan tatapan tenang namun berat.

“Bu, Pak… Xavero kembali dulu. Aku tunggu kalian di mimpi aku. Nanti aku datang lagi,” ucapnya pelan.

Ia beranjak dari duduknya, lalu meninggalkan area makam.

Beberapa menit perjalanan, motor Xavero berhenti di hotel mewah yang berada di Alderio City. Ia turun, lalu melangkah masuk ke dalam hotel.

“Xavero.”

Xavero menghentikan langkahnya dan menoleh ke samping.

“Dengan Pak Xavero?”

Ia mengangguk pelan.

“Perkenalkan, saya manajer hotel yang membawa berkas Pak Adrian yang tertinggal.” Ia kemudian menyerahkan map berwarna biru kepada Xavero.

“Terima kasih, Pak,” jawab Xavero.

“Sama-sama. Kalau begitu saya izin pamit, tugas saya sudah selesai.”

Xavero kembali mengangguk sebagai jawaban.

Saat hendak berbalik pergi, pandangannya tiba-tiba menangkap sosok yang dikenalnya berjalan bersama seorang pria.

“Liora…” gumamnya pelan.

Tangannya perlahan mengepal, lalu ia mengikuti langkah mereka secara diam-diam.

“Itu kan Arga Wijaya,” pikirnya.

Liora tampak berjalan berdampingan dengan Arga. Pria itu merangkul pinggangnya dengan akrab. Pakaian Liora terlihat sangat ketat, memperjelas lekuk tubuhnya.

“Mereka ngapain di sini?” ucap Xavero pelan sambil terus mengikuti dari jarak aman.

Di depan lift, langkahnya terhenti.

Arga dan Liora saling berciuman.

Deg!

Jantung Xavero seakan berhenti sesaat melihat pemandangan itu. Bibir yang seharusnya menjadi miliknya, kini berada di pria lain.

“Brengsek,” geramnya pelan.

“Aku mau lebih dari ini,” ucap Arga dengan nada rendah.

“Of course, baby,” balas Liora dengan senyum yang menggoda.

Ucapan itu terdengar jelas di telinga Xavero.

“Jadi… segitu ya kamu, Liora…”

Ting!

Pintu lift terbuka. Arga dan Liora memasukinya, terus meneruskan ciuman mereka tanpa menyadari bahwa Xavero sedang melihat keduanya.

Xavero berdiri kaku di depan lift yang baru saja tertutup.

Matanya masih terpaku pada angka lantai yang perlahan berubah naik di panel kecil itu.

“Brengsek…” gumamnya lagi, kali ini lebih pelan, tapi penuh tekanan.

Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Di dadanya, sesuatu terasa sesak, bukan hanya marah, tapi juga hancur dalam cara yang tidak bisa ia jelaskan.

“Liora… kamu sudah keterlaluan.”

Ia melangkah maju, berniat menekan tombol lift lain, mengikuti mereka.

Namun—

Tring!

Ponselnya kembali berbunyi.

Xavero berhenti.

Ia menatap layar.

Nama bosnya lagi.

Napasnya tertahan.

Dengan tangan masih gemetar menahan emosi, ia mengangkat telepon itu.

“Halo, Bos?” suaranya terdengar lebih berat dari sebelumnya.

“Kamu sudah dapat berkasnya?”

“Sudah, Bos.”

“Bawa kemari. Saya ada meeting mendadak malam ini.”

Xavero menghela napas berat. Ia tidak bisa mengikuti Liora lebih jauh.

“Xavero.”

Xavero tersadar dari lamunannya.

“Iya, Bos. Saya akan ke kediaman Anda.”

1
Adrianus Eleuwarin
banyakin thor up ny
Adrianus Eleuwarin: ok tetap semangat and sukses tetus cerita nya 💪💪💪
total 2 replies
Hendra Yana
good job
Hendra Yana
gasss pol
Nona Jmn
🤭🤭
indri ana
ini baru namanya sahabat🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!