Nasib sial beruntun menimpa Kiara Masita, seorang siswi kelas 3 SMA yang energik. Setelah ditinggal pulang oleh sahabatnya, Kiara harus berjalan kaki di malam hari dengan ponsel yang mati total. Puncak kesialannya terjadi saat sebuah mobil mewah yang dikendarai oleh Abraham Wijaya (Bara) melindas ponsel kesayangannya hingga hancur berkeping-keping.
Pertemuan yang diawali dengan keributan di pinggir jalan ini memaksa Bara, seorang duda muda berusia 27 tahun sekaligus pengusaha sukses, untuk mengganti ponsel Kiara saat itu juga.
Dalam perjalanan pulang, suasana yang awalnya penuh perdebatan berubah menjadi negosiasi serius. Bara secara mengejutkan menawarkan sebuah kontrak pernikahan selama satu tahun kepada Kiara. Sebagai imbalannya, Bara menjanjikan fasilitas yang sulit ditolak rumah mewah untuk kedua orang tua Kiara, serta kehidupan yang terjamin dan serba mewah bagi Kiara sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dijemput Sean
Pagi itu, Kiara terjaga jauh sebelum alarm ponselnya memekik. Kegelisahan adalah alarm alami yang paling kejam. Pikirannya terus tertuju pada dokumen perjanjian yang ia tanda tangani tempo hari, sebuah kontrak yang terasa seperti jerat emas di lehernya. Bayangan denda bernilai fantastis yang tercantum di sana membuat tidurnya tak nyenyak, memaksa Kiara untuk bangkit demi memenuhi kewajiban sebagai "istri" dari seorang pria yang jauh di atas liganya.
Kiara melangkah keluar kamar dengan hati-hati. Ia menajamkan pendengaran, waspada jika Bu Monika atau Meisya, wanita yang selalu menatapnya seolah ia adalah noda di karpet mahal, sudah datang untuk mengacaukan paginya. Namun, rumah megah di kawasan Jakarta Selatan itu masih diselimuti keheningan yang tenang. Kiara segera menuju kamar utama.
Tanpa mengetuk, ia mendorong pintu jati itu dengan cepat dan seketika ia mematung.
"Om... kenapa cuma pakai handuk saja?" Kiara memekik pelan, menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Di depannya, Bara baru saja keluar dari kamar mandi. Pria berusia 27 tahun itu hanya mengenakan selembar handuk putih yang melingkar rendah di pinggangnya. Tetesan air sisa mandi masih mengalir di dada bidang dan perut atletisnya yang terpahat sempurna. Kiara tak bisa memungkiri, sebagai pemilik perusahaan starship ternama, Bara memang memiliki aura kepemimpinan yang terpancar bahkan dari fisiknya yang memesona. Mengingat status Bara sebagai duda sejak setahun lalu, Kiara menyadari betapa banyak wanita di luar sana yang rela mengantre demi posisi yang kini ia tempati secara terpaksa.
"Kamu yang masuk tanpa izin, Kiara. Ketuk pintu itu etika dasar, bukan?" suara Bara terdengar berat dan menggoda. "Atau memang sengaja ingin mengagumi tubuh suami sendiri?"
Wajah Kiara memanas. Ia segera membuang muka dan berjalan cepat menuju lemari walk-in closet yang luasnya hampir menyamai kamar tidurnya di rumah orang tuanya. Ia terpana menatap deretan kemeja custom-made dengan gradasi warna yang sempurna. Kiara mendadak bingung menentukan warna yang tepat untuk citra seorang CEO pagi ini.
Tanpa ia sadari, Bara sudah berdiri tepat di belakangnya. Aroma maskulin bercampur sabun kayu cendana menyeruak, mengunci pergerakan Kiara. Tangan Bara terulur melewati bahu Kiara untuk meraih sesuatu.
"Aaaaa!" Kiara memekik saat merasakan punggungnya bersentuhan langsung dengan dada telanjang Bara yang masih hangat. "Om jangan macam-macam ya!"
Bara terkekeh rendah di dekat telinganya. "Siapa yang macam-macam? Saya cuma mau mengambil pakaian dalam. Itu, tepat di depan matamu."
Bara menunjuk laci yang berada persis di depan Kiara. Kiara spontan mundur, namun malangnya, langkah itu justru membuat punggungnya semakin bersandar erat pada dada Bara.
"Tuh, kan. Malah kamu yang kegenitan bersandar di saya." bisik Bara jenaka.
Kiara segera menghindar dengan wajah merah padam. " Enak saja. Om yang mengancam saya dengan perjanjian konyol itu. Katanya saya harus mengurus semua keperluan Om." ia bersungut sembari menyambar sebuah kemeja berwarna soft blue.
Ia mulai memasangkan kemeja itu ke tubuh Bara. Jemarinya yang gemetar mencoba mengancingkan satu demi satu lubang kemeja. Bibirnya mengerucut kesal, namun di mata Bara, ekspresi itu justru terlihat sangat menggemaskan.
"Pelan-pelan, Kiara. Ini kulit manusia, bukan manekin." protes Bara lembut saat Kiara menarik kerah kemejanya sedikit terlalu kencang.
"Celananya pakai sendiri!" ketus Kiara setelah kemeja terpasang sempurna.
"Saya pikir mau sekalian dipasangkan." goda Bara dengan kedipan mata yang membuat Kiara ingin melempar sisir. Begitu Bara melepas handuknya, Kiara spontan berbalik badan dan menutup mata rapat-rapat.
Setelah Bara selesai berpakaian, ia sengaja membiarkan rambutnya berantakan. "Rambut saya belum, Kiara."
Kiara mendesah, meraih sisir dan mulai menata rambut Bara. Ia memilih gaya yang sedikit lebih modern, membuat Bara tampak lebih segar dan beberapa tahun lebih muda.
"Kenapa modelnya seperti ini? Saya terlihat seperti anak SMA." komentar Bara menatap pantulan dirinya di cermin.
"Biar Om tidak terlihat tua. Lagipula, Om baru 27 tahun kan?" balas Kiara ketus, meski dalam hati ia mengakui bahwa gaya itu membuat ketampanan Bara meningkat dua kali lipat.
"Wah, kalau saya sekeren ini boleh dong saya tebar pesona dengan gadis-gadis di luar sana?"
Kiara tanpa sadar mengepalkan tinjunya. “ Sial, kenapa aku harus merasa cemburu pada duda menyebalkan ini?” umpatnya dalam hati.
"Sudah rapi. Saya mau menyiapkan sarapan." ujar Kiara singkat. Namun, sebelum ia melangkah, Bara menarik lengannya lembut dan mendaratkan kecupan singkat di keningnya.
"Terima kasih, istri kecilku."
Kiara mematung. "Om.. kenapa mencium saya?"
"Hanya di kening sebagai tanda terima kasih. Tidak ada di perjanjian yang melarang saya mencium istri saya sendiri, kan?" Bara tersenyum menang, lalu menyuruh Kiara segera ke meja makan.
**
Di ruang makan, suasana mendadak dingin. Bu Monika dan Meisya sudah duduk di sana. Meisya, dengan pakaian yang sangat minim seolah sedang berada di kelab malam alih-alih sarapan keluarga menatap Kiara dengan tatapan merendahkan.
" Meisya sayang, tolong siapkan oatmeal untuk Bara." titah Bu Monika sinis pada Kiara.
"Tidak perlu repot, Bu. Om Bara tidak suka makanan lembek seperti itu." sahut Kiara asal, meski ia sebenarnya tidak tahu.
Meisya tersenyum meremehkan. "Bara selalu sarapan oatmeal dengan blueberry, Kiara sayang. Aku mengenalnya lebih lama darimu."
Namun, saat Bara duduk ia justru meraih sepiring besar nasi goreng yang disodorkan Kiara, lengkap dengan telur mata sapi. "Sebenarnya saya memang suka oatmeal, tapi karena istri saya sudah memasak ini, saya akan memakannya."
Kiara bersorak dalam hati, apalagi saat Bara menyuapinya dengan mesra di depan Meisya yang wajahnya sudah merah padam karena marah.
Selesai sarapan, Kiara segera berpamitan untuk berangkat sekolah.
Di halaman rumah, sebuah motor sport hitam sudah menunggu. Pengendaranya adalah Sean, ketua tim basket yang sangat populer alias pacar Kiara.
"Hai, Kiara. Ayo berangkat." sapa Sean sembari membantu memasangkan helm ke kepala Kiara.
Namun, belum sempat motor itu melaju, deheman keras menghentikan mereka. Bara berdiri di ambang pintu dengan tatapan setajam elang. Sean turun dan menyalami Bara dengan sopan.
"Halo, Om. Saya Sean, pacar Kiara."
Bara menatap Sean dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Bara.” ucapnya dingin.
"Kiara, masuk sebentar. Ada yang perlu kita bicarakan." perintah Bara tegas.
Di dalam rumah, Bara langsung mengonfrontasi. "Apa-apaan ini? Kamu pergi dengan laki-laki lain di depan mata suami kamu?"
"Dia pacar saya, Om. Di perjanjian tidak dilarang punya pacar." balas Kiara berani.
Bara terdiam sejenak, menyesali kecerobohannya dalam menyusun poin kontrak. "Oke. Kamu boleh berhubungan dengannya, tapi ingat tidak boleh ada sentuhan fisik sedikit pun. Kalau saya melihatnya, saya tidak segan-segan membocorkan pernikahan ini ke sekolah agar kamu dikeluarkan."
Kiara menghentakkan kakinya kesal, lalu kembali ke halaman. Saat ia naik ke motor Sean, Bara masih berteriak dari kejauhan, "Kiara, duduknya geser ke belakang. Jangan menempel! Sean, jangan mengebut!"
Kiara hanya bisa merutuk. Uang jajannya hari ini hanya 20 ribu rupiah dan sekarang ia harus menghadapi kecemburuan seorang CEO duda yang posesif.
semangat💪 crazyup