NovelToon NovelToon
Dua Kehidupan Suamiku

Dua Kehidupan Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Konflik etika
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

​Rania, seorang dokter spesialis bedah yang logis dan tenang, merasa hidupnya adalah definisi kebahagiaan. Suaminya, Damar, adalah kontraktor sukses yang penyayang. Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Damar hilang tanpa jejak. Polisi menyerah, namun insting Rania sebagai istri dan dokter mengatakan ada yang tidak beres.

​Penyelidikan mandiri membawanya ke sebuah ruang bawah tanah di kantor lama Damar. Di sana, ia menemukan koleksi gaun, wig, dan alat rias.

Apa yang terjadi pada Damar ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Sang Penjaga

Malam telah larut menyelimuti Jakarta ketika Aris akhirnya melajukan mobil dinasnya meninggalkan kediaman Rania. Di spion tengah, ia sempat melihat bayangan Rania yang berdiri di ambang pintu, diapit oleh kedua orang tua angkat Damar. Sosok itu tampak begitu rapuh, seolah hembusan angin sedikit saja bisa menghancurkannya menjadi debu.

Rahang Aris mengeras. Tangannya mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Setiap kali ia melihat Rania menangis, ada bagian dari jiwanya yang ikut tercabik. Baginya, Rania bukan sekadar sahabat, bukan sekadar "titipan" masa lalu, melainkan pusat dari seluruh semesta yang ia bangun.

Aris membelokkan mobilnya menuju sebuah kompleks apartemen di kawasan Jakarta Selatan. Ia tinggal di unit yang cukup luas, namun sunyi—sebuah tempat yang lebih mirip markas pemantauan daripada sebuah hunian. Begitu pintu tertutup dan kunci diputar dua kali, Aris melepaskan jaket kulitnya, membiarkannya jatuh ke lantai. Ia tidak menyalakan lampu utama. Ia sudah terbiasa dengan kegelapan.

Ia berjalan menuju sebuah ruangan di sudut apartemennya, sebuah ruang kerja yang selalu terkunci rapat. Hanya ada satu kunci, dan itu tergantung di lehernya, tersembunyi di balik kaus hitam yang ia kenakan. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia membuka pintu itu.

Begitu lampu meja dinyalakan, rahasia terbesar dalam hidup Aris terhampar luas.

Dinding ruangan itu tidak dihiasi oleh piagam penghargaan kepolisian atau peta buronan kriminal. Sebaliknya, dinding itu penuh dengan foto-foto. Foto-foto Rania.

Ada foto Rania saat mereka masih di panti asuhan, sedang tertawa dengan pipi yang kotor oleh tanah. Ada foto Rania saat kelulusan kedokterannya, tampak anggun dengan toga dan senyum yang bisa menerangi malam paling gelap sekalipun. Ada juga foto-foto candid yang diambil Aris secara diam-diam selama bertahun-tahun: Rania yang sedang melamun di kafe, Rania yang sedang terburu-buru masuk ke rumah sakit, hingga foto Rania saat hari pernikahannya dengan Damar.

Aris mendekati foto pernikahan itu. Ia menyentuh wajah Rania di balik kaca bingkai. Saat itu, ia berdiri sebagai saksi, mengenakan setelan jas terbaiknya sambil menahan sesak yang luar biasa di dada. Ia melihat Rania bersanding dengan Damar, pria yang saat itu ia anggap sebagai pria paling beruntung di dunia.

"Aku merelakanmu karena aku pikir dia bisa memberimu kebahagiaan yang tidak bisa kuberikan, Ran," bisik Aris, suaranya parau memenuhi ruangan sunyi itu.

Cinta Aris pada Rania bukanlah jenis cinta yang menuntut kepemilikan. Itu adalah jenis cinta yang bersifat religius—sebuah pemujaan. Sejak mereka kecil, saat Aris berkelahi dengan anak-anak nakal di panti asuhan hanya karena mereka mengejek Rania, Aris sudah membuat sumpah di dalam hatinya. Ia tidak butuh menjadi suaminya, ia hanya butuh menjadi perisainya.

Ia teringat malam saat ia memutuskan untuk masuk akademi kepolisian. Alasannya sederhana: ia ingin memiliki kekuatan hukum dan fisik untuk memastikan tidak ada satu orang pun yang berani menyentuh sehelai rambut Rania dengan niat jahat. Baginya, setiap kenaikan pangkat, setiap kasus yang ia pecahkan, hanyalah alat untuk memperkuat posisinya sebagai penjaga Rania.

Aris beralih ke meja kerjanya. Di sana, terdapat sebuah kotak kayu kecil. Ia membukanya. Isinya adalah barang-barang sepele yang mungkin dianggap sampah oleh orang lain: sebuah ikat rambut Rania yang tertinggal di mobilnya lima tahun lalu, sebuah pulpen yang sudah habis tintanya milik Rania, dan sebuah foto polaroid kecil yang diambil saat mereka merayakan ulang tahun Rania yang ke-20.

Rasa cinta yang begitu besar ini telah menjadi kutukan sekaligus berkat bagi Aris. Ia pernah mencoba berkencan dengan wanita lain, mencoba membuka hati agar ia bisa hidup "normal" seperti pria lainnya. Namun, setiap kali ia menatap mata wanita lain, ia hanya mencari bayangan Rania. Setiap kali ia mendengar suara wanita lain, ia merindukan tawa Rania. Tak ada satu pun wanita yang bisa menandingi standar yang telah ditetapkan Rania di hatinya.

Hingga akhirnya, tiga tahun lalu, Aris mengambil keputusan paling ekstrem dalam hidupnya. Ia memutuskan untuk tidak akan pernah menikah. Selamanya.

Baginya, menikah dengan wanita lain adalah bentuk pengkhianatan terhadap pengabdiannya pada Rania. Ia tidak ingin membagi perhatiannya. Ia ingin seluruh hidupnya, seluruh waktunya, dan seluruh gajinya tersedia kapan pun Rania membutuhkannya. Ia ingin menjadi orang pertama yang datang saat Rania terjatuh, dan orang terakhir yang pergi saat Rania sudah merasa aman.

"Aku akan selalu ada di bayanganmu, Rania. Sampai napas terakhirku," gumamnya sambil menatap foto terbaru Rania yang ia ambil dari kejauhan minggu lalu.

Aris duduk di kursi kerjanya, menyalakan sebatang rokok. Asapnya membubung, menari-nari di antara foto-foto Rania. Pikirannya kembali ke kejadian beberapa hari terakhir. Penemuan di ruko tua itu membuat kemarahan Aris membara.

Ia benci Damar. Bukan hanya karena Damar mengkhianati Rania, tapi karena Damar telah menyia-nyiakan harta paling berharga yang pernah Aris miliki—kepercayaan Rania. Damar memiliki apa yang Aris impikan selama puluhan tahun: hak untuk memeluk Rania setiap malam, hak untuk mencium keningnya saat ia bangun tidur. Dan Damar membuang itu semua demi sebuah identitas rahasia yang menjijikkan.

"Kau pengecut, Damar," Aris menggeram. "Kau menghancurkan wanita yang kupuja seumur hidupku."

Aris membuka laci mejanya, mengeluarkan sebuah buku catatan hitam. Di sana, ia menuliskan semua detail penyelidikannya tentang Damar yang tidak ia beritahukan pada Rania. Ia memiliki sumber-sumber di "dunia bawah" yang bisa melacak pergerakan uang dan identitas palsu. Ia tidak akan berhenti sampai ia menemukan Damar, bukan untuk membawanya pulang, tapi untuk memastikan pria itu tidak akan pernah bisa menyakiti Rania lagi.

Kehamilan Rania—yang Aris curigai meski Rania belum mengatakannya secara gamblang—menambah beban di pundak Aris. Sebagai seorang polisi yang tajam, ia memperhatikan bagaimana Rania menyentuh perutnya, bagaimana mualnya bukan sekadar karena stres, dan bagaimana auranya berubah menjadi lebih protektif.

Jika Rania benar-benar hamil anak Damar, maka tugas Aris akan menjadi dua kali lipat lebih berat. Ia akan menjaga Rania, dan ia akan menjaga anak itu seolah-olah itu adalah darah dagingnya sendiri. Ia akan menjadi figur ayah yang tidak akan pernah pergi, meskipun anak itu tidak akan pernah memanggilnya "Ayah".

Aris mematikan rokoknya di asbak yang sudah penuh. Ia berdiri dan berjalan menuju dinding utama, tempat foto Rania yang paling besar terpampang. Foto itu diambil saat Rania sedang tersenyum lebar sambil memegang ijazah dokternya. Matanya berbinar penuh harapan.

"Apapun yang terjadi, Ran... kau tidak akan pernah sendirian," Aris berbisik sambil mencium bingkai foto itu dengan penuh khidmat. "Dunia mungkin mengecewakanmu, suamimu mungkin mengkhianatimu, tapi aku adalah satu-satunya konstanta dalam hidupmu. Aku adalah dinding yang tidak akan pernah runtuh."

Malam semakin larut di apartemen yang sunyi itu. Di tengah ribuan foto Rania yang menatapnya dari segala sisi, Aris merasa damai. Baginya, ruangan ini adalah kuilnya. Dan di sini, di tengah kesunyian, ia terus memupuk rasa cintanya yang luar biasa besar—sebuah cinta yang mungkin tidak akan pernah terbalas, namun cukup kuat untuk menjaganya tetap berdiri tegak demi wanita yang ia cintai lebih dari nyawanya sendiri.

Ia mematikan lampu meja, kembali membiarkan ruangan itu tenggelam dalam kegelapan. Namun di dalam benak Aris, wajah Rania tetap bercahaya, menjadi satu-satunya kompas yang menuntun setiap langkah hidupnya.

1
Ayu Putri
saat bertemu nanti damar udh oprasil,sesal pun tiada arti gak bisa dirubah lg
Dian Yuliana
akhirnya up juga.thankyou author 😍😍🙏
Junita Lempoi
bagus ceritanya
𝐀⃝🥀Weny
semoga kau menyesal setelah operasi damar...
Ayu Putri
bagus
Ayu Putri
udah lah ran SM Aris aja,mas damar mu gak kembali,walopun kembali jg bukan damar yg dulu yg ada udh JD dara
Halwah 4g: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Ayu Putri
ternyata damar gay, harusnya ceraikan Rania dulu, kasian Rania nunggu yg gak pasti
Halwah 4g: emang..kasian ya say
total 1 replies
Ayu Putri
belum up ya Thor 🥺🥺🥺
Ayu Putri
lanjut kak othor
Dian Yuliana
iya kok gak ada kelanjutannya
𝐀⃝🥀Weny
thor, Iki critane dilanjut opo gak to.. kok suwi men gak up neh🤦
Halwah 4g: suabarrr nggih
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
thor ayo lanjut dong, jangan bikin penasaran...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!