Laras Kusuma Widjaya adalah definisi gadis sempurna: ningrat, cantik, dan sangat penurut. Hidupnya adalah deretan protokol kaku. Masalahnya hanya satu, Laras tidak tahu cara bilang "tidak"—bahkan saat Bara, cowok paling pembuat masalah di sekolah, mengajaknya melakukan hal paling gila dalam hidupnya.
Semua hal nyeleneh yang dilarang keras oleh keluarganya, justru menjadi pintu keluar bagi jiwa Laras yang selama ini terkekang. Namun, saat perasaan mulai tumbuh melampaui batas kasta, tembok tradisi menuntut ketaatan yang mustahil ia sanggupi. Di antara tuntutan keluarga dan debaran jantung yang tak masuk akal, Laras harus memilih: tetap menjadi putri mahkota yang sempurna, atau membiarkan gelar ningratnya hancur berantakan demi satu-satunya kebebasan yang pernah ia rasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penavana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Simpul Rahasia
Cahaya lampu jalan yang masuk melalui celah gorden menciptakan bayangan panjang di dinding kamar Bara. Napas cowok itu mulai memberat. Keningnya berkerut, dan jemarinya yang lecet mencengkeram sprei dengan kuat, kuku-kukunya memutih.
Dalam mimpinya, dunia berubah menjadi abu-abu dan sunyi. Ia berdiri di koridor rumah sakit yang panjang dan tak berujung. Bau antiseptik yang tajam—bau yang paling ia benci di dunia ini—menusuk hidungnya, membuat mual. Lantai porselen di bawah kakinya terasa sangat dingin.
Di ujung koridor yang remang, sebuah pintu terbuka. Sosok pria memakai wearpack, nampak sangat lelah berdiri di sana. Papanya. Ia tidak tersenyum, hanya menatap Bara dengan tatapan yang sulit diartikan—kecewa, sedih, dan rindu bercampur jadi satu.
"Bara... Kenapa lagi?"
Suara itu berat, seolah datang dari tempat yang sangat jauh.
"Pa..." suara Bara tercekat.
Ia ingin berlari memeluk Papanya, tapi kakinya terasa berat, seperti terbenam dalam lumpur.
"Papa di mana? Bara nyari Papa..."
Bayangan Papanya mulai memudar, perlahan tergantikan oleh suara sirine ambulans yang meraung-raung, memekakkan telinga. Suasana berubah drastis. Bara mendapati dirinya berdiri di tengah kerumunan orang yang memakai baju hitam. Suara tangis pecah di mana-mana. Bara menggeleng histeris. Ia melihat jenazah yang perlahan diturunkan ke liang lahat.
Di samping Bara, tumpukan piala-piala kaca yang pernah ia menangkan—piala yang dulu membuat Papanya bangga—tiba-tiba retak dan pecah satu per satu, mengeluarkan suara denting tajam yang menyakitkan telinga.
"PA! JANGAN PERGI!"
Bara tersentak bangun dengan teriakan yang tertahan di tenggorokan. Tubuhnya basah oleh keringat dingin. Ia terduduk di pinggir kasur, napasnya memburu, putus-putus. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rusuknya dengan keras. Kamar itu terasa sangat sunyi dan mencekam. Ia menoleh ke arah meja nakas. Di sana ada sebuah foto kecil yang sudah agak kusam di dalam bingkai sederhana—ia dan Papanya saat Bara baru masuk SD. Keduanya tersenyum lebar.
Bara menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, menyembunyikan matanya yang panas. Bahunya bergetar hebat saat ia mencoba meredakan sesak yang menghimpit dadanya. Kesunyian kamar itu terasa menyiksa, mengingatkannya kembali pada kenyataan pahit yang harus ia hadapi setiap hari.
Bara mengembuskan napas panjang, lalu meraih ponsel. Ia teringat Laras. Dengan senyum tipis yang dipaksakan untuk menutupi sisa kegundahannya, ia mulai mengetik.
Bara :
P
Bara :
Save Bara
⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️
Danendra berdehem, mencoba menutupi kegugupannya saat getaran di saku celananya mulai terasa seperti tuntutan yang mendesak. Ia meletakkan cangkir tehnya dengan sangat perlahan ke atas lepek porselen, menciptakan bunyi denting halus yang sopan.
"Mohon maaf sebelumnya," Danendra memulai dengan nada suara yang sangat tenang dan rendah.
"Tadi saat masuk, saya sempat melihat sekilas di selasar samping ada beberapa foto keluarga lama dan piagam. Saya sangat tertarik dengan sejarah dan silsilah, apakah diperbolehkan jika saya meminta Laras untuk menunjukkan dan menceritakan sedikit tentang sejarah keluarga di sana?"
Eyang Putri tampak terkesan. Ketertarikan pada leluhur adalah nilai plus yang sangat besar di mata beliau. Beliau tersenyum bangga, lalu melirik Laras.
"Tentu saja, Danendra. Itu ide yang sangat bagus. Budaya dan sejarah adalah akar kita," ucap Eyang Putri dengan nada hangat.
"Laras, ajak Danendra ke selasar foto. Ceritakan tentang Eyang Buyutmu yang dulu di keraton," pinta Ibu.
Laras berdiri, menyembunyikan rasa heran di balik wajah datarnya. Namun, ia tetap mengikuti instruksi.
"Mari," ucapnya singkat.
Begitu mereka sampai di selasar samping yang sepi dan terhalang oleh pilar-pilar besar, Danendra langsung mempercepat langkahnya hingga mereka benar-benar berada di titik buta dari ruang tamu. Seketika, aura wibawanya hilang. Ia langsung merogoh saku, mengeluarkan ponsel, dan wajahnya berubah panik saat melihat nama yang tertera di layar.
"Aduh, mati gue..." bisiknya kacau.
Ia menatap Laras dengan tatapan memohon.
"Sori, gue harus angkat ini. Penting banget, soalnya dia udah ngancem mau blokir nomor gue kalau nggak diangkat sekarang. Tolong jagain di sana ya, kalau ada yang datang, kasih kode!"
Tanpa menunggu persetujuan Laras, Danendra sedikit membungkuk masuk ke celah antara lemari jati besar dan dinding, lalu menekan tombol hijau.
"Halo? Sayang, iya... sumpah, ini tadi lagi acara formal banget, aku nggak bisa pegang HP," suara Danendra berubah drastis menjadi sangat manja dan penuh bujuk rayu, sangat kontras dengan pembawaannya di depan Eyang tadi.
"Enggak, bukan sama cewek lain... ini cuma acara bisnis Papa. Kamu jangan marah dong, nanti aku jemput ya?"
Laras bersedekap, bersandar pada salah satu pilar sambil memperhatikan Danendra yang sedang 'berjuang' di balik lemari. Ia melirik foto Eyang Buyutnya yang tergantung di dinding—seorang pria berwibawa dengan keris di pinggang—dan merasa ironis. Di sini ia berdiri, menjaga seorang pemuda yang sedang bersembunyi dari pacarnya di tengah rencana perjodohan agung.
Tak mau membuang waktu, Laras pun mengeluarkan ponselnya sendiri. Laras tertegun. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang, bukan karena debar asmara, melainkan karena rasa terkejut. Di layar ponselnya, sebuah pesan dari nomor tak dikenal muncul.
[+62xxxxxxxxxxx]
P
[+62xxxxxxxxxxx]
Save Bara
Laras tersenyum tipis, hampir tak kentara, namun cukup untuk mengubah gurat kaku di wajahnya yang sedari tadi tegang.
"Udah aku save" ketik Laras dengan cepat sebelum memasukkan kembali ponselnya ke saku jarik yang sempit.
Danendra yang baru saja selesai dengan urusan dunianya sendiri, menyadari perubahan ekspresi Laras.
"Kenapa? Pacar lo juga?" tanya Danendra berbisik, mencoba mencairkan kecanggungan di antara mereka.
Laras tidak menjawab, namun tiba-tiba Danendra tersenyum penuh teka-teki.
Ia melangkah mendekat ke arah Laras, merendahkan suaranya agar tidak bergema di selasar yang sunyi itu.
"Gue punya ide! Hei, dengar! Kita berdua sama-sama punya sesuatu yang harus dijaga di luar sana, ya kan?" bisik Danendra.
"Kalau kita menolak perjodohan ini sekarang, Eyang kamu dan bokap gue bakal makin menekan kita. Mereka bakal cari kandidat lain yang mungkin lebih parah."
Laras mengerutkan kening. "Maksud kamu?"
"Kita pura-pura setuju," Danendra tersenyum licik.
"Kita akting jadi pasangan 'calon' yang ideal di depan mereka. Dengan begitu, mereka bakal tenang dan ngasih kita kelonggaran. Gue bisa pergi nemuin pacar gue tanpa dicurigai, dan lo... lo bisa punya alasan buat keluar rumah bareng gue, tapi tujuan aslinya.. yaa terserah lo, mau lo ngedate sama pacar lo, bebas!"
Laras mulai menangkap arah pembicaraan ini.
"Jadi, kamu mau kita jadi sekutu?"
"Tepat sekali! Lo mau kan?" Danendra menjentikkan jarinya pelan.
Ide Danendra ini benar-benar menjadi angin segar di tengah suasana rumah yang pengap
"Oke, kita kerja sama!" jawab laras.
Mereka pun bertukar nomor telepon agar lebih mudah berkomunikasi. Dan kemudian Mereka berdua berjalan kembali ke ruang tamu dengan langkah yang diselaraskan.
Eyang Putri, Raden Mas Hardjono, dan kedua orang tua Laras tampak berhenti mengobrol saat melihat mereka datang.
"Bagaimana, Danendra? Sudah melihat foto-foto leluhur kami?" tanya Eyang Putri dengan tatapan menyelidik.
Danendra membungkuk sedikit, senyumnya begitu meyakinkan.
"Sangat mengesankan, Kanjeng Eyang. Ternyata banyak filosofi keluarga yang sangat selaras dengan apa yang diajarkan di keluarga saya. Bahkan, saya merasa obrolan singkat di selasar tadi masih kurang."
Danendra melirik Laras sejenak sebelum melanjutkan,
"Jika diperbolehkan, lain kali saya ingin mengajak Laras makan siang di luar. Rasanya akan lebih santai untuk kami saling mengenal lebih jauh tanpa mengganggu obrolan serius para orang tua di sini."
Eyang Putri tampak terkejut, namun binar puas di matanya tidak bisa disembunyikan. Ini adalah perkembangan yang jauh lebih cepat dari yang beliau bayangkan.
Ijin mampir🙏