NovelToon NovelToon
Di Bawah Payung Yang Sama

Di Bawah Payung Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:919
Nilai: 5
Nama Author: zhafira nabhan

Kim Ae Ra hanya ingin hidup tenang setelah kehilangan ayahnya di masa kecil. Demi bertahan, ia bekerja keras hingga akhirnya diterima di Aegis Corp dan menjadi sekretaris CEO muda yang dingin, Hyun Jae Hyuk.

Bagi Ae Ra, pertemuan mereka hanyalah kebetulan. Namun tanpa ia sadari, Jae Hyuk telah mengenalnya jauh sebelum itu—pada sebuah malam hujan yang hampir mengubah hidupnya.

Saat hubungan mereka perlahan mendekat, seseorang dari masa lalu muncul kembali membawa kenangan yang telah lama terlupakan. Di antara rahasia, takdir, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Ae Ra mulai menyadari bahwa beberapa pertemuan bukanlah kebetulan.

Karena terkadang, orang yang berdiri di samping kita saat hujan… adalah rumah yang sejak lama kita cari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(REVISI) BAB 7

Pagi di Aegis Corp selalu datang lebih cepat daripada yang diinginkan Kim Ae Ra.

Jam tujuh kurang sepuluh menit, langit masih berwarna kebiruan pekat dengan sedikit sentuhan jingga muda di ufuk timur. Ia sudah duduk di mejanya bahkan sebelum sebagian besar karyawan datang, kursi kantornya terasa lebih akrab sekarang, layar komputer menyala dengan agenda hari itu terbuka rapi dalam format tabel yang ia susun sendiri. Secangkir kopi hangat dari mesin kantin perlahan mendingin di samping keyboard, uap panasnya sudah tidak terlihat lagi.

Beberapa hari terakhir mengajarinya satu hal penting, jika datang lebih awal, ia punya waktu untuk bernapas sebelum dunia mulai menekannya. Waktu itu ia gunakan untuk menyusun jadwal, memeriksa dokumen hari itu, atau hanya melihat kota yang mulai bangun melalui jendela koridor. Ia belajar bahwa kesempatan bersiap dengan tenang bisa membuat perbedaan besar antara hari yang terkontrol dan hari yang penuh kekacauan.

Ae Ra menarik napas panjang. Hari ini ia bertekad tidak membuat kesalahan, setiap langkah akan dihitung cermat, setiap kata akan diucapkan hati-hati. Tiba-tiba, suara lift terbuka terdengar di ujung lorong, diikuti langkah kaki tegas yang menghentak lantai granit. Tanpa perlu dilihat, ia tahu siapa pemiliknya.

Hyun Jae Hyuk.

“Pagi.”

Sapaan singkat itu membuat Ae Ra refleks berdiri dengan sikap benar.

“Selamat pagi, Tuan CEO,” jawabnya dengan suara jelas dan sopan.

Jae Hyuk berhenti sejenak, matanya melirik meja yang tertata rapi. Dokumen diatur sesuai prioritas, alat tulis tersusun rapi, bahkan cangkir kopinya sudah diletakkan di tempat yang tidak mengganggu.

“Kau datang lebih awal,” katanya bukan sebagai pertanyaan.

“Iya… supaya tidak tertinggal pekerjaan,” jawab Ae Ra sambil menunduk sedikit.

Ia mengangguk kecil, lalu berjalan masuk ke ruangannya. Sebelum pintu tertutup, ia berkata tanpa menoleh,

“Bagus.”

Satu kata sederhana itu membuat Ae Ra sedikit lebih percaya diri. Bahunya yang menegang mulai melunak, dan ia bisa merasakan senyum kecil ingin muncul di bibirnya.

Pagi berjalan relatif tenang sampai pukul sepuluh, ketika perubahan jadwal mendadak datang. Direktur Operasional Park Se Rin muncul dengan ekspresi serius. Wanita itu mengenakan jas hitam rapi, rambut terikat rapi di belakang kepala.

“Rapat investor dipercepat satu jam,” katanya dengan nada tidak bisa ditawar. “Mereka sudah tiba lebih awal dan ingin langsung membahas proposal proyek pelabuhan.”

Ae Ra langsung membuka agenda elektronik.

“Tapi ruang konferensi masih dipakai sampai pukul sebelas untuk rapat tim pengembangan produk—”

“Itu urusan sekretaris CEO, bukan saya,” potong Se Rin halus. Nada suaranya tetap sopan namun jelas menekan bahwa masalah itu adalah tanggung jawab Ae Ra.

Begitu wanita itu pergi, Ae Ra langsung bergerak. Ia menghubungi bagian administrasi dengan cepat, menjelaskan situasi darurat dan meminta bantuan untuk memindahkan rapat tim pengembangan produk ke ruang rapat kecil lainnya. Sambil itu, ia juga menghubungi bagian IT untuk memastikan perangkat presentasi sudah siap. Tangannya sedikit gemetar karena tekanan, namun ia tetap fokus pada setiap langkah yang diambil.

Dalam waktu kurang dari dua puluh menit, semua sudah siap, ruang konferensi telah dibersihkan dan diatur ulang, dokumen presentasi sudah dicetak dan diatur rapi di setiap tempat duduk, bahkan minuman dan makanan kecil sudah disiapkan di sudut ruangan. Ketika Jae Hyuk keluar dari ruangannya, ia melihat semuanya dengan tatapan yang menyaksikan.

“Kau yang mengatur ini?”

“Iya, Tuan CEO,” jawab Ae Ra dengan suara yang lebih percaya diri.

Ia mengangguk dengan puas. “Baik. Kita mulai.”

Pagi berjalan lancar setelah itu, hingga pukul sebelas ketika Ae Ra menerima pesan dari bagian keuangan bahwa beberapa dokumen penting untuk rapat investor belum terkirim dengan benar. Ia segera memeriksa email dan menemukan bahwa ada kesalahan dalam alamat penerima pada beberapa file lampiran. Tanpa berlama-lama, ia memperbaiki kesalahan dan mengirim ulang dokumen dengan catatan penjelasan singkat.

Ketika Jae Hyuk melewati mejanya untuk pergi ke kantin, ia melihat Ae Ra yang sedang fokus mengerjakan tugas tambahan.

“Kau sudah selesai mengatur semuanya?”

“Iya, Tuan. Dokumen sudah terkirim ke semua peserta rapat,” jawabnya dengan senyum kecil.

“Kerja bagus,” katanya sebelum melanjutkan langkahnya.

Pujian itu membuat Ae Ra merasa lega. Namun ketika ia berjalan ke pantry untuk mengambil air mineral, ia mendengar dua staf wanita berbicara di dekat mesin kopi.

“Seperti apa rapatnya tadi?”

“Lancar-lancar saja tapi siapa tahu apa yang mereka lakukan di belakang layar. Baru beberapa hari sudah bisa mengatur rapat besar seperti itu.”

“Mungkin ada bantuan dari atas..”

Ae Ra berdiri sejenak di belakang sudut rak, lalu memilih untuk kembali ke mejanya tanpa mengambil apa-apa. Hatinya terasa sedikit berat, tapi ia mencoba untuk tidak terpengaruh. Ia tahu bahwa tidak semua orang akan langsung menerima dirinya, dan itu adalah hal yang wajar dalam dunia kerja yang kompetitif seperti ini.

Siang hari berlalu dengan cepat. Ae Ra menghabiskan waktunya untuk menyelesaikan laporan harian dan mempersiapkan dokumen untuk rapat esok hari. Ketika jam menunjukkan pukul tiga sore, Jae Hyuk keluar dari ruangannya dengan ekspresi yang lebih riang dari biasanya.

“Rapat dengan klien baru berjalan sangat baik,” katanya kepada Ae Ra. “Mereka setuju untuk bekerja sama dengan kita dalam proyek tambahan di daerah selatan.”

“Betul, Tuan CEO,” jawabnya sambil mencatat informasi baru tersebut di agenda hariannya.

“Sampai jam lima kita ada rapat dengan tim pemasaran untuk membahas strategi promosi produk baru,” tambahnya setelah melihat catatan di layar komputer.

Jae Hyuk mengangguk. “Baik. Siapkan semua data yang dibutuhkan.”

Setelah ia masuk ke ruangannya, Ae Ra langsung mulai bekerja. Ia mencari semua informasi tentang proyek tambahan dan mengatur dokumen-dokumen yang akan dibutuhkan untuk rapat sore. Tangan nya bergerak cepat di keyboard, mengumpulkan data dari berbagai sumber dan menyusunnya dalam format yang mudah dibaca.

Sore datang dengan langit yang mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan. Beberapa karyawan sudah mulai mempersiapkan untuk pulang, membawa tas dan sapu tangan dengan ekspresi lelah namun puas. Ae Ra menyelesaikan laporan terakhirnya dan mengirimkannya ke Jae Hyuk melalui email.

Ketika ia sedang membersihkan mejanya, Bo Ram mengirim pesan singkat.

Bo Ram:

“Nanti datang ya ke toserba! Aku bawa camilan baru!”

Ae Ra tersenyum sambil menekan tombol balas.

Ae Ra:

“Baik, tunggu ya!”

Tiba-tiba, Jae Hyuk keluar dari ruangannya dengan jasnya sudah terpakai. Ia melihat Ae Ra yang sedang mematikan komputer.

“Kau pulang sekarang?”

“Iya, Tuan CEO. Semua pekerjaan hari ini sudah selesai,” jawabnya dengan sopan.

Ia mengangguk. “Baik. Istirahat yang cukup.”

“Terima kasih, Tuan CEO,” jawab Ae Ra dengan senyum yang tulus.

Setelah mengucapkan selamat tinggal kepada beberapa staf yang masih ada, Ae Ra mengambil tasnya dan berjalan menuju pintu keluar. Udara sore menyambutnya dengan hangatnya yang menyegarkan. Ia berjalan menuju halte bus dengan langkah yang santai, menikmati pemandangan kota yang mulai memasuki waktu malam.

Ketika sampai di toserba kecil, bel pintu berbunyi lembut saat ia membukanya.

“AE RAAA!” Bo Ram langsung muncul dengan wajah ceria, tangan memegang kemasan keripik kentang baru.

“Kau datang tepat waktu!” ujar Bo Ram dengan senyum lebar. “Seo Jun baru saja membuat kopi hangat!”

Seo Jun berdiri di belakang kasir, sedang menghitung uang di dalam kas register. Ia mengangkat kepalanya dan memberikan senyum tipis ketika melihat Ae Ra.

“Kopi sudah siap,” katanya dengan nada tenang.

Ae Ra duduk di kursi kecil dekat jendela, melihat hujan yang mulai turun perlahan di luar. Bo Ram segera datang membawa piring berisi keripik dan kue kecil.

“Ceritain dong bagaimana hari mu kerja?” ajak Bo Ram dengan mata yang penuh rasa ingin tahu.

Ae Ra mulai bercerita tentang hari nya. Mulai dari rapat yang berjalan lancar hingga pujian yang diterima dari CEO. Bo Ram terus mengangguk dan memberikan komentar penuh semangat setiap kali ia menyebutkan keberhasilan yang diraih.

“Kau pasti bisa jadi sekretaris terbaik di perusahaan itu!” ujar Bo Ram dengan penuh keyakinan.

Seo Jun datang membawa cangkir kopi hangat dan menempatkannya di atas meja. “Kalau lelah, jangan sungkan untuk istirahat,” katanya dengan nada penuh perhatian.

Ae Ra mengangguk dengan senyum. “Terima kasih, Seo Jun. Kamu juga jangan terlalu lama kerja.”

Ia tersenyum tipis sebagai balasan. Di luar jendela, hujan semakin deras, menerjang jalan dengan suara yang merata dan menenangkan. Di dalam toserba yang hangat dan penuh dengan kedekatan teman, Ae Ra merasa bahwa semua kelelahan yang ia rasakan sepanjang hari lenyap begitu saja.

Tanpa mereka sadari, sebuah mobil hitam berhenti sebentar di depan toko sebelum melaju kembali. Di dalamnya, seseorang melihat ke arah jendela toserba dengan tatapan yang sulit ditebak. Namun mobil tersebut segera melanjutkan perjalanannya, menghilang di balik tikungan jalan yang gelap.

Di bawah lampu neon yang hangat, Ae Ra tertawa bersama Bo Ram sambil membicarakan rencana mereka untuk akhir pekan. Seo Jun kembali ke kasir dengan langkah tenang, sambil sesekali melihat ke arah mereka dengan ekspresi yang penuh kedamaian. Meskipun dunia di luar terus bergerak dengan cepat dan penuh dengan tekanan, di dalam toserba kecil itu, waktu berjalan dengan lambat dan damai.

1
Lisa
Moga tdk terjadi apa² pada teman² Ae Ra
Lisa
Semangat y Ae Ra..gmn klo Bo Ram dijodohkan dgn Seo Jun..kan mereka sama² sahabatnya Ae Ra 😊
Lisa
Seneng banget baca ceritanya..happy terus ya Ae Ra bersama kekasih & sahabat²mu 😊
Lisa
Suka banget Kak pake bahasa Indo ga perlu diubah Kak..biar lebih nyantai juga bacanya 😊
Lisa
Makin seru nih ceritanya..bahagia selalu y utk Ae Ra & Jae Hyuk
Lisa
Bagus banget ceritanya..mereka saling mendukung satu sama lain..
Lisa
Rukun & bahagia selalu y utk Jae Hyuk & Ae Ra 😊👍
Lisa
Puji Tuhan pertemuan itu berjln dgn lancar..sukses y utk kerjasamanya..
Lisa
Moga pertemuannya dgn Tn. Lee lancar y Aera..semangat ya 💪😊
Lisa
Amin..kalian berdua harus kuat yaa..
Lisa
Senangnya akhirnya Jae Hyuk & Ae Ra sudah mengetahui masa lalu itu dan membuat hubungan mereka makin dekat 👍👍
Lisa
Semangat y Ae Ra..💪👍
Lisa
Kmu harus kuat Ae Ra..ada Jae Hyuk yg selalu mendampingimu..
Lisa
Wah gimana ya suasananya pertemuan bisnis itu..makin seru aj nih ceritanya
Lisa
Ceritanya menarik jg nih ternyata Ae Ra adalah anak dr org yg dibunuh oleh papa dr direktur tmptnya bekerja saat ini..moga aj kebenaran itu dapat terungkap.
Lisa
Wah gmn y acara rapat besarnya..jadi penasaran nih 😊
Lisa
Ae Ra punya masa lalu yg berhubungan dgn CEO
Lisa
Tetap semangat y Ae Ra 💪👍
Lisa
Seo Jun sebenarnya siapa y..apakah dia org penting.
zhafira: hayoo siapa ya?🤭
masih 'Rahasia' 🧐
total 1 replies
Lisa
Wah berarti ada mata² di toserba itu
zhafira: wahh hayoo ada siapa?? 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!