NovelToon NovelToon
Sial! Aku Bereinkarnasi Jadi Penjinak Cacing Terlemah

Sial! Aku Bereinkarnasi Jadi Penjinak Cacing Terlemah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Reinkarnasi
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Mati karena kelelahan melayani 10 istri cantik? Itu adalah akhir paling konyol dalam hidup Arka. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlahir kembali sebagai Reno, seorang pemuda miskin di desa terpencil dunia Beast Tamer.
Di dunia di mana kekuatan ditentukan oleh hewan kontrak, Reno justru menjadi bahan tertawaan karena hanya mampu menjinakkan seekor cacing tanah kecil yang lemas. Semua orang menghinanya, menganggap masa depannya telah berakhir sebagai petani rendahan.
Tapi mereka tidak tahu... cacing itu bukanlah cacing biasa. Di dalam tubuh kecil itu, bersemayam jiwa Nidhogg, Naga Kuno legendaris yang pernah memusnahkan sebuah negara dalam satu malam!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Dibalik Meja Kayu

Episode 3

Malam itu, Desa Tanah Merah diselimuti oleh suara jangkrik dan embusan angin dingin yang menembus celah-celah dinding bambu rumah Reno. Di dalam gubuk kecil itu, sebuah lampu minyak tua berkedip kedip, memberikan cahaya temaram yang menari nari di dinding.

Reno duduk di pinggir dipannya, menatap lengannya yang terbalut kain robekan baju Lani. Rasa perihnya sudah berkurang, namun kata-kata ayahnya tentang Akademi masih terngiang-ngiang di telinganya.

"Akademi Penjinak Binatang, ya?" gumam Reno pelan.

Di kehidupan sebelumnya, Arka tahu betul bahwa pendidikan adalah investasi terbaik, sekaligus tempat paling berbahaya untuk bersosialisasi. Jika ia masuk ke sana, ia akan bertemu dengan anak-anak bangsawan, jenius dari berbagai kota, dan tentu saja... lebih banyak wanita yang mungkin akan merepotkan hidupnya.

"Kenapa kau terlihat ragu, Manusia?" Suara Nidhogg muncul di benaknya, memecah lamunan Reno. "Bukannya tempat itu penuh dengan binatang kuat? Itu berarti prasmanan besar bagiku. Kau hanya perlu membawaku ke sana, dan aku akan memakan semua binatang peliharaan teman temanmu!"

Reno menghela napas, lalu menjentik pelan kepala cacing itu. "Itu masalahnya, Bodoh. Kalau kau memakan semua binatang di sana, aku akan dianggap sebagai iblis. Kita akan diburu oleh seluruh ksatria kerajaan. Aku ingin hidup tenang, bukan menjadi buronan nomor satu."

"Cih, kau terlalu penakut. Dengan kekuatanku, kita bisa menguasai kerajaan itu dalam waktu singkat!" Nidhogg menggeliat sombong di atas bantal jerami.

"Kekuatan? Kau bahkan hampir mati kelaparan tadi pagi," sindir Reno. "Dengar, kita harus punya rencana. Ayahku ingin aku masuk akademi, tapi kita tidak punya uang. Pendaftaran pasti butuh biaya, belum lagi biaya hidup di kota."

Reno meraih Kristal Inti berwarna kuning yang ia dapatkan dari Serigala Berduri tadi sore. Kristal itu berpendar indah di bawah cahaya lampu minyak. Sebagai mantan pengusaha, Reno tahu bahwa barang ini adalah modal awalnya.

"Nidhogg, kristal ini nilainya cukup besar bagi petani seperti keluargaku. Tapi kalau aku tiba-tiba punya uang banyak, orang desa akan curiga. Apalagi semua orang tahu binatang kontrakku cuma cacing."

"Lalu apa maumu? Kau mau menyimpannya sampai kristal itu berdebu?"

"Tidak. Aku akan menjualnya, tapi tidak di desa ini. Besok, aku akan minta izin pada Ayah untuk pergi ke pasar kota dengan alasan mencari obat untuk lenganku. Di sana, aku akan mencari toko barang antik atau kolektor yang tidak mengenaliku," Reno menyusun rencana dengan teliti.

Keesokan paginya, suasana dapur sudah sibuk. Siti sedang menumbuk ubi, sementara Pak Darman sedang memperbaiki jaring ikan yang mulai robek.

"Pak, Bu," panggil Reno sambil berjalan keluar dari kamarnya. "Lengan Reno masih sedikit kaku. Reno terpikir untuk pergi ke Kota Hijau sebentar. Mau cari tabib atau barangkali ada ramuan murah untuk mempercepat penyembuhan. Reno tidak mau nanti saat pendaftaran akademi, tangan Reno tidak bisa digunakan untuk tes fisik."

Pak Darman menghentikan kegiatannya. Beliau menatap anaknya dengan tatapan ragu. "Kota Hijau itu cukup jauh, Reno. Berjalan kaki bisa memakan waktu tiga jam. Dan... bapak tidak punya banyak uang untuk ongkos tabib."

Reno tersenyum menenangkan. "Reno punya sedikit simpanan dari hasil menjual kayu bakar minggu lalu, Pak. Cukup untuk beli obat oles sederhana. Bapak tidak perlu khawatir."

Siti mendekat, mengusap rambut Reno dengan kasih sayang. "Hati-hati di jalan, Nak. Kota itu ramai, jangan sampai berurusan dengan orang-orang berbaju mewah. Mereka sering semena mena pada orang desa seperti kita."

"Reno mengerti, Bu."

Setelah berpamitan, Reno berangkat dengan membawa tas kain kecil. Di dalamnya, Nidhogg bersembunyi dengan tenang, meski sesekali ia mengeluh karena guncangan langkah kaki Reno yang dianggapnya terlalu berisik.

Perjalanan menuju Kota Hijau melewati jalanan setapak yang dikelilingi oleh hamparan sawah hijau dan perbukitan. Di sepanjang jalan, Reno bertemu dengan beberapa penduduk desa lain yang membawa hasil bumi mereka ke kota.

"Oi, Reno! Mau ke mana kau?" teriak seorang pria paruh baya yang sedang menuntun kerbau.

"Ke kota, Paman! Mau cari obat!" sahut Reno ramah.

"Hahaha! Cari obat atau mau cari binatang baru? Kudengar cacing mu itu cuma bisa diam ya? Kasihan sekali kau, Nak!" pria itu tertawa meremehkan.

Reno hanya membalas dengan senyuman tipis tanpa menghentikan langkahnya. Di dalam kantongnya, Nidhogg sudah mulai naik pitam.

"Biar ku hisap otaknya, Reno! Beraninya makhluk rendahan itu menertawakan ku!"

"Diam, Nidhogg. Biarkan saja. Orang yang terlalu banyak bicara biasanya yang paling pertama tumbang saat masalah datang. Kita tidak perlu membuang energi untuk hal tidak berguna seperti itu," bisik Reno.

Setelah berjalan selama hampir tiga jam, gerbang besar Kota Hijau mulai terlihat. Kota ini jauh lebih megah daripada Desa Tanah Merah. Bangunannya terbuat dari batu bata merah dengan atap genteng yang rapi. Kereta kuda berlalu lalang, dan orang-orang mengenakan pakaian yang jauh lebih bersih.

Reno tidak langsung menuju pasar utama. Ia berkeliling terlebih dahulu, mengamati situasi. Ia mencari tempat yang tidak terlalu mencolok namun terlihat memiliki perputaran uang yang besar. Matanya tertuju pada sebuah bangunan tua dengan papan nama bertuliskan: "Paviliun Harta Karun Karun".

Tempat itu adalah toko yang menjual berbagai macam kebutuhan penjinak binatang, mulai dari pakan hingga kristal inti. Reno menarik napas dalam-dalam, mengatur ekspresi wajahnya agar terlihat seperti pemuda desa yang lugu namun punya sedikit keberanian.

Begitu masuk, aroma gaharu dan wangi ramuan obat langsung menyapa hidungnya. Seorang pria tua dengan kacamata kecil duduk di balik meja counter, sedang menghitung beberapa keping koin emas.

"Selamat siang, Tuan," sapa Reno dengan sopan.

Pria tua itu menengadah, melihat pakaian Reno yang lusuh dengan pandangan meremehkan. "Ya? Mau beli apa, Nak? Pakan ayam di sebelah sana, pakan kerbau di sudut belakang."

Reno tidak tersinggung. Ia mendekat ke meja dan meletakkan sebuah bungkusan kain kecil. "Saya tidak sedang mencari pakan, Tuan. Saya ingin menawarkan sesuatu."

Reno membuka bungkusan itu, menampakkan Kristal Inti kuning milik Serigala Berduri.

Mata pria tua itu seketika membelalak. Ia melepaskan kacamatanya dan mendekatkan wajahnya ke kristal itu. Dengan tangan sedikit gemetar, ia mengambil kristal tersebut dan meneropongnya ke arah cahaya lampu.

"Ini... Inti Serigala Berduri? Tingkat Perunggu Tahap Menengah? Dan... kualitasnya sangat murni! Tidak ada retakan sama sekali," gumam pria itu, nadanya berubah drastis dari meremehkan menjadi penuh rasa ingin tahu. "Dari mana pemuda desa sepertimu mendapatkan barang seperti ini?"

Reno sudah menyiapkan jawaban. "Saya menemukannya di bangkai binatang yang sudah mati di tengah hutan. Sepertinya serigala ini baru saja bertarung dengan binatang lain dan kalah. Saya hanya beruntung bisa menemukannya sebelum pemburu lain lewat."

Pria tua itu menatap Reno tajam, mencoba mencari celah kebohongan. Namun, Reno yang sudah berpengalaman menghadapi negosiator kelas kakap hanya memberikan tatapan polos yang meyakinkan.

"Beruntung sekali kau, Nak. Baiklah, aku akan jujur. Kristal ini sangat dicari untuk bahan ramuan peningkat stamina binatang kontrak tipe petarung. Aku bisa membelinya seharga sepuluh keping perak."

Reno tersenyum, tapi ia tidak langsung setuju. "Sepuluh keping perak? Tuan, saya mungkin orang desa, tapi saya tahu harga pasar. Kristal murni tanpa cacat seperti ini biasanya dihargai setidaknya lima belas keping perak di tempat pelelangan. Apalagi ini dari Serigala Berduri yang lincah."

Pria tua itu terkejut. Ia tidak menyangka pemuda lusuh ini tahu tentang harga pasar. Ia terkekeh kecil, mencoba menutupi rasa malunya. "Kau cukup pintar juga. Baiklah, dua belas keping perak. Itu harga tertinggi yang bisa kuberikan jika kau ingin uang tunai sekarang juga."

"Tiga belas keping perak, dan saya akan memberikan informasi di mana saya menemukan bangkai itu," tawar Reno.

Tentu saja informasi itu tidak berguna karena serigala itu sudah dihisap kering oleh Nidhogg, tapi bagi pedagang, informasi adalah nilai tambah.

"Deal! Tiga belas keping perak!"

Pria itu mengeluarkan sekantung koin perak dan menghitungnya di depan Reno. Reno menerimanya dengan hati yang tenang. Tiga belas keping perak adalah jumlah yang sangat besar. Satu keping perak setara dengan penghasilan ayahnya bertani selama dua bulan penuh.

Setelah keluar dari toko, Reno tidak langsung pulang. Ia pergi ke pasar makanan.

"Nidhogg, kau ingin makan apa?" tanya Reno pelan.

"Daging! Daging merah yang segar! Aku bosan mencium bau ubi rebus!"

Reno membeli dua kilogram daging sapi segar dan beberapa ramuan penyembuh luka yang asli untuk lenganku. Ia juga membeli sebungkus roti putih empuk dan sedikit madu untuk dibawa pulang sebagai hadiah untuk orang tuanya.

Saat berjalan menuju gerbang kota untuk pulang, Reno melewati sebuah papan pengumuman besar. Di sana, sekelompok orang sedang berkumpul.

"Penerimaan Murid Baru Akademi Elang Hijau. Syarat: Usia 15-17 tahun, membawa binatang kontrak, biaya pendaftaran: 5 keping perak."

Reno melihat koin perak di kantongnya. Sekarang uang bukan lagi masalah. Namun, hatinya tetap merasa waspada. Ia tahu, begitu ia mendaftar ke akademi, kehidupannya yang tenang sebagai Penjinak Cacing akan berubah total.

Akan ada kecemburuan, persaingan, dan mungkin musuh-musuh baru yang lebih berbahaya daripada seekor Serigala Berduri.

"Nidhogg," panggil Reno.

"Apa lagi?"

"Mulai besok, kita akan berlatih dengan serius. Aku tidak ingin masuk ke akademi itu sebagai korban bully. Jika mereka menyebut kita lemah, kita akan buat mereka menyesal karena pernah punya mulut."

"Hahaha! Begitu baru namanya partnerku! Ayo, Reno! Beri aku daging itu sekarang, aku ingin mengisi tenagaku!"

Reno berjalan pulang dengan langkah mantap. Matahari mulai condong ke barat, bayangannya memanjang di jalan setapak. Langkah ini adalah langkah pertama Reno menuju dunia yang jauh lebih luas, dunia di mana kekuatan adalah segalanya, dan di mana seekor cacing bisa saja menjadi dewa yang menghancurkan langit.

1
Bambang Hartono
lanjutkan
Jack Strom
Tanggung dah... 😁
Jack Strom
Hmmm... 🤔
Jack Strom
Biasa, lawan berlapis... hehehe 😛
Jack Strom
Hajar!!! 😁
Jack Strom
Wow, alasan Raka sangat logis... Tapi, benarkah? 🤔
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Aneh... 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Mantap.. 😁
Jack Strom
Waduh, Raka mulai mengancam... 🤔
Jack Strom
Sandiwara satu babak kah dengan Bagas? 🤔
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Ayo, bertarung... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Ayo, berpetualang... 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Aduh, sumber masalah jadi lolos... 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!