Mati karena peluru lalu jiwa bertransmigrasi ke dalam raga seorang yang ternyata adalah seorang figuran tanpa nama yang miskin. Anin pun bertekad untuk merubah takdir nya memanfaatkan wajah polos raga barunya ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anak rapuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chp 6
Mansion Maheswari
"Silviana hari ini Ara akan bersekolah di sekolah kamu. Ingat jangan sampai Ara terluka," ujar Pramudita tak mengalihkan pandangannya dari tab yang ia pegang.
Silviana yang baru duduk menatap Ara.
Gadis itu memang memakai seragam sekolah namun dahinya mengernyit karena melihat sulaman nama di atas saku baju itu. Itu adalah nama nya, ada rasa senang menelusup ke dalam hati Silviana melihat Ara yang memakai pakaian bekas nya.
"Dia memang pantas," batin Silviana. Ia memakan sarapannya sambil tersenyum.
"Ingat Ara jangan jauh-jauh dari kak Silviana ya." pesan Larasati. Wanita itu benar-benar khawatir melepaskan putri nya ke luar jangkauan dirinya.
"Ara jadi anak baik gak akan nakal,"ucap Elara dengan ceria
"Baiklah."ujar Larasati
Mobil yang Pramudita kemudikan langsung meninggalkan halaman. Berjalan dengan lancar tanpa hambatan hingga ke sekolah. Dan saat sampai Pramudita mengecup seluruh wajah Ara berkali-kali. "Ingat jangan nakal dan menurut apa kata kak Silviana ya," pesan Pramudita. Ara mengangguk semangat.
Di sekolah
"Kak Arsenn!"Teriak Elara
Hap!
Ara dengan santainya menubruk kan tubuhnya ke tubuh Arsen yang berdiri di parkiran. Tentu saja pelukan itu di balas oleh Arsen membuat Silviana menegang di tempatnya. Sejak kapan keduanya akrab?
"Kejutan!" seru Ara dengan senyum manisnya.
Arsen menangkup wajah Ara gemas. "Sudah tahu kelas nya di mana?" Ara menggeleng. "Tapi kata papa, Ara masuk kelas X IPA 1."
"Ayo degem sini abang anterin," ucap Julian nyerobot.
"Plehh! Bilang aja mau modus lo!" tukas Marco.
"Gak mau peluk gue juga nih cil?" tanya Darian menaik-turunkan alisnya. Ara yang pada dasarnya polos-polos suka modus itu
melepaskan pelukan tangannya dari pinggang Arsen. Beralih memeluk Darian.
"ANYING!!" umpat Julian dan Marco secara bersamaan.
"Ara papa bilang kan jangan nakal," pungkas Silviana.
"Maaf kak," murung Ara.
"Gak papa Sil, gak usah marahin Ara. Lagian gue kok yang minta." cakap Darian. Tangannya mengelus puncak kepala Ara.
"Ayo gue anter ke kelas." Darius dengan tiba-tiba menarik Ara dari pelukan Darian.
"Kelas lo X IPA 1 kan?" tanyanya Ara mengangguk.
Melihat Darius yang berjalan meninggalkan mereka, dengan cepat Arsen menyusul. Di ikuti oleh Julian, Marco kemudian Darian
meninggalkan Silviana yang terpaku di sana.
"Gemes banget gak sih?"
"Aduh akhirnya pemandangan di sana gak bosenin"
"Dede gemes itu siapa mereka? Duhhh pengen nyulik!"
"Kasih gue karung cepat woy!"
"Pipi nya kaya marmut lagi makan, gerak-gerak haha!"
Ara acuh saja dengan bisik-bisik para murid yang secara terang-terangan memuji dirinya. Namun lain dengan Silviana. Dirinya belum terbiasa dengan perubahan ini. Awalnya, dirinya lah yang mendapatkan bisikan itu.
Mengatakan kalau ia sangat cantik, cocok berada di tengah-tengah Arsen dkk. Bahkan tidak sedikit ada yang menjodohkan nya dengan Arsen.
"Kak Silviana kok gak makan?" Silviana menatap Ara yang juga menatap nya dengan ekspresi polos itu. Silviana sama sekali tidak menyukai tatapan itu. Baginya tatapan polos Ara sangat menjengkelkan.
"Kenapa, lo mau ini?" ujar ketua Silviana
Ara mengangguk cepat. Makanan milik Silviana sangat menarik. Ya walau cuma semangkuk mie ayam. Tapi semangkuk mie ayam itu menjadi awal reputasi buruk bagi Silviana.
"Nih ambil!" Silviana mendorong mangkok itu dan Ara menyambut nya, karena saling bertabrakan seperti itu mangkuk nya tumpah.
"Awsh!" ringis Ara. Ia mengibaskan tangannya ke udara untuk menghalau rasa panas. Matanya pun berkaca-kaca.
"Lo bisa hati-hati gak?!" tegur Arsen.
"Silviana lo keterlaluan, kalau mau ngerjain Ara gak gini caranya!" tutur Darius dengan tegas. Silviana seketika merasa terpojok karena di tegur oleh Arsen dan Darius secara bersamaan.
"Gue gak salah! Dia aja yang tiba-tiba nyamber, sengaja kan lo mau buat gue di benci sama mereka hah?!" hardik Silviana.
"Cukup Sil!" sentak Arsen. Pemuda itu terlihat marah.
"Arsen aku enggak salah, anak pungut itu yang salah!" sanggah Silviana dengan suara yang nyaring.
Ara tersenyum dalam hati. Inilah yang dia inginkan. Semua murid seketika menjatuhkan pandangan ke arah meja mereka.
"Masih sakit?" tanya Darius kepada Ara. Gadis itu mengangguk sambil menghapus air matanya.
"Kak Silviana gak suka sama Ara..." lirihnya.
Darius menggendong Ara membawa gadis itu keluar dari kantin, membawa nya ke UKS. Membiarkan teman-temannya mengurus Silviana.
"Segitu nya lo gak suka ya sama Ara?" sarkas Marco.
Silviana menggeleng, matanya memerah menahan tangis. "Enggak co, gue gak salah!"
"Sil lo boleh cemburu tapi jangan gini, Ara luka gara-gara lo." ujar Julian.
"Gue kecewa sama lo Se," setelah mengucapkan itu Julian menjauh. Di ikuti oleh Marco dan Darian.
"Arsen gue benar-benar gak salah!"ucap Silviana panik
Arsen menghela nafas, ia menarik lengan Silviana. Membawa gadis itu pergi dari kantin. Di kantin bukanlah tempat yang bagus untuk bicara.
"Ara aja mau pakai seragam bekas lo sil tapi lo malah gini ke dia. Awalnya gue emang pikir kalau om Pramudita keterlaluan karena lebih perhatiin Ara tapi ngeliat sikap lo hari ini gue paham."ucap Arsen kecewa
Arsen memang melihat sulaman nama di seragam Ara tadi. Ia heran kenapa gadis itu tidak memakai seragam baru saja.
"Ini terakhir kalinya lo kayak gini Sil, lain kali gue gak bakal ngasih tolerir lagi."ujar Arsen
Arsen pergi meninggalkan Silviana yang sudah luruh air matanya. Ia terisak, ".. Aku gak salah.." lirih nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambunggggggggggg
semangat buat auto ya 💪💪💪