NovelToon NovelToon
Sang Istri Muda

Sang Istri Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Liaramanstra

"Saya memilih dia sebagai istri bukan karena dia spesial, tapi karena kemungkinan memberontaknya lebih kecil. Dia lemah, ceroboh, dan bodoh. Dia tidak akan terlalu mempengaruhi hidup saya."

Itulah kata-kata yang Prabujangga lontarkan saat sang ayah terus mendesaknya untuk menikah. Diantara semua pilihan, Prabujangga memilih seorang gadis yang jauh lebih muda darinya.

Dia Kharisma, putri bungsu kesayangan di keluarganya. Terlalu dijaga, hingga tak pernah mengenal dunia luar sampai akhirnya harus menikah dengan Prabujangga yang tak lain adalah CEO dingin yang tak pernah menganggap cinta itu ada.

Prabujangga memilih Kharisma bukan karena cinta, tapi karena dia terlalu polos untuk memberontak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 : Hari Pertama Dihindari

Kaku menyambut seluruh tubuh Kharisma saat ia mulai membuka mata. Tiba-tiba saja seluruh tubuhnya terasa remuk, entah karena pelukan erat Prabujangga atau karena cara tidurnya yang tidak pernah diam.

Kharisma mengerang malas, meregangkan tubuhnya yang terasa sulit digerakkan. Ia benar-benar tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya, bahkan ia terasa sangat kelelahan.

Kharisma menoleh ke sekeliling kamar, tidak mendapati keberadaan Prabujangga yang biasanya tengah mempersiapkan diri untuk berangkat bekerja di jam segini. Apakah laki-laki itu berangkat lebih awal? Tapi kenapa tidak memberitahu Kharisma?

"Meara?" Kharisma memanggil lembut, mendengar suara langkah kaki yang mendekat.

"Iya, Non?"

Pintu perlahan-lahan berderit terbuka, menampakkan Meara dengan senyum tipisnya menyambut Kharisma. "Non butuh sesuatu?"

Kharisma menggeleng. "Mas Prabu di mana, ya? Kenapa tidak berada di kamar?"

"Pak Prabujangga sudah berangkat ke kantor, Non. Sudah dari tiga puluh menit yang lalu," jawab Meara.

Kharisma terdiam, dia melihat ke arah jam dinding sekali lagi sebelum menatap kakinya yang berayun-ayun di tepi tempat tidur.

Ini masih terlalu pagi untuk berangkat ke kantor, dan Prabujangga sudah berjanji bahwa kemarin akan mengantarnya ke rumah Mama dan Papa. Tapi kenapa laki-laki itu sekarang pergi tanpa sedikitpun mengabari?

Saat tatapannya kembali bertemu dengan Meara, Kharisma kembali mengangguk. "Terimakasih, ya."

Saat pintu tertutup dan Meara pergi, pikiran Kharisma kembali mengembara.

Kenapa suaminya itu tidak sama sekali membangunkannya seperti biasa saat dia hendak berangkat ke kantor? Bahkan semengantuk apapun Kharisma, biasanya Prabujangga akan membangunkannya dengan kekesalannya yang dingin.

Apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya itu?

...***...

"Meara, Mas Prabu belum datang?"

Pertanyaan Kharisma dilontarkan tepat saat dia menuruni tangga perlahan. Keberadaan Meara yang sedang membersikan meja kopi di ruang tamu membuatnya memiliki kesempatan untuk bertanya.

"Belum, Non. Sepertinya Pak Prabu belum bisa pulang karena hujan," Meara menjawab lembut, lantas melanjutkan kegiatannya untuk membersihkan meja kaca itu dengan lap dan cairan pembersih.

Kharisma menghela napas, tatapannya cukup lama tertahan pada pintu utama yang tertutup rapat.

Hari ini Prabujangga tidak sama sekali menemuinya. Pertama-tama tidak mengabarinya saat berangkat ke kantor, lalu tidak pulang untuk makan siang, dan sekarang tidak pulang saat waktu semakin larut. Tidak biasanya dia belum pulang di jam segini.

Apakah Prabujangga melupakan janjinya untuk mengantarnya ke kediaman Respati? Apakah Prabujangga sengaja menghindar?

"Non Kharisma kenapa? Masih sakit kepalanya, Non?"

Pertanyaan khawatir Meara membuyarkan lamunannya. Kharisma menoleh, lantas menggeleng dengan senyum tipis.

"Sudah mendingan," jawabnya pelan. "Terimakasih ya, sudah membantu tadi untuk mencarikan obat dan memijat," imbuhnya, mengingat bagaimana hari ini Meara cukup bekerja keras karena keluhannya yang pegal dan sakit kepala.

"Sama-sama, Non. Saya pergi ke belakang dulu ya, ingin menaruh ini." Meara mengangkat lap kecil dan juga cairan pembersih. Kharisma membalas dengan anggukan.

Tepat saat Meara melenggang pergi dari hadapannya, pintu utama terbuka perlahan, membuatnya sontak menoleh.

"Mas Prabu?"

Kharisma membeku, matanya menyorot sosok Prabujangga yang baru saja datang dengan keadaan basah kuyup. Jas serta kemeja laki-laki itu menempel pada lekukan tubuh, tak lupa dengan rambutnya yang jatuh di dahi dengan tetesan-tetesan air.

"Mas kehujanan?" Kharisma perlahan-lahan mendekat, namun langkahnya tiba-tiba berhenti saat Prabujangga mengangkat satu tangannya.

"Saya basah, jangan menyentuh saya." Nada laki-laki itu sedingin es, bahkan matanya tak sama sekali menoleh pada Kharisma.

Kharisma hanya memperhatikan saat Prabujangga melepaskan sepatu kulit dan kaus kakinya, begitupun dengan jasnya yang meneteskan air ke lantai.

Kharisma menghela napas. "Mas Prabu kenapa tidak pakai payung? Sengaja hujan-hujanan?"

Tak ingin menurut, Kharisma semakin mendekat dan hendak meraih kemeja basah Prabujangga. Niatnya baik meskipun ia kesal telah diabaikan. Namun tanpa disangka-sangka, Prabujangga malah melemparkan tatapan tajam dan menjauhkan jasnya dari jangkauan Kharisma.

"Bukankah saya sudah mengatakan tidak usah mendekat?" Nadanya nyaris membentak. "Kamu tidak melihat bahwa saya basah kuyup? Kenapa sulit sekali mendengarkan ucapan saya?"

Kharisma terkesiap, baru pertama kali melihat tatapan Prabujangga yang begitu berbeda dari biasanya. Lebih dingin. Lebih jauh. Lebih... kasar?

"Aku hanya ingin membantu Mas Prabu," ucap Kharisma pelan, bahunya sedikit merosot. "Mas kenapa tadi pagi tidak membangunkan? Mas lupa ingin mengantarku ke rumah Mama—"

"Saya sedang lelah, bisa berhenti bicara?" Tapi Prabujangga menanggapi tanpa minat. Dia melangkah melewati Kharisma dengan gerakan yang terkesan acuh.

Kharisma yang benar-benar merasa bahwa Prabujangga mengabaikannya itupun tidak tinggal diam. Kekesalannya yang ditahan sejak pagi ia lupakan melalui cengkraman kerasnya di pergelangan Prabujangga yang jauh lebih besar.

"Mas benar-benar menghindar, ya? Kenapa Mas Prabu tidak mengatakan saja kalau tidak mau mengantarku?" Kharisma memandangi punggung Prabujangga yang berhenti tepat di hadapannya. "Mas takut?"

"Takut untuk apa?" Saat itu Prabujangga menoleh, dia melepaskan tangan Kharisma dari pergelangan tangannya dan menatap istrinya itu dengan tatapan datar. "Saya hanya lelah dengan sikap kamu. Saya berhak menghindar jika kamu membuat saya muak."

Dari cara bicaranya, Prabujangga tidak terlihat main-main.

Kharisma mundur selangkah, merasa terancam oleh sorot dingin Prabujangga. Meskipun ia tau Prabujangga bukanlah sosok yang hangat, tapi ini kali pertama setelah beberapa bulan menikah ia melihat tatapan itu dari Prabujangga. Tapi apakah Prabujangga berhak melakukan ini padanya setelah memberikan harapan kemarin malam?

"Muak? Kenapa?" tanya Kharisma pelan, suaranya sedikit bergetar. "Kenapa Mas baru mengatakan muak padaku saat Mas ingin mengantarku ke rumah Mama dan Papa? Kenapa tidak mengatakannya lebih awal? Saat kita belum berbaikan kemarin?"

"Karena saya rasa setelah saya menuruti kemauan kamu, kamu akan bertindak lebih semena-mena lagi terhadap saya," jawab Prabujangga tanpa tersendat. "Kamu merajuk seperti anak kecil, mempermalukan saya, lalu apa lagi yang akan kamu lakukan setelah itu untuk mendapatkan apa yang kamu mau?"

Kharisma menggeleng pelan, tidak mengerti mengapa Prabujangga tiba-tiba berkata seperti ini. Bukankah Prabujangga yang selalu berkali-kali membujuknya jika ia memberengut seperti anak kecil? Meskipun cara laki-laki itu tidak pernah romantis?

"Mendapatkan apa yang aku mau?" ulangnya pelan, menatap Prabujangga dengan ketidakpercayaan. "Aku tidak meminta pada Mas untuk mengantarkanku pulang, Mas yang mengatakannya—"

"Saya tarik ucapan saya kembali."

Lagi-lagi Kharisma dibuat terdiam oleh Prabujangga.

"Sudah? Ingin berdebat lagi?"

Tanpa menunggu jawaban, Prabujangga kini melanjutkan langkahnya untuk menaiki tangga menuju kamar, membiarkan Kharisma yang tidak berkutik di tempatnya.

Apakah... apa yang dilakukan oleh Kharisma kemarin benar-benar kelewatan?

...***...

Prabujangga keluar dari kamar mandi tepat saat jarum jam menunjuk ke arah angka sepuluh. Dengan handuk kecil yang dia gesek-gesekkan di kepala dan handuk panjang melilit pinggang, dia melangkah mendekati lemari.

Prabujangga tidak sama sekali menoleh ke arah kasur saat mendapati Kharisma yang berada atas sana. Saat tak mendengarkan sedikit pun suara dari istrinya, barulah dia menoleh.

Kharisma terlihat memunggunginya. Tubuh ringkih perempuan itu ditutupi oleh selimut tebal, rambutnya yang hitam berkilauan oleh cahaya rembulan yang menyorot melalui jendela.

Prabujangga menghela napas. Seharian ini ia menahan-nahan diri untuk tidak pulang dan menjumpai istrinya itu. Ia beranggapan bahwa semuanya akan berjalan seperti biasanya, bisa memfokuskan diri pada tumpukan pekerjaan yang memang sudah menjadi makananya sehari-hari. Tapi tanpa disangka-sangka, fokusnya benar-benar terpecah karena mengingat janji yang ia buat pada Kharisma kemarin malam.

Kenapa Prabujangga justru terus berpikir tentang apa yang akan dirasakan oleh istri kecilnya itu saat ia melakukan hal ini? Sejak kapan Prabujangga menghabiskan waktunya untuk memikirkan hal tidak penting seperti itu?

Tapi ia berusaha untuk menahan dirinya hari ini, mencoba saran sang ayah untuk tidak memperhatikan istrinya itu agar perempuan itu tidak terbiasa merepotkannya.

Tepat saat itu, pikirannya dibuyarkan oleh suara ketukan pintu.

Prabujangga cepat-cepat mengenakan celana pendeknya dan sebuah kaus hitam polos. Dia membuka pintu dan mendapati kehadiran Meara di sana, bersama dengan nampan berisi segelas air putih dan piring kecil berisikan obat-obatan.

"Selamat malam, Pak, maaf menganggu." Meara membungkuk sopan, lalu menatap Prabujangga. "Ini saya membawa beberapa obat untuk Non Kharisma. Sejak pagi Non Kharisma mengeluh sakit kepala, jadi Bu Nada meminta saya mengantarkan obat."

Kening Prabujangga berkerut, dia menoleh kembali ke dalam kamar, tempat Kharisma tertidur dengan lelapnya. Dia beralih kembali pada Meara.

"Sakit kepala?"

Meara mengangguk. "Iya, Pak. Sejak baru bangun dia mengatakan tubuhnya terasa pegal dan sakit, jadi saya dan Bu Nada membantu memijat juga tadi. Obat ini untuk meredakan sakit kepala."

Prabujangga perlahan-lahan menerima nampan dari tangan Meara, tatapannya sedikit tidak fokus.

"Baiklah, biar saya yang mengurus ini." Tanpa mengatakan apapun lagi, Prabujangga menutup pintu dan melangkah kembali ke dalam kamar. Dia meletakkan nampan itu di atas lemari kecil di samping tempat tidur.

Prabujangga menatap Kharisma cukup lama, sebelum dengan ragu-ragu tangannya menyentuh puncak kepala istrinya.

"Kenapa tidak mengatakan apapun pada saya jika sedang sakit?"

Bersambung...

1
partini
dihhh jangan jadi Kunti bogel yah no good,, bisanya kaya gitu sih jadi parno aku baca Nya
Elisabeth Lalang
Bukankah tujuan dari maksud pernikahan itu adalah agar Prabu dan Kharisma memiliki anak lalu kenapa sekarang Prabu semena-mena akan meninggalkan Kharisma Di Malam pengantinnya😟
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!