Karma tidak pernah salah alamat.
Gusti Kanjeng Raden Ayu Kusumawati—ningrat tinggi yang ditakuti, yang telah menghancurkan hidup puluhan perempuan yang mencoba merebut suaminya—terbangun di ranjang dengan pria Eropa yang mengira dia pelacur seharga 550 gulden.
Namanya sekarang Suketi binti Suketo. Statusnya gundik. Milik mantan perwira laut setinggi dua meter. Pria itu posesif. Tergila-gila. Dan tidak akan melepaskannya untuk alasan apa pun.
Akankah Kusumawati berhasil kembali ke kehidupan lamanya yang nyaman penuh pelayan dan kemewahan? Atau kesialan akan terus mengejarnya, memaksanya membayar dosa-dosa masa lalu dengan cara yang tidak pernah dibayangkannya?
Dilarang plagiat, mengambil sebagian scene atau mengubah cerita menjadi video atau bentuk lainnya. Laporkan plagiat ke Ig/FB: @hayisaaaroon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Memohon
"Memohon." Jan Coen menyilangkan tangan di dada, senyumnya melebar. "Memohon dengan manis. Merayu aku supaya mau keluar."
Hening.
Kusumawati menatap pria di depannya dengan tatapan tidak percaya.
"Apa? Memohon? Aku tidak pernah memohon pada siapa pun seumur hidupku!"
"Kalau begitu, ini kesempatan untuk belajar merayu." Jan Coen terkekeh.
"Aku tidak pernah merayu pria." Suara Kusumawati keluar lebih tajam. "Aku tidak tahu caranya. Aku bukan pelacur."
Jan Coen tertawa.
"Justru itu yang menarik." Dia mencondongkan tubuh. "Aku ingin melihat Raden Ayu yang angkuh ini mencoba merayu. Pasti ... menghibur."
Kusumawati mengepalkan tangan.
‘Dia sengaja mempermainkanku. Membuatku seperti lelucon.’
Tapi kandung kemihnya sudah protes. Tekanan yang tidak bisa diabaikan.
‘Sial. Sial. Sial.’
Dia menarik napas dalam-dalam. Menelan harga diri yang berteriak di dalam dada.
"Baiklah." Suaranya keluar seperti dicekik. "Jan."
"Ya, Sayang?" Jan Coen tersenyum menyebalkan.
"Bisakah kau …," Kata-kata itu terasa seperti batu di lidah. "keluar sebentar."
Jan Coen mengangkat alis. "Itu bukan rayuan. Itu perintah."
"Aku bilang 'bisakah'! Itu sebuah permohonan!"
"Nadanya masih seperti memerintah." Dia menggeleng dengan geli. "Coba lagi. Lebih lembut. Lebih ... menggoda."
Kusumawati merasakan wajahnya memanas. Rasanya ada asap yang keluar dari telinga. Dadanya naik turun dengan berat, tapi ia mencoba menahan diri untuk tidak mencakar wajah pria menyebalkan ini.
‘Kenapa kesialan ini tidak ada habisnya,’ batinnya dengan menarik napas dalam-dalam. ‘Aku tidak tahu cara menggoda. Aku tidak pernah perlu menggoda siapa pun. Semua orang yang menunduk padaku, bukan sebaliknya.’
Dia berdeham pelan.
"Jan …," suaranya dipaksa lebih pelan, lebih rendah, tapi kontras dengan matanya yang ingin membunuh, "aku ... mohon ... keluarlah."
"Masih seperti perintah." Jan Coen terkekeh. "Meski dengan suara pelan, nadamu masih memerintah. Matamu masih berapi-api."
"Kau mau aku bagaimana?!" Kesabaran Kusumawati habis. Suaranya meninggi. "Aku tidak pernah merayu pria seumur hidupku! Suamiku yang datang padaku, bukan sebaliknya! Aku tidak—"
Jan Coen mendekat dalam dua langkah, berdiri di depan Kusumawati. Tubuh besarnya menghalangi cahaya, mendominasi seperti raksasa, seketika membuat Kusumawati membeku.
"Kalau tidak bisa dengan kata-kata …," tangannya terangkat, memegang dagu Kusumawati, mengangkat wajahnya, "coba dengan yang lain. Cium aku."
Kusumawati mengerjap.
"Apa?"
"Cium aku." Dia duduk di tepi tempat tidur, menepuk pahanya sendiri. "Sini. Rayu aku dengan ciuman."
Hening panjang.
Kusumawati berdiri kaku di tempatnya, menatap pria di depannya seperti menatap soal ujian yang tidak pernah dipelajari.
‘Mencium?’
Dalam empat puluh tahun lebih pernikahannya dengan mendiang Bupati, Kusumawati tidak pernah mencium suaminya. Selalu suaminya yang datang, suaminya yang memulai, suaminya yang mengambil apa yang dia mau. Kusumawati hanya berbaring. Menerima. Menunggu sampai selesai.
‘Mencium lebih dulu? Merayu dengan tubuh? Itu pekerjaan rendah selir. Bukan pekerjaan istri utama.’
"Kau benar-benar tidak punya malu, berbicara sangat blak-blakan," suaranya tercekat, "lagipula ... aku tidak tahu caranya."
Jan Coen mengangkat alis. "Tidak tahu cara mencium?"
"Aku tidak pernah …." Wajahnya memanas. "Suamiku yang selalu ... aku hanya ..."
"Kau hanya diam dan menerima?" Jan Coen mengangguk-anggukkan kepala. “Pantas saja kau tidak bisa membalas ciumanku saat kita bercinta. Kau hanya pasrah.”
Kusumawati tidak menjawab. Tapi diamnya sudah cukup menjadi jawaban.
Jan Coen tertawa, bukan mengejek, lebih seperti geli yang tulus.
"Suamimu bodoh." Dia menepuk pahanya lagi. "Sini. Coba saja. Aku tidak akan menggigit. Aku akan mengajarimu. Kau akan lebih menikmatinya jika bisa membalas."
Kusumawati menelan ludah. “Kau gila, kita sudah tidak muda lagi untuk hal menjijikkan semacam ini.”
“Karena tidak muda lagi, harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Umur kita tidak jauh berbeda. Cepatlah, atau … aku perlu berteriak di luar sana bahwa Raden Ayu Kusumawati ada di sini?”
Kusumawati menegang. Kakinya melangkah kaku. Satu langkah. Dua langkah. Sampai dia berdiri di depan Jan Coen yang duduk.
Sekarang tinggi mereka hampir sama. Jan Coen duduk, Kusumawati berdiri.
"Lalu ... aku harus apa?"
"Ya cium saja." Jan Coen menatapnya dengan sabar, bibir tersenyum geli. "Tempelkan bibirmu ke bibirku. Tidak sulit. Kau hanya perlu mengikuti naluri."
Kusumawati rasanya ingin menangis. Ini kali pertama dalam hidupnya dia tidak bisa berkutik.
“Cepatlah, sebelum aku berubah pikiran dan mengumumkan ke pasar besar, di sana biasanya banyak Raden Ayu di toko emas.”
Kusumawati mulai was-was, tak akan membiarkan nama baiknya hancur. Dia membungkuk sedikit.
Wajahnya mendekat dengan sangat enggan, menatap jijik pria penuh belu di hadapannya.
‘Ini manusia atau monyet?’
Hidungnya hampir menyentuh hidung Jan Coen.
Lalu berhenti. "Matamu …."
"Kenapa dengan mataku?" Jan Coen tidak bisa menahan tawa.
"Jangan menatap seperti itu. Aku tidak bisa ..."
Jan Coen menutup mata dengan patuh. “Ah baiklah.”
Kusumawati menarik napas, memajukan wajah.
Bibirnya menyentuh bibir Jan Coen.
Sedetik. Kaku. Seperti menyentuh batu.
Lalu mundur.
"Sudah."
Jan Coen membuka mata. Menatapnya dengan ekspresi geli.
"Itu bukan ciuman. Itu menempelkan bibir."
"Sama saja!"
"Tidak sama." Dia menghela napas seperti guru yang menghadapi murid bodoh. "Ciuman itu ada gerakannya. Ada sensasinya. Ada ... sesuatu. Yang tadi itu seperti mencium pipi nenek."
Kusumawati menggertakkan gigi. Rasanya lebih mudah menggigit pria ini daripada menciumnya.
"Coba lagi." Jan Coen menutup mata lagi. "Kali ini yang benar."
Kusumawati membungkuk lagi.
Kali ini bibirnya menempel lebih lama dengan sangat jijik. Dia mencoba menggerakkan bibirnya sedikit, tapi gerakannya aneh, seperti ikan yang megap-megap.
Jan Coen mendengkus menahan tawa.
Kusumawati langsung mundur, wajah merah padam.
"Jangan menertawakanku!"
"Maaf, maaf." Dia mengangkat tangan. "Kau benar-benar tidak pernah ya ... Ya sudah. Sini."
Tangannya meraih tengkuk Kusumawati, menariknya mendekat.
"Buka mulutmu sedikit. Ikuti gerakanku."
Dan Jan Coen menciumnya.
Kali ini benar-benar mencium. Bibir bergerak lembut, menuntun. Kusumawati yang awalnya kaku perlahan-lahan mengikuti ritme. Jenggot kasar menggesek dagunya. Tangan besar menekan punggungnya.
Ciuman itu berlangsung lama. Terlalu lama. Sampai Kusumawati kehabisan napas, sampai kakinya lemas, sampai tangannya yang tadinya menggantung canggung sekarang mencengkeram bahu Jan Coen untuk menahan diri agar tidak jatuh.
Kusumawati terengah-engah, wajah merah padam, bibir basah dan sedikit bengkak.
"Nah." Jan Coen tersenyum puas, ibu jarinya mengusap bibir bawah Kusumawati. "Bagus. Kau belajar cepat. Kau bukannya tidak bisa, kau hanya perlu sedikit belajar."
"Aku—"
"Tidak perlu berterima kasih." Jan Coen beranjak, berjalan ke arah pintu. "Silakan gunakan pispot-mu, Sayang. Aku tunggu di luar."
Pintu terbuka, lalu menutup.
Kusumawati berdiri sendirian di tengah kamar, napas masih tidak teratur, bibir masih terasa hangat. Sekujur tubuhnya masih dikuasai sensasi yang menjalar sampai ke telapak kaki, membuat lututnya lemas.
Tapi kandung kemihnya tidak memberi waktu untuk berpikir tentang sensasi aneh itu.
Dengan langkah terhuyung, dia menghampiri pispot keramik yang mewah itu. Duduk dengan lutut gemetar. Membiarkan kelegaan mengalir keluar.
Dan di antara suara desisan air, ada satu pikiran yang berputar di kepalanya.
‘Ini kenapa suamiku lebih memilih perempuan menjijikkan, seperti pelacur?’
jgn khawatir, bupati baru itu ga diragukan lgi kemampuannya. dijamin ga bakal menyesal telah menggantikan putramu 😁
gak sabar saat mereka dipertemukan lagi dAlam keadaan Keti sedang hamil... 🤭
knp dlu kau singkirkan hadeh kejam kan kau
tp skrg apa coba
Heu heu kangen update arjo lg ndoro..
maturnuwun uda update🙏