NovelToon NovelToon
Satu Cinta Untuk Istri Ketiga

Satu Cinta Untuk Istri Ketiga

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Istana/Kuno / Aliansi Pernikahan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mom young

Apa jadinya ketika seorang pria yang tidak memiliki perasaan harus disandingkan dengan seorang wanita yang mampu merubah seluruh hidupnya, Raja Gustaf pria dingin keturunan bangsawan itu sudah memiliki dua istri, akan tetapi selama pernikahan dengan kedua istrinya dia tidak merasakan arti cinta yang sesungguhnya.

Namun dengan datangnya Layla Candra kedalam hidupnya menjadi istri ke tiga Gustaf merasakan adanya perasaan cinta untuk Layla...

Namun Layla sendiri merasa pernikahnya dengan Raja Gustaf adalah kematiannya setiap hari, karena ia di paksa menikah oleh Ayahnya sebagai aliansi demi sebuah wilayah benteng Candra...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom young, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter~7 Malam pertama yang di benci

Keluarga Candra langsung di perintahkan masuk kedalam ruangan, karena prosesi acara pernikahan akan segera di langsungkan dengan adat Jaya Wijaya.

Kini Raja Gustaf telah berganti pakiannya, ia mengunakan turban dan juga menutupi wajahnya dengan salur bunga melati segar, pernikahannya yang ketiga lebih megah dari pernikahannya yang sebelumnya, kedua permaisurinya, dan beberapa selirnya juga telah hadir disana.

Raja Gustaf dan Layla duduk berdampingan, hanya saja tersekat tirai sutra di hadapan mereka.

Qadi kerajaan membacakan sebuah janji ikatan suci pernikahan, sesuai adat kerajaan Jaya Wijaya.

"Putri Layla, apakah anda menyetujui janji suci pernikahan ini?" Layla terdiam, ia masih meremas gelang yang sudah melingkar di tangannya.

"Ya-aku menyetujuinya." kata Layla suaranya terdengar tercekat.

"Bagimana dengan Anda, Yang Mulia Raja Gustaf? Apakah ada menerima Putri Layla sebagi istri anda?" kata Qadi itu.

Mendengar nama Gustaf, bagi Layla seolah waktu berhenti berputar, ia tercengang saat nama Gustaf, yang di sebut Qadi sebagai suaminya.

Layla terisak hampir tak terdengar, berbeda dengan Raja Gustaf yang nampak tersenyum puas dari balik salur melatinya.

"Ya, aku menyetujuinya." kata Raja Gustaf dengan satu kali tarikan nafas.

Kemudian ia membuka melati yang menutupi wajahnya, dan menatap ke arah Layla.

Dari balik tirai, Layla hampir terhuyung ia merasa di bohongi, bahkan oleh keluarganya sendiri. Karena tidak ada yang berterus terang kalau calon suaminya adalah Raja Gustaf, Pria yang paling ia benci.

Bahkan Layla sampai menghindari tatapan Raja Gustaf.

Istana Jaya Wijaya malam itu seperti kuburan yang dipaksa bersolek.

Obor menyala di setiap sudut, gamelan ditabuh riuh, tapi bau besi dan darah tua masih menempel di dinding batu.

Layla berjalan di lorong panjang menuju kamar pengantin.

Setiap langkahnya berat. Bukan karena gaunnya, tapi karena di kepalanya hanya ada satu rencana: membuat Gustaf menyesal pernah lahir.

Di belakangnya, dayang-dayang berbisik.

“Itu Putri Candra… Cantik sekali Putri Canda.”

“Tapi matanya menakutkan.”

Layla mendengar semua. Tapi ia tidak peduli.

Pintu kamar pengantin terbuka dengan suara berat.

Di dalamnya, Gustaf berdiri membelakangi. Jubah hitamnya jatuh hingga lantai, seperti bayangan yang tidak mau lepas dari tubuhnya.

“Akhirnya kau datang,” suaranya rendah, puas.

“Tidak kusangka kau secepat ini ingin melihat suamimu.”

Layla tidak menjawab. Tangannya meremas kain di pinggang. Di sana, bel kecil hadiah Kudus masih terselip. Dingin. Tajam. Menunggu.

Gustaf berbalik.

Senyumnya lenyap saat melihat mata Layla. Tidak ada malu, tidak ada takut. Hanya ada kebencian yang murni.

“Jadi kau sudah tahu?” katanya pelan.

Layla mengangkat cadarnya.

“Sejak Serasa memakaikan gelang ini, aku tahu aku ditipu. Tapi tidak apa. Penipuanmu justru memberiku alasan untuk membencimu lebih dalam.”

Gustaf tertawa pendek.

“Bagus. Aku benci wanita yang mudah dibohongi. Kau pantas menjadi Ratuku.”

Ia melangkah mendekat. Layla tidak mundur. “Kalau kau kira malam ini kau akan memilikiku, Gustaf, kau salah,” bisiknya.

“Aku di sini bukan untuk menjadi istrimu. Aku di sini untuk memastikan kau mati perlahan.”

Gustaf berhenti tepat di depannya. Napasnya panas menerpa wajah Layla. “Lalu bunuh aku sekarang. Ambil bel itu. Tusuk jantungku.”

Tangan Layla gemetar.

Satu tusukan. Perang selesai. Kakaknya aman. Candra bebas.

Tapi di luar, sepuluh ribu prajurit Wijaya menunggu. Jika ia membunuh Gustaf malam ini, Candra akan musnah besok pagi.

Layla melepaskan genggamannya. Bel itu jatuh ke lantai dengan suara pelan.

“Bukan malam ini,” katanya.

“Aku tidak akan memberimu kematian cepat. Aku akan membuatmu hidup dalam ketakutan. Setiap malam kau akan bertanya-tanya, apakah aku akan menusukmu saat kau tidur.”

Gustaf menyipitkan mata. Senyumnya kembali, lebih gila dari sebelumnya. “Bagus. Aku suka permainan ini, Layla.”

Ia meraih dagu Layla, mengangkatnya pelan.

“Tapi ingat. Kau sudah masuk ke sangkarku. Tidak ada burung yang bisa keluar kecuali aku yang membuka pintu.”

Layla menepis tangannya.

“Kita lihat saja, siapa yang sebenarnya terperangkap.”

Obor di kamar itu padam.

Tinggal gelap, dan dua orang yang saling membenci… dalam satu ranjang yang sama.

Layla merasa muak, ia memutuskan untuk keluar dari kamar pengantinya, dan berniat akan menemui Ayah Handanya.

Layla berjalan tanpa alas kaki menyusuri lantai marmer yang dingin, rasa dingin itu seolah musnah, karena kemarahnya yang nampak mendidih.

Saat ia keluar di balai perjamuan para tamu dan juga perkumpulan para keluarga, tempat itu nampak sudah sepi, hening, hanya bekas sisa bunga kenang dan mawar merah yang masih berserakan.

"Kemana perginya Ayah, Ibu, dan semua keluarga ku yang hadir?" Layla membuang nafas kesal.

Ia sudah kesal namun harus di tambah kesal lagi, karena disana ia tidak menemi siapapun, bahkan setelah tadi acara pernikahannya selesai Ayah dan Ibunya masih di sambut hangat oleh keluarga Jaya Wijaya, namun sekarang sudah lenyap entah kemana?

"Apa begini cara Ayah dan Ibu membuangku?" Layla semakin kesal, karena ia merasa dibuang saat ingin meminta penjelasan.

Semua nampak sepi, dan Akhirnya Layla memutuskan untuk kembali ke kamar itu.

Prosesi pernikahan selesai begitu saja, dalam hening yang dipaksa.

Tidak ada tawa, tidak ada sorak. Hanya denting lonceng istana dan langkah kaki dua orang yang berjalan ke arah yang sama tapi dengan tujuan berbeda.

Kamar pengantin Jaya Wijaya gelap, hanya diterangi obor di sudut ruangan. Wanginya bukan melati, melainkan dupa hitam yang membuat dada sesak.

Gustaf melepas jubahnya perlahan, matanya tidak pernah lepas dari Layla.

“Kau diam saja sejak tadi. Takut?” tanyanya pelan.

Layla tidak menjawab. Ia melepas cadarnya sendiri, membiarkan rambut hitamnya terurai.

“Takut? Tidak. Aku hanya sedang menghitung berapa detik lagi kau akan menyesal memaksaku ke sini.”

Gustaf tertawa pendek.

“Kau pikir aku memaksamu? Layla, kau sendiri yang mengucapkan ‘aku setuju’. Suaramu mungkin datar, tapi di depan seluruh istana kau memilih hidup kakakmu daripada harga dirimu.”

Kalimat itu menusuk.

Tangan Layla mengepal di balik lipatan gaun. Ia tahu Gustaf benar. Dan itu yang membuatnya benci lebih dalam.

“Kau menang malam ini, Gustaf,” katanya pelan.

“Tapi kemenangan yang dibangun di atas paksaan tidak akan bertahan lama.”

Gustaf melangkah mendekat, berhenti tepat di depannya.

“Aku tidak butuh kemenangan yang manis, Layla. Aku butuh kau tunduk. Dan tunduk itu dimulai malam ini.”

Ia mengulurkan tangan hendak menyentuh dagu Layla.

Tapi Layla mundur satu langkah, matanya menyala di balik cahaya obor.

“Jangan sentuh aku,” bisiknya.

“Kalau kau melakukannya malam ini, kau tidak akan pernah tahu apakah aku akan membunuhmu saat kau tertidur.”

Gustaf berhenti. Senyumnya hilang. Untuk pertama kali malam ini, ada sesuatu di mata Layla yang membuatnya ragu—bukan ketakutan, tapi janji kematian.

Ia menurunkan tangannya.

“Bagus,” katanya pelan.

“Aku suka wanita yang punya taring. Malam ini aku biarkan kau menang. Tapi ingat, Layla… pernikahan ini bukan hanya tentang tubuh. Kau sudah jadi Ratuku. Nama, kehormatan, dan hidupmu… milikku.”

Layla menatapnya tanpa berkedip. “Kalau begitu, Raja Gustaf, jagalah hidupmu baik-baik. Karena aku tidak berniat menjaga milikmu.”

Ia berjalan ke sisi lain ranjang, membelakangi Gustaf, dan berbaring tanpa melepas gaun pengantinnya.

Di luar, hujan mulai turun. Menghapus jejak konvoi pernikahan yang baru saja lewat.

Gustaf berdiri di tempatnya beberapa saat, lalu meniup obor hingga kamar itu gelap gulita.

Ia tidak tidur. Ia juga tahu, malam ini bukan malam cinta. Ini malam deklarasi perang batinya dan Layla akan dimulai.

1
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ di usir bocah
Seroja_layu: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
vj'z tri
dasar memang sifat lu itu ....susah kasih tahu lalat jika bunga lebih wangi di banding sampah 🤧🤧🤧
vj'z tri
selamattt 🫣🫣🫣🫣
vj'z tri
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 masa langsung kebuka kartu lu
vj'z tri
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 salah cari lawan Mpok
vj'z tri
samperin say 🤧🤧🤧🤧
vj'z tri
hayolah keluarkan insting detektif mu 🤧🤧🤧
vj'z tri
maka nya kenalan Mpok kalau gak kenal 🤣🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
hadeuhhhh para lampir mulai bergosip ria 🤧🤧🤧🤧
vj'z tri
kerennnnnn🎉🎉🎉🎉
vj'z tri
yakin amat mas bro ,kaya nya nanti lu yang tunduk 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
mau kesel ,tapi semua itu benar 🤧🤧🤧🤧
vj'z tri
hadeuh 🤧🤧🤧kan juga gegara u nyerang tadi malam neng 🤧🤧
FiaNasa
akankah Laila bisa mewujudkan dendamnya pada guztaf
vj'z tri
yang kemarin itu di hapus ta ?
Blueberry Solenne
iya tapi tindakannya terlalu kejam
Blueberry Solenne
Dasar ibl!$ serakah ya
Blueberry Solenne
wah sekeluarga di sandera, kejam juga tu raja Gustaf
Blueberry Solenne: Heheh takut kena sensor,
total 2 replies
Blueberry Solenne
Ya Tuhan serem amat isinya kelapa orang (takut di hide jadi di plesetin)
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!