Follow ig author @tulisan_bee 😚
Menggantikan posisi anak majikannya untuk menikah dengan seorang lelaki bangsawan, sungguh tidak pernah terlintas dalam benak Luana Casavia.
Karena lelaki itu menatapnya dengan sorot mata dingin, bahkan ketika ia memasangkan cincin ke jari manis Luana.
My Fake Bride: Jika aku ini palsu, akankah kau bisa mencintaiku meski sedikit saja?
Terima kasih sudah mampir dan selamat jatuh cinta~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NadiraBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7 - Jadilah Temanku
"Karena aku sudah begitu lama sendirian. Di tempat dan suasana yang asing ini, kuharap aku akan memiliki teman." ~Luana Casavia.
.
.
.
Kata-kata Luana tadi menyita perhatian.
Mare menoleh. Ia sedang merapikan baju- baju Nyonya Lueic ke dalam lemari pakaian, saat Luana mengatakan kalimatnya baru saja.
“Tentu tidak mungkin, Nyonya,” ujar Mare dengan nada sopan.
Menggantung beberapa dress milik nyonya mudanya itu, Mare memperhatikan sosok Luana yang masih berbaring dari sudut matanya.
Entah bagaimana tiba-tiba saja banyak hal yang masuk ke dalam benak sang pelayan, tetapi bibirnya tidak bisa terbuka lagi untuk beberapa alasan.
Fakta bahwa dia tidak boleh terlalu banyak bicara akan membuat pekerjaannya lebih mudah, terlebih ini adalah permintaan dari Rey sendiri agar dia berada di sisi Luana.
Luana terdengar mendesah. Setidaknya dia bersyukur Rey tidak membuangnya ke tempat yang lain, meski dia tidak tahu sebenarnya apa yang harus dia lakukan di sana.
“Mare,” panggil Luana. Bangkit, perempuan itu kembali duduk di tepi ranjang.
Mare menghentikan sejenak adegan berberesnya, berbalik badan untuk menoleh dan menatap pada Luana.
“Apa yang dilakukan Rey di sini?” tanya perempuan itu hati-hati.
Luana tidak tahu apa dunia yang Rey tekuni, atau apa pekerjaan lelaki itu. Madam Collins hanya berkata bahwa lelaki itu adalah salah satu bangsawan dengan tingkatan yang cukup tinggi, dan tidak ada info lainnya selain fakta bahwa Rey Luiec adalah seorang lelaki yang sangat tampan.
“Maaf Nyonya,” jawab Mare. “Saya tidak tahu persisnya, tetapi Tuan datang untuk berbisnis dan mengembangkan anak perusahaan di kota ini. Itu saja yang saya tahu.”
Luana mengangguk samar-samar. Apakah Rey juga adalah seorang pebisnis?
“Mare, bisnis seperti apa yang dimiliki Rey?” tanya Luana lagi.
Kali ini Mare mengambil jeda beberapa detik, memperhatikan Luana dengan seksama dari tempatnya berdiri.
Sepertinya rumor yang beredar di kalangan pelayan bahwa Nyonya Lueic yang ini bukanlah perempuan yang seharusnya menjadi nyonya itu benar adanya. Karena terasa begitu janggal saat seorang istri tidak mengetahui seluk beluk pekerjaan suaminya, bukan begitu?
“Tuan menjalankan banyak bisnis, Nyonya,” sahut Mare lagi. “Tetapi saya tidak mengetahui dengan pasti setiap detailnya. Mungkin Nyonya bisa bertanya pada Jovi,” Mare memberikan opsi.
Luana mengerjap beberapa kali. Sepertinya Mare sudah memberikan jawaban yang perempuan itu bisa berikan, dan Luana memilih untuk tidak lagi melanjutkan pertanyaannya.
Dia masih penasaran, tetapi bertanya pada Rey tidak ada dalam opsinya. Mungkin saran Mare untuk bertanya pada Jovi lebih masuk akal, jika saja lelaki itu mau memberinya jawaban nanti.
Mengitari kamar hotel ini dengan maniknya, perempuan itu mengagumi bagaimana setiap detail dan interior kamar ini dibangun dengan selera yang luar biasa.
Mare selesai dengan kegiatannya membereskan pakaian Luana, kini melangkah sopan untuk mendekati ranjang.
“Kamar saya ada di sebelah, Nyonya,” ujar Mare pelan. Melipat kedua tangannya di sisi tubuh bagian depan, perempuan itu penuh hormat akan keberadaan Luana di sana.
“Sekarang Nyonya bisa beristirahat sejenak. Saya akan kembali lagi pukul lima, untuk membantu Nyonya bersiap menuju makan malam.”
Luana memperhatikan Mare dengan lekat, tidak menaruh perhatian pada kata demi kata yang diucapkan Mare secara resmi padanya.
“Mare.”
Mare menundukkan kepala.
“Ya, Nyonya.”
“Berapa usiamu?” tanya Luana.
Tampak Mare terdiam beberapa detik, sebelum akhirnya bersuara pelan.
“Dua puluh tiga, Nyonya.”
Luana mengerjap. Tidak terlalu jauh jarak yang terbentang antara mereka, saat Mare berumur 23 dan dia 21 tahun.
“Maka panggillah aku Luana,” pinta Nyonya Luiec. “Aku tidak nyaman kau selalu memanggilku dengan sebutan ‘nyonya’, itu membuatku merasa jauh lebih tua.”
Mare tersentak, mundur dua langkah dengan manik yang membulat sempurna.
“Saya tidak bisa, Nyonya,” tolak Mare halus. “Anda adalah seseorang yang harus saya layani, saya tidak akan berani memanggil nama Anda.”
Luana menggeleng samar. Dia tahu seorang pelayan memang tidak boleh bersikap lancang pada majikan mereka, sama seperti dirinya yang tidak bisa menggeleng saat Madam Collins memintanya untuk menggantikan posisi Beatric pagi tadi.
Begitu juga dengan Mare, yang pastilah tidak ingin dianggap lancang.
“Ini permintaanku, Mare,” ujar Luana lagi. Maniknya menyorot dalam, memperlihatkan sinar yang tulus kepada sang pelayan.
“Aku tidak punya siapa-siapa di sini,” sambung Luana. “Dan aku berharap aku setidaknya bisa berteman denganmu, bisa berbagi hal dan kau bisa menjadi satu-satunya orang yang bisa aku andalkan.”
Mare mengangkat kepalanya perlahan-lahan. Bola mata sang majikan tampak begitu teduh, dengan senyuman yang terpatri di wajahnya. Kali ini Mare menyadari bahwa nyonyanya itu tampak begitu cantik, dengan segala hal yang ia punya.
“Tapi, Nyonya—“
“Tidak ada tapi-tapian, Mare,” potong Luana cepat. “Jadilah temanku, kau bisa berbicara santai denganku jika kita berdua seperti ini. Kau boleh memanggilku nyonya di depan Rey, itu tidak masalah. Tetapi saat seperti ini, bertindaklah seperti kau adalah temanku. Kau bisa, kan?”
Mare tidak mungkin menolak permintaan sang majikan. Meski ragu-ragu, namun pancaran mata Luana mampu menembus hatinya. Nyonya Luiec itu tampak begitu tulus, dengan inner beauty yang tidak bisa didefinisikan dengan kata-kata.
“B-baiklah, Nyonya.”
Luana melebarkan senyum. “Panggil aku Luana.”
“Baiklah, L-Luana.”
Luana tertawa senang. Akhirnya ada seseorang yang memanggilnya kembali dengan nama, dan dia menyukai hal itu.
“Terima kasih, Mare,” ungkap Luana seraya meraih tangan Mare yang menggantung di sisi tubuh pelayannya. “Terima kasih karena mau menjadi temanku.”
Mare kehilangan kata-kata, terbius akan kebaikan yang diberikan oleh seorang bangsawan seperti Luana. Ini pertama kalinya dia merasa begitu dihargai, dan itu membuat hati Mare menghangat.
“Kembalilah ke kamarmu, Mare,” kata Luana. “Sampai bertemu sore nanti.”
Mare menganggukkan kepala cepat, memahami permintaan majikannya.
“Baik, Nyo-Luana.” Masih asing rasanya menyebut nama nyonya muda itu dengan bibirnya sendiri, tetapi Mare berusaha yang terbaik untuk membuat Luana senang.
Luana menaikkan sudut bibirnya, membentuk senyuman. Mare pamit undur diri, melangkah menjauh menuju pintu untuk kemudian menghilang dari sana. Meninggalkan Luana yang kini sendirian, mengembuskan napas pelan di ruangan yang begitu lebar itu.
Baru saja Luana hendak berbaring di atas ranjangnya yang tampak empuk, tiba-tiba suara denting bel terdengar nyaring memenuhi ruangan. Refleks menoleh ke arah pintu, Luana bangkit dengan cepat. Siapa yang menekan bel? Apakah Mare kembali karena terlupa akan sesuatu?
Luana menunggu beberapa detik. Denting bel kembali terdengar, dan tampaknya sang tamu tidak akan menerobos masuk. Luana bangkit, menuruni ranjang dan melangkah lebar-lebar menuju pintu.
Denting bel kembali terdengar untuk yang ketiga kalinya, tepat saat Luana menggapai handle untuk membuka pintu.
“Iya, sebentar. Siapa di sana?”
Pintu lebar itu terbuka. Seorang pria berdiri tepat di hadapannya, menatapnya dengan manik elang yang tajam. Luana terhenyak, tidak bisa berkata-kata.
“Kau?!”
.
.
.
~Bersambung~
sekarang tanya pada diri kalian jika ada sosok Pedro versi wanita dan menyukai suami kalian, apakah kalian juga akan kagum wanita lain yang itu
pakai ajala biar tidak jadi wanita jablay yang lebih melebih pria lain dari pada suami sendiri
coba dibalik Thor suami mu nyaman duduk dan ngobrol berduaan dengan wanita lain apakah kau anggap itu hal benar juga
pakai akal sehat biar bisa bedakan mana salah mana benar