Irma Sukma Ayu adalah penari termashur di desanya. Dia gadis cantik dengan sejuta pesona, penampilannya di atas panggung selalu ditunggu dan dinanti para penggemarnya.
Irma adalah gadis cantik yang anggun, tutur bahasanya lemah lembut dan sangat ayu. Sehingga ia menjadi kesayangan seorang Juragan Muda bernama Tama Sutha Jaya, sang pemimpin group ronggeng tempat Irma menari.
Namun, kisah cinta mereka tidaklah berjalan mulus. Irma yang ayu ternyata dicintai oleh makhluk tak kasatmata juga. Laki-laki itu harus bersaing secara sengit demi membebaskan Irma dari pengaruh sang Raja Jin penguasa hutan larangan yang memang sudah lama mengincar Irma sejak dia masih bayi merah.
Lantas bagaimana kisah mereka, dan ada Misteri apa yang tersimpan dari seorang penari ronggeng dari Desa Renggong ini? Yuk, Cekidot!
***
Don't forget, Gais!
Like, komen, love and givenya, ya
Thank you😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Niti Susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
***
Suara gamelan bersahut-sahutan membentuk irama musik yang membuat semua orang ingin melengak-lengokkan tubuh mereka, sebuah pertunjukan hiburan rakyat yang bisa jadi juga kesenian rakyat setempat.
Di sanalah tempatnya masyarakat mencari hiburan apalagi petinggi-petinggi desa sekitar yang ingin membuang-buang uang dengan menyawer penari ronggeng pujaan mereka.
Semakin larut semakin meriah saja, suara gemuruh penonton semakin menggila saat sang primadonanya muncul di hadapan mereka, menggerakkan tubuhnya gemulai mengiringi musik gamelan yang syahdu.
Gadis penari ronggeng itu bagai bintang yang berkilau di kegelapan malam, wangi tubuhnya bagai candu bagi siapa pun yang dekat dengannya, wajahnya yang ayu, lekuk tubuh yang sangat sempurna mampu memabukan bagi siapa pun pria yang menatapnya. Irma Sekar Ayu namanya.
Banyak pria yang memujanya, dan rela menghabiskan segala hartanya demi untuk memberi saweran untuk sang gadis penari ronggeng tercantik di group sanggar tari yang dipimpin oleh Tama Suthajaya.
Uang bertaburan ketika Irma menari hingga semakin meriah suasana pertunjukan malam itu.
***
"Minumlah, Dek Irma, kau pasti lelah," ucap Tama seraya menyodorkan botol air minum pada Irma yang sedang duduk sambil menghibas-hibaskan selendangnya karena kegerahan sehabis menari.
"Terima kasih ya, Kang," sahut Irma seraya mengambil botol air minum dari tangan Tama sembari tersenyum manis dan segera meminum isi dari botol itu.
"Dek, kau memang hebat, mereka selalu sangat puas dengan setiap penampilanmu," puji Tama seraya member senyum menatap pada penonton yang masih enggan meninggalkan lokasi pertunjukan walaupun pertunjukan sudah selesai.
"Irma hanya menari dengan hati, Kang, ini kan hobinya Irma ya memang menari. Jadi Irma tidak ada sedikit pun beban saat menari, Kang," sahut Irma dengan senyum manisnya membalas tatap mata Tama.
Pandangan mereka bertemu membuat hati Tama bergetar saat melihat dua bola mata indah Irma yang teduh.
"Kang, Kang Tama! Hey kang!" Irma memanggil-manggil nama pria tampan itu seraya mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Tama yang sedang bengong menatapnya.
"E-eh, maaf, Dek, akang melamun tadi," sahut Tama seraya terkekeh dan menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
"Ngelamunin apa sih Kang sampe segitunya? Ngelamunin teh Lilis, yah?" goda Irma seraya tersenyum.
"Eh, apaan sih Dek, kok jadi Lilis. Mana mungkin akang mikirin Lilis, Lilis bukan siapa-siapanya Akang kok," elak Tama yang mulai bete karena Irma malah ngebahas soal gadis lain teman Irma juga sebagai penari ronggeng sama sepertinya.
"Jangan begitu, Kang. Teh Lilis sayang banget loh sama Akang," goda Irma lagi yang membuat Tama sedikit kesal.
"Jangan bahas Lilis lagi, Dek. Akang tidak suka sama dia, akang sukanya sama ka ..." ucapan Taman tercekat, ia mengurungkan niatnya meneruskan ucapannya tadi.
Karena takut gadis di hadapannya akan marah dan menjauhi dirinya nanti, ia takut ditolak dan takut membuat hubungan dirinya dan Irma jadi canggung. Setidaknya berteman lebih baik, masih bisa bersama Irma, bisa dekat dengannya dan mengobrol dengannya.
Daripada harus berjauhan dengan gadis itu, pikir Tama. Karena merasa kalau Irma tidak menyukai dirinya. Irma hanya menganggapnya sekedar teman saja tidak lebih.
"Suka sama siapa, Kang? Hayooo." I1rma menunjuk hidung Tama dengan telunjuknya, mengoda pria tampan di hadapannya itu, membuat wajah Tama tersipu karena malu.
"Husst! Udah ah yuk akang antar kau pulang, Dek. Ini sudah malam, kau harus istirahat dan siap-siap besok tampil lagi di desa sebelah," kata Tama mengalihkan pembicaraan, Tama berdiri dan mengulurkan tangannya pada Irma.
"Oh iya ayo, Kang!" Irma menyambut tangan Tama dan ikut berdiri, melepas kembali tangannya dari genggaman Tama dan melangkahkan kakinya menuju ke motor milik Tama yang sedang terparkir, naik dan pergi membelah gelapnya malam.
***
Angin malam sangat dingin menusuk tulang, Tama terus mengendarai kendaraan roda duanya dengan kecepatan sedang. "Dek peganggan yah, akang takut kau jatuh," titah Tama saat melirik kaca sepion motornya, pria itu tersenyum memandangi wajah cantik Irma dari sana.
Irma perlahan merengkuh pinggang Tama, melekatkan tubuhnya yang dingin di punggung Tama. Tama menggenggam tangan Irma dan mengarahkan kedua tangan gadis itu melingkari perutnya. Tama tersenyum bahagia saat Irma tidak menolaknya.
"Dek, apa kau kedinginan?" tanya Tama, pandangannya kembali melirik ke arah spion motornya untuk menatap wajah Irma yang sepertinya memang kedinginan.
"Iya, Kang. Irma kedinginan sekali. Malam ini sepertinya mau hujan, Kang," sahut Irma, pandangannya menatap pada langit gelap yang memang mendung, awan hitam terlihat menghalangi sang rembulan kala itu.
"Iya, sepertinya begitu, Dek," sambung Tama masih melanjutkan perjalanannnya.
Ceter! Duar!
Kilat dan petir bersahutan diiringi deras hujan yang mulai turun membasahi bumi, memaksa Tama menepikan kendaraannya ke sebuah gubuk kosong di pinggiran jalan batu itu.
"Ah, ya ampun ... segala hujan lagi," desah Tama seraya mengibaskan tangannya di kepala mengusir air yang membasahi rambutnya.
Ia melirik ke arah Irma yang sedang bersidekap mebgelus-ngelus lengannya yang kedinginan. "Pakailah ini Irma, kau sangat kedinginan rupanya." Tama memakaikan jaket miliknya pada pundak Irma.
"Tidak usah, Kang, nanti Akang kedinginan, Kang," tolak Irma lembut.
"Tak apa Irma, kau lebih kedinginan dari pada akang, akang mah kuat." Tama tersenyum menatap wajah Irma yang basah karena hujan, Irma pun membalas senyumuman Tama.
Lama hanya berdiam diri tak saling membuka suara, mereka menunggu hujan reda dengan keheningan, tapi tiba-tiba Tama mengawali pembicaraan.
"Dek!"
"Iya, Kang." Irma menyahut lembut.
"Akang mau bicara sesuatu sama kau, Dek," ucap Tama tanpa menatap ke arah Irma yang berdiri di sampingnya.
"Iya, Kang. Bicara saja, Irma pasti mendengarkan," sahut Irma juga tanpa melihat Tama.
Mereka sibuk menatap derasnya hujan yang entah kapan redanya.
"Tapi, Adek harus janji, Adek jangan marah sama akang nanti, yah," ucap Tama memastikan, kini Tama menoleh ke arah Irma.
"Emang kenapa Irma harus marah, Kang? Emang Akang salah apa sama Irma?" tanya Irma bingung, Irma menatap wajah Tama yang sepertinya tengah bingung, lalu pria itu menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan dari Irma.
"Ya udah, Akang cerita aja. Irma janji tidak akan marah kok," kata Irma meyakinkan seraya menatap ke arah Tama, membuat jantung pria itu semakin deg-degan saja.
"Dek!" Tama masih ragu.
"Hmmm," sahut Irma.
"Kalau akang suka sama Dek Irma, apa Dek Irma mau menerima akang? Kumohon jangan marah, Dek!" Tama segera memohon agar Irma jangan marah padanya karena melihat perubahan ekspresi wajah Irma yang berubah tegang saat ia mengatakan suka padanya.
Namun, Irma tersenyum mendengar ucapan Tama tadi. "Kang maaf, untuk saat ini Irma ...."
Moga ajj darah yg d hisap gk sampe ketelen ma tama.dibuang s3mua
kayak logat batak ajj ya.
Apa athor nya rang medan ya????
tadi terdengar suara rintihan ratna kesakitan waktu dukun nya mo tiba.
lah saat mo lahiran malah teriakanny gak kedengaran sampe luar karna ruangan d kasih peredam suara.klo cerita jaman segitu.apa ya udah ada redam suara.🤦♀️🤦♀️