Chairil Rafqi Alfarezel terjebak di antara dua pilihan. Rezel yang sudah memiliki seorang kekasih, terjebak dengan pesona adik angkatnya yaitu Carissa Xavira Ranjana.
Namun atas permintaan orang tua kekasihnya yang menginginkan Rezel untuk segera menikahi anaknya, Rezel akhirnya menyetujui dan segera melamar Mella untuk menjadi istrinya.
Namun lagi - lagi Rezel menelan kenyataan pahit, bahwa saat hari bahagianya bersama dengan Mella justru merupakan duka yang mendalam baginya. Mella meninggal dunia, seminggu sebelum pernikahannya dengan Rezel.
"Rezel .... ! Papa mau, kamu tetap menikah besok!" ujar Vano mengambil kesempatan untuk menjodohkan Rezel dengan Vira. "Karena undangan sudah tersebar. Apa kata orang - orang nantinya, kalau pernikahan mesti di batalkan," sambung Vano mengambil keputusan.
"Pa! Jangan egois dong, baru tadi pagi calon istriku di kubur Pa," jawab Rezel yang menolak keinginan Papanya.
"Papa tidak menerima penolakan dari kamu, pokoknya kamu tetap bakal menikah dengan Vira besok!" ucap Vano dengan tetap memaksa Rezel.
"Pa, Vira itu sudah aku anggap sebagai adek aku sendiri Pa. Mana mungkin, aku harus menikahi seorang bocah seperti dia! Papa jangan egois dong!" ucap Rezel beralasan.
Bagaimanakah kelanjutan kisahnya, apakah Rezel nantinya bersedia menikahi Vira atas permintaan Papanya? Yuk kepoin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rafasya Alfindra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sekolah
Jam sudah menunjukkan pukul 6.00 wib, namun Vira masih tertidur dengan pulas dan kembali menarik selimutnya saat alarm didalam kamarnya telah berbunyi.
Vira mengambil alarm yang ada diatas nakas dan segera mematikannya, agar ia bisa tertidur kembali dengan nyenyak.
"A ....aaaa aku telat," teriak Vira saat melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh lewat.
Vira bangkit dari tempat tidur dan berlari memasuki kamar mandi. Setelah selesai mandi, Vira yang memiliki kebiasaan apapun yang menyangkut dengan perlengkapan sekolah selalu memanggil Mamanya untuk membantunya mencari baju seragam untuk di pakai ke sekolah.
"Mama, baju Vira mana Ma," teriak Vira di dalam kamarnya.
Freyya yang saat itu sedang menyiapkan sarapan pagi untuk keluarganya segera menghentikan pekerjaannya dulu, saat mendengar teriakan dari anak gadisnya. Freyya berjalan dengan tergesa - gesa menuju kamar anak gadisnya.
"Anak ini, selalu saja di cariin bajunya," ucap Mama dengan sedikit kesal karena Vira yang sedikit manja dengan Freyya.
"Mama," teriak Vira lagi.
"Iya sayang," jawab Mama yang juga ikutan berteriak.
Mama pun masuk ke kamar Vira, ia begitu terkejut melihat kamar anak gadisnya yang sudah berantakan.
Meskipun Vira bukan anak kandungnya, namun Freyya tidak pernah membeda - bedakan kasih sayangnya antara Vira dengan Rezel.
Vira memiliki sifat yang sangat manja,dan banyak bicara, berbeda dengan Rezel yang sedikit pendiam. Namun Freyya tidak pernah mempermasalahkan itu, karena kasih sayangnya kepada Vira lah yang membuatnya tidak pernah mengeluh apa pun yang anaknya lakukan.
Bahkan Freyya sering di panggil pihak sekolah karena kenakalan Vira yang selalu bertengkar dengan temannya, baik itu perempuan maupun laki - laki.
"Vira! kenapa kamarnya selalu saja berantakan seperti ini sih Nak?" tanya Mama menyaksikan kamar anaknya yang penuh dengan baju berserakan, serta sampah cemilan yang berserakan di lantai kamarnya.
"Mama sayang, jangan marah Ma," jawab Vira membujuk Mamanya agar tidak di marahi.
Freyya yang mendengar bujukan anaknya hanya tersenyum tanpa banyak bicara lagi.
"Kamu ya, selalu begitu setiap Mama kasih tahu," ucap Mama dengan menjewer telinga anaknya.
"Ampun Mama sayang, jangan marah - marah. Nanti kalau Mama sering marah, wajahnya tambah keriput dan jelek lagi. Awas nanti Papa cari Mahmud aliyas Mamah muda," jawab Vira yang langsung mencium pipi Freyya dan langsung memeluk Mamanya.
"Udah bicaranya sayang, pakai baju sekolahnya dulu. Nanti yang ada kamu terlambat dan Mama di panggil lagi oleh pihak sekolah nantinya," ucap Freyya mengalihkan pembicaraan dan menyerahkan baju seragam sekolah yang di carikannya tadi.
"Terimakasih Ma," jawab Vira mencium Freyya dan langsung berlari ke kamar mandi untuk mengganti baju seragam sekolahnya.
Vira yang telah selesai dengan perlengkapan sekolahnya, lalu ia turun menghampiri Mama, Papa serta Rezel yang sudah berada di meja makan untuk memulai sarapan paginya.
"Pagi abang sayang," ucap Vira dan langsung mencium pipi Rezel, yang membuat Rezel selalu memarahi adiknya yang sedikit nyeleneh.
"Vira!"hardik Rezel dengan kesal akan kelakuan adik angkatnya saat ini.
"Abang Vira yang ganteng, jangan marah - marah terus, nanti jodohnya di curi orang kalau abang sering marah - marah terus dengan Vira," jawab Vira.
Freyya dan Vano hanya menggeleng - gelengkan kepalanya, melihat kelakuan anak gadisnya yang selalu seperti itu.
"Ma ....! Nanti Rezel bakal telat pulang ya Ma, karena akhir - akhir ini kerjaan Rezel numpuk Ma," ucap Rezel meminta izin kepada Mamanya.
"Kamu jangan terlalu kecapek an ya Nak dan jangan sampai kamu telat makannya," nasehat Mama kepada Rezel.
"Dengar tu Bang!, jangan kerja mulu yang dipikirin. Entar yang ada, Abang jadi perjaka tua karena terlalu sibuk dengan kerjaan tanpa memikirkan ceweknya," sambung Vira yang membuat Rezel kesal kepada adiknya.
"Kamu ya! sumpahin Abang segitunya," ujar Rezel dengan menarik telinga Vira.
"Aduh sakit Bang, lepasin dong Bang tangannya dari telinga Vira," ucap Vira yang sakit bagian telinganya.
"Sudah - sudah, ini waktunya untuk makan bukan waktu untuk bercanda dan kamu Vira," tunjuk Papa. "Kakak kamu sudah dewasa bukan anak kecil lagi, Papa harap kamu jangan pernah lagi cium kakak kamu! Papa harap, ini terakhir kali Papa lihat kamu yang seperti itu," perintah Papa yang mulai jengah melihat pertengkaran anaknya di meja makan.
Mereka makan dengan hening tanpa berani berbicara sedikit pun, bukannya takut akan kemarahan Papanya. Hanya saja saat ini, bukan waktunya untuk bercanda.
"Pa .... Ma .... ! Rezel berangkat kerja dulu ya," ucap Rezel yang telah selesai dengan sarapannya lalu mencium tangan kedua orang tuanya.
"Abang!" teriak Vira memanggil Rezel yang telah melangkahkan kakinya keluar dari rumah.
"Tungguin Vira Bang," ucap Vira yang menyudahi sarapannya dan langsung mencium pipi Mama dan Papanya serta mencium tangan keduanya.
"Ma, Vira berangkat bareng Abang ya Ma," teriak Vira berlari mengejar Rezel yang sudah berada di garasi mobilnya.
"Ya sudah, hati - hati ya sayang," ucap Mama memperingati anaknya.
"Iya Ma," jawab Vira dari jauh.
Vira berlari mengejar mobil Rezel yang baru saja keluar dari garasi mobilnya.
"Abang!" teriak Vira sambil berlari mengejar mobil Rezel.
Rezel sama sekali tidak mendengar teriakan adeknya dari luar dan saat mobil berhenti karena satpam tidak juga kunjung membukakan pintu gerbang rumah, di saat itu lah Rezel dapat melihat Vira berlari mengejarnya dengan ngos - ngosan.
"Hufft ....," Vira menghela napas dengan kasar karena capek berlari mengejar mobil kakaknya.
Tok tok tok
"Bukain Bang," ucap Vira sambil menggedor mobil Rezel.
"Capek tahu Bang lari - lari," ujar Vira yang sudah berada dalam mobil Rezel.
Rezel hanya diam tanpa menjawab ucapan Adeknya, karena saat ini dia hanya fokus dengan jalan yang ada di depan. Masa bodoh dengan bacot Adeknya yang sering mengomel tidak jelas.
Vira yang melihat Abangnya yang hanya diam tanpa menjawab ucapannya merasa kesal dan langsung mencium pipi Rezel. Agar Rezel berbicara dan marah - marah kepadanya.
"Kamu ya, selalu begitu," ucap Rezel dan menarik kuping Adeknya sebelah tangan karena tangan sebelahnya di gunain untuk menyetir mobil.
"Hehehe .... habisnya Abang diam aja, terpaksa deh Vira cium biar Abang berbicara sama Vira," ucap Vira dengan santai.
Flashback on
Semenjak kematian Papanya Vira, Vira telah diangkat anak oleh Vano dan Freyya. Tiga hari setelah kematian Arkana, sang istri yang bernama Zalfa atau Mamanya Vira juga menyusul suaminya.
Vira telah menjadi anak yatim piatu diumurnya yang masih terbilang belia, bahkan Vira sama sekali tidak mengetahui akan kematian Mama dan Papanya. Vira hanya tahu kalau Mama dan Papanya bernama Vano dan Freyya sedangkan kakaknya bernama Rezel.
Vira di besarkan dengan penuh kasih sayang oleh Vano dan Freyya, bahkan ia tidak pernah sedikit pun membeda - bedakan kasih sayang kedua anaknya, oleh karena itu lah sampai saat ini, Vira tidak mengetahui sama sekali orang tuanya. Bahkan semua yang menyangkut Vira telah diubah biodatanya oleh Vano termasuk biodata nama orang tua yang ada di lapor sekolah Vira.
Flashback off
Mobil Rezel telah memasuki pekarangan sekolah Vira dan Rezel segera menghentikan mobilnya tepat di depan kelas Vira, agar ia bisa melihat Vira masuk ke dalam kelasnya dan tidak berani bolos lagi.
"Astaga nih anak, masih saja sempat tidur," ucap Rezel kesal dan langsung menarik kuping Vira agar Vira terbangun dari tidurnya.
"Abang .... sakit tahu Bang," Rengek Vira.
...........
Jangan lupa like dan komennya all.
Mira, mendingan Lo sama Angga aja deh, udah ganteng, baik, perhatian lagi .paket komplit
ya pasti betahlah, kan ada dokter Irfan 🤭🙈