Apa jadinya jika kedua pengantin sepakat kabur dihari pernikahan mereka, sementara acara akan segera di gelar.
Mikayla dan Haikal adalah korbannya, karena mereka dipaksa Nikah menggantikan kedua pengantin yang kabur entah kemana.
Jangan lupa follow Ig mamie_kembar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamie kembar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pindah
Haikal mencari Mika ke ruangan tamu, namun yang dicari tidak ada disana. Dengan sedikit menggeram kesal Haikal melangkah menuju dapur, "Bik, bibi melihat Mika?" tanya Haikal kepada Bik Sumi.
"Tadi saya lihat ada di halaman belakang den." ucap Bik Sumi.
"Makasih Bik." ucap Haikal.
Haikal melangkah kan kakinya menuju taman belakang mencari Mila. Dari jauh Haikal dapat melihat gadis kecil itu sedang duduk dan asyik memainkan ponselnya.
Lama Haikal memandangnya sebelum akhirnya dia memilih melangkah kan kakinya menemui gadis kecil itu untuk memberinya peringatan.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Haikal dengan sikap dinginnya.
"A...aku sedang menulis no...."
"Masuk dan siapkan airmandi ku." ucap Haikal memutuskan kalimat yang akan diucapkan oleh Mika.
Mika masuk ke dalam rumah dan ke kamar. Diikuti oleh Haikal yang menyusulnya di belakang.
Sesampai di kamar, Mika langsung memasuki kamar mandi dan menyiapkan air mandi untuk Haikal.
"Hei, dengar. Siang ini kita akan pindah ke Apartemen ku. Dan ingat, selalu bersikap baik di depan mama dan papa. Apa tadi mama mencariku?" tanya Haikal.
"Ya"
"Lalu apa yang kau katakan?'
"Aku hanya bilang jika kakak masih tidur." jawab Mika.
"Bagus, awas jangan sampai kau mengadukan ku. Aku akan membuatmu merasa tenang asal kau tak mengganggu privasi ku dan tahu batasanmu. Aku juga tak akan mengganggu privasi mu." ucap Haikal
"Bersiaplah setelah ini kita kembali ke rumah papa Zein, mengambil pakaianmu dan langsung pulang ke apartemen ku." perintah Haikal.
Mika menyiapkan pakaian ganti Haikal yang dia ambil dari lemari di dalam kamar. Mika meletakkannya diatas ranjang kemudian dia berlalu keluar dari kamar.
Alya dan Radit baru saja kembali dari pemakaman.
"Mama, " ucap Haikal dan mencium tangan ibunya begitu juga ayahnya
sungguh anak yang berbakti, bathin mika
"Mama, papa aku dan mika akan tinggal di apartemen." ucap Haikal
"Kalian mau pindah secepat itu?" tanya Alya
"Iya, ma. Kami akan lebih mudah saling menyesuaikan diri disana. Tidak lagi canggung seperti disini karena tidak ada orang lain."
Alya ingin menyela tapi di potong oleh Haikal.
"Mama tenang saja, mika pasti bisa mengutus ku dengan baik."
"Bukan masalah itu, mika masih kuliah, Bagas dengan kuliahnya? Dan apa dia berani tinggal sendiri disana jika kau tak sedang berada di rumah." ucap Alya
"Mama tenang saja, aku dan Mika akan membahasnya nanti, oh ya ma, kami akan ke rumah papa Zein. Kami berangkat dulu, assalamualaikum." Haikal kembali menyalim tangan ibunya.
Mika mengikutinya dan melakukan hal yang sama. Alya memeluk menantunya dan mencium pipinya. "Jangan sungkan padaku, kau adalah putriku bukan menantuku" ucap Alya
"Mika, ayo" ucap Haikal
"Iya, kak. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam "
Radit tak mengucapkan apapun, dia diam dan memperhatikan anak dan menantunya.
Mobil yang mereka kendarai melaju menuju rumah mika. Tak ada pembicaraan apapun di sepanjang jalan. Mika menatap nanar keluar jendela, Haikal fokus mengemudikan mobilnya. Hanya suara lagu yang diputar menggema memecah kesunyian diantar keduanya.
"Assalamualaikum," mika mengucapkan salam dan masuk ke dalam rumah.
"Waspada salam,"
"Mama. Mika menghambur ke pelukan namanya yang nyaman dan menghangatkan.
"Silahkan duduk nak, maaf mika memang manja." jelas Zahra.
"Aku tinggal Sebentar."
Mika ke dapur mengambil minun untuk suaminya.
"Nak Haikal, ada yang ingin mama bicarakan." ucap Zahra.
"Mama tahu semua ini terjadi begitu cepat, keadaan lah yang memaksa kalian menikah..Satu harapanku, jika kau tidak menginginkan pernikahan ini kembalikan putriku, aku akan menerima nya dengan senang hati." ucap Zahra dengan wajah sedih.
"Mama mengapa bicara seperti itu. Aku sudah menerima Mika menjadi istriku sejak semalam. Aku menerima nya dan aku akan melanjutkan pernikahan ini. Mungkin aku bukan menantu ideal tapi aku akan berusaha membahagiakan mika." ucap Haikal dengan tegas.
"Terima kasih nak."
Mika masuk fan meletakkan teh diatas meja. Mika sempat berhenti dan tertegun mendengar ucapan haikal kepada mamanya. Dia sungguh pandai bersandiwara.
Mika kembali ke dalam kamar dan mengemasi pakaiannya. Zahra masuk dan membantunya.
"Sayang...mama nggak menyangka saat ini akan datang begitu cepat. Mama masih merasakan dan mendengar tangis mu dan senyuman penuh kebahagiaan saat kau meminta susu kepada mama.
Waktu begitu cepat berlalu, mama nggak nyangka jika kamu menikah dan akan pergi meninggalkan mama." ucap Zahra.
"Ma, mika nggak jauh kok. Mama bisa datang mengunjungi Mika, begitu juga sebaliknya. Mika akan sering datang kesini mengunjungi mama." ucapnya coba menenangkan sang mama.
"Maafkan mama!"
"Mama jangan seperti ini. Kak Haikal baik dan mau menerima Mika,.kami akan belajar saling memahami, mama jangan khawatir..Percaya kepadaku, aku bisa melaluinya ma."
Zahra Hanay memeluk anaknya dengan erat dan menangis. Dia menyesali keputusan nya menyetujui keinginan suaminya, tanpa sebab yang jelas tapi Zahra didera rasa penyesalan.
Maafkan mama nak, tapi mama pernah berada di posisimu. Mama tahu apa yang kau rasakan. Tidak mudah memahami seorang laik laki apalagi kalian menikah dengan cara seperti itu. Mama takut, apa yang terjadi pada mama terulang kembali padamu
Mama tak sanggup membayangkan penderitaan mu nak.
"Ma, mika baik baik saja." ucap Mika menghapus airmata Zahra yang mengalir deras.
Mika dan Zahra keluar kamar dengan menarik kopernya.
"Kamu sudah siap?" ucap Haikal menyambutnya dengan ramah..Dia segera mengambil alih koper di tangan mika.
"Sudah kak." jawab Mika.
"Mika dan Haikal pamit Ma, Pa." ucap mereka berpamitan.
Ternyata Zein sudah pulang saat Zahra dan mamanya berada di dalam kamar tadi.
Zein memeluk erat putrinya. "Pulanglah ke pada papa jika dia menyakitimu. Kau tetaplah putri kecil ku. Pintu rumah ini akan terbuka lebar untukmu." ucap Zein.
Mika menangis di pelukan papanya. Haikal hanya memandangnya dan menarik kopernya keluar rumah.
Mereka berdua berangkat setelah berpamitan.
"Jangan coba coba mengadukan apapun kepada mama dan papa atau kau akan tahu akibatnya." ancam Haikal.
Mika tak menaggapinya, dia hanya diam dan fokus melihat jalanan yang dia lewati.
Satu jam kemudian mereka sampai di pelataran apartemen Haikal. Haikal membawanya ke lantai dua puluh, dimana kamarnya berada.
Dia membiarkan mika kesusahan membawa kopernya.
Tiba di kamarnya, Haikal membuka pintu dan masuk.
"Itu kamarmu, di lantai dua. Dan ini kamarku, Jangan coba coba masuk apalagi menggangguku.
Kita memang tinggal bersama, tapi kita kan tidur terpisah. Jangan ikut campur urusan ku. Jangan menanyakan jam berapa aku pulang dan sebagainya. Tak perlu memasak atau membersihkan rumah karena ada pembantu yang akan datang di pagi hari untuk membersihkannya.
Apa kau paham?" tanya Haikal.
"A...aku paham, tapi kak. bagaimana dengan kuliahku?' tanya Mika.
"Aku bukan kakakmu jangan memanggilku kak, Aku akan mengurus perpindahannya. Mulai Bukan depan kau sudah bisa kembali kuliah di UI."
"Selama sebulan menunggu, apakah aku boleh keluar?" tanya mika.
"Kau boleh melakukan apapun, selain mencampuri urusanku. Aku tak melarang mu. Kau juga bisa kembali kepada kekasihmu." ucapnya ketus
"Jika Tidak ada pertanyaan lagi, aku akan pergi. Oh ya, paswordnya 114477. Apa kau paham?"
Mika mengangguk dan Haikal segera berlalu. Dia kembali keluar kamar dan pergi menemui Amira.
Malam ini Haikal sudah berjanji untuk makan malam dengan Amira. Sebelum berangakt dia sudah memerintahkan Devan membelikan hadiah untuk kekasihnya itu sebagai permintaan maafnya.
Devan sudah menunggu haikal di lantai bawah dan memberikan hadiahnya. Setelah itu Haikal langsung berangkat menemui Amira di restoran bintang lima tempat mereka janji bertemu.
Mika duduk lemas diatas sofa. Matanya menatap sekeliling apartemen mewah itu. Sampai kapan aku akan bertahan dan hidup dengan nya. Inilah neraka yang dia janjikan padaku, tapi aku tak akan menyerah. Aku tak ingin mama dan papa sedih. Aku akan bertahan, lagipula dia tak menuntut apapun dariku, setidaknya aku tidak akan dirugikan jika nanti aku berpisah dengannya.
Mika bangkit dan menarik kopernya memasuki kamar yang disebutkan oleh Haikal.
Ruangan minimalis lengkap dengan tempat tidur, sebuah sofa tunggal, meja rias dan kamar mandi. Tapi sudah cukup bagi Mikayla yang biasa hidup sendirian di negeri orang.
Mika turun ke dapur mencari bahan makanan karena perutnya terasa lapar. dia memasak makanan dengan bahan seadanya di dalam kulkas. Selesai makan dia kembali ke kamar dan mengemasi pakaiannya. Memasukkannya ke dalam lemari.
lanjut
aq suka bangat sma wanita yg teguh sma pendirian ,gk mudah luluh...
gk gampangan ...lanjut
liat istri di sapa sma cowo ,
padahal haikal masih lanjut pacaran sma mira ,dasar egoes haikal ...
ayo mika jangan hirau kan haikal
biar kan makan cemburu nya...
lanjut ..
gk keliata wanita lemah ...
mika memang harus tegas ...
tapi tetap perhatian layak nya istri sholehah ,aq suka bangat ...lanjut
mira ditutupi ,biar haikal tau...
jangan sampai bosan kita tunggu nya,lanjut...