NovelToon NovelToon
My Partner'S Diary

My Partner'S Diary

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Cintamanis / Contest / Tamat
Popularitas:233.2k
Nilai: 5
Nama Author: Decy.27126

TAHAP REVISI🙏


***

Berawal dari kata 'tidak suka' hubungan mereka kian dekat karena sebuah pertengkaran. Batu yang keras, akhirnya luluh oleh air yang tenang.

Seperti itulah Gia dan Riza, dua remaja yang menaiki tangga bersama dari tidak suka, menjadi suka, lalu ke nyaman, dan berakhir dengan saling menyayangi.

***

Sedikit kisah, dari jutaan kisah lain yang mungkin akan membuat kalian tak bisa melupakannya.

@dwisuci.mn

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Decy.27126, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

“Udah, lo mending balik ke kelas aja, deh, sana!” usir Dafa yang muak dengan tingkah Melin.

“Loh, terserah gue mau di mana aja. Kalian nggak berhak, dong, ngelarang gue, ya nggak, Za?” balas Melin masih yang masih kekeh ingin bersama Riza.

“Lo itu ngganggu kita, tau nggak?” Bagas mendelik tajam pada gadis itu.

“Diem kalian, kalo mau ribut, pergi sana!” sela Riza penuh penekanan.

“Kenapa, sih, Za? Segitu nggak sukanya kamu, duduk sama aku aja langsung marah," ucap Melin dengan wajah sok memelasnya.

“Gue muak sama muka lo, mending pergi aja sana. Atau gue yang bakal lempar lo dari sini!" perintah Riza tegas.

Tentu Melin tak mau mati konyol dilempar oleh Riza dari atas rooftop ini. “O-ok fine, gue balik. See u, Dear.”

Sekarang, tersisa Riza dan kedua temannya di rofftop. Mereka sama-sama diam, menunggu angin baik untuk memulai pembicaraan.

“Za, lo nggak mau balik ke rumah lo?” tanya Dafa hati hati, takut Riza salah mengartikan.

“Sorry.” Hanya itu yang keluar dari mulut Riza.

“Bukan maksud gue ngusir lo, Za, cuman ... apa nggak sebaiknya lo pulang dulu? Kasihan Tante Vina, pasti khawatir sama lo." Dafa berucap sambil mendekati Riza.

“Hmm, bener itu, Za. Kasihan nyokap lo, kalo lo terus-terusan gini, gue takutnya nyokap lo kepikiran." Bagas menimpali dengan sarannya.

“Maaf, gue udah sering repotin kalian,"

balas Riza lemah.

“Nggak gitu, Za. Gue nggak ngerasa repot kalo lo tetep sama kita, gimanapun kita ini temen, dan lo juga udah banyak bantu kita, kita cuma-” ucap Bagas terpotong omongan Riza.

“Gue bakal pulang sore nanti, gue juga nggak mau terus-terusan kek gini, Daf, Gas. Gue juga capek,” ucapnya masih dengan nada lemah sembari merebahkan tubuhnya di lantai rooftop, dan kembali memejamkan matanya.

“Kita bakal selalu ada buat lo, Za,” ujar Bagas serius.

“Makasih, walau kalian bobrok. Gue tetep sayang kalian,” ucap Riza mendramatisir.

“Ih ... jijik gue, Ja! Gila lu ya," ringis Dafa dan Bagas bersamaan. Disusul dengan tawa ketiganya yang pecah dengan keras.

'Sesederhana ini kebahagiaan buat kalian? Andai aku juga bisa ngerasain hangatnya persahabatan kayal kalian,' batin seseorang yang menatap mereka dari belakang dengan jarak tak terlalu jauh.

“Kalian!” teriaknya setelah usai dari kekagumannya atas hubungan tiga teman satu kelasnya itu.

“Gia!” desis Bagas dan Dafa bersamaan. Sedangkan Riza? Jangan ditanya. Dia hanya diam, meski terkejut dengan kehadiran Gia, dia menyembunyikan keterkejutannya itu.

“Ngapain lo di sini, nguping ya?” tuduh Bagas menatapnya tajam.

Gia tersenyum, senyum manis yang jarang sekali dia tunjukan. Sejenak, ketiga pemuda itu tertegun dengan pemandangan di depan mereka.

“Nggak, kok, ayo, masuk. Guru udah dateng,” ujar Gia menyadarkan tiga serangkai dari keterkaguman mereka.

“Ya-yaudah ayo!” gagap Bagas, dia masih belum sepenuhnya sadar dari kekagumannya itu.

Mereka berjalan dengan Gia di depan, Bagas dan Dafa di belakangnya, serta Riza di bagian paling belakang.

Hanya hening di sepanjang jalan menyusuri tangga untuk ke bawah, entah apa yang ada di pikiran mereka.

Sampainya mereka di kelas, benar saja, sudah ada Guru di dalam. Untungnya dengan seribu satu rayuan m dari seorang Bagas, sang Guru pun luluh dan mengijinkan mereka masuk.

'Za, seberat apapun masalah kamu. Aku janji, aku akan bantu kamu, sebisaku. Dan aku harap, kamu akan menjadi diri kamu sendiri lagi, seperti kamu yang aku lihat tadi,' batin Gia berharap.

“Ga usah liatin gue kek gitu!”ujar Riza mengagetkan Gia.

“Aku punya mata,” jawabnya santai.

Riza heran, kenapa gadis ini begitu santai, seakan hidupnya tidak ada masalah. Bisakah dia juga menyelesaikan semua masalahnya? Dia juga ingin hidup santai seperti gadis di depannya ini.

”Kok, lo bisa setenang ini, Gia?” tanya Riza yang ingin segera mengakhiri rasa penasarannya.

“Kamu tanya aku?” balas Gia bingung.

“Nggak jadi!” kilah Riza kembali menatap ke depan.

Terdengar kekehan dari sampingnya, tak ia pedulikan. Siapa suruh, dirinya sudah membuang jauh jauh gengsi nya hanya untuk menanyakan satu hal yang tak penting menurutnya. Namun, jawaban gadis itu membuatnya kesal seketika.

Hening, beberapa saat hanya terdengar suara Guru yang menerangkan dan beberapa kali suara helaan napas para murid yang mungkin saja mulai bosan.

”Kamu tau, Vin?” Gia mengambil napas panjang.

“Bagiku, tenang itu keharusan. Nggak ada orang berhasil kalo dia nggak tenang, misalnya tenang pas ngadepin masalah gitu.”

Riza menoleh ke arah Gia, menaikkan satu alisnya. “Gimana?”

“Apa dengan panik kamu bisa nyelesaiin masalah? Nggak, dan biasanya orang yang panik itu cenderung lebih suka lari dari masalah daripada menyelesaikan masalahnya. Karena dia nggak tau, gimana cara dia ngatasin masalahnya, sedangkan dirinya sendiri juga belum bisa ngatasin rasa paniknya.” Gia berujar panjang lebar, dengan suara pelan, tetapi, jelas. Riza hanya mendengar, juga berusaha memahaminya.

“Dan yah ... tenang itu solusi dari setiap masalah,” imbuh Gia.

Dia bicara panjang lebar, tetapi, pandangannya tidak teralihkan dan masih fokus pada Guru di depan.

“Are you kidding me?” tanya Riza yang masih belum faham sepenuhnya dengan ucapan Gia.

“Kamu nggak paham kata-kataku?” pertanyaan yang menjadi jawaban bagi Riza.

“Gimana cara tenang nyelesaiin masalah?” tanyanya dengan sedikit kekehan di akhir kalimat.

“Coba aja, hadapi masalah dengan tenang. Jangan panik, itu nggak akan ngatasin masalah kamu.” Gia menjawab masih dengan muka santainya.

“Nggak segampang itu, Gianna,” ucap Riza lagi, kali ini dengan nada yang lemah.

"Tugas kita berusaha, Vin, berusaha memperbaiki yang rusak. Bukan membiarkannya dan membuatnya hancur lebih parah. Sulit memang, tapi patut dicoba."

“Kamu denger pembicaraanku di rooftop?” tanya Riza penasaran.

Lagi, hari ini untuk kedua kalinya Gia mengeluarkan senyum manisnya, wajahnya yang menunduk tak mengurangi aura kecantikan yang muncul darinya.

"Vin, kita baru kenal kemarin, dan aku juga nggak tau apa masalah kamu, pun aku nggak mau dianggap sok tau tentang kehidupan kamu. Tapi, satu yang mau aku bilang!" berhenti sejenak, menarik napas panjang dan menatap Riza dengan serius.

"Nggak ada masalah yang bisa diselesaiin dengan kamu menghindarinya. Sejauh mana pun kamu pergi, selama apapun waktu kamu mengulurnya. Tetap, kamu akan berhadapan lagi dengan masalahmu itu. Jadi, kalo sekarang bisa, kenapa nunggu nanti?" jelasnya dengan muka serius dan sedikit senyum di akhir.

"Gia, aku nggak bisa setenang kamu." Riza berucap pelan.

"Kamu udah mulai bisa tenang, Vin. Itu, buktinya udah pake aku - kamu, kan?" goda Gia dengan alis naik turunnya.

"Eh ... Gia."

"Kalian ributin apa?" Suara itu mengagetkan keduanya.

"Maaf, Bu, tadi saya cuma mau pinjam pulpen dia aja," jawab Gia santai dan tersenyum ke arah Gurunya.

"Baiklah, dengarkan penjelasan saya!" tegas Guru itu.

"Iya, silahkan dilanjut, Bu,” ucap Gia sopan.

"Ck ... itu drama," decak Riza pelan.

"Seenggaknya, itu nggak se-fake senyum kamu," ejek Gia tepat mengenai hati Riza.

"Ngga usah sok tau!" desisnya.

"Kamu nggak akan tau," lanjut Riza lagi tapi tak dihiraukan oleh Gia yang sudah fokus melihat gurunya di depan.

'Kamu nggak akan tau Gia, gimana sulitnya ngehadapin masalah yang aku alamin ini,' batin Riza sambil matanya menatap Gia.

*****

Bersambung

see u next chpt epribadeh...

🖤

1
Niken NiRiYu
bintang 5 buat penulis buat alur crita juga okelah tp plot twist masa lalu gia blm ngena
spnjang crita karakter gia msh konsisten msh terbaik dan kalau bs gia seharusnya dpt lbh baik lg dr karakter riza😁 dan riza sprti tdk ada lawannya buat dapetin gia kyk gmpang ajha buat riza
tp utk smwnya udh bagus karakternya kuat2👌
Lina 002
keren,suka sama kata" nya
Decy Mlyni: terima kasih sudah membaca, Kak. semoga berkenan dengan ceritanya 🙏☺️
total 1 replies
abdan syakura
Assalamu'alaikum..
salken, kak....
Decy Mlyni: waalaikumsalam, Salam kenal juga, Kakakk. selamat membaca
total 1 replies
Purianti Santi
lanjut mantab👍
Decy Mlyni: udah tamat, Kak. silakan baca sampai selesai, terima kasih atas like & komennya. 🙏❤️
total 1 replies
Nur hikmah
calvin arriza psyiy
Nur Inayah
lama Bngt sandiwara ny
Arias Binerkah: permisi kakak ijin promo silahkan mampir di novelku ini bukan love bombing dikemas dengan bahasa segar dan komedi namun tetap romantis manis, terimakasih 🙏
total 1 replies
Nur Inayah
ah lama bngt,sandiwara ny
Jilioni MD: KEPEMILIKAN adalah cerita dalam novelku, jika berkenan mampir ya, bisa diklik profilku, terimakasih😊
total 1 replies
Nur Inayah
AQ MLS bertele2 thour
Nur hikmah
pnsaran....ko jd ribet
Nur hikmah
gia jtuh cnta tpi binggung sndri....n calvin kyy main umpet2 tan
Nur hikmah
waw ap riza mnta restu pa ayahy gia...hihihjhi
Nur hikmah
hntu kah
Nur hikmah
i love you gia n riza
Nur hikmah
syuka2
Nur hikmah
smpe dsini q phm....crtsy maju mundur....seru c....tpi ckup membinggungkn.....
Zia
semangat kak, jangan lupa mampir
Fie F.s (Mama Adara) 💕
Jadi inget pas sekolah dulu lomba rias kelas 😂

Jd terkenang masa SMA ku😁😁
Prayogi
terharu gaisy😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Chui Lhan Sheng
kangen lah😂😂 tapi boong😜😜
Chui Lhan Sheng
😍😍😍😘😘😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!