Shella namanya, seorang gadis kecil yang tumbuh dilingkungan keluarga yang membenci ibunya, dia dipisahkan dari Lisna sang ibu dengan cara paksa.
Meski demikian, Shella sering diperlakukan tidak adil setelah ayahnya menikah lagi, namun dia enggan kembali pada ibunya. Seiring berjalannya waktu dia sering menghilang tanpa kabar.
Ini menjadi dilema tersendiri bagi anak korban perceraian. Apakah Shella akan ikut membenci Lisna seperti hasutan yang selama ini diberikan oleh keluarga sang ayah? dan apakah Lisna bisa mendapatkan kembali hati anaknya dengan kesabaran yang dia miliki?
Sikahkan simak kisahnya ya.. 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selly setiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Kesembuhan Shella
Hari ini sudah 5 hari Shella dirawat, luka bakarnya mulai kering dan dokter mengizinkan kami untuk pulang. Shella melanjutkan perawatannya dirumah karena kondisinya mulai membaik.
Ku telepon ayahnya untuk menjemput kami, karena tadi pagi Fahri pulang untuk membawakan bekal makanan. Ku selesaikan administrasi perawatan Shella, menebus obat dan kami pulang.
Sesampainya dirumah kami disambut oleh sanak saudara yang ingin melihat kondisi Shella, Fahri membukakan pintu dan kami masuk. kubaringkan Shella dikasur yang sudah disiapkan oleh Fahri.
"Istirahat ya sayang, cepet sembuh biar nanti bisa main lagi" ujarku padanya.
"Neng sembuh ya sekarang mah, neng Shella mah kuat ya, ini buat jajan neng ya" Bu Yuli memberikan sedikit uang kepada Shella.
Shella menerimanya dengan malu-malu.
"Terimakasih bu," jawabku.
Satu persatu tetangga berdatangan menjenguk Shella kerumah, tak sedikit dari mereka merasa iba dengan kondisi Shella dan memberikan do'a serta semangat untuk kesembuhannya.
Hari menjelang sore dan tidak memungkinkan untuk aku menginap disana. Ingin sekali tidur disebelah putri kecilku tapi apalah daya aku merasa canggung berada serumah dengan mantan suamiku, apalagi kini dia telah mempunyai istri.
Terpaksa aku pamit pulang dan kembali esok hari. Tapi lagi-lagi Shella menangis, dia tidak ingin ku tinggalkan, apalagi hampir seminggu ini kami selalu bersama. Fahri mencoba membujuk Shella agar mengizinkanku pergi, namun dia terus meronta memintaku untuk menggendongnya. Akhirnya kuputuskan untuk tetap tinggal sampai Shella tertidur pulas.
Waktu menunjukan Pukul 20.00 WIB, ku oleskan salep pada bagian luka Shella dan memberikan obat padanya. Ku gendong dia sampai tertidur lalu pamit untuk pulang.
Sepanjang perjalanan menuju rumah aku masih terngiang-ngiang tangisan dan kesakitan yang dialami putri kecilku. Penyesalan yang selalu membayangiku hanya satu hal "andaikan kami tidak bercerai mungkin hal seperti ini dapat dihindarkan," gumamku dalam hati.
Namun kembali lagi pada takdir Tuhan. Semua yang terjadi atas kehendak-Nya dan ini sudah menjadi salah satu dari takdirku, yaitu berpisah dengan anakku sendiri.
Selama dalam perawatan kemarin, Shella selalu ingin aku berada didekatnya. Mungkin karena kami sudah lama tidak bisa menghabiskan waktu berdua. Fahri dan Mira hanya ikut menemani, membantu menenangkan saat dia rewel.
Sesampainya dirumah ibuku bertanya tentang keadaan Shella.
"Gimana kabar si eneng Lis, udah baikan? ibu belum sempet jenguk lagi soalnya bapak kamu masih sibuk diladang," ujarnya.
"Alhamdulillah bu, keadaannya sudah semakin membaik. Shella juga sudah dibawa pulang kerumah a Fahri" jawabku menyimpan tas dan merebahkan diri dikasur.
"Oh, alhamdulillah kalau gitu, ibu ikut seneng dengernya" ibu menutup kembali pintu kamarku.
Keesokan harinya ibu ikut bersamaku menemui Shella kembali. Seperti biasa aku selalu disambut hangatnya senyuman dari raut wajah anakku, setiap kali aku datang dia terlihat sangat senang. Ibu menggendong Shella dan memeriksa lukanya.
"Neng Shella, ini masih sakit gak?" ibu bertanya sambil menunjuk kearah punggung
"Enggak..." jawabnya singkat.
"Cucu nenek emang jagoan ya, main sama nenek yuk."
Ibu membawa Shella untuk bermain diteras rumah, dia sudah mulai aktif kembali. berlarian kesana kemari dengan raut wajah yang polos seolah-olah kejadian kemarin hanyalah mimpi buruk. Shella terlihat sangat ceria. Aku yang sedari tadi memerhatikannya bersama Mira merasa terhibur dengan tingkah polosnya
"Mir, besok saya harus mulai masuk kerja, Titip Shella ya!! kita tahu kejadian kemarin hanyalah musibah yang tidak kita sangka tapi, semoga kedepannya kita bisa lebih berhati-hati lagi untuk menjaganya."
"Iya teh, kejadian ini kita jadikan sebagai pelajaran agar sama-sama lebih memperhatikan Shella lagi. " ujar Mira.
"Iya, apalagi saya Mir, yang tidak sebebas kamu yang bisa dekat Shella setiap saat, saya percaya sama kamu dan a Fahri. tolong jaga Shella untuk saya" ujarku.
Aku mengantarkan ibu pulang dan berkemas untuk berangkat kembali bekerja ditoko kue.
Dimanapun aku berada yang ada dibenaku hanya Shella. Aku selalu berdo'a dalam hati untuk kebaikannya, semoga Allah melindungi anakku walau kami terpisah jauh.
Bersambung...
Salam kenal 😉💐
mampir juga di karyaku
Salam dari novelku : "Cinta Tulus Viola" bila berkenan, mampir ya kak.. hehe ditunggu😅
likeback ke Who is He ya, dah UP😄💕
dan minta tolong kk komen di sana sebagai kehadirannya yah, hehe😅