NovelToon NovelToon
Penjelajah Malam (The Nightwalker: After 2012)

Penjelajah Malam (The Nightwalker: After 2012)

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain / Horor / Action / Fantasi
Popularitas:298
Nilai: 5
Nama Author: Origin-Reynvold

Ketika matahari terbenam, dunia gaib dan nyata melebur menjadi neraka yang dipenuhi makhluk mengerikan. Hanya para Esper—manusia yang mampu mengendalikan energi spiritualnya—yang menjadi benteng terakhir umat manusia melawan penguasa kegelapan.
Ryan memilih menarik diri dari dunia luar. Selain karena dikucilkan oleh lingkungan sekitar, ia sama sekali tidak tahu bahwa rasa malasnya adalah satu-satunya hal yang menahan kehancuran dunia—atau justru mempercepatnya?
Namun, takdir sialan tidak membiarkannya hidup dengan tenang. Sebuah tantangan besar yang dibalut tragedi mengerikan tiba-tiba mendobrak masuk, dan mengancam nyawa orang-orang di sekitarnya.
Di ambang keputusasaan dan di tengah emosi yang meluap, apakah Ryan akan menemukan alasan untuk mulai bekerja keras demi menjadi lebih kuat? Ataukah situasi ini justru akan memaksa kekuatan besar yang tertidur di dalam dirinya lepas kendali, bahkan sebelum ia sempat mempelajarinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Origin-Reynvold, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Amarah dan Masa lalu

Sirene merah melengking nyaring, memutus paksa ketenangan sore di pusat komando Nightguard Kota Cirebon. Monitor raksasa di ruang kontrol memperlihatkan peta digital kota beserta penanda wilayah SMK Media yang berkelip secara intens. Sensor spiritual mendeteksi adanya anomali masif—energi negatif nan haus darah, khas entitas yang seharusnya hanya muncul di balik tirai malam, kini justru mengoyak realitas di tengah teriknya siang hari.

Petugas operator segera menyambar mikrofon, melaporkan temuan itu dengan napas tersengal kepada Johandi. Sebagai kepala divisi penanganan cepat, Johandi—pria berusia 25 tahun dengan tubuh tegap atletis dan wibawa yang terpancar dari balik seragam taktisnya—langsung membeku saat mendengar koordinat lokasi.

Pikirannya langsung terarah pada Ryan; keponakannya ada di sana. Insting seorang Esper berpengalaman miliknya seketika lumpuh digantikan oleh kepanikan yang mendalam. Tanpa mempertimbangkan prosedur keamanan, Johandi memerintahkan pengerahan personel secara massal, sehingga markas Nightguard menjadi hampir kosong.

“Segera bentuk tim penuh! Kita bergerak ke lokasi sekarang juga!” teriaknya, suara beratnya menggelegar di ruang kontrol.

Dalam beberapa menit, barisan kendaraan taktis Nightguard melesat melintasi jalan kota, mengangkut hampir seluruh personel elite mereka. Kepergian armada tersebut menyisakan kesunyian di markas dan pemukiman sekitarnya, seperti kota mati. Johandi terlalu fokus pada SMK Media hingga mengabaikan prosedur dasar dan meninggalkan markas tanpa penjagaan

Di balik gelapnya gang yang menghadap langsung ke rumah bergaya lama, sebuah bayangan bergerak. Seorang pria misterius berdiri tegap—dengan setelan jas hitam rapi, sepatu mengilap, dan topi yang diturunkan menyembunyikan wajahnya. Kedua matanya yang dingin menatap kosong ke arah rumah tersebut. Sebuah seringai tipis terukir di sudut bibirnya: “pengalihan situasi ini berjalan sempurna.”

Sementara itu, armada Nightguard yang dipimpin langsung oleh Johandi belum sempat mencapai SMK Media saat langkah mereka terkunci di tengah jalan. SMK Media dan radius di sekelilingnya telah terbungkus oleh sebuah barier tak kasat mata yang membiaskan cahaya dan menciptakan distorsi udara yang mencekam.

Johandi melompat turun dari mobil, melangkah maju ke garis terdepan dengan aura yang mulai memekat di sekeliling tubuhnya. Ia mengumpulkan seluruh energi spiritual murni ke dalam kepalan tangannya, hingga udara di sekitarnya mendesis panas. Tanpa ragu, ia melontarkan pukulan terkuatnya tepat ke arah dinding udara yang kosong itu.

BOOM!!!

Ledakan energi yang kuat menimbulkan gelombang kejut, mengangkat debu aspal setinggi badai pasir kecil. Namun, penghalang mutlak tetap tak tergoyahkan—tidak ada retakan ataupun getaran. Johandi terlempar ke belakang, napasnya berdesak tak teratur. Ia memandang telapak tangannya yang bergetar hebat; serangan yang biasanya dapat menghancurkan beton bertulang kini bahkan tak mampu menggores tirai dimensi di depannya.

Para anggota Nightguard terdiam kaku. Kapten mereka, seorang Esper B Class yang disegani, baru saja gagal menembus barier itu dengan serangan telaknya. Keputusasaan mulai menjalar di antara personel; mereka membayangkan nasib para siswa di dalam, sementara Johandi sendiri tampak kehilangan kendali atas ketenangannya.

"Kelilingi seluruh area! Cari celah!" teriak Johandi, suaranya pecah oleh kepanikan yang ia coba sembunyikan.

Pada saat yang bersamaan, keadaan di lapangan tengah sekolah berubah menjadi jauh lebih mengerikan. Pemandangan altar pembunuhan dengan mayat‑mayat berantakan membuat jantung Ryan berdegup kencang, namun bukan karena takut akan kematian. Ia tidak sedang melihat murid-murid yang mati; ia sedang melihat masa lalunya yang bangkit kembali.

Rasa mual yang hebat menghantam ulu hatinya, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas lambungnya hingga ia nyaris kehilangan napas. Ia tak sanggup melihat pembantaian itu, bukan karena ngeri, melainkan karena pemandangan genangan darah dan tubuh tak bernyawa di depannya secara paksa menyeret kesadaran Ryan keluar dari realitas.

Dunia di sekitarnya memudar.

Sekejap mata, lapangan sekolah menghilang, digantikan oleh bayang-bayang ingatan traumatis waktu kecil yang berputar hebat di kepalanya; ia teringat suatu pagi ketika melangkah keluar dari pintu rumahnya, hal pertama yang menyambut indranya adalah hamparan mayat para tetangga yang bergelimpangan mengenaskan di sekitar rumah. Pada hari jahanam itu, tidak ada satu pun orang yang selamat di lingkungan tempat tinggalnya selain keluarganya sendiri.

Bau anyir darah di lapangan sekolah ini sama persis dengan bau kematian yang memenuhi halaman rumahnya saat itu.

Kilas balik berdarah itu memicu letupan emosi negatif yang tak terkendali. Ryan mencoba menahan, mencoba memejamkan mata, namun pertahanan mentalnya yang selama ini sedatar permukaan air—kini retak. Rasa perih, ngeri, dan amarah yang menggila berbaur menjadi satu, menghancurkan batas kendali atas kekuatan latennya. Ia tidak lagi bisa membedakan antara masa kini dan masa lalu.

Tanpa sengaja, tubuh Ryan memancarkan gelombang aura hitam pekat yang luar biasa mengerikan. Itu bukan serangan terarah; itu adalah jeritan jiwanya yang koyak.

Tekanan spiritual absolut yang keluar dari tubuh Ryan sekejap runtuh menindih seluruh lapangan sekolah dengan daya hancur psikologis yang masif. Hawa dingin yang ia pancarkan membeku hingga ke tulang, membuat tanah di bawah kakinya retak. Merasakan kehadiran energi predator alami yang begitu pekat dan berada di puncak hierarki, semua hantu yang terlihat seketika membeku. Insting liar mereka menjeritkan alarm kematian yang memekakkan kepala.

Rasa takut yang murni seketika mengambil alih kesadaran makhluk-makhluk gaib tersebut. Tanpa memedulikan mangsanya lagi, seluruh hantu yang ada di lapangan langsung tunggang-langgang melarikan diri demi menyelamatkan nyawa mereka; ada yang merangkak cepat menembus dinding koridor, dan ada yang melompat liar ke atas atap bangunan sebelum akhirnya menghilang sepenuhnya ke dalam kegelapan.

Lapangan tengah sekolah mendadak sunyi senyap, menyisakan jasad-jasad tak bernyawa yang telah ditinggalkan. Di tengah altar jahanam yang kini kosong dari makhluk astral, Ryan berdiri terdiam di tempatnya dengan tubuh gemetar hebat. Ia berjuang keras menahan dirinya agar tidak pingsan atau kehilangan kewarasan detik itu juga.

Pada akhirnya, Ryan melepaskan teriakan histeris, sebuah keluhan penuh rasa sakit dan trauma masa kecilnya yang kembali terungkap di bawah langit merah yang menakutkan.

Gema teriakan Ryan perlahan memudar di udara. Angin malam yang dingin berembus lambat, membawa bau sisa darah yang berbaur dengan hawa korosif dari sisa-sisa aura hitam milik Ryan.

Di koridor, Rahman, Agil, dan kawan-kawannya masih terpaku. Tubuh mereka kaku, menatap dengan mata yang tak percaya. Setelah beberapa saat dalam kondisi mencekam itu, kawan-kawan Agil mulai saling berbisik dengan suara bergetar hebat.

"K-Kau liat tadi? Para hantu itu... mereka ketakutan?" bisik salah satu teman Agil, melirik ngeri ke arah punggung Ryan.

"Mereka tidak hanya merasa takut, melainkan melarikan diri seolah‑olah nyawa mereka akan diambil jika mereka kembali diam di sini," timpal lain menelan ludah. "Sebenarnya, kekuatan apa yang dimiliki anak baru itu?"

Agil tak dapat mengucapkan sepatah kata. Harga dirinya sebagai petarung sekolah yang pernah terluka akibat tamparan Ryan kini menghilang, digantikan oleh rasa takut yang murni. Ia menatap Rahman, berharap menemukan jawaban, namun Rahman hanya dapat memandang Ryan dengan kecemasan yang mendalam.

Tepat ketika Rahman berani melangkah ke depan dan bersiap menyapa Ryan supaya temannya cepat sadar, terdengar bunyi langkah cepat dari koridor di seberang.

Tap! Tap! Tap!

Sekelompok siswa yang selamat—sekitar lima orang dengan seragam yang sudah kotor dan penuh debu—berlari keluar dari area kelas atas dan langsung bergabung dengan kelompok Rahman. Kedatangan mereka yang tiba-tiba seketika memutus keheningan dan menyadarkan Ryan dari lamunannya yang sedari tadi menatap kosong ke arah lapangan pembantaian.

Salah satu siswa dari kelompok yang baru datang itu terengah-engah, menyeka keringat di dahinya sambil menatap Rahman dan Agil dengan binar lega. "Baguslah... syukurlah masih ada yang selamat selain kami!" serunya dengan napas memburu. Heboh, ia melihat ke sekeliling lapangan yang mendadak sepi. "Aku tidak mengerti mengapa para hantu tadi tiba-tiba menghilang begitu saja dari lapangan. Tapi ini kesempatan kita! Kita harus segera kabur dari sekolah ini sekarang juga!"

Mendengar antusiasme itu, Rahman menggelengkan kepala dengan lemas, sementara Agil mendengus pahit.

"Percuma," ucap Agil suaranya terdengar lesu dan putus asa. "Tidak ada gunanya kau berlari ke pintu utama."

"Apa Maksudmu?!" tanya siswa itu bingung.

“Tidak ada apa‑apa di sana,” kata Rahman sambil menyela, menggambarkan kenyataan sebenarnya. “Di luar pagar hanya kabut hitam dan kehampaan. Kita terkurung dalam penghalang tak terlihat.”

Mendengar kenyataan pahit itu, wajah kelompok siswa yang baru datang langsung berubah pucat pasi. Harapan mereka hancur seketika.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!