NovelToon NovelToon
NEVER TRULY GONE

NEVER TRULY GONE

Status: sedang berlangsung
Genre:BXB / Mengubah Takdir
Popularitas:134
Nilai: 5
Nama Author: Selene Mora

Bagaimana jika cinta terbesar adalah cinta yang diam-diam merantai, mengikat hati tanpa suara, dan terus hidup meski tanpa harapan?

​Brant dan Luca hanya tahu satu hal: cinta itu masih ada dan mungkin akan tetap ada selamanya. Mereka hanya pasrah, tidak lagi bertarung untuk bersama.


!!!⚠️!!!

#BL

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selene Mora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27

Brant bersandar di kursi ruang kerja pribadinya, mencoba melepas penat setelah hampir seharian berjaga di rumah sakit. Di tangannya, layar ponsel menyala, menampilkan rentetan foto yang dikirimkan Luca—mulai dari pose memamerkan paket atribut wisuda, foto bersiap di depan cermin, hingga momen sakral kelulusannya. Ibu jari Brant sampai terasa pegal menggeser puluhan foto itu, namun senyum Luca yang begitu cerah berhasil mengikis habis rasa lelahnya.

​Kehangatan itu mendadak sirna saat telinganya menangkap deru mobil di halaman. Ayahnya, Tuan Lodrik, telah pulang. Sejak insiden malam itu, Brant belum sempat bicara sepatah kata pun karena fokus pada kondisi ibunya. Namun malam ini, rasa penasaran dan amarah yang tertahan harus menemukan jawaban. Brant bergegas keluar, memotong jalur menuju ruang tamu sebelum sang ayah sempat masuk ke kamar.

​Langkah keduanya terhenti tepat di tengah ruangan. Netra mereka saling mengunci.

​"Pa, bisa minta waktunya sebentar? Ada yang mau aku bicarakan," ucap Brant, sopan namun tegas.

​Tuan Lodrik sempat terdiam dan memalingkan wajah, sebelum akhirnya melangkah menuju sofa. Beliau duduk dengan gestur angkuh, bersandar layaknya seorang bos besar yang tak tersentuh. "Ada apa?"

​Brant mengambil posisi duduk tepat di hadapannya. "Apa yang membuat Mama sampai pingsan seperti itu?"

​"Itu karena ibumu sedang sakit," jawab Tuan Lodrik dingin.

​"Mama selalu kuat. Maksudku, pasti ada pemicunya, Pa."

​"Hanya masalah biasa antara suami istri. Kami sama-sama lelah hari itu."

​Brant terdiam sejenak, menata debar di dadanya sebelum melempar pertanyaan yang menjadi anomali di pikirannya . "Aku sempat mendengar kalimat tentang hak waris dan kepemilikan perusahaan saat Papa dan Mama bertengkar."

​Mata Tuan Lodrik langsung menatap tajam, mengintimidasi. Namun sedetik kemudian, beliau membuang muka. "Bisakah kamu fokus saja pada pekerjaanmu? Itu tujuanmu berada di sini, Brant."

​"Iya, Pa. Justru karena perdebatan Papa dan Mama menyangkut masa depan perusahaan, aku berhak bertanya," kejar Brant tak mau kalah.

​Tuan Lodrik bangkit berdiri, merapikan setelannya tanpa beban. "Kamu tetap akan menjadi pemilik dan pemimpin perusahaan ini, Brant. Cukup lakukan tugasmu sebagai calon penerus."

​Tanpa menunggu balasan, beliau melangkah pergi menuju kamar. Brant terpaku sendirian di ruang tamu. Rasa kecewa dan sesak menjalar di dadanya. Bukan hanya karena dia tidak mendapatkan jawaban yang tepat, tetapi karena sepanjang konfrontasi tadi, Tuan Lodrik sama sekali tidak menanyakan bagaimana kondisi istrinya di rumah sakit.

​Mengepalkan tangan, Brant membatin. Pintu dari ayahnya mungkin tertutup, tapi dia tetap akan mencari tahu segalanya langsung dari ibunya begitu beliau pulih nanti.

Di dalam kamar, dengan setelan jas yang masih lengkap melekat di tubuhnya, Tuan Lodrik berdiri membelakangi jendela. Ponsel menempel di telinga. Wajahnya tampak sedingin es, namun suaranya terdengar luar biasa tenang saat berbicara dengan seseorang di seberang sana.

​"Kau masih di kantor?" tanya Tuan Lodrik begitu panggilan terhubung.

​"Ya, aku masih mempersiapkan beberapa pekerjaan untuk besok," sahut suara di seberang telepon.

​"Besok kau tidak perlu masuk kerja. Ada hal penting yang perlu kita bicarakan secara pribadi." Kalimat Tuan Lodrik mendadak terhenti. Instingnya menajam saat telinganya menangkap suara deru mesin mobil dari arah halaman luar. Itu Brant, putranya baru saja pergi meninggalkan rumah.

​Menatap lurus ke arah kegelapan di luar jendela, Tuan Lodrik menyambung dengan nada rendah yang penuh teka-teki, "Besok siang. Aku tunggu di tempat biasa."

​"hmm, Baiklah."

​Sambungan langsung diputus sepihak. Tuan Lodrik menurunkan ponselnya, meninggalkan keheningan mencekam yang sarat akan konspirasi rahasia di dalam ruangan itu.

Pagi-pagi sekali, Luca sudah harus bergelut dengan jadwal yang padat. Pascatandatangan kontrak eksklusif sebagai brand ambassador produk skincare ternama yang disponsori penuh oleh salah satu perusahaan besar, hari-harinya diisi dengan menghadiri berbagai rangkaian promosi.

​"Kamu pasti kelelahan, ya?" tanya Citra, salah satu tim manajemen yang mendampinginya hari itu.

​Luca menghela napas panjang dengan wajah memelas, namun matanya tetap berbinar antusias. "Iya, Kak, minta ampun. Ngantuk banget! Kemarin sesi fotonya hampir seharian penuh. Tapi aku senang kok, bisa sekalian jalan-jalan," guraunya, mencairkan suasana.

​Citra tersenyum tulus, ada binar bangga di matanya. "Itu memang risikonya, Luca. Tapi semuanya terbayar lunas. Progres penjualan produk kita meningkat pesat karena kamu bintangnya."

​"Hah? Apa iya, Kak?" Luca mengerjap tak percaya.

​"Iya, benar. Pihak pusat baru konfirmasi tadi malam. Nama kamu pasti akan makin bersinar setelah ini."

​"Ini juga berkat bantuan semua tim, Kak. Terima kasih banyak," balas Luca rendah hati.

​Tak berselang lama, aba-aba dari panggung tanda acara promosi akan dimulai pun terdengar. Luca yang semula duduk santai, langsung berdiri tegap. Sebelum melangkah, ia menyodorkan ponselnya pada Citra. "Kak, tolong ambil beberapa foto saat aku di atas panggung nanti, ya."

​Di depan kamera dan kilatan lampu flas, Luca bertransformasi penuh menjadi sosok yang sangat profesional. Kedisplinan dan tanggung jawab yang tinggi pelan-pelan mengikis karakter manjanya. Di balik senyum indahnya yang memukau publik, pikiran Luca sebenarnya sedang berada di titik lelah. Bagaimanapun, ia adalah anak laki-laki tertua. Tanggung jawabnya ganda: menjadi wajah untuk brand besar, sekaligus membantu sang ibu yang sedang sakit mengurus butik milik keluarga mereka.

​Selepas bekerja berjam-jam dan sempat singgah membantu ibunya beres-beres sebentar di butik, Luca memutuskan pergi sendirian menggunakan taksi daring. Alih-alih pulang ke rumah, langkahnya justru tertuntun ke sebuah warung ketoprak gerobak di pinggir pantai—tempat langganannya bersama Brant.

​Suasana pantai sore itu sangat ramai oleh muda-mudi yang nongkrong. Beruntung, tempat duduk yang biasa ia tempati bersama Brant sedang kosong.

​"Mas, pesan satu, ya. Enggak pedas," ujar Luca saat memesan.

​Penjual ketoprak itu mendongak, lalu tersenyum mengenali wajahnya. "Eh, baru kelihatan lagi, Den?" Pria itu celingukan ke arah belakang Luca. "Mana cowok tampan yang satunya lagi biasanya bareng?"

​Luca tersenyum kecut, ada sengatan halus di dadanya. "Enggak ada, Mas. Dia lagi kerja."

​Sembari menunggu pesanan, Luca duduk menyendiri menatap hamparan laut. Ia membuka ponsel, melihat-lihat foto hasil jepretan Citra tadi siang. Merasa hasilnya sangat bagus, Luca langsung meneruskannya ke nomor Brant. Detik berikutnya, status pesan langsung berubah menjadi centang dua biru.

​Bahagia karena tahu pesannya langsung dibaca, tanpa pikir panjang Luca segera menekan tombol panggilan.

​Tut... tut... tut...

​Pada nada ketiga, panggilan itu mendadak diputus sepihak. Luca terpaku menatap layarnya untuk memastikan. Bukan kendala jaringan, melainkan Brant yang sengaja menolaknya. Tak lama, sebuah pesan singkat masuk.

​Brant: Ca, nanti ya telepon lagi. Gue lagi ada urusan.

​Luca membaca pesan itu dengan dada yang mendadak sesak. Jujur, ada rasa kecewa yang menyelinap, meski logikanya terus memaksa untuk mengerti bahwa kekasihnya mungkin sedang sibuk di kantor. Menatap pantulan cahaya bulan yang berpendar di atas riak air pantai, Luca mengembuskan napas berat. Ia sangat merindukan Brant. Bukan sekadar rindu mendengar suaranya di telepon, melainkan rindu yang teramat sangat untuk mendekap tubuh kekasih hatinya itu secara nyata.

Setelah menyelesaikan suapan terakhir ketopraknya dan puas memandangi hamparan laut—mengenang kembali tawa Brant yang dulu selalu menggema di tempat ini—Luca memutuskan untuk pulang. Kali ini ia memilih memesan ojek daring. Sepanjang perjalanan membelah angin malam, di atas motor Luca kembali teringat kebersamaannya dengan Brant. Memorinya berputar pada momen-momen manis saat mereka berboncengan, tertawa bersama di balik helm sementara motor mereka melaju kencang membelah jalanan. Sayangnya, realitas menamparnya lembut—yang mengemudikan motor saat ini adalah seorang abang ojek, bukan Kak Brant-nya.

Rumah sudah sepi saat Luca melangkah masuk. Jarum jam yang merambat larut membuat sang ibu dan Lea sudah terlelap di kamar masing-masing. Luca enggan beranjak ke kamarnya. Ia memilih merebahkan diri di sofa ruang tamu yang temaram, hanya diterangi seberkas cahaya redup dari lampu sudut.

​Keheningan malam justru membuat rasa penasaran dan rindu di dadanya semakin mencekik. Kenapa Kak Brant menutup teleponnya tadi? Apa dia benar-benar sesibuk itu hingga tidak punya waktu semenit pun untukku? Didorong rasa rindu yang tak terbendung, Luca menatap layar ponselnya lalu kembali menekan nomor Brant. Namun, pilu kembali menghantamnya. Belum sempat nada dering ketiga berbunyi, panggilan itu lagi-lagi diputus sepihak dari seberang sana.

​Luca menurunkan ponselnya dengan tangan bergetar. Ia terus terjaga, menatap nanar ke arah layar yang gelap, berharap ada keajaiban berupa dering telepon atau sekadar pesan singkat pengobat rindu. Namun, penantian itu sia-sia. Hingga rasa lelah mengambil alih kesadarannya, ponsel itu tetap bergeming dingin.

​Luca akhirnya tertidur dengan posisi miring di atas sofa, memeluk bantal kecil erat-erat. Dalam tidur lelapnya yang sunyi, sebutir air mata luruh perlahan, melewati batang hidungnya sebelum jatuh membasahi bantal. tidak tahu apakah ia sedang menangis karena mimpi indah yang membahagiakan, ataukah karena luapan rasa kecewa, lelah, dan rindu yang terlalu lama ia tahan sendirian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!