NovelToon NovelToon
DENDAM ISTRI PERTAMA

DENDAM ISTRI PERTAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Motjaaa

⚠️ Harap mengatur emosi selama membaca ⚠️
"JANGAN PIKIR KARENA AKU LEMAH, AKU BAKALAN DIAM YA, MAS!"

10 tahun menikah, Hanum tidak pernah merasakan arti keluarga yang "Sakinah, Mawadah, Warahmah" seperti yang pernah diucapkan saat ijab kabul pernikahannya dulu.

Puncaknya, gara-gara kelakuan bejat suaminya itu, dia harus menanggung derita yang lebih berat dibandingkan sebelumnya.

"VANYA... KAU BOLEH SAJA MEREBUT SUAMI KU. AKU BERIKAN DIA, TAPI KAN KU REBUT SELURUH HIDUP KALIAN BERDUA!" — Hanum Arsyila Putri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motjaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Terlalu

 "Kemana Devan sama Bunda nya, Bi?" tanya Hanum pada Bi Inah saat dia baru saja keluar dari kamarnya. Suasana rumah itu lengang. Dia hendak pergi ke butiknya sekalian menikmati sore hari.

"Nyonya masih ikutan takziah, Neng. Kalo Mas Devan sepertinya masih bekerja," jawab Bi Inah sambil menyapu lorong depan kamarnya.

"Ya udah Bi. Aku mau keluar dulu ya, kalo Devan pulang bilang aja aku mampir ke butik sekalian jalan-jalan sore," kata Hanum memberikan pesan kepada pembantu rumah itu.

"Baik, Neng. Hati-hati di jalan ya."

Hanum segera keluar dari rumah dan memesan ijek online dari ponselnya. Hari-hari nya disibukkan dengan masalah akhir-akhir ini. Jadi, dia memutuskan untuk menaikkan mood nya dengan bekerja di butiknya terlebih dahulu.

Sesampainya di butik, dia melihat suatu perubahan yang berbeda. Seluruh isi butiknya berantakan seolah diobrak-abrik oleh perampok. Khawatir terjadi sesuatu dia menanyakannya langsung.

"Ada apa ini, Nung?" Hanum menatap Nunung, salah satu karyawannya yang tampak gugup seperti telah terjadi sesuatu.

"Ini, Bu..., tadi pagi saat kami masuk ke Butik semuanya sudah berantakan. Kami coba cek cctv tapi udah dihapus datanya, Bu..," kata Nunung menjelaskan.

"Astaghfirullah.., terus gimana yang lainnya? Brankas saya masih ada gak?" Hanum tampak panik takut-takut brankas berisikan modal hasil usahanya itu raib dibawa oleh oknum yang tak bertanggungjawab.

"Isinya hilang, Bu..," tampak Nunung takut menjawab pertanyaan Hanum.

Seketika itu juga Hanum memijat kepalanya. Brankas itu diberi sandi pin yang hanya diketahui oleh dirinya dan Bramasta. Tidak mungkin maling membawa brankas itu pergi sementara brankas itu masih ada di posisinya.

"Sudah, kamu tenang saja dulu. Untuk kedepannya, saya akan kabari kamu untuk tetap kerja atau nggak nya. Sekarang kamu bantuin saya rapiin butik ya," kata Hanum menenangkan Nunung yang kebingungan. Usahanya memang tidak seberapa, dia hanya merekrut tiga orang karyawan saja. Jadi, dia tidak terlalu repot-repot dalam mengurus butik.

Meskipun begitu, entah mengapa yang terlintas di benaknya adalah Bramasta.

"MAS!" Hanum mengetuk pintu rumah itu dengan keras.

"KELUAR KAMU!" Dia tidak menyerah memanggil suaminya. Rumah berlantai dua dengan desain sederhana itu tampak biasa-biasa saja. Pekarangan nya cukup luas dan ada satu asisten rumah tangga yang membantu dia dahulu. Tapi Hanum tidak melihatnya lagi, entah sudah dipulangkan.

"Ada apa sih? Ganggu orang aja!" Vanya membuka kan pintu. "Lo ngapain kesini mulu jir!"

"Suka-suka saya dong. Mana Bramasta?" Kali ini Hanum mengucapkan nama suaminya secara langsung. Membuat cewek di depannya ini cukup kaget.

"Di dalem, lo tunggu di sini," buru-buru Vanya memanggil Bramasta yang sebetulnya dia sudah mendengar percakapan mereka dari ruang tengah. Dia sedang duduk sambil meneguk kopinya, mendengarkan Hanum dan Vanya.

"Mas, itu tuh mantan istri kamu nyariin. Jangan-jangan dia sadar..," Vanya tampak ragu-ragu mengucapkannya. Sebab dia juga tahu kalau Bramasta lah yang merusak usaha Hanum tersebut.

"Jangan terlalu dipikirkan. Itu urusan ku dengan Hanum." Bramasta berdiri dan menemui Hanum.

"Kenapa kamu datang lagi ha?"

"Justru aku yang harusnya nanya, Bramasta. Kenapa kamu menghancurkan usaha saya?!! Belum puas kamu ganggu hidup saya hah???!" Hanum terlihat berapi-api, kali ini dia tidak menangis sedih. Tetapi air mata penuh benci dan dendam.

"Oh, berani juga rupanya kamu lawan saya? Ok, saya ngaku saya yang mampir ke butik kamu. Paham?" Bramasta menaikkan alisnya, menatap tajam pada Hanum.

"KAMU KETERLALUAN, BRAMASTA!" Hanum menggeleng tidak percaya atas apa yang sudah dilakukan suaminya itu. "Salah apa saya sama kamu sampai segitunya kamu mau menghancurkan hidup saya???"

"Saya hanya mau kamu hidup menderita tanpa saya. Sekarang saja kamu terus bergantung pada saya."

"Bedebah kamu! Kamu bilang saya terus bergantung?? Saya hargai kamu karena kamu suami saya! Sekarang juga aku gak mau tau, balikin modal yang aku simpan di butik aku segera atau aku laporin ke polisi!" Hanum mengancam.

"Sayang sekali, percuma kamu melakukan itu, Hanum. Semuanya sudah jadi milikku. Butik mu kini jadi milik Vanya..," Bramasta berbalik arah dan kembali berjalan ke ruang tengah.

"Maksud kamu apa, Bramasta?! Gak mungkin!" seru Hanum tak mau percaya. Tetapi layu saat dia menatap Bramasta yang menunjukkan surat bukti pemindahan aset.

"Itu palsu, gak mungkin kamu bisa buat tanpa persetujuan aku!" Hanum menggeleng tidak setuju.

"Kamu terlalu naif, Hanum. Karena itulah aku katakan bahwa kamu lah yang bergantung kepada ku. Sampai-sampai kamu sendiri tidak ingat, kamu lah yang menandatangani surat pernyataan itu," Bramasta tersenyum licik. Hanum tak mampu lagi berkata-kata, dia segera berlari meninggalkan rumah itu. Bagiamana bisa dia mengiyakan ucapan Bramasta? Saat itu dia tengah sibuk menghitung pendapatan dan pengeluaran butiknya hingga dia lupa kalau surat itu ternyata berisikan tentang pemindahan aset.

"Bodoh! Dasar Hanum bodoh!" Dia mencela dirinya sendiri, memukul-mukul dadanya yang terasa sesak setelah berhadapan dengan Bramasta.

"Keterlaluan kalian, Bramasta. Tunggu saja, suatu saat nanti kalian akan terima akibatnya," umpat Hanum menatap langit sore yang mulai senja. Dia memilih untuk meredam emosi nya sejenak sebelum akhirnya pergi untuk memeriksa kandungannya. Ah, tunggu. Kandungannya ini.., dia tidak merasakan apa pun. Ada yang janggal dengan kandungannya.

Dia segera mengecek kandungannya ke dokter kandungan. Di sana dia menemukan fakta yang cukup mengejutkan.

"Maaf, Bu Hanum. Berdasarkan hasil pemeriksaan kami tidak menemukan adanya janin di dalam rahim ibu. Apa benar ibu sudah mengecek kondisi kandungan sebelumnya?" Dokter itu menjelaskan pada Hanum.

"Ini pertama kali saya mengecek kehamilan saya, dok. Tapi saya tahu hamilnya saat pakai tespek, dok.., atau ada kesalahan ya?" Dia kembali mengingat saat dimana dia memakai alat itu dan menyimpannya di dalam laci kamarnya.

"Saya akan coba telusuri lagi, Dok," ucap Hanum kemudian.

"Baiklah kalau begitu, untuk saat ini Bu Hanum pastikan untuk laporkan jika ada perubahan dan gejala kehamilan nya ya."

Selepas Hanum berterimakasih, dia benar-benar tidak habis pikir. Ah, sudahlah ini mungkin belum terasa saja tanda-tandanya. Notifikasi masuk dari ponselnya, itu dari Devan.

"Kamu masih di rumah? Aku mau balik, mau nitip apa?"

Hanum tersenyum menatap pesan itu. Tiba-tiba dia tersadar. Aduh, Hanum.. Apa yang kamu pikirkan? Ingat, Devan belum menikah sementara kamu tak lama lagi akan menjadi janda muda. Dia menepis nya, dan mengetik balasan pada pria itu.

"Udah, gapapa. Aku gak nitip apa-apa, makasih ya."

Tring. Devan menatap pesan masuk dari Hanum. Membacanya sekilas sebelum akhirnya dia tersenyum tipis menatap balasan Hanum.

1
silainge01
Kasih komen ya beb 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!