NovelToon NovelToon
Saya Jokernya

Saya Jokernya

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Sepuluh tahun lalu, keluarga Arlan hancur dalam semalam karena konspirasi korporasi besar "Vanguard Group". Orang tuanya dijebak sebagai pengkhianat negara dan tewas dalam kecelakaan yang diatur. Arlan kembali dengan identitas baru, "Joker"—seorang manipulator bayangan yang tidak membunuh dengan peluru, melainkan dengan menghancurkan reputasi dan mental musuhnya.
Di sisi lain, Elara, putri dari CEO Vanguard Group, adalah seorang detektif cerdas yang mencoba membersihkan nama kepolisian. Dia mulai mengejar Joker, tanpa menyadari bahwa pria yang dia cintai di kehidupan normal adalah sosok di balik topeng yang ingin menghancurkan ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Nama yang Terlarang

Markas Besar Kepolisian Resor Jakarta Pusat pagi ini tidak terlihat seperti kantor penegak hukum yang berwibawa. Tempat ini lebih mirip bursa saham di Wall Street yang sedang dilanda kehancuran finansial.

Saat aku mendorong pintu kaca ganda divisi Homicide (Pembunuhan), sebuah dinding suara langsung menghantam wajahku. Dering puluhan telepon meja beradu nyaring dengan suara teriakan para detektif yang berusaha mengalahkan kebisingan. Di empat sudut ruangan, layar televisi berita menyiarkan liputan langsung dengan volume tinggi. Udara di dalam ruangan terasa pengap, sarat akan kombinasi bau keringat cemas, jas hujan basah, ozon dari mesin printer yang memanas, dan kopi instan yang diseduh terlalu pekat.

Aku meremas tali tas selempangku, mencoba menavigasi jalan melewati lautan meja kerja yang dipenuhi tumpukan map. Kepalaku masih berdenyut menyakitkan akibat kurang tidur dan konfrontasi sedingin es dengan pria bermantel di The Obsidian semalam.

"El! Ke ruanganku. Sekarang!"

Suara bariton Bramantyo terdengar menggelegar dari ambang pintu ruangannya, membelah kericuhan sesaat. Detektif senior itu bahkan tidak repot-repot memakai jasnya hari ini. Lengan kemeja putihnya digulung asal-asalan hingga siku, dasinya ditarik longgar, dan urat di lehernya menonjol menahan amarah yang meletup-letup.

Aku mempercepat langkah, masuk ke ruangannya dan menutup pintu kaca itu rapat-rapat di belakangku untuk memblokir kebisingan bullpen.

"Kau sudah lihat berita pagi ini?" Bram tidak repot-repot menyapaku atau menanyakan hasil kunjunganku ke bar semalam. Ia menunjuk kasar ke arah televisi kecil di mejanya yang sedang menayangkan siaran Breaking News.

Di layar, gambar gedung arsip Pengadilan Tinggi yang hangus setengahnya terpampang jelas. Asap hitam tebal masih mengepul dari atapnya yang runtuh, disorot oleh lampu merah-biru dari deretan mobil pemadam kebakaran yang memblokir jalan raya. Teks berjalan (running text) di bagian bawah layar menampilkan huruf kapital berwarna kuning yang menyilaukan mata: SKANDAL KORUPSI HAKIM AGUNG BOCOR KE PUBLIK, RUANG ARSIP TERBAKAR MISTERIUS.

"Pukul tiga lewat lima belas pagi tadi," Bram mengusap wajahnya dengan kasar. Terdengar suara gemeretak pelan dari rahangnya. "Ribuan email anonim masuk secara serentak ke seluruh kotak surel media nasional, lembaga antikorupsi, dan divisi kita. Isinya? Bukti-bukti transfer lepas pantai, rekaman suara rahasia, dan salinan putusan sidang yang direkayasa secara menjijikkan oleh Hakim Agung Setiawan. Tiga puluh menit setelah email itu meledak di dunia maya... ruang arsip tempat Setiawan menyimpan dokumen fisik aslinya terbakar habis."

Aku menatap layar televisi itu dengan napas tertahan. Otot bahuku menegang. "Apakah Setiawan sudah diamankan?"

"Diamankan?" Bram mendengus sinis, sebuah tawa kering yang terdengar putus asa. "Dia menghilang. Lenyap seperti hantu. Polisi sudah menggerebek rumah mewahnya di Menteng satu jam yang lalu, tapi tempat itu kosong melompong. Ajudannya bilang dia pergi terburu-buru dengan satu koper tepat setelah berita bocor subuh tadi. Sekarang media menuduh kepolisian sengaja melindunginya, sementara publik menganggap kebakaran itu adalah usahanya yang putus asa untuk memusnahkan sisa bukti."

Pikiranku berputar cepat, menyusun kepingan-kepingan puzzle yang sebelumnya terlihat acak.

Kematian Handoko Salim. Brankas baja yang dibobol tanpa merusak kuncinya. Trik ketangkasan tangan dan manipulasi psikologis di bar speakeasy. Dan sekarang, kehancuran Hakim Agung Setiawan dalam waktu satu malam.

"Ini bukan Setiawan yang membakar arsip itu, Bram," kataku pelan namun dipenuhi keyakinan mutlak. Aku melangkah mendekati mejanya, menumpukan kedua tanganku di atas tumpukan dokumen. "Pria bermantel di bar semalam. Pembunuh Handoko. Dia tidak hanya mengambil dokumen dari brankas untuk memeras. Dia menggunakannya sebagai amunisi murni."

Bram menatapku tajam. "Maksudmu pembunuh itu yang membakar pengadilan?"

"Kebakaran itu... itu adalah karya teatrikal, Bram," bisikku, merasakan hawa dingin merayap di tengkukku saat menyadari skala kejeniusan pelaku ini. "Dia membocorkan datanya ke media digital, lalu menghancurkan arsip fisiknya untuk memicu histeria massal. Dia ingin memastikan Setiawan tidak hanya dipenjara. Dia ingin pria itu dihancurkan secara sosial, kehilangan semua sekutunya, dan dipaksa lari seperti tikus got yang diburu. Pembunuh ini tidak hanya mencabut nyawa; dia menghancurkan kehidupan."

"Psikopat jenis apa yang merencanakan semua ini dengan skala sebesar ini?" Bram bergumam, menggelengkan kepalanya tak percaya.

"Seseorang yang memiliki dendam," balasku, menatap lurus ke arah Bram. "Atau seseorang yang sedang mengirimkan pesan ancaman kepada orang-orang yang posisinya jauh lebih tinggi dari Setiawan."

Bram menarik laci mejanya dengan kasar dan menyerahkan sebuah flashdisk perak berlogo kepolisian kepadaku. "Tim siber sedang berusaha melacak IP pengirim email tersebut, meski aku yakin bajingan itu menggunakan rute proksi berlapis dari luar negeri. Ini adalah salinan mentah dari data yang dibocorkan ke divisi kita semalam. Aku ingin kau mencari benang merahnya. Kenapa Setiawan? Kenapa Handoko? Cari kasus spesifik di masa lalu di mana kedua nama bajingan ini pernah bekerja sama."

Aku menerima flashdisk itu, merasakan logam dinginnya menekan telapak tanganku seolah memegang sebuah granat yang pinnya sudah ditarik. "Aku akan membongkarnya sampai ke akar."

Tiga jam kemudian, mataku terasa kering dan perih karena terus-menerus menatap pendaran layar monitor komputer di mejaku. Aku sudah mengisolasi diri, memakai pelantang telinga kedap suara untuk menenggelamkan riuh rendah teriakan di bullpen. Di sekitarku, puluhan detektif masih berlarian mengurus kekacauan Setiawan, tapi duniaku menyusut hanya sebesar layar monitor ini.

Data yang dibocorkan oleh si pelaku—atau sang 'Joker', seperti yang mulai diam-diam dibisikkan oleh beberapa detektif forensik karena kartu yang ditinggalkannya di dada Handoko—sangat masif namun tersusun dengan presisi algoritmik yang menakutkan. Ini bukan sekadar tumpukan dokumen acak; ini adalah sebuah katalog dosa.

Aku menggunakan perangkat lunak analitik kepolisian untuk mencari persimpangan data antara Handoko Salim (sebagai pengacara pembela korporat) dan Hakim Setiawan (sebagai hakim ketua). Ada belasan kasus korporat yang mereka tangani bersama selama dua dekade terakhir. Sebagian besar adalah sengketa tanah bernilai triliunan, pembebasan pajak ilegal, dan penipuan saham raksasa.

Namun, aku mencari anomali. Pembunuhan Handoko terlalu teatrikal untuk sekadar balas dendam urusan tanah. Pelaku kita menargetkan rasa sakit yang personal.

Jari-jariku mengetikkan beberapa kata kunci spesifik di bilah pencarian: Kematian, Forensik, Asuransi, Kejanggalan.

Mesin pencari internal memproses perintahku. Lima detik yang terasa seperti selamanya berlalu. Layar berkedip, menyaring ratusan halaman menjadi satu folder tunggal yang disandikan dengan tingkat keamanan rendah. Si pembocor seolah sengaja meletakkan folder ini sedikit lebih tersembunyi, seperti remah roti beracun yang menunggu untuk ditemukan oleh detektif yang benar-benar mencari.

Aku menekan tetikus, membuka folder tersebut.

Darahku mendadak terasa membeku di pembuluh nadinya. Tanganku yang memegang tetikus berhenti bergerak saat membaca judul dokumen pertama yang terpampang dalam huruf tebal di layar.

Kasus No. 049/Pid.B/2014 - Vanguard Group.

Vanguard Group.

Perusahaan ayahku. Nama yang selalu berusaha kuhindari setiap kali aku mengenakan seragam dan lencana kepolisian ini. Nama yang membuatku dipandang sinis oleh rekan-rekanku saat aku pertama kali masuk akademi, menganggapku hanya putri manja konglomerat yang sedang bermain polisi-polisian.

Dengan tangan yang kini mulai sedikit bergetar, aku mengeklik buka dokumen PDF tersebut. Itu adalah salinan berkas pengadilan yang seharusnya sudah disegel permanen oleh kejaksaan. Di dalamnya terdapat laporan forensik, keterangan saksi, dan putusan akhir Hakim Setiawan mengenai kecelakaan mobil fatal yang menewaskan seorang direktur keuangan Vanguard Group sepuluh tahun lalu.

Nama direktur itu adalah Adrianus Wiratama.

Ingatanku langsung terlempar mundur, ditarik paksa ke satu dekade silam. Aku masih remaja saat itu, tapi aku mengingat atmosfernya dengan sangat jelas.

Rumah mewah kami di Menteng dikelilingi wartawan selama berminggu-minggu. Ayahku mengurung diri di ruang kerjanya yang gelap, melarang siapa pun masuk. Berita di televisi tanpa henti menayangkan bangkai mobil sedan hitam yang hangus terbakar di dasar jurang, menuduh Adrianus menggelapkan dana dua triliun rupiah dan memilih bunuh diri bersama istrinya dengan menabrakkan mobil karena tidak tahan menanggung malu.

Tapi dokumen yang ada di hadapanku sekarang menceritakan narasi yang jauh lebih gelap. Sebuah narasi yang membuat isi lambungku seolah diaduk dengan pisau.

Di layar, terpampang bukti mutasi rekening dari sebuah perusahaan cangkang milik Vanguard Group ke rekening lepas pantai atas nama istri Hakim Setiawan. Tanggal transfernya... tepat satu hari sebelum putusan pengadilan yang menyatakan kematian Adrianus murni bunuh diri dan menutup kasus penggelapan dana tersebut.

Lalu, ada sesuatu yang jauh lebih memberatkan. Sebuah memo internal rahasia berlogo Vanguard yang ditandatangani oleh Handoko Salim, menyarankan kepada dewan direksi agar "masalah audit Adrianus" diselesaikan dengan "metode intervensi permanen di jalan tol".

Aku berhenti bernapas.

Ayahku... Handoko... Setiawan. Mereka tidak sekadar berkonspirasi untuk mencuci uang. Mereka tidak hanya merusak nama baik Adrianus.

Mereka membunuhnya. Ayahku memberikan lampu hijau untuk membakar pria itu dan istrinya hidup-hidup.

Napas di paru-paruku terasa sesak, seolah ada sabuk besi yang mengikat tulang rusukku semakin erat. Rasa mual yang pekat dan asam mengaduk lambungku hingga aku harus menutup mulutku dengan punggung tangan. Aku selalu tahu ayahku adalah pria bisnis yang kejam, predator di meja rapat. Tapi pembunuhan terencana berdarah dingin?

Tanganku mencengkeram tepi meja kerjaku hingga persendian buku-buku jariku memutih dan kaku. Realitas tentang siapa ayahku sebenarnya—bahwa kemewahan hidupku dibayar dengan nyawa keluarga orang lain—menghantamku layaknya kereta barang yang melaju tanpa rem.

Aku memaksa mataku yang mulai berkaca-kaca untuk terus membaca halaman demi halaman, menyiksa diriku sendiri dengan kebenaran yang memuakkan ini. Aku adalah detektif. Aku harus melihat fakta secara objektif.

Siapa yang paling diuntungkan dari kehancuran Setiawan dan Handoko hari ini? Siapa yang memiliki motivasi terkuat untuk membalas dendam dengan tingkat kebencian dan teatrikal yang begitu sistematis? Pelaku kejahatan selalu memiliki motif primal.

Aku menggulir dokumen tersebut dengan cepat ke halaman paling bawah. Lembaran terakhir itu berisi profil riwayat hidup korban dan daftar ahli waris yang ditinggalkan. Mata panah kursor berkedip-kedip di samping sebuah paragraf kecil yang membahas status keluarga Adrianus.

Ahli Waris Utama: Nama: Arlan Wiratama (Anak Kandung) Usia saat insiden: 18 Tahun. Status: Hilang dari panti asuhan satu minggu setelah pemakaman korban. Keberadaan saat ini tidak diketahui (Diduga hidup menggelandang).

Jantungku berhenti berdetak selama satu detik penuh. Waktu seolah melambat hingga titik nadir. Suara bising orang-orang berteriak di dalam ruangan divisi pembunuhan ini sepenuhnya menguap dari kesadaranku, digantikan oleh denging bernada tinggi yang menyakitkan telinga.

Aku menatap nama itu. Huruf demi hurufnya seakan menyala kemerahan, membakar retinaku.

Arlan.

Bukan nama yang tidak umum, bisik logika di kepalaku yang putus asa, mencoba membangun tembok penyangkalan yang rapuh. Ada ribuan pria bernama Arlan di Jakarta. Ada puluhan orang yang mungkin ingin membalas dendam pada Vanguard. Ini hanya kebetulan nama.

Namun, memori adalah pengkhianat terburuk. Pikiranku secara otomatis menghubungkan potongan-potongan observasi yang kulakukan sejak malam pertama penemuan mayat Handoko.

Aku teringat pada pria yang duduk di booth gelap di bar The Obsidian semalam. Suara baritonnya yang tenang, yang menjanjikan kematian hanya dengan bisikan.

Dan yang paling krusial... aku teringat pada trik koin di tangannya. Koin perak yang menari memutari buku-buku jarinya dengan keluwesan supernatural. Sebuah ketangkasan tangan tingkat tinggi yang membutuhkan ribuan jam latihan sendirian. Keterampilan yang hanya bisa dikuasai oleh seseorang yang menghabiskan waktunya dalam isolasi absolut, tanpa memiliki kehidupan sosial. Seseorang yang terbuang dan merencanakan sesuatu yang besar.

Aku menggeser mouse komputerku dengan gerakan cepat. Tanganku membimbing kursor ke kotak perangkat lunak pengenalan wajah (Facial Recognition & Age Progression Software) milik departemen kepolisian.

Aku mengunduh pasfoto hitam-putih dari berkas dokumen tua tersebut. Itu adalah foto remaja berusia delapan belas tahun. Arlan Wiratama. Wajahnya kurus, tatapannya kosong, dengan rambut yang sedikit berantakan. Ia difoto untuk keperluan dokumen administrasi sebelum ayahnya terbunuh.

Aku memasukkan foto itu ke dalam software. Aku mengetikkan perintah untuk memanipulasi struktur tulang, kepadatan otot, dan penuaan seluler, menambahkan waktu sepuluh tahun ke wajah remaja itu.

Processing... 10%... 45%... 80%...

Sebuah bar pemuatan berjalan perlahan di layar, menyiksaku dengan antisipasi. Otot rahangku mengeras sedemikian rupa hingga terasa ngilu.

100%. Rendering complete.

Layar berkedip. Sebuah wajah pria dewasa muncul di layar.

Rahangnya yang dulu rapuh kini terbentuk tegas dan bersudut tajam, mengeras oleh waktu dan penderitaan. Garis alisnya lurus, menaungi sepasang mata cokelat gelap yang... meskipun ini hanya hasil render komputer... terlihat begitu dingin dan mati. Hidungnya lurus, dan bibirnya memiliki ketebalan yang membentuk garis lurus tanpa kompromi.

Itu dia.

Wajah pria dewasa di layar komputerku sangat identik dengan siluet kasar dari pria yang kulihat sekilas di bawah lampu jalan yang redup, dan struktur wajah yang tersembunyi di balik bayangan topi fedora di bar The Obsidian semalam.

Pria bermantel yang menyebar teror dan meracuni Handoko tanpa menyentuhnya. Pria yang memanipulasi seluruh aparat kepolisian dan media hari ini. Pria yang suaranya di bar malam itu menggetarkan bulu kudukku.

“Ketakutan adalah emosi bagi mereka yang memiliki sesuatu untuk dihilangkan... sedangkan saya sudah kehilangan segalanya.”

Suara bariton sang Joker kembali menggema di kepalaku, menyapu bersih sisa-sisa penyangkalanku.

Air mata panas tiba-tiba berkumpul di pelupuk mataku, bukan karena kesedihan, melainkan karena syok emosional yang mengoyak batas-batas rasionalitasku hingga ke akar. Napasku tersengal berat. Dinding pembatas antara kasus kriminal paling mematikan yang sedang kutangani dengan dosa masa lalu keluargaku sendiri baru saja runtuh tak bersisa.

Sang Joker bukanlah musuh tanpa wajah dari antah berantah. Dia adalah hantu masa lalu yang diciptakan oleh keserakahan ayahku sendiri. Dia adalah anak laki-laki yang hidupnya direnggut sepuluh tahun lalu, yang kini kembali sebagai dewa kematian.

Aku menyentuh layar monitor komputermu, membelai wajah pria hasil render itu dengan ujung ibu jari yang bergetar hebat. Rasa dingin es menjalar dari ujung kaki hingga ke tengkukku, mengunci suaraku di tenggorokan. Jika tebakanku benar, ayahku adalah target puncaknya. Dan pria bernama Arlan ini tidak akan berhenti sebelum seluruh kekaisaran Vanguard rata dengan tanah.

Aku harus menemukannya. Aku harus melihat matanya secara langsung. Sebelum dia menemukan ayahku. Atau lebih buruk lagi... sebelum dia menghancurkan seisi kota ini.

"Arlan..." bisikku pada wajah di layar itu, suaraku pecah oleh kengerian yang tertahan. "Apakah itu kau?"

1
Emi Widyawati
bagus bangeeetttt. cerita beda dengan yang lainnya. baca novel tapi serasa liat film. bagus banget Thor. lup u sak kebon 😘
Misterios_Man: banyakin likesnya dong biar popularitasnya naik, gratis kok hehehe.
total 2 replies
Ainun masruroh
semangat 💪
Misterios_Man: Ok kak nice dream ya,, jangan lupa ikuti novelnya heheh.
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!