Ren Abraham, seorang anak laki-laki yatim piatu bertekad untuk menjadi kuat setelah desanya di hancurkan oleh para penyembah iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pendeta Merah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman
Di saat Ren akan meninju wajah anak laki-laki di depannya, tiba-tiba angin muncul dan menahan gerakannya.
" Perkelahian di larang di akademi "
Seorang pria dengan pakaian serba hitam muncul di samping, dia muncul begitu saja disana, wajahnya tegas dengan luka di pipinya.
" Profesor Alfred, orang inilah yang memulai, dia tiba-tiba datang dan memukul teman..."
Sebelum anak laki-laki itu selesai dengan kata-katanya, pria bernama Alfred, muncul di depannya dan langsung menampar wajahnya.
" Jangan kira aku tidak tahu, kalianlah yang pertama kali membuat masalah dengan gadis itu "
Eden mundur ketakutan, dia tahu jika Alfred berada di tempat yang lebih tinggi daripada orang yang dia layani.
Sedangkan untuk Ren, dia akhirnya bisa bergerak lagi, dia sangat penasaran bagaimana Alfred mengendalikan angin dengan begitu halus.
Anak laki-laki itu mendecakkan lidahnya, dia tidak percaya ada orang yang berani untuk memukulnya.
' Hanya karena menjadi profesor, beraninya kau rakyat biasa sepertimu menamparku! '
Melihat ekspresi anak laki-laki itu, mata Alfred berubah dingin, dia tahu jika anak laki-laki di depannya masih belum menyadari kesalahannya.
" Meski begitu aturan tetap harus di jalankan dengan benar, orang ini harus di beri hukuman karena sudah memukulku, setidaknya itu merupakan pengeluaran! "
Alfred tetap tanpa ekspresi, inilah salah satu bagian merepotkan dari menjadi seorang profesor, terkadang ada seorang anak yang memiliki otak miring, bukan satu atau dua kali Alfred berurusan dengan sesuatu semacam ini, jika dia hitung jumlahnya mungkin sudah melebihi lima puluh!
" Dasar bodoh, aturan no 34 akademi menyebutkan jika perkelahian di perbolehkan dalam keadaan tertentu seperti melindungi diri sendiri dan rekan "
" Jika kau hanya membaca sampai 20 dan berpikir akan baik-baik saja selama tidak ada profesor yang melihat, itu artinya kau adalah orang yang sangat bodoh! "
Melihat ekspresi tuanya, Eden berkeringat dingin, jika tuanya terkena masalah dia pasti juga akan ikut kena, soalnya sesuatu yang terhubung akan saling menarik.
Ren melihat ekspresi Eden, sangat menyenangkan melihat si sombong itu ketakutan.
" Kuh..."
" Tidak ada tapi-tapi, kalian bertiga datanglah ke kantor untuk hukuman kalian "
Melihat wajah serius Alfred, anak laki-laki itu mendecakkan lidahnya, lalu pergi meninggalkan Eden dan temannya yang pingsan.
Alfred menghela nafas kecil lalu melihat kearah Ren" Siapa namamu? "
" Ren Abraham "
" Kerja bagus "
Setelah itu Alfred menghilang, meninggalkan Ren dan Eden.
" Hahh..."
Ren menghela nafas lega, dia senang karena Alfred bukanlah penganut supremasi aristokrat seperti Demor, dia akan berada dalam masalah jika Alfred mirip Demor si goblin.
Tidak peduli dimanapun dirimu berada, baik dan jahat pasti ada, keduanya adalah sesuatu yang tidak bisa di pisahkan.
Ren melihat gadis yang menjadi korban, dia terlihat khawatir, mungkin karena dia berpikir jika anak laki-laki yang menyerangnya akan datang lagi untuk balas dendam.
Setelah itu Ren melihat kearah Eden, dia terlihat bingung.
" Apa yang kau lakukan, cepat bantu temanmu itu "
" Ah? "
Ren pergi mengambil jasnya, pergi meninggalkan lapangan latihan.
••• ••• ••• •••
Asrama, malam hari.
Berbaring di atas kasurnya, Ren menatap telapak tangannya.
Setelah dia tiba di asrama, dia langsung mencuci seragamnya dan menaruhnya di alat sihir yang dapat mengeringkan pakaian.
Eden kembali setelah menjalani hukumannya, ternyata hukuman yang dia terima adalah berlari mengitari lapangan seratus kali, hukumannya lebih ringan dari kedua anak laki-laki itu karena dia hanya mengikuti mereka.
Sikapnya terhadap Ren berubah, sekarang Eden sedikit takut dengan Ren, dia tidak pernah menyangka jika Ren juga bisa marah, sikap Ren yang rendah hati membuatnya berpikir jika Ren itu penakut.
Sedangkan untuk kedua siswa yang menyerang gadis waktu itu, Ren tidak tahu hukuman seperti apa yang mereka dapatkan.
' Waktu itu...kenapa aku langsung bisa memanipulasi Aura...'
' Apa karena aku berbakat? '
Ren tiba-tiba teringat kembali kata-kata pamannya, orang yang telah memberikannya beasiswa untuk masuk ke akademi Stella.
' Daripada sihir, bakatmu lebih ke mengayunkan pedang...'
' Hm...bisa juga ini ada hubungannya dengan Leakage Sindrom, Trait ini mungkin masih memiliki kelebihan yang belum aku ketahui...'
Sekarang, Ren mulai penasaran dengan Leakage Sindrom, dia ingin mengetahui lebih banyak tentang Trait ini.
Aura berwarna biru terkonsentrasi di tangan Ren, alih-alih menggunakannya untuk memperkuat tangannya, Ren ingin menjadikannya sebuah senjata.
Cahaya biru itu membentuk sebuah bilah pisau di tangan Ren, dia tidak pernah menyangka jika dia akan berhasil dalam satu kali percobaan.
' Benar-benar sangat mudah, mungkinkah Aura memang mudah untuk di kendalikan? '
' Hahh...asal aku memiliki pedang saat ini, pasti akan kucoba Aura ini padanya! '
Mendengar suara Geri dan Boris di luar, Ren segera menghilangkan Aura di tangannya lalu bangkit.
Pintu terbuka, Geri, Boris, dan Petru masuk kedalam kamar.
" Masih belum tidur? " Tanya Boris.
Ren menggelengkan kepalanya" Aku masih belum mengantuk, kenapa memangnya? "
" Tidak ada... ngomong-ngomong, aku merasa ada yang salah dengan Eden hari ini, apa kau tahu sesuatu Ren? "
" Tidak ada, aku hanya memukul wajah temannya karena membully seseorang "
Geri terkejut" Serius...pantas saja dia terlihat menghindarimu "
" Hahaha...pukulan seperti apa yang kau berikan pada temannya hingga membuat si sombong itu ketakutan! "
Petru menatap Ren dengan wajah bermasalah, mungkin dia khawatir dengan Ren.
" Apa itu akan baik-baik saja, meskipun kau berbuat baik tapi kau tetap saja melanggar peraturan "
Ren tersenyum" Tidak masalah, teman-teman Eden melakukannya tepat di depan mata Profesor, aku bisa lolos karenanya "
" Hahaha...di depan profesor, apa orang-orang itu bodoh? "
" Hahaha!! "
Setelah itu, Ren mengobrol bersama yang lain sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi tidur, sama seperti hari-hari sebelumnya, dia tidak ingin terlambat.
••• ••• ••• •••
Pagi hari.
Hari ini Eden tidak banyak bicara, yang membuat Geri, Boris, dan Petru tersenyum tanpa sadar, ketiganya sama-sama muak dengan sikap Eden.
Setelah selesai memakai seragamnya, Ren keluar dari kamar" Aku duluan "
" Oke! "
Ren berjalan keluar dari asrama, pergi menuju gedung kampus bersama yang lainnya.
Saat dia melihat ke atas, dia menyadari jika tidak ada awan sama sekali di langit, karena ini hanyalah fenomena biasa jadi Ren tidak mempedulikannya.
' Daripada itu...kenapa aku merasa jika orang-orang menjauhiku...'
Orang-orang di sekitar Ren menjaga jarak darinya, hanya ada beberapa saja yang bersikap normal.
' Mungkin ini hanya perasaanku saja '
Itulah yang awalnya Ren pikirkan, setibanya dia di gedung kampus, jumlah orang yang menjauhinya bertambah, beberapa dari mereka bahkan merupakan seorang profesor.
' Ada yang tidak beres... bisakah hal ini menjadi ulah dua anak laki-laki kemarin? '