Dikhianati. Ditinggalkan. Dipisahkan dari anaknya.
Sekar kehilangan segalanya karena cinta yang mendua.
Saat ia bangkit dan menemukan dirinya kembali, seseorang dari masa lalu hadir, membawa kesempatan kedua yang tak pernah ia duga.
Tapi setelah semua yang terjadi
masih beranikah Sekar mencintai lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
Sehari setelah perceraian, rumah yang dulu penuh tawa dan canda kini terasa asing. Sekar menatap pintu rumahnya yang kini terkunci untuknya, merasakan setiap sudut penuh kenangan pahit yang ditinggalkan. Ia menahan rasa sakitnya, karena Sea, putrinya masih ada di dunia Aji, dan itu yang membuat hatinya hancur paling dalam.
Di luar rumah, dunia seolah berjalan normal, tapi bagi Sekar, waktu berhenti.
Malam-malamnya dipenuhi mimpi buruk tentang Aji dan Mila, tentang rumah yang dulu menjadi miliknya, dan tentang putri kecilnya yang kini menjadi tanggung jawab orang lain. Ia mencoba menangis, tapi air mata tak datang; tubuhnya terasa hampa.
Pada akhirnya, Sekar memutuskan untuk menemui Lita. “Aku… tidak merasa apa-apa,” ujarnya dengan suara nyaris berbisik. “Saya tidak bisa menangis, tidak bisa marah, bahkan tidak bisa sedih.”
Lita menatapnya dengan serius. “Itu tanda trauma mendalam. Kamu sedang mengalami kehilangan yang tidak hanya fisik, tapi juga emosional. Rasa hampa itu wajar, tapi kita bisa bekerja untuk membukanya kembali.”
Di kantor, Sekar tidak bisa lagi menatap Mila tanpa merasa mual. Bidang pekerjaan yang dulu dicintainya kini menjadi sumber luka; setiap proyek mengingatkannya pada masa lalu, pada pengkhianatan yang dirasakannya, pada putrinya yang diambil paksa. Ia resign, meninggalkan semua yang pernah ia bangun bersama Aji.
Tetapi di tengah kehancuran itu, ada secercah tekad. Sekar tahu ia harus kuat demi Sea. Ia mulai merencanakan langkah-langkah kecil untuk suatu hari bisa membawa putrinya kembali. Meski hatinya remuk, ia belajar bahwa kekuatan bukan berarti tidak menangis, tapi tetap bergerak meski terluka.
***
Malam itu, hujan rintik-rintik menutupi jalanan sempit menuju rumah Aji. Sekar berdiri di balik pagar tinggi, menatap cahaya hangat yang memancar dari jendela kamar Sea. Hatinya hancur, tapi ia tak bisa berhenti datang. Ia hanya ingin melihat putrinya, walau hanya dari kejauhan.
Tiba-tiba, Sea muncul di balkon kecil, memegang boneka kesayangannya. Mata kecilnya langsung menangkap sosok ibunya.
“Ibu…?” Suara Sea nyaris berbisik, penuh rindu.
Sekar menelan air matanya, suaranya tercekat. “Sea… iya, Bu… Ibu di sini…”
Mereka hanya bisa berjarak beberapa meter, tapi dunia terasa terbalik. Sea menoleh, menggenggam tangan bonekanya, dan berkata lirih, “Aku kangen Ibu… kenapa Ibu nggak tinggal sama aku lagi?”
Sekar menunduk, menahan tangis yang menumpuk begitu lama. “Ibu… nggak bisa sekarang, sayang… tapi Ibu janji, Ibu akan selalu ada buat Sea.” Kata-kata itu pecah di bibirnya, tapi air mata tetap enggan turun. Ia hanya memeluk udara, membayangkan memeluk putrinya.
Sea melangkah lebih dekat, tapi pagar itu menghalangi. “Aku mau sama Ibu… jangan tinggalin aku sama Ayah!” Suara kecil itu menusuk hati Sekar seperti belati. Ia ingin menerobos pagar itu, memeluk Sea erat, tapi satu ancaman Aji masih menghantui: jika ketahuan, Sea akan benar-benar diambil darinya.
Sekar menunduk lagi, hanya bisa mengusap rambut putrinya dari kejauhan. “Ibu sayang Sea… Ibu akan kembali… suatu hari nanti…” Ia menatap mata Sea yang mulai berkaca-kaca, dan untuk pertama kalinya sejak perceraian, air matanya menetes perlahan, jatuh di hujan yang dingin.
Mereka berdua berdiri diam, satu di sisi pagar, satu di sisi dunia yang seolah terpisah selamanya. Hanya rindu dan cinta yang tak terucap yang mengisi ruang itu, dan Sekar tahu, meski hatinya remuk, ia harus bertahan demi bisa membawa Sea kembali ke pelukannya.
***
Beberapa malam setelah pertemuan diam-diam itu, Sekar duduk di kamar gelap, hanya diterangi lampu kecil di meja. Ia menatap foto Sea, matanya masih sembab karena menangis diam-diam di bawah selimut. Setiap tawa kecil putrinya terngiang di telinganya, setiap pelukan yang hilang terasa menusuk jantungnya.
“Aku nggak bisa biarin Sea terus di sana, tapi harus hati-hati,” bisiknya pada diri sendiri. Sekar tahu, satu langkah salah, Aji bisa menghancurkan kesempatan terakhirnya untuk bersama Sea. Ia mulai menulis rencana, sederhana tapi penuh risiko.
Sekar mencatat jam sekolah, jadwal mandi, waktu Aji bekerja, dan setiap momen Sea sendirian di rumah. Mencari celah, jalan keluar atau balkon kecil tempat mereka bisa bertemu diam-diam tanpa diketahui Aji.
Sekar memutuskan akan mengenakan pakaian gelap, menutup wajahnya agar tak mudah dikenali. Ia bahkan membeli beberapa set cadar. Jika ketahuan, ia harus cepat mundur, meninggalkan jejak seminim mungkin agar Aji tidak menaruh curiga. Sekar juga dibantu tetangga sebelah rumahnya untuk melancarkan pertemuan dengan Sea sebab rumah yang bersebelahan bisa jadi akses Sekar bertemu putrinya.
Malam itu, Sekar kembali. Hujan sudah reda, tapi tanah masih basah. Ia menempel di bayangan, menunggu Sea muncul seperti sebelumnya. Sea muncul, membawa boneka yang sama. Sekar tersenyum tipis, menahan haru.
“Sea… ibu di sini lagi,” bisiknya pelan.
Sea tersenyum, tapi matanya masih bersinar cemas. “Ibu… kapan aku bisa sama Ibu lagi?”
Sekar menunduk, hampir menangis. “Ibu nggak bisa sekarang… tapi Ibu lagi nyiapin semuanya. Suatu hari nanti, kita bakal sama-sama lagi, ya?”
Malam itu, Sekar pulang dengan tekad membara. Hatinya hancur, tapi perasaannya untuk Sea lebih kuat dari rasa takut. Ia tahu jalannya berbahaya, tapi ia siap menempuh segala risiko demi putrinya. Setiap langkah, setiap perhitungan, Sekar membuat rencana untuk mencuri kembali Sea dari dunia Aji—dunia yang kini terasa begitu dingin dan menyesakkan.
***
Kabar itu datang tanpa peringatan, tanpa jeda, tanpa memberi ruang bagi Sekar untuk bersiap. Aji menikah siri dengan Mila. Kalimat itu begitu pendek, begitu sederhana, tapi dampaknya seperti menghancurkan seluruh sisa fondasi yang masih coba Sekar pertahankan dalam hidupnya.
Ia membaca pesan itu berulang kali, dari tetangga sebelah rumah lamanya, tempat Aji sekarang tinggal, menatap layar ponselnya dengan mata kosong, seolah jika ia cukup lama menatapnya, kenyataan itu akan berubah. Tapi tidak ada yang berubah. Tidak ada yang bisa diubah. Yang ada hanya satu kesadaran pahit, Aji benar-benar telah melanjutkan hidupnya, dan melakukannya dengan orang yang selama ini berada begitu dekat dengan Sekar.
Yang membuat Sekar hancur bukanlah rasa cemburu. Ia bahkan tidak punya ruang lagi untuk cemburu. Yang menghancurkannya adalah perasaan dihapuskan, digantikan, seolah ia tidak pernah berarti. Lebih dari itu, pikirannya langsung berlari pada satu sosok kecil yang paling ia cintai yaitu putrinya Sea.
Bagaimana anak itu memahami semua ini? Bagaimana ia mencerna kenyataan bahwa perempuan yang dulu hanya ia kenal sebagai “Mbak Mila”, yang mungkin pernah menggendongnya, tersenyum padanya sebagai bagian dari keseharian ibunya, kini tiba-tiba menjadi “ibu” di rumah yang sama? Sekar membayangkan kebingungan di mata Sea, pertanyaan-pertanyaan polos yang mungkin tidak pernah mendapatkan jawaban jujur, dan itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada pengkhianatan itu sendiri.
dan berulang terus kejadiannya.. dari Sekar di sakiti si Aji & Mila.. terus berusaha legowo demi kepentingan Sea.. dan terus aja MAU di manfaatin terus sama si Aji dan keluarga nya atas nama Sea.....
yg ada malah gampang di bodohin melulu 😤
Saat tersakiti, terus bangkit, tapi ujung-ujungnya mau aja terus di gituin lagiiii.... hadeuhhhh.. cape bacanya juga bolak-balik terus demi kepentingan nya Sea 🤦♀️🤣
.Damar 🤩🤗