Bianca berjalan seorang diri menyusuri taman yang mulai sepi pengunjung. Taman yang biasanya ramai lalu lalang orang-orang berolahraga lari ataupun jalan santai. Suasana dingin mulai menusuk kedalam jiwanya, Ia menengadahkan wajahnya ke langit yang terdapat beberapa bintang. Sesekali ia mengasihani dirinya sendiri, "Pekerjaan bagus,pendidikan bagus semua berjalan sesuai keinginan,tapi entah kenapa rasanya semua hampa.." gumamnya. "Bugh bugh bugh.." Terdengar suara pukulan tak jauh dari tempatnya berdiri,ia segera berlari sembunyi di salah satu pohon besar. "Aku ga salah denger kan,kaya ada yang sedang dihajar.." bathinnya dengan perasaan was-was. Hampir 10 menit ia duduk bersandar dibawah pohon tersebut,merasa aman dengan keadaan ia berjalan keluar sedikit berlari. "Tolonggg aakuuu.." Ucap seseorang dibalik semak-semak tak jauh dari tempat ia bersembunyi. "Astaagaaa.." "Kenapa ini..apa yang terjadii.." ucap bianca meraih tangan seseorang pemuda yang berjalan gontai menghampirinya. Pria tersebut langsung jatuh kepelukan bianca, Darah yang menetes dari sudut bibirnya menetes mengenai sisi bahu bianca.
Bab 6
"Apa maksud anda hah.."
"Saya kesini karna saya pikir ada pekerjaan penting yang ingin dibicarakan.."
Ucap bianca berbicara dengan nada kencang.
"Bianca..aku menyesali perbuatanku malam itu.."
"Biarkan aku menebusnya.." jonathan mencoba menjelaskan situasinya.
"Malam itu ada seseorang yang dengan sengaja memasukkan obat kedalam minumanku.
"Lalu jika bukan aku yang disitu kamu pasti akan tetap melakukan hal seperti itu dengan perempuan lain kan!"
"Sampah!!.."
"Engga bi..justru karna aku tau itu kamu.."
"Jadi akupun akan menebus kesalahanku.."
"Kesalahan apa yang telah kamu perbuat.."
"Kamu ingin menebusnya kan?.."
"Silahkan diulangi.."
Ucap bianca yang kini menyalakan ponsel miliknya dan merekam pembicaraan mereka.
"Maksud kamu apa ini.."
"Kenapa harus di rekam.." jonathan mengernyitkan dahinya.
"Kalau kamu ingin tanggung jawab ayo kita ke polisi.."
"Aku mungkin masih bisa melakukan tes visum.."
"Polisi?"
"Bianca,bukan itu maksudku.."
"Aku bersedia menikahimu.."
"Aku tidak bersedia!!"
Ucap bianca dengan suara lebih lantang lalu segera keluar dari ruangan jonathan.
"Sudah gila dia..untuk apa membahas hal seperti itu di tempat kerja.."
"Apa dia ingin semua orang tau betapa menjijikkannya dia.."
Bianca mulai meracau seorang diri di dalam toilet yang hanya ada dia sendiri.
Tok tok tok
"Apa ini bu bianca?.." ucap seseorang dari luar toilet persis di pintu tempat bianca berdiam diri.
"Ehm ehm..iyaa kenapa?"
"Apakah masih lama bu.."
"Diluar ada seseorang yang mencari anda,seingat saya namanya devan bu.." ucap seorang petugas kebersihan berdiri tepat di sebelah cermin sembari menatap bianca yang masih sibuk membereskan kancing kemejanya.
"Devan?.."
"Ga salah orang kan.."
"Engga bu..apa dia pacar anda.."
"Oh my god,ganteng sekali dia.." ucapnya sembari memegang kedua pipinya sendiri.
"Ehm.."
"Minta dia menungguku di resto bawah ya..bilang aja nanti aku menyusul.."
Jam makan siang terlewat,bianca masih termangu di depan layar laptopnya.
Sesekali ia berfikir apa yang diinginkan oleh devan, mengapa dia mendatangi tempatnya bekerka, dan bagaimana dia tau aku bekerja disini.
"Ssstt ssttt.."
"Biancaaaaaa.." suara reno yang bernada membuat bianca setengah sadar melemparkan pensil ke arahnya.
"Aaawww..sakit tauuuu.."
"Sorry sorry..lagian ngapain teriak-teriak begitu ih.." ucap bianca gemes.
Ia mendatangi reno lalu mengelus bagian pipi yang terkena pensil.
"Sakit tau.." ucap reno dengan nada manjanya.
"Uhh kasian..pensilnya.."
"Wleeeee.."
"Bianca!"
"Awas yaa.."
"Udah makan siang belum.."
Bianca hanya menggelengkan kepalanya,ia sendiri tidak menyadari bahwa jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 14:30.
"Astagaa aku kelupaan sesuatu.."
"Ren kalau ada yang mencariku bilang yaa aku sedang ada janji.."
"Bye..." ucap bianca meraih dompet dan ponselnya lalu berlalu meninggalkan reno.
Pov : jonathan
"Riana..saya baru berasa lapar.."
"Apa ada yang bisa di mintai tolong.."
"Mmm biasanya para ob sedang istirahat juga pak.."
"Tapi jika bapak mau saya bisa pesankan makanan online.."
"Bapak mau makan apa..." riana meraih ponselnya dan membuka aplikasi gofood.
"Engga ri..aku kebawah saja sendiri.." ucap jonathan berjalan meninggalkn meja kerja riana.
"Siang pak jo.." sapa reno.
"Dimana bianca ren.." sepertinya tidak ada di ruangan.
"Bianca bilang katanya dia ada janji..mungkin baru sekitar 10 menit yang lalu dia turun.." jelas reno dengan tatapan tetap fokus kearah layar laptopnya.
"Ok tengkyu"
Jonathan berjalan seorang diri kesebuah resto terdekat dengan kantornya,
Sesekali ia memutar matanya kekiri dan kanan berfikir apa yang menarik untuk ia makan.
5 menit beefikir kini ia sedang mengantri di meja kasir untuk melakukan pembayaran,
Namun matanya kini tertuju kepada sepasang manusia yang membuat tulang rahangnya mengeras.
Jonathan tidak jadi memesan makanan,ia hanya memesan 1 cup kopi panas dan membawanya ke rooftop yang ada di lantai 4.
Tuuuutt tuuuttt tuuttt
"Hallo.."
"Aku ada pekerjaan penting untuk kalian.."
"Siap bos.." terdengar suara seorang pria dari ponsel jonathan.
"Kalian cukup selidiki perempuan itu,dan cari tau siapa saja yang dekat dengannya.." ucap jo yang kini sudah mengirimkan foto bianca.