Seorang anak perempuan yang harus menjadi tulang punggung keluarganya. Putus sekolah, mencari pekerjaan sedangkan kakak laki-lakinya malah menjadi pengangguran dan mengandalkan adik perempuannya. Apakah amanda dapat terlepas dari keluarga yang memanfaatkan dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinnyaple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAGIAN 6
Di desa hari ini tidak seperti biasanya. Saat bangun tidur suara tetangga sudah terdengar di luar rumah.
"Tumben sekali sudah ramai orang." Ibu menyingkap gorden untuk melihat keadaan di luar.
Aku sudah siap berangkat kerja. Setelah berpamitan dengan ibu yang sekarang duduk di teras rumah.
Sepanjang jalan warga keluar rumah, aku tidak tau sebabnya.
Setelah keluar dari dalam gang aku melihat sebuah kendaraan berat disana. Apakah ini yang akan membangun toko itu?
"Pak alat berat buat apa sepagi ini sudah disini?" Aku bertanya pada pak wahyu, orang yang kemarin datang dengan bos muda pembeli tanah.
"Ini yang nanti bikin toko baru." Katanya sambil mengomando supir alat berat.
Aku mengangguk paham. Setelah berpamitan dengan pak wahyu aku kembali bergegas untuk ke warung.
Aku tak berniat bertanya lebih ke pak wahyu, karena dia sudah terlalu lama di jalan. Takutnya mba Nia sudah di warung lagi.
Syukurnya mba Nia baru sampai. Dia sedang menata sayuran yang baru dia beli dari pasar. Aku segera membantu. Memasukannya ke dalam warung untuk dicuci dan dipotong.
"Manda kamu lihat tadi sudah ada alat berat yang datang?"
Aku mengangguk. Paham kenapa para warga sudah ramai di jalanan. Mereka jarang melihat ada alat berat yang masuk ke desa.
"Kayaknya udah mulai deh pembagunan tokonya."
Setelah mba Nia berucap seperti itu, aku jadi teringat dengan kakakku. Apa mau dia ikut kerja pembangunan toko?
"Apa kakakku boleh ikut ya mba? Ikut kerja jadi tukang juga."
Mba Nia mengerutkan dahinya. "Mba kurang paham manda. Tapi apa mau kakakmu kerja begitu? Kemarin ditawari jadi pelayan di restoran katanya capek."
"Biarkan saja mba. Yang penting aku sudah usaha kasih kerjaan. Yang deket dari rumah pula."
Mba Nia mengangguk setuju. "Yasudah bener kalo kaya gitu."
Aku dan mba Nia melanjutkan pekerjaan kami masing-masing.
Memang sangat minim kakakku Toni mau menerima pekerjaan itu. Tapi kan semalam dia habis diceramahi oleh ibu. Jika dia tidak menerimanya apa iya ibu akan diam saja? Pasti akan diomeli lagi kan?
---
Hari ini aku pulang agak telat dari biasanya. Warung tiba-tiba ramai saat menjelang tutup. Padahal siangnya sepi. Mau tidak mau ya aku dan Mba Nia tutup lebih lama. Lumayan bukan untuk pemasukan hari ini.
Sampai di rumah, aku lagi-lagi mendengar suara ribut-ribut dari dalam. Ada apa lagi? Aku menggerutu dalam hati. Kenapa akhir-akhir ini jadi sering ada keributan di rumah.
Aku membuka pintu pelan. Mengucapkan salam pun aku dengan pelan. Tau pasti tidak ada yang menjawab karena setelah aku membuka pintu pun ibu dan kakakku masih asik ribut.
"Kamu yang akhir-akhir ini bikin masalah terus Toni!"
"Cuma minta beliin hp baru bu! Hp ku udah jadul! Malu sama temen-temen."
Kak Toni mengangkat ponselnya ke hadapan ibu.
"Malu? Harusnya kamu lebih malu karena jadi pengangguran." Ibu menunjuk-nunjuk wajah kakakku.
Aku diam mematung. Seperti kakiku enggan pergi dari tempat ini.
Prang..
Kam Toni melempar ponselnya ke lantai. Lalu tak lama menendang kursi yang tepat di sampingku dengan keras.
Tentu aku terkejut. Aku mundur. Takut jika aku juga kena amukannya.
"Banyak temenku yang masih belum kerja bu! Tapi orang tuanya ga secerewet ibu." Kak Toni berkata pelan. Membuat ibu menjadi diam.
"Sekarang hpku rusak! Ibu harus ganti. Secepatnya!" Setelah mengatakan itu, kakakku melangkah pergi. Bukan ke kamarnya tapi keluar rumah.
Ibu berlari menyusul kak Toni. Menangis dihadapan nya. Aku lihat kak Toni hanya memandang sekilas wajah ibu lalu kembali pergi.
Sebenernya melihat ibu sampai menangis begitu membuatku ikut sedih juga. Tapi aku bisa apa? Dia menangis juga karena kakaknya.
"Kamu lihat kan manda." Ucap ibu masih menangis dihadapanku.
Aku menutup pintu. Takut ada tetangga yang lihat.
"Kakakmu minta hp baru. Ibu ga ada uang." Ibu mengelap bekas air matanya dengan punggung tangan.
"Udah bu ga usah nangis." Aku berusaha menenangkan. Canggung pasti. Karena dari kecil aku tak terbiasa dekat dengan ibu. Aku lebih dekat dengan ayahku.
"Toni pergi manda! Gimana ibu bisa tenang."
Akupun bingung harus melakukan apa. Memang ini pertama kalinya kak Toni marah dan pergi dari rumah. Biasanya hanya pergi di kamar dan mengurung diri.
"Ibu ga punya uang."
Lagi. Ibu bilang tidak punya uang. Dalam hatiku bagaimana punya uang kalau kerja saja tidak.
"Nanti manda usahakan buat beli hp kak Toni bu. Tapi manda juga butuh waktu karena ibu tau sendiri hp ga seratus dua ratus harganya. Kecuali kakak mau hp yang seken." Jawabku panjang lebar. Aku tau ibu ingin jawaban seperti ini.
"Apa ga makin marah kakakmu nanti kalau dibeliin yang seken?"
Aku mengedikkan bahuku. "Semampuku nanti bu. Kalau kak Toni mau yang cepat ya dia harus mau aku belikan yang seken. Kalau bisa sabar nanti baru bisa beli yang baru."
Ibu memegang kepalanya. "Aduh manda. Kamu yang bilang ke kakakmu ya nanti. Ibu pusing sekali rasanya." Ibu meninggalkanku.
Aku menghembuskan nafasku berat. Pengeluaran lagi. Kataku dalam hati.