NovelToon NovelToon
Darah Di Atas Putih

Darah Di Atas Putih

Status: tamat
Genre:Sistem / Romansa Fantasi / Action / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: iinayah

Arkan Pemimpin organisasi mafia "The Void". Dingin, efisien, dan tidak mempercayai cinta karena masa lalunya yang kelam. Baginya, wanita adalah kelemahan yang tidak perlu ada di dunianya.
​Liana Seorang gadis dari keluarga sederhana yang hangat. Hidupnya hancur saat keluarganya tewas dalam sebuah insiden berdarah. Ia lembut namun memiliki tekad baja untuk membalas dendam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ruang Bawah Tanah yang Berbisik

Malam semakin larut, namun kantuk tak kunjung datang bagi Liana. Kata-kata Arkan di samping tempat tidurnya tadi terus bergema—sebuah permintaan maaf yang terdengar tulus, namun mustahil untuk dimaafkan. Liana bangkit dari tempat tidur, telapak kakinya yang dingin menyentuh lantai marmer yang mewah.

​Dua pengawal berdiri tegak di depan pintunya, tapi Liana tahu ada jalan lain. Sebagai pelayan yang bertugas membersihkan setiap sudut, ia menemukan sebuah pintu kecil di balik lemari linen yang terhubung dengan saluran binatu tua. Dengan gesit, ia meluncur turun menuju lantai dasar, tujuannya hanya satu: mencari bukti yang lebih konkret.

​Ia menyelinap ke arah dapur, namun langkahnya terhenti di depan sebuah pintu besi berat yang biasanya tertutup rapat. Malam ini, pintu itu sedikit terbuka—mungkin Baron lupa menguncinya karena kepanikan tadi sore. Liana masuk ke dalam, menuruni tangga beton yang lembap.

Mengira akan menemukan ruang penyiksaan atau gudang senjata ilegal. Namun, apa yang ia temukan di bawah sana membuat napasnya tertahan.

​Ruangan itu luas, diterangi lampu neon redup. Di sepanjang dinding, terdapat rak-rak kayu besar yang penuh dengan arsip. Liana mendekati salah satu rak bertuliskan "Sektor Selatan - 2016". Itu adalah tahun di mana rumahnya terbakar.

​Dengan tangan gemetar, ia membuka salah satu map. Di dalamnya bukan berisi rencana penghancuran, melainkan daftar nama-nama warga yang rumahnya terbakar, lengkap dengan jumlah uang yang dikirimkan secara anonim ke rekening mereka setiap bulan selama sepuluh tahun terakhir.

​Di urutan ketujuh, ia melihat namanya sendiri.

​Penerima: Liana Putri. Status: Anonim. Sumber Dana: Rekening Pribadi A.D. (Arkan Dirgantara).

"Apa ini?" bisik Liana tak percaya. Air mata mulai menggenang. Selama sepuluh tahun ini, ada kiriman uang misterius ke rekening sekolahnya yang ia pikir adalah beasiswa dari pemerintah. Ternyata itu dari Arkan?

​Liana terus mencari. Di sudut ruangan, ada sebuah meja tua dengan sebuah kotak beludru hitam yang sudah berdebu. Ia membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah pemantik perak yang sudah rusak, hangus di satu sisi, dan sebuah foto kecil seorang wanita yang sama dengan yang ia lihat di ruang kerja Arkan.

​Di balik foto itu tertulis: "Ibu, aku tidak sanggup menyalakan apinya lagi. Maafkan aku karena harus menjadi monster untuk menghentikan monster yang lebih besar."

​"Sedang apa kau di sini?"

​Suara itu datang dari kegelapan di balik pilar. Liana tersentak hebat hingga menjatuhkan kotak itu. Arkan muncul, wajahnya tampak sangat lelah, matanya merah karena kurang tidur. Ia tidak memegang pistol, hanya sebuah botol wiski yang setengah kosong.

Liana tidak mencoba berakting kali ini. Ia mengangkat kertas daftar nama itu tinggi-tinggi. "Apa ini, Tuan Arkan? Kenapa namaku ada di sini? Kenapa kau mengirimkan uang pada keluarga yang kau hancurkan?!"

​Arkan berjalan mendekat, langkahnya sedikit goyah. Ia menatap kertas itu, lalu menatap Liana dengan senyum getir. "Kau sudah tahu rupanya. Ana... atau haruskah kupanggil Liana?"

​Jantung Liana seolah berhenti. "Kau... kau tahu siapa aku?"

​"Aku tahu sejak hari pertama kau menginjakkan kaki di mansion ini," jawab Arkan pelan. Ia bersandar pada rak arsip. "Hanya ada satu orang yang memiliki tatapan penuh kebencian seperti itu. Gadis yang berdiri di depan rumah terbakar sepuluh tahun lalu. Aku tidak pernah melupakan matamu."

​Liana merasa dikhianati oleh rencananya sendiri. "Lalu kenapa kau membiarkanku masuk? Kenapa kau tidak membunuhku saja?!"

Karena aku ingin kau melakukannya," Arkan meletakkan botol wiskinya dan berjalan mendekat hingga dadanya menyentuh ujung pisau lipat yang tiba-tiba dikeluarkan Liana. "Aku ingin kau mengakhiri penderitaan ini. Aku memegang obor malam itu, Liana. Ayahku memaksaku. Dia mengancam akan membunuh ibuku jika aku tidak membakar rumahmu. Dan pada akhirnya... dia tetap membunuh ibuku setelah aku melakukannya."

​Arkan mencengkeram tangan Liana yang memegang pisau, mengarahkannya tepat ke jantungnya sendiri. "Bunuh aku. Jika itu bisa membuat apinya padam di kepalamu, lakukan sekarang."

​Liana gemetar hebat. Ujung pisau itu sudah merobek sedikit kemeja hitam Arkan. "Kau pikir dengan mati semua akan selesai? Kau berhutang nyawa orang tuaku!"

​"Aku tahu," bisik Arkan, matanya berkaca-kaca. "Tapi ketahuilah satu hal... sejak malam itu, aku tidak pernah lagi menyulut api. Aku mengambil alih The Void hanya untuk menghancurkannya dari dalam. Untuk memastikan tidak ada lagi 'Liana' lain di dunia ini."

Tepat saat itu, alarm mansion berbunyi nyaring. Suara tembakan terdengar dari lantai atas.

​"Tuan! Mereka menyerang!" suara Baron berteriak dari interkom. "Ayahanda mengirim tentara bayaran! Mereka tahu Anda berkhianat!"

​Arkan langsung berubah waspada. Ia mendorong Liana ke balik rak arsip yang kokoh. "Tetap di sini! Jangan keluar sampai aku menjemputmu!"

​"Arkan!" panggil Liana, suaranya parau.

​Arkan berhenti di pintu besi, menoleh sebentar. "Jika aku tidak kembali, di balik rak nomor 12 ada paspor dan uang untukmu. Pergilah sejauh mungkin. Maafkan aku, Liana... untuk semuanya."

​Arkan berlari keluar, mengunci pintu besi dari luar, meninggalkan Liana sendirian di tengah ribuan arsip penebusan dosa yang selama ini tidak pernah ia ketahui.

1
SILVA Nur LABIBAH
Masyaallah sungguh bagus cerita novelnya kak
inna Mardiana: membuat saya makin semangat menulis💪
total 2 replies
Dian
lanjutt
SILVA Nur LABIBAH
rahasia sudah terbuka,,,ayo Arkan & liana bangun kembali srmua yg telah hilang.
SILVA Nur LABIBAH
maaf baru bisa koment, bagus kisah novelnya. bisa mengambil hikmah dendam bisa melukai diri kira sendiri
inna Mardiana: makasih banyak yah Kak udah mampir😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!