Warning!!!!!!
Shenina Valerie Arous hanya menginginkan satu hal—cinta yang tulus.
Namun, pria yang ia cintai justru memberinya kasih sayang karena rasa kasihan.
Saat hatinya hancur, seorang pria berbahaya muncul dalam hidupnya.
Arsen Erzaquel Lergan—pewaris keluarga ternama yang terbiasa mendapatkan segalanya, termasuk dirinya.
Obsesi Arsen bukan cinta. Itu lebih seperti penjara yang tak terlihat.
Di saat yang sama, Andrew Kyle hadir sebagai satu-satunya pria yang tulus, rela melakukan apapun demi kebahagiaannya.
Di antara cinta, obsesi, dan pengkhianatan—
pilihan Shena akan menentukan apakah ia akan diselamatkan… atau justru hancur lebih dalam.
Dan ketika sebuah rahasia besar terungkap, segalanya tak akan pernah sama lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nupitautari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Shena mengusap wajahnya dengan tangan dan langsung berdiri. Ia berlari menjauh dari tempat itu. Diandra melihat ke arah Shena. Setelah ia menghilang dari pandangan, Diandra bertanya. "El, apa kamu tidak kejar. Sepertinya Shena menangis".
Ello melanjutkan makannya dengan tenang karena tidak terjadi apa-apa dengan Shena. Ia menjawab datar. "Biarkan saja. Dia memang suka merajuk. Nanti akan membaik sendiri".
Diandra merasa puas dan senang dengan jawaban Ello. Itu artinya Ello sebenarnya tidak benar-benar seperduli itu dengan Shena. Namun ekspresi berbeda di tunjukan oleh Arsen. Mendengar ketidakperdulian Ello pada air mata Shena membuatnya merasa marah dan tak terima. Ia mencengkram kerah baju Ello dan berkata dengan marah. "Dia sedang menangis dan kau bahkan tidak perduli dan memilih makan bersama selingkuhan mu, hah???".
Ello terkejut dengan tindakan Arsen yang menurutnya cukup berlebihan. Ia mendorong Arsen untuk melepaskan cengkraman tangannya di bajunya. "Dia adalah pacarku. Aku paling mengenalnya". Ucap Ello dingin.
Arsen geram dengan jawabannya. Ia berdiri dan memukul wajah Ello.
"Bugh..." Satu hantaman mendarat di pipi Ello.
Diandra berteriak shock dan ketakutan. Arsen melanjutkan pukulan dengan membabi buta. Ello membalas pukulan Arsen beberapa kali. Ia menendang, memukul tetapi tetap saja kalah dari Arsen. Pukulan Arsen jauh lebih terlatih dari pada Ello. Ello kalah telak dari Arsen.
Wajah Arsen babak belur namun Ello lebih parah. Semua orang tidak ada yang berani melerai. Arsen berhenti ketika ia merasa sudah cukup puas memukuli Ello. Ia lalu pergi meninggalkan tempat itu.
.
.
.
Shena duduk berjongkok di belakang gedung sekolah. Ia menangis sedikit keras seperti anak kucing yang di ambil makanannya. Cukup menyedihkan dan menarik simpati. Jika ia menangis seperti ini di depan Ello apakah Ello akan merasa bersalah dan menjauhi Diandra ? Ahh, tentu saja tidak. Ello tidak suka wanita yang cengeng. Itulah kenapa Shena berjuang keras agar tidak menangis. Kalau bukan karena bajingan tengik itu, Shena tak mungkin berjongkok sendirian di sini sambil menangis.
.
.
.
Bel masuk berbunyi. Shena masuk ke kelas dengan lesu dan mata yang sembab. Kepalanya tertunduk sehingga wajahnya tak terlihat jelas.
Arsen menopang wajahnya dengan tangan kiri dan melihat Shena berjalan masuk. Wajahnya babak belur tapi dia masih punya energi untuk mengganggu Shena. Lihat saja dia masih tersenyum smirk bahkan setelah menghajar pacar Shena habis-habisan.
Ketika Shena duduk di kursinya, rambutnya terurai menutupi wajahnya. Arsen mendekatkan wajahnya untuk melihat wajah Shena. Tangan kanannya bergerak untuk menyibak rambut yang menutupi wajah Shena. "Hei, habis menangis?" Ucapnya tengil.
Mata Shena melotot dan langsung menatap Arsen sebal. Ketika melihat wajah Arsen yang babak belur, Shena tertawa. Ia mengejek. "Kau dipukul? Lihatlah, wajahmu terlihat sangat jelek".
Arsen merasa lucu. Ia tertawa sedikit dan menahan sisanya. "Aku habis berkelahi. Ahh, rasanya sangat senang menghajar seseorang". Pungkasnya sedikit sombong.
"Orang itu pasti menang banyak. Wajahmu sampai tidak berbentuk". Ejek Shena merasa senang Arsen terluka.
Arsen berdecih. "Tidak juga. Aku menang telak. Lihat dia sampai tidak masuk kelas". Dia berkata santai penuh kesombongan sambil matanya mengarah ke meja Ello.
Shena melihat arah mata itu dan langsung berdiri panik ketika Ello tidak ada di tempat duduknya. Ia segera berlari mencari Ello dengan khawatir. Arsen memandangnya dengan malas, tidak berminat sama sekali dengan drama selanjutnya.
.
.
.
Di ruang UKS. Diandra sedang mengoleskan obat ke wajah Ello yang terluka. Beberapa memar nampak mencolok di wajahnya. Ello mengompres wajahnya sendiri.
"Untuk saat ini menjauh lah dariku. Di hajar Arsen artinya di musuhi satu sekolah". Ucap Ello memperingati.
Diandra menggeleng pelan. "Aku tidak takut dengan mereka semua. Aku lebih takut kau terluka, El".
Ello menggapai tangan Diandra yang sedang mengoleskan obat di wajahnya. Ia menggenggam tangan itu dan berkata "aku baik-baik saja selama orang-orang yang harus ku lindungi baik-baik saja".
Diandra merasa tersentuh dengan kalimat itu. Ia bertanya dengan pelan. "Apa aku juga berharga bagimu?".
"Tentu, kau adalah temanku". Jawab Ello yakin.
Diandra tersenyum lembut mendengarnya. Jujur, ia menyukai Ello. Namun ia tak berani mengungkapkan karena takut bertepuk sebelah tangan dan akhirnya akan kehilangan Ello. Apalagi sekarang ia tahu bahwa Ello sebenarnya sudah punya pacar, walaupun sangat berisik. Tidak sesuai sekali dengan kepribadian Ello, namun Ello bersikap baik padanya. Ello sering mentoleransi kebisingan Shena itu artinya ia tidak bisa meremehkan hubungan dan perasaan antara Ello dan Shena.
Shena tiba di ruang UKS. Ia terpaku sejenak melihat Ello menggenggam tangan Diandra. Ia bergerak maju dan mendorong Diandra sedikit menjauh. Matanya hampir rembes dengan air mata. Ia berusaha menahan sekuat tenaga. Sambil sedikit sesenggukan, ia bertanya. "Kenapa kamu bisa berkelahi dan terluka kaya gini?" Kalimatnya sedikit terbata.
Ello memeluk Shena dan menenangkannya. "Jangan menangis. Aku baik-baik saja". Ia menepuk-nepuk pundak Shena.
Shena tak tahan dan akhirnya menangis di pelukan Ello. Hati Diandra panas melihatnya dan memilih untuk keluar.
Sekitar 3 menit Shena menangis, ia berhenti. Ia mengelap air matanya dan menatap Ello. "Apa yang terjadi? Kenapa kamu berkelahi dengan Arsen?".
Ello terdiam sejenak sambil menatap Shena. Ia bingung kalimat apa yang harus di berikan. Ia tahu Arsen marah karena Shena. Ia belum yakin apakah Arsen menyukai Shena atau tidak. Arsen adalah orang yang berbahaya. Ia tak mau Shena terlibat dengannya. "Hanya masalah sepele. Dia memang selalu seperti itu. Kau jauhi dia, mengerti".
"Kami tidak berteman. Kau jangan khawatir". Ucap Shena.
Shena mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah Ello. Dilihatnya bagian kiri dan kanan. Semakin ia lihat semakin ia kesal dan panas ingin segera mengamuk pada Arsen. "Bagaimana bisa dia tega membuat wajah tampan ini terluka". "Biar aku obati". Ucap Shena. Ia ingin beranjak mencari salep namun Ello menahannya.
"Tidak perlu. Dian sudah mengobatinya barusan". Sergahnya.
Wajah Shena cemberut tak suka. Ello mengerti, dia cemburu. Ello berusaha menjelaskan. "Jangan cemburu dengannya, Shen. Kami hanya berteman. Dia dari luar kota dan tidak ada yang mau berteman dengannya disini".
"Tidak ada pertemanan murni antara pria dan wanita, El. Hubungan seperti itu merusak kita". Ucap Shena.
Ello merapihkan anak rambut di wajah Shena sambil berkata. "Aku sudah berjanji padaku kalau kau selalu jadi satu-satunya. Apa kau tidak percaya padaku lagi?"
Shena memanyunkan bibirnya masih tak setuju. Ia berkata dengan enggan. "Aku percaya kamu, El. Tapi..."
*Hi readers. Jangan lupa untuk memberikan dukungan kalian pada novel ini dengan cara berikan komentar terbaik kalian, kasih like dan vote novel ini ya. Akan ada banyak keseruan yang kalian dapatkan. Happy reading all 🙏