“Iya, jadi aku dengar Karina baru saja bercerai belum lama ini. Dia sibuk jadi ibu dan pemilik toko roti Aura Bakery sekarang. Usia anaknya sepertinya hampir sama dengan usia anakku, kira-kira 1 tahunan lah,” ujar Beni, seorang lelaki berusia 33 tahun.
“Jujur saja, kamu masih ada rasa ‘kan dengan Karina? 9 tahun loh, tidak mungkin selesai begitu saja. Aku tahu, lelaki memang hanya jatuh cinta sekali saja, setelahnya hanya melanjutkan hidup,” lanjut Beni, teman baik Khale.
Diam-diam dari luar ruangan, Syafira yang tengah mengandung mendengar ucapan sang suami dengan temannya itu.
Bahkan, Syafira pun tahu suaminya langsung menuju ke toko kue milik Karina tak lama setelah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Byiaaps, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Setelah mengantar Aura ke sekolah barunya, otak Khale tak berhenti memikirkan kedua anak kembar tadi, karena setiap bertemu dengan anak kecil apalagi jika mereka kembar ia pasti langsung teringat pada anak-anaknya yang tak pernah ia temui.
“Khayra, Khanza,” gumamnya mengingat nama anak kembar yang sekilas ia dengar tadi.
Nama itu memang asing baginya, tapi ada satu hal yang membuatnya semakin rindu pada anak kembarnya yang kini entah bagaimana bentuknya.
“Nanti kalau suatu saat kita punya anak, aku akan beri nama dengan huruf depan sepertimu, “KH”. Selain karena aku sangat mencintaimu, juga karena nama dengan huruf depan KH itu tak banyak yang pakai. Tapi siapa, ya, enaknya,” ucap Syafira beberapa tahun lalu, ketika sedang mengobrol dengannya di ruang tengah.
Ingatan itu membuatnya kembali melamun dan bersedih. Ternyata, 4 tahun tak cukup membuat Khale mampu melupakan Syafira begitu saja, terlebih anak-anaknya. Meskipun Karina dan Aura seakan hadir untuk menggantikan Syafira dan anak-anaknya dalam hidupnya.
“Meskipun mereka kembar, tapi mustahil adalah anak-anakku. Kebetulan saja huruf depannya memang pakai KH. Syafira sudah pindah dari kota ini, mungkin sekarang dia sudah menikah lagi,” ujarnya tersenyum kecut.
Lamunannya pun buyar kala ponselnya berdering yang ternyata sebuah pesan masuk dari Karina.
Khal, sepertinya Aura suka dengan sekolah barunya di TK itu, sepertinya lingkungannya juga jauh berbeda dengan TK lamanya.
Hanya membalasnya singkat, Khale kembali melanjutkan lamunannya.
“Apa iya kamu sudah menikah lagi, Syaf? Tega sekali kamu. Aku bahkan tak kamu beri kesempatan untuk menjelaskan, apalagi kesempatan untuk melihat anak-anakku lahir. Aku memang salah tapi tak seharusnya kamu langsung pergi seperti itu.” Itu lah pikiran yang selama ini memenuhi otak Khale.
Hingga Karina kembali mengiriminya pesan.
Jadi kapan mulai mengurus acara pernikahan kita? Mumpung Aura masih kecil, toh dia juga sudah menganggapmu ayahnya.
Kali ini, Khale tak membalasnya. Sepertinya ia baru menyadari kesalahannya dalam menyadari perasaannya setelah Syafira pergi. Seharusnya saat itu ia menyanggah ucapan Beni yang mengatakan bahwa ia hanya jatuh cinta satu kali pada Karina. Nyatanya ia bisa kembali jatuh cinta pada Syafira.
Hanya saja, ia tak pandai memahami perasaannya saat itu. Terbukti kini, Karina tak sedikit pun mampu membuatnya kembali jatuh cinta. Bahkan mungkin jika seandainya ia akan menikahi Karina, yang ada hanya lah untuk melanjutkan sisa hidupnya saja, setelah cintanya habis pada sang mantan istri.
***
Sementara itu, ketika Syafira telah tiba di rumahnya, seperti biasa ia selalu disambut dengan suka cita oleh kembar dan pengasuhnya yang harus segera pulang, karena jam kerjanya hanya sampai jika Syafira telah pulang.
“Bagaimana tadi di sekolah?” tanyanya antusias.
“Mereka pintar, Bu. Tidak menangis dan malah cepat akrab sama teman-teman barunya. Mereka juga terlihat enjoy di lingkungan baru. Padahal, anak-anak seusia mereka banyak yang menangis di kelas,” lapor Ria.
Mengucapkan rasa syukurnya, Syafira berterima kasih pada Ria lalu memintanya untuk segera pulang dan beristirahat.
“Anak-anak Bunda memang hebat!” puji Syafira mengacungkan kedua jempol tangannya pada kembar.
“Bunda, nanti gantian Bunda yang antar kita ya,” rengek Khayra.
Mengangguk semangat, Syafira berjanji akan melakukannya meski ia tak tahu kapan bisa mewujudkannya, karena ia harus mendapatkan izin dari kantor.
Entah mengapa, setiap kali kembali ke rumah dan melihat kembar, hatinya kembali sedih. Perpisahan 4 tahun membuatnya terluka dan hancur, hingga tak bisa lagi membuka hatinya untuk orang lain. Penyesalan dan kekecewaan menghiasi relung hatinya setiap waktu.
“Bunda, tadi kita disuruh menulis nama ayah, ibu, adik, dan kakak. Tapi, kita ‘kan tidak punya ayah,” celetuk Khayra tiba-tiba.
Sontak celetukan anak perempuannya itu membuatnya semakin sesak. Tersenyum, ia pun kembali mengingatkan bahwa sang ayah sudah tenang di sana. Tapi, tak disangka Khayra justru memintanya untuk berkunjung ke makam sang ayah.
“Sayang, makam ayah jauh, ada di kampung nenek. Bunda ‘kan harus kerja, nanti kapan-kapan kita ke sana, ya. Kita doakan saja dari sini,” ujar Syafira tersenyum kecut.
Bukannya pembahasan ini berhenti, Khanza kembali menanyakan sesuatu yang membuat Syafira terhenyak.
“Ya sudah, kalau begitu siapa nama ayah kita? Soalnya tadi miss minta kita menuliskan nama orang tua dan saudara kandung. Khanza, Khayra, Bunda Syafira, dan Ayah siapa?” tanya bocah tampan itu.
Terdiam, Syafira kebingungan.
“Ehm, nama ayah kembar ada…lah…Tama,” sebutnya, lalu menelan salivanya.
Mengangguk-angguk, Khanza menirukan berkali-kali nama yang bundanya sebut itu.
Hingga tak lama terdengar suara ketukan pintu rumah kontrakannya yang kecil, Syafira bergegas membukanya.
“Malam,” sapa Putra yang sudah berdiri di hadapannya, membawa dua kantong kresek berisi makanan.
“Tadi kebetulan aku lewat, sekalian saja aku bawakan kesukaan kembar,” lanjut Putra.
Terdiam mematung, Syafira membisu, hingga kembar menyusulnya di depan pintu.
“Wah, ada Om Bos, ya,” ujar Khayra tampak sumringah saat melihat Putra menenteng kresek.
Tak hanya sekali, bos dari Syafira itu memang sudah beberapa kali mengirimi makanan kesukaan kembar.
Berlutut di hadapan Khayra, Putra menyodorkan bawaannya. “Iya, Khayra cantik. Om bawakan martabak telur plus sosis kesukaan Princess Khayra yang cantik dan martabak coklat keju untuk Abang Khanza yang tampan.”
Tanpa basa-basi dan mengucapkan rasa terima kasihnya, kembar langsung menerimanya dengan senang hati dan membawanya ke dalam.
Menunduk, Syafira juga mengucapkan terima kasih pada pria di hadapannya itu, juga mengingatkannya agar tak lagi-lagi membelikan kembar makanan. “Saya bisa membelikannya sendiri, Pak.”
Tersenyum, Putra dengan tegas mengatakan bahwa ia tak akan lagi sering-sering membawakan kembar makanan sampai Syafira juga tak lagi memanggilnya Pak saat di luar kantor. “Saya pamit, ya, selamat malam.”
Ibu dari kembar itu pun hanya bisa menghela nafas panjangnya.
...****************...
kan dia mau berubah dan bertanggung jawab🤭
KLO pun nggak BS balikan SM khale biar aja Syafira menjanda selama nya, tp hub anak² SM khale bagus..
kayaknya ada sesuatu antara putra dan Karina 🤔
ekhh khale bodoh harusnya kau jgn percaya sama perempuan siluman itu...suami paling bodoh