Lin Feng, seorang Kaisar Abadi yang tak tertandingi di generasinya, yang dikenal sebagai "Penguasa Abadi," tewas dalam sebuah pengkhianatan keji. Murid terdekat dan wanita yang paling dicintainya bersekongkol untuk merebut Kitab Suci Kekacauan Abadi miliknya, sebuah teknik kultivasi tertinggi, tepat saat ia mencoba naik ke Alam Dewa. Meskipun raganya hancur, seutas jiwa ilahinya berhasil lolos dan bereinkarnasi ke dalam tubuh seorang pemuda yang baru saja mati di dunia fana yang terpencil.
Tubuh baru ini, yang juga bernama Lin Feng, dianggap sebagai "sampah" dengan meridian yang hancur, dikucilkan oleh klannya sendiri, dan dihina oleh tunangannya. Berbekal ingatan dan pengetahuan dari kehidupan masa lalunya yang gemilang, Lin Feng harus memulai segalanya dari nol. Dia akan menggunakan pemahamannya yang tak tertandingi tentang Dao agung untuk menempa kembali takdirnya, menantang langit, dan menapaki jalan menuju puncak kekuasaan sekali lagi, sambil merencanakan balas dendam yang akan m
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Provokasi di Paviliun Angin Jernih
Kapal-kapal terbang dari tiga klan mendarat di area pendaratan pribadi yang luas, di bawah tatapan ribuan pasang mata. Begitu para murid Klan Lin turun, mereka langsung merasakan gelombang tekanan. Bisikan dan tatapan mengejek datang dari segala arah.
"Lihat, itu Klan Lin. Mereka benar-benar datang lagi."
"Aku dengar mereka punya juara baru tahun ini, tapi apa bedanya? Mereka selalu menjadi bulan-bulanan."
"Aku bertaruh mereka bahkan tidak akan bisa masuk tiga besar dalam kompetisi individu."
Dua murid inti Klan Lin mengepalkan tangan mereka, wajah mereka merah karena malu dan marah. Liu Xue'er tetap tanpa ekspresi, tetapi hawa dingin yang samar di sekelilingnya menunjukkan ketidaksenangannya.
Tetua Lin Bao mendengus dingin, melepaskan sedikit auranya sebagai ahli Alam Yayasan Roh, yang langsung membungkam bisikan di sekitar mereka. "Abaikan mereka. Buktikan mereka salah di atas panggung, bukan di jalanan."
Dia memimpin kelompok kecil itu melewati kerumunan menuju penginapan yang telah ditentukan untuk mereka, sebuah paviliun yang elegan bernama "Paviliun Bambu Hijau."
Saat mereka hendak memasuki paviliun, sebuah suara yang sombong menghentikan mereka.
"Tunggu sebentar, teman-teman dari Klan Lin."
Kelompok itu berbalik dan melihat Wang Teng berjalan mendekat, diikuti oleh beberapa murid Klan Wang yang menyeringai. Dia tidak lagi berada di kapalnya; pertemuan di langit jelas tidak cukup baginya.
"Aku tidak suka meninggalkan urusan yang belum selesai," kata Wang Teng, matanya tertuju pada Lin Feng. "Sikapmu di kapal tadi sangat tidak sopan. Sekarang kita berada di darat, apakah kau akhirnya punya keberanian untuk berbicara?"
Lin Feng menatapnya dengan tatapan yang sama seperti dia melihat serangga yang mengganggu. "Tidak ada urusan di antara kita. Jangan menghalangi jalanku."
Dia berbalik untuk pergi.
Sikap acuh tak acuh ini adalah penghinaan terakhir bagi Wang Teng. Wajahnya memerah karena amarah yang tak terkendali.
"Beraninya kau!" raungnya. "Aku akan memberimu pelajaran tentang rasa hormat!"
Tiba-tiba, dia menyerang! Tombak perak di tangannya tidak ada, tetapi dia mengulurkan jarinya, dan ujung jarinya berkedip dengan cahaya petir yang menyilaukan. Sebuah busur petir kecil, setebal jari, melesat ke arah bahu Lin Feng.
Ini adalah serangan kejutan! Itu adalah versi mini dari "Seni Tombak Petir"-nya, cepat dan ganas. Dia tidak berniat membunuh, tetapi dia ingin mempermalukan Lin Feng dengan melumpuhkan lengannya di depan semua orang.
"Hati-hati!" seru Tetua Lin Bao, hendak turun tangan.
Tetapi Lin Feng lebih cepat.
Dia bahkan tidak berbalik sepenuhnya. Dengan gerakan yang tampak santai, dia mengangkat tangan kanannya dan mengulurkan dua jari—jari telunjuk dan jari tengah.
Saat busur petir yang ganas itu hendak mengenainya, dia dengan tenang menangkapnya di antara kedua jarinya.
BZZZT... FIZZLE...
Pemandangan yang tidak bisa dipercaya terjadi. Busur petir yang mengandung kekuatan tirani itu, saat ditangkap oleh kedua jari Lin Feng, berjuang sejenak seperti ular yang terperangkap, lalu lenyap menjadi ketiadaan, seolah-olah tidak pernah ada.
Keheningan total menyelimuti jalanan.
Mata semua orang, termasuk Tetua Lin Bao dan Liu Xue'er, membelalak tak percaya.
Seringai di wajah para murid Klan Wang membeku.
Wajah Wang Teng, yang tadinya penuh amarah, kini pucat pasi karena kaget. Dia menatap jari-jari Lin Feng, lalu ke jarinya sendiri, benar-benar tidak bisa memahami apa yang baru saja terjadi.
Serangan penuhnya, yang bahkan bisa membuat ahli tingkat delapan biasa terluka, telah dinetralkan dengan begitu mudahnya? Dengan dua jari? Tanpa fluktuasi energi yang terlihat?
"Kekuatan petirmu," Lin Feng akhirnya berbicara, suaranya tenang namun bergema di telinga semua orang seperti guntur. "Terlalu tersebar. Terlalu berisik. Terlalu lemah."
Dia menurunkan tangannya dan, tanpa melirik Wang Teng lagi, melangkah masuk ke Paviliun Bambu Hijau, diikuti oleh anggota Klan Lin lainnya yang masih shock.
Wang Teng tetap membeku di tempat, kata-kata "terlalu lemah" terus terngiang di benaknya. Itu lebih menyakitkan daripada pukulan fisik mana pun. Dia tidak hanya dikalahkan; dia telah dihancurkan pada tingkat fundamental. Kontrol energi lawannya berada di level yang sama sekali berbeda.
Di seberang jalan, di balkon lantai dua sebuah kedai teh, Zhao Wuji, yang telah menyaksikan seluruh adegan, meletakkan cangkir tehnya. Ekspresinya yang selalu acuh tak acuh untuk pertama kalinya menunjukkan jejak keseriusan yang mendalam.
"Lin Feng..." gumamnya pada dirinya sendiri. "Menarik. Sangat menarik."
Dia akhirnya menemukan lawan yang layak untuk dia perhatikan.
Berita tentang konfrontasi singkat di depan Paviliun Bambu Hijau menyebar ke seluruh Kota Awan Mengambang seperti badai. Dalam sekejap, nama Lin Feng tidak lagi hanya rumor dari klan terpencil. Dia adalah kuda hitam sejati yang telah mempermalukan salah satu jenius top bahkan sebelum kompetisi dimulai.
Taruhan di rumah-rumah judi mulai bergeser secara drastis. Nama Lin Feng tiba-tiba muncul di antara para favorit juara.