NovelToon NovelToon
JANJI PERNIKAHAN TUAN AROGAN

JANJI PERNIKAHAN TUAN AROGAN

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / CEO / Tamat
Popularitas:22.9k
Nilai: 5
Nama Author: La Rumi

Zenna Amalia bukanlah perempuan suci. Ia memiliki masa lalu yang kelam, pernah menjadi simpanan pewaris kaya bernama Rendy Wangsa demi membiayai pengobatan ibunya yang sakit kanker.

"Di luar sana, mana ada laki-laki yang sudi bersamamu, apalagi kalau mereka tahu, kamu bukan lagi perempuan yang punya kesucian dan kehormatan?" kata Rendy keji, sebelum mencampakkan Zenna.

Setelah kehilangan segalanya, Zenna berusaha kembali ke jalan yang benar, rela menebus dosa dengan menikahi seorang lelaki arogan bernama Bram Atmaja.

Bram tahu semua masa lalu Zenna, bersedia menikahinya, demi memenuhi wasiat mendiang ayah tirinya, yang juga merupakan ayah kandung Zenna. Meski dari awal, ia juga sudah memperingatkan Zenna bahwa dirinya adalah pria kasar dan arogan, dan barangkali tak akan pernah mencintai Zenna seumur hidupnya.

Pernikahan yang berlangsung dengan itikad penebusan dosa, tanpa cinta pada awalnya, dan dikejar bayang-bayang gelap masa silam, akankah berujung bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji Pernikahan Tuan Arogan - Bab 6

"Zenna!"

Bram menyela, nada suara dan tatapan tajamnya penuh peringatan.

Zenna menelan ludah, gemetar dan sesak.

"Pembacaan wasiat sudah selesai. Ahli waris akan memenuhi wasiat itu sesuai ketentuan hukum dan agama, dan aku sebagai calon suaminya bisa jamin itu," kata Bram dengan keteguhan tak tergoyahkan. "Anda boleh pergi sekarang, Tuan Haris. Terima kasih atas kerja sama Anda. Aku akan kembali menghubungi Anda untuk mengurus pengalihan dan pengelolaan warisan Zenna secara resmi begitu pernikahan kami terlaksana. Selamat malam."

"Baiklah. Selamat malam, Tuan Bram. Nona Zenna."

Pengacara Haris undur diri. Tetapi Bram mencekal lengan Zenna begitu calon istrinya itu hendak beranjak pergi.

"Masih ada yang harus kita bicarakan," kata Bram dengan suara rendah. "Kembali duduk."

Zenna memandang Bram dengan sorot mata sarat luka, seakan ia baru saja tertikam.

"Bram... kamu harus tahu..."

"Aku tahu."

Bram balas menatap lekat, datar dan tak gentar.

"Aku tahu segalanya tentangmu."

Ucapan Bram begitu pelan, namun begitu telak menghantam Zenna, hingga ia merasa hatinya tiba-tiba retak, kemudian pecah berserak.

"Ya, Zenna, aku tahu semua masa lalumu, dan sebagai calon suamimu, aku dengan keras melarangmu membicarakannya pada siapa pun," nada bicara Bram berubah tegas dan penuh ancaman. "Bahkan aku tak mau kamu membahasnya walau hanya ada kita berdua di dalam lubang semut. Ini semua demi kebaikan dan keamananmu sendiri. Apa kamu mengerti?"

Zenna menekap mulutnya dan menangis sejadinya.

"Kamu tahu...," isak Zenna. "Tapi kenapa..."

"Kenapa aku tetap mau menikahimu? Bukankah sudah jelas, ini semua karena wasiat," balas Bram dingin. "Aku lebih memilih menikah daripada menghabiskan hidupku di penjara. Jujur saja, bagiku, kamu sama sekali tidak penting."

Sejenak tak ada kata maupun suara. Hanya detak jantung dan napas yang rutin mengurai irama terlembut di udara, masing-masing dengan kedalaman rasa yang berbeda.

"Bagiku, pernikahan ini hanya formalitas," sambung Bram, ekspresinya kian kejam. "Aku akan memenuhi tanggung jawabku sesuai wasiat itu sebagai suamimu di atas kertas, tapi jangan pernah kamu berharap lebih. Tak akan pernah ada cinta kasih. Tak akan ada sentuhan intim. Aku tak akan sudi menyatu denganmu. Apa kamu mengerti?!"

Zenna seakan baru saja dirajam batu berapi. Sakit sekali.

Namun, bukan karena Zenna mengharap sesuatu dari Bram, atau merasakan sesuatu padanya. Sama sekali bukan seperti itu.

Jika Bram menganggapnya tak penting, itu sangat wajar. Di mata Zenna sendiri, hingga detik ini, Bram masih sepenuhnya orang asing.

Pengetahuan Bram tentang masa lalu Zenna cukup mengejutkan. Batin Zenna yang berkecamuk tak sanggup menelisik bagaimana Bram bisa tahu sejauh itu. Tetapi bukan itu yang membuat dirinya hancur.

Ia tak menyalahkan Bram jika lelaki itu merasa jijik hingga tak sudi menyentuhnya--Zenna pun merasa sangat jijik dengan dirinya sendiri.

Zenna merasa terpuruk, tak pantas, karena harus mempersembahkan dirinya yang nista dan penuh dosa dalam ikatan suci bernama pernikahan. Sekalipun pertalian itu hanya formalitas. Tapi dirinya sudah serendah itu, hingga hubungan palsu sekalipun terasa terlalu mewah dan terlalu tinggi untuknya.

Aku tak pantas bagi siapa pun... andai kamu tak perlu terjebak untuk bersanding denganku, Bram... andai aku bisa membebaskanmu...

Itulah yang membuat Zenna melara--tak punya pilihan selain membiarkan seseorang ada di sampingnya, terciprat aroma busuk dosa-dosanya, sampai akhir hayat.

Meski Bram sepintas tak acuh... tapi jika bayang-bayang kelam masa lalu kembali muncul dan menagih bayaran sewaktu-waktu, apa yang akan dilakukannya? Apakah dia akan menyesal? Apakah dia akan tersakiti?

Zenna tak bisa berhenti terpuruk bahkan setelah pembicaraan usai dan berjalan meninggalkan ruangan, menyusuri lorong-lorong yang mulai sepi.

"Masih ada pekerjaan yang harus kuselesaikan--beri aku waktu tiga puluh menit. Kamu tunggu di lobi," kata Bram setelah mengecek ponselnya, lalu berjalan ke arah yang berlawanan.

Tetapi Zenna tidak mendengarkan. Langkah kakinya bagai bola yang menggelinding tanpa arah. Ia tak berhenti di lobi yang berdekorasi mewah di lantai paling bawah. Ia terus berjalan keluar area gedung, menyusuri trotoar panjang dan bergelombang dengan murung dan linglung.

Bahkan ketika ada pengemudi ojek mendekat dan menawarkan jasa dengan ramah, ia melompat saja ke jok belakang, tanpa berpikir panjang.

"Mau diantar ke mana, Neng?" tanya si pengemudi.

"Sun and Moon Apartement," jawab Zenna otomatis dengan tatapan mata kosong.

"Oke... siap tancap gas!"

Pengemudi ojek itu berusaha mengajak Zenna mengobrol dengan ceria sepanjang perjalanan, namun tak digubris Zenna. Pikiran Zenna telanjur lebur dalam labirin kesedihan dan penyesalan yang seakan tak ada ujung.

"Sudah sampai, Neng."

Zenna meluncur turun dan berjalan menuju pintu masuk apartemen begitu saja.

"Eh, Neng... helm saya! Bayar dulu! Waduuh!"

Zenna tak segera berbalik untuk meluruskan kealpaannya. Ia justru berdiri mematung saat security yang dikenalnya menghadangnya tepat di depan pintu kaca otomatis.

"Maaf, Anda tak boleh memasuki gedung apartemen ini lagi tanpa akses yang diizinkan, Nona Zenna," kata security itu tegas.

Zenna tak paham. Namun ia tetap terdiam dengan ekspresi hampa.

"Maaf, Nona Zenna, mulai malam ini, Anda bukan lagi salah satu penghuni di sini. Tuan Rendy sudah menarik fasilitas itu dari Anda. Anda tak punya hak apa-apa lagi di tempat kami. Silakan pergi."

***

1
Shamira Zee
yaaah akhirnya tamat! happy lihat ze-bra happy ❤️ ditunggu karya selanjutnya ya kak ❤️
Shamira Zee
Huhu manis sekali couple satu ini... bikin irii
Shamira Zee
Yaah ketahuan deh Bram
Shamira Zee
Bram pulih, Zenna pulih, yuk Kenan pulih juga... aku gak mau Kenan jadi korban lho thooor
sryharty
aaah akhirnya happy ending juga mereka,, terimakasih ka udah kasih bacaan bagus
bikin hati bener2 traveling
Shamira Zee
Akhirnya si tua metong /Skull/ tapi bram kritis /Sob/ Kalau zenna sampai tahu gimana...
Shamira Zee
Gak tahu lagi mau bilang apa... jahat banget si tua dan tegangnya itu lho... Bram plis selamat dong
Shamira Zee
Wee bakal dar der dor macam mana lagi inii? Upload semua lah thor sampai ending, jangan bikin tegang dan penasaraaan
Shamira Zee
Whaat seriusan Bram ditangkap? /Scare/
Shamira Zee
Walaahh makin tegaaang
Shamira Zee
Zenna hamil yaa ❤️ Tapi malah jatuh ke tangan Darwin tuh gimana... thor mau bikin ceritanya kayak apa lagi ini /Sweat/
Shamira Zee
Kenan selamat /Scowl/Jangan bikin aku nangis ya thor... trus ini fakta dar der dor apa lagi yang bakal mengguncang Bram? Duh ada aja konfliknyaa
Shamira Zee
Thooor nggak mau aku kalau Kenan meninggal /Sob//Sob//Sob/
Shamira Zee
Semangat nulisnya thor... tapi aku patah hati beneran lho kalau sampai Kenan nggak ada... jangan pliiss /Sob/
Shamira Zee
Ya kamu bisa, Ken, tapi abis itu kamu ketembak... /Sob/
Lord Aaron
Darwin kudunya mati di tangan Kenan atau Bram lah
Lord Aaron
Kan... penulisnya tim medis pasti nih, bisa khatam betul soal obat dan segala macam tes medisnya
Lord Aaron
Jadi PoVnya Kenan... kasihan juga Kenan
Lord Aaron
Kan... runyamm
Lord Aaron
Nekat gak nyelesaiin masalah kali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!