NovelToon NovelToon
Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Tamat
Popularitas:550.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: Hania

Nur Aini fil Islam adalah sebuah nama yang diberikan ayah Farhan pada bayi mungil, yang dia temukan di sebuah gubug, di tepi sawahnya. Dengan sabar, mereka mengasuhnya hingga dewasa.

Dia tumbuh menjadi gadis yang baik, dan taat pada orang tua. Ketika dijodohkan pun dia tak menolak. Hanya saja, ada satu nama yang tersimpan dalam hatinya semenjak kanak-kanak. Hingga sampai kini dia nanti kedatangannya ....

Siapakah dia? ... Dan maukah dia dijodohkan dengan orang yang tak dikenalnya? ....

Selamat membaca ....
Jangan lupa votenya ya ....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 : Bisikan Hati yang Patah

Tak kuasa air mata Nur keluar dari persembunyiannya. Ada rasa kehilangan yang sangat dalam. Dia tak mengira bahwa cinta yang tumbuh semenjak kanak-kanak telah kandas karena kesalahan yang benar-benar tak disengaja. Dia menumpahkan kesedihannya di pangkuan bu Farhan. Ibunda sejak dia kanak-kanak.

"Ibu, mungkinkah kak Uya kembali ke Nur."

Pertanyaan yang tak mungkin dijawab. Karena bu Farhan juga tak tahu alasan Bahrul pulang lebih dahulu. Yang dia ketahui, Tuan Assegaf mengatakan bahwa kekeluargaan ini jangan putus apapun yang terjadi. Maksudnya apa ... bu Farhan juga tidak tahu.

"Nur, ibu tak tahu apapun tentang perasaanmu. Karena ibu tak pernah punya rasa berlebih pada ayahmu sebelum ibu menikah. Kalau Nur punya rasa yang berlebih mungkin itu cobaan."

"Ingat pada yang Kuasa banyak-banyak, semoga bebanmu menjadi ringan."

"Ya, Ibu."

"Kulihat kamu sudah bersih, kamu akan sholat dhuha?"

Nur mengangguk.

"Simpan cincin ini!"

"Nur tidak pantas memakainya."

"Tapi tak mungkin cincin ini dibuang, kan?"

"Ibu jangan memberiku harapan."

"Apakah kalau kamu tidak bersama dengan Bahrul. Dia akan melupakanmu. Setidaknya simpan dulu. sampai kamu siap mengembalikannya."

"Tapi, Ibu."

"Ibu tahu. Simpan dulu. Meski kamu tak memakainya."

Nur segera menyimpan cincin dan liontin hati dalam kotak. Lalu meletakkannya ke dalam almari.

"Kalau sudah selesai, kamu sarapan ya ... !"

"Ya, Ibu."

Bu Farhan membelai lembut rambut Nur. Untuk memberikan kenyamanan pada hatinya yang sedang patah.

Hingga Nur melepaskan sendiri sentuhan bu Farhan. Mengambil mukena dan membentangkan sajadah di sisi tempat tidur. Untuk mengadukan rasa yang kini bergema dalam dada. Kepada sang pemilik jiwa dan rasa.

Bu Farhan beranjak dari tempat duduk. Meninggalkan Nur yang sedang bersiap diri untuk bersujud.

Saat.berjalan melintas dalam pikiran bu Farhan bayangan tentang Nur kecil. Terkadang, membuatnya meneteskan air mata. Bagaimana mungkin, ada orang tua yang tega, meletakkan begitu saja buah hatinya, di sebuah gubuk dekat sawah miliknya.

Ah ... dunia benar-benar kejam untuknya.

Tak tega dengan bayi mungil itu. Akhirnya dia membawanya pulang. Mengasuhnya dengan baik. Hingga tumbuh dewasa.

Hanya saja ada satu dua orang yang mencibir Nur kecil. Dengan sebutan anak pungut. Membuat hati bu Farhan tak terima.

Bertahun-tahun dia mencari keberadaan orang tua Nur kecil. Namun tak jua dia temukan. Bukan untuk apa-apa. Tapi mengingat bahwa Nur adalah seorang perempuan. Yang memerlukan perwalian dalam pernikahannya kelak.

Meskipun dengan ditemukan orang tua Nur. Dia takut Nur akan pergi mengikuti orang tua yang melahirkannya. Tentu dia sangat kehilangan.

Sekarang Nur telah tumbuh menjadi seorang gadis. Dan sedikit banyak telah mengenal cinta. Keberadaan orang tuanya belum juga ditemukan.

Kemarin sewaktu pak Farhan datang ke rumah haji Shodikin, ada sedikit harapan tentang keberadaan orang tua Nur. Semoga saja itu benar. Tinggal tunggu waktu untuk kedatangan mereka. Begitulah ceritanya ....

Tak mungkin saat ini dia ceritakan pada Nur. Apalagi dia sedang patah hati.

Patah hati yang membuat diri ini tersenyum.

Mah ... orang kuno tak kenal cinta.

Peduli amat. Yang penting bahagia. Karena pak Farhan hingga saat ini masih setia. Itulah kata hati bu Farhan yang sudah berumur hampir 58 tahun. He ... he ... he ....

Cuma kelemahannya, dia tidak tahu harus bagaimana untuk meredakan patah hati pada putrinya. Karena tak pernah mengalami hal demikian.

Ah ... lupakan nanti juga reda sendiri, pikirnya.

Lalu bu Farhan menyibukkan diri dengan rutinitas hariannya. Yaitu memberi makan ternaknya. Lalu ke ladang yang tak jauh dari rumahnya. Bersama dengan pak Farhan, Nadya, putra-putrinya serta suaminya.

Nur yang sudah selesai melaksanakan sholat dhuha,mendapati meja makan telah sepi. Rupanya semua telah selesai sarapan.

Membuat Nur makin tak berselera makan. Dia kembali ke kamarnya.

Dilihat ada wa dari sahabatnya di Klaten kota. Lama tak pernah jumpa, sejak dia lulus dari SMA. Baru kemarin bertemu secara tak sengaja di Stasiun Tugu Yogya. Lalu pulang sama-sama. Dan bisa bertukar nomor hp.

Banyak banget wa-nya. Maklum sejak malam hp belum kubuka sama sekali.

Terakhir yang kubaca adalah,

[Kapan ke rumahku, kutunggu. Aku lagi di rumah nich ...]

Rina, kamu tahu saja kalau hatiku lagi galau. Tak ada salahnya bila berkunjung ke rumahnya. Moga-moga bapak dan Ibu mengijinkan. Toh perjalanan tak sampai setengah jam dari sini. Sekarang apa besok pagi ya ...?

Ah lebih baik sekarang, Lusa sudah balik ke Bandung.

Setengah berlari, Nur menjumpai bapak dan ibu Farhan di Ladang.

"Ibu, Nur mau ke teman teman Nur di kota. Boleh ya ..."

Sangat jarang bu Farhan melarang putri-putrinya pergi. Asal tujuan jelas. Dan pulang sesuai waktu yang ditentukan. Demikian untuk kali ini. Apalagi kakak iparnya bersedia mengantarnya.

Dia mengangguk.

"Makasih, Ibu."

Kupeluk dia dengan gembira.

Bu Farhan hanya tersenyum mendapatkan pelukakan dari putrinya. Sudah biasa kalau putrinya selalu begitu. Ini yang bikin hati bu Farhan seakan tak rela bila sewaktu-waktu harus berpisah dari Nur.

"Abi, kita boleh ikut ya ...?" Noval dan Novi merajuk.

"Ya sudah. bersihkan diri kalian dulu."

Siapa yang tahan melihat wajah polos mereka yang memohon, mengiba sangat.

Tak perlu waktu lama kita semua sudah siap untuk berangkat melewati jalan yang selepas subuh aku ke sini.

Entah mengapa anganku memunculkan kata-kata yang tak kumengerti. Mungkin efek patah hati.

*

Melintasi jalan yang sesaat lalu engkau ada

Entah mengapa bayangmu melintas seakan menyapa

Dalam anganku yang mulai gila

Berharap bahwa lambaian tanganmu memanggilku dalam rengkuhan sayang

Apa yang hendak ku kata

Bila dirimu benar-benar ada

Akankah kita bersama atau berpisah

Semua masih rahasia dalam diam

Kakak, mengapa kata-kata itu mesti ku dengar

Hingga bisik amarah menguasai diri yang tiada tahu

Dan engkau tinggalkan diriku dalam salam sapamu

Dirimu yang yang senantiasa kunanti dalam rindu

*

Untunglah anganku tak lama kembali pada kesadaran. Karena tingkah lucu mahluk kembar di depanku.

Punya ponakan kembar benar-benar berisik. Tak tahu kali kalau kakak lagi ingin kesunyian. Menikmati hati yang patah-patah, berdarah-darah.

Akhirnya aku bisa tertawa melihat mereka. Yang tak pernah habis ide untuk menggodaku. Tentu dikomandoi oleh kakak ipar yang mengetahui kejadian semalam. Tapi tak tahu babak berikutnya. Kalau aku amat menyesal melepas cincin pertunangan.

Sesampai di rumah sahabatku yang teramat besar dan juga mewah. Sejenak terlupa dengan apa yang kini ku rasa.

Kini aku sadar kalau hanya mampu berpasrah pada masa. Dan membiarkan waktu yang berbicara. Antara berpisah ataukah berjumpa.

1
LINTANG༺⬙⃟⛅
bahrul kok gk mau nikah sm nur..???
Cah Dangsambuh
jadi penasaran kan bahrul sangat merindukan nur tapi begitu ketemu kok seakan ada kemarahan,ada apa kira kira
Cah Dangsambuh
skrol skrol skrol nemu cerita bagus mampir insya allah sampai ful
Tati Suwarsih Prabowi
hahaha...bisa naik g bisa turun...
Tati Suwarsih Prabowi
Alhamdulillah...
Tati Suwarsih Prabowi
kapan akmal kembali thor...hikhikhik sedih
Tati Suwarsih Prabowi
tegannya ambil anak orang..lagian tu baby sitter g tanggung jawab!
Tati Suwarsih Prabowi
ooo jd ayahnya devra mustofa tho!
Tati Suwarsih Prabowi
hadeuuuuh yg rindu...
Tati Suwarsih Prabowi
maaf thor...naura dan ulya kan bkn bkan mahram,apalagi naura bercadar tapi knp mereka berpelukan dan pegangan tangan!
Tati Suwarsih Prabowi
misterius...sebenarnya mereka sapa;apa tujuannya?
Tati Suwarsih Prabowi
klo jadi mertua....semena2 tuh b retno julid
Tati Suwarsih Prabowi
perjodohan lagi...
MomZiee
cerita nya bagus, semangat kk
Baihaqi Sabani
naura hamidun kah????? sdngkn andre meninggal menitipkn buah hati....uuh so swety......
Baihaqi Sabani
ya allah....tega authoryaaaa😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭bru smpet bhgia dh menjnggal😭😭😭😭😭😭😭innalillahi
Baihaqi Sabani
kyy andre bkln meninggal deh.....n mau wasiat biar ulya nikah ma nur😭😭😭😭😭😭
Baihaqi Sabani
sedih thor
Baihaqi Sabani
innalillahi .......bru sbntar bhgia dh ad cobaanya.....ap jn awal kesedihan naura akias nur.....khilangan andre kah?
Baihaqi Sabani
semoga mrka samawa.......😭😭😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!