Hanya cerita fiksi
Tidak terkait dengan agama manapun
maaf jika ada yang kurang berkenan 🙏
Bella Amanda awalnya adalah gadis cantik yang begitu periang. Tapi sikapnya lambat laun berubah ketika orang-orang membandingkan dirinya dengan adiknya sendiri yang katanya lebih cantik, lebih pintar dan lebih segala-galanya.
Bukan hanya itu Bella juga harus menelan pil pahit saat suaminya dengan tega bermain belakang dengan Belinda, adiknya sendiri dan diharuskan menikah.
Sanggupkah Bella tetap bertahan dengan pernikahannya atau memilih menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon airarahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Siang
Hujan gerimis diluar sana seolah menjadi saksi bagaimana perasaan Sean saat ini. Saat selesai meeting dengan Bella tadi, Sean harus melihat Bella yang dijemput oleh Erlan. Anderson yang menyadari itu pun tidak bisa berkomentar apapun. Yang dia yakini sekarang adalah putranya sedang patah hati.
Sean pandangi hujan deras melalui jendela mobilnya. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Begitu pula sang papa. Hingga mereka akhirnya tiba di parkiran LaDe Factory.
“Apakah kamu menyukai Bella?” Anderson bertanya pada putranya.
Sean tidak menjawab dan memilih bungkam.
“Apa kepulanganmu ke Indonesia karena mendengar kabar Bella akan menikah?” Anderson tidak menyerah begitu saja. Dia tetap melayangkan pertanyaan untuk anaknya walau tidak mendapatkan jawaban.
“Iya” jawab Sean singkat dan langsung keluar dari mobil tanpa berucap apapun lagi. Itulah Sean yang sebenarnya. Ketus dan irit bicara, tapi demi Bella dia bisa menjadi orang lain.
Anderson menghela nafas panjang. Sudah sering dia diperlakukan seperti itu oleh Sean dan dia tidak bisa menyalahkan Sean sepenuhnya. Sean berubah dingin semenjak dirinya ketahuan menduakan Ibu Sean hingga jatuh sakit dan memilih bunuh diri. Tragis memang. Semenjak itu Sean menjadi trauma dan tertutup.
“Maafkan Papa Sean” kata Anderson penuh sesal. Andai saja waktu itu dia tidak berselingkuh, istrinya sekarang pasti masih hidup dan Sean tidak akan seperti ini.
Setelah mengatakan itu walau tidak didengar Sean, Anderson pun keluar dari mobil dan menyusul putranya yang sudah masuk terlebih dulu.
Anderson membenarkan jasnya sebelum masuk ke dalam kantor. Hujan sudah reda , hanya menyisakan genangan air yang menandakan bahwa tadi telah turun hujan. Sama seperti seseorang yang sedang menangis, mungkin setelah menangis sudah tidak ada air mata yang keluar, tapi tetap saja meninggalkan bengkak yang menandakan orang tersebut baru saja menangis.
Sean sudah duduk di sofa yang ada di ruangan Papanya saat Anderson masuk. Tidak ingin menambah beban pikiran Sean, Anderson pun memilih diam.
Cukup lama mereka hanya saling diam, hingga Anderson pun mendekat pada putranya dan membawa Sean dalam pelukannya. Untuk pertama kali setelah sekian lama mereka akhirnya berpelukan kembali.
“Raih masa depanmu, tunjukkan kalau kamu bisa sukses. Buat Bella bangga padamu. Kalau memang jodoh kalian pasti bisa bersama” hibur Anderson.
Sean diam saja tidak membalas ucapan papanya.
“Papa minta maaf sudah membuatmu kecewa. Maafkan Papa” ucap Anderson penuh mohon.
“Pa…” ucap Sean lirih.
Anderson melepas pelukannya dan menatap sang putra.
“Ijinkan aku menentukan pilihan hidupku sendiri, aku ingin mandiri” pinta Sean.
“Apa artinya kamu tidak mau melanjutkan perusahaan ini?” Anderson sudah bisa menebak apa maksud permintaan Sean itu.
Sean pun mengangguk.
“Papa bisa minta Leon yang mengurus perusahaan Papa” jawab Sean. Leon adalah adik tirinya. Leon bukanlah anak kandung Anderson. Beberapa tahun setelah istrinya meninggal, Anderson menikah kembali dengan seorang janda yang juga memiliki seorang putra.
“Tapi kamu anak kandung papa” ucap Anderson.
“Aku tidak ingin tante marah padaku karena anaknya tidak dapat apa-apa” jawab Sean.
Ya.. sampai sekarang dia masih enggan memanggil ibu sambungnya dengan sebutan Ibu. Dia dan Ibu tirinya memang tidak akan pernah bisa akur. Walau bukan Ibu tirinya sekarang yang menjadi selingkuhan papanya waktu itu, tapi Sean tetap tidak menyukainya.
Selain Sean yang memang tertutup, Monika (Nama Ibu tiri Sean) juga tidak berusaha mendekatkan diri dengan anak tirinya itu.
Anderson menghela nafas panjang. Untuk sekarang dia akan menuruti kemauan Sean. Dia tau rasanya ditinggalkan seperti apa jadi dia tidak akan membuat Sean semakin sakit hati.
“Baiklah, Papa tidak akan memaksamu. Tapi jika suatu saat nanti kamu ingin bergabung. Pintu perusahaan ini terbuka lebar untukmu” ucap Anderson mengalah.
“Terima kasih pa” ucap Sean.
….
Ditempat lain,
Bella dan Erlan tengah menikmati makan siang mereka. Erlan cukup terkejut karena Bella mengadakan pertemuan dengan Sean. Belum cukup kemarin dia merasa cemburu melihat kedekatan Sean dan Bella di Mall, sekarang harus melihat lagi mereka keluar dari ruangan yang sama.
“Kenapa? Makanannya tidak enak?” tanya Bella yang heran melihat Erlan hanya mengaduk-aduk makanannya.
“Iya, jadi tidak enak karena melihatmu lagi-lagi bersama dia” jawab Erlan ketus.
Bella seketika tertawa.
“Aku juga tidak tau kalau rekan bisnis papa itu dia, sayang” jelas Bella.
“Berarti kalian akan sering bertemu?” tanya Erlan cemas.
Bella menggeleng.
“Besok dia sudah kembali ke Aussie, jadi ini pertemuan terakhir kami. Lagian kak Sean sama aku gak mungkin ada apa-apalah sayang. Jangan khawatir” jawab Bella tersenyum.
“Syukurlah. Dia itu mencurigakan” ucap Erlan yang kembali mengundang tawa Bella.
“Sayang.. sayang. Ada-ada saja. Ayo makan , jam istirahat sebentar lagi selesai” ucap Bella sambil geleng-geleng kepala.
"Iya..iya.." sahut Erlan kemudian mereka melanjutkan makan siang.
"Sayang, kamu ingin tema pernikahan kita seperti apa?" tanya Erlan. Lebih baik dia memikirkan pernikahannya dari pada memikirkan hal yang tidak penting.
"Hem.." Bella nampak berpikir.
"Aku sebenarnya ingin yang sederhana saja , yang penting kan niatnya" jawab Bella.
"Mas inginnya pernikahan kita di tepi pantai, tema outdoor. Apa kamu keberatan?" Erlan mengeluarkan pendapatnya.
"Bagus juga yank. Semoga tidak musim hujan ya" jawab Bella yang setuju dengan pilihan Erlan.
"Kamu tenang saja, Mas ada plan B kalau saat itu hujan" ucap Erlan. Sepertinya dia sudah mempunyai konsep untuk pernikahan mereja.
Bella pun menganggukkan kepalanya.
Erlan kemudian teringat dengan perkataan adiknya semalam. Disana Finn seolah menyayangi Bella dan tidak ingin Erlan menyakitinya. Padahal Bella pernah berkata kalau dia dan Finn tidak dekat.
Erlan jadi bingung cara bertanya pada Bella.
"Sayang, apa selain dengan Sean. Kamu juga dekat dengan Finn di kampus?" Erlan memberanikan diri bertanya.
Bella menggeleng.
"Aku dan mas Finn tidak terlalu dekat. Tapi nanti setelah menikah aku akan berusaha dekat dengan Mas Finn dan adik-adik sayang yang lain" jawab Bella.
"Jangan..." reflek Erlan mengucapkan kata jangan dengan lantang.
Bella sampai mengernyitkan kening bingung atas respon Erlan.
"Maksud Mas biasakan saja. Finn memang begitu orangnya" ucap Erlan beralasan.
Bella pun tidak memperpanjang lagi.
Selesai makan siang, Erlan kembali mengantar Bella ke kantornya.
"Nanti mas jemput ya" ucap Erlan saat mobil sudah sampai di lobby kantor Bella.
"Iya sayang" jawab Bella tersenyum.
"Makasi ya yank untuk makan siangnya" ucap Bella.
Erlan mengangguk.
"Sama-sama" balas Erlan kemudian menghadiahi ciuman di kening Bella.
Wajah Bella sudah memerah karena Erlan tiba-tiba menciumnya.
Erlan tertawa kecil melihat expresi Bella.
"Kamu baru mas cium kening aja susah selucu ini, apalagi kalau dicium yang lain" ucap Erlan terkekeh.
"Apaan sih mas" sahut Bella malu-malu.
Bersambung...