Memiliki suami tampan, mapan, baik dan penyayang adalah impian semua wanita, tapi tidak bagi Bella.
Empat kriteria yang di idamkan para wanita justru menjadi musibah buat Bella. Nathan, pria yang ia nikahi, ia percaya, ternyata mengkhianatinya. Diam diam Nathan menikahi wanita lain di kota tempat ia bekerja. Kepulangan Nathan kembali ke rumah harusnya menjadi kabar yang membahagiakan Bella.
Namun, kenyataan berbicara lain, Nathan pulang bersama istri barunya.
Hancur? sudah pasti. Namun luka yang Bella terima tidak hanya sampai di situ. Nathan dan ibu mertua menuduh Bella telah selingkuh dan tidak mengakui darah dagingnya sendiri.
Nathan. "Dia bukan putraku!"
Greta. "Akhirnya rencana malam itu membuahkan hasil, akan kusimpan rencana besar ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu kembali
Di tepi danau seorang pria berperawakan tinggi duduk melamun memikirkan nasibnya yang semakin hari semakin tidak jelas, tidak ada keluarga di sisinya membuatnya kesepian. Namun terlepas dari semua itu adalah pilihannya sendiri.
Rafka Melvine, usianya 26 tahun. Terlahir dari keluarga berada, orang tuanya memaksa untuk mengurusi bisnis keluarganya, namun ia menolak dan memilih untuk menjalani kehidupannya sendiri. Menjalani kehidupan keras di tengah kota, hanya dengan bermodal keahliannya memainkan biola.
Kemudian ia berdiri melangkahkan kakinya dengan gontai menuju playover. Langkahnya terhenti menatap ke arah keramaian di seberang jalan. Ia melihat sosok perempuan berdiri di depan toko memegang brosur.
"Bella." gumamnya, sambil mengingat kejadian waktu di taman. Ia memutuskan untuk mengamen di sekitar playover.
Beberapa cover lagu sudah ia mainkan, saat ia memainkan instrumen miliknya, matanya menangkap sosok Bella yang terlihat kebingungan seperti mencari sesuatu.
Rafka mencoba melangkah menghampirinya, ia melihat Bella berjongkok, wajahnya sangat terlihat kebingungan. lalu Ia berdiri di hadapan Bella.
Bella mengadahkan wajahnya, sedikit terkejut melihat kedatangan Pria di hadapannya.
"Rafka!" pria itu mengulurkan tangan dan memberitahukan namanya.
Bella berdiri tanpa membalas uluran tangan Rafka, sekilas ia memperhatikan Rafka lalu beranjak pergi menjauhinya.
"Bella!" panggilnya mengekori langkah Bella. "Apa ada yang bisa aku bantu? sepertinya kau sedang mencari sesuatu." timpalnya lagi.
Bella enggan menjawab, dalam hatinya berkecamuk bertanya-tanya, kenapa? kenapa dengan istrumen yang pengamen itu mainkan? mengapa kakinya tiba-tiba saja melangkah untuk mencari asal suara. Ada apa dengan nada itu? untuk pertama kalinya Bella mendengar musik instrumen yang bisa menggetarkan hatinya.
"Bella..-?" ucapannya terpotong saat Bella berhenti dan berbalik mengarah kepadanya.
"Bisa tidak, kau tidak mengamen di sekitaran tempat ini? dan kau jangan so akrab memanggil-manggil namaku!!" Bentaknya. ini kali pertama Bella membetak laki-laki, apalagi orang yang baru ia kenal.
Setelah berbicara seperti itu, Bella berlari dan memasuki toko tempatnya bekerja. Rafka termangu, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sepertinya dia sedang dalam masalah." gumamnya, ia memutuskan untuk kembali mengamen, namun tiba-tiba saja pikirannya menjadi tidak fokus, lalu Rafka memutuskan untuk pulang.
🌺🌺🌺
Andri menghampiri Bella yang tampak melamun dengan memegang nampan di tangannya. Ia menyentuh pundak Bella, terlihat Bella sedikit terkejut dengan kehadirannya.
"Bella kamu kenapa?" tanyanya.
"Em, Andri apa kau bisa bersikap seperti biasa? berbicara seperti biasa? aku sekidit kaku untuk menyapa atau bertanya kalau kau bersikap seperti itu." ungkapnya.
Andri menghela napas, ia baru menyadari akan sikapnya yang memang berubah semenjak lamaran tempo lalu.
"Bella.. kau kenapa?" Andri mengulang pertanyaan yang sama.
Bella tersenyum mendengarnya, ia memeluk Andri dan berterima kasih karna Andri sama sekali tidak membencinya, juga tidak menjauhinya.
"Hei, sudahlah. Lupakan kejadian tempo lalu, aku yang salah, aku yang terburu-buru. Seharusnya aku menunggu sampai kau siap." ucapnya mengelus kepala Bella.
"Sekali lagi terima kasih." Bella melepaskan pelukannya. "Sahabat!" ucapnya mengulurkan jari kelingkingnya.
Andri tersenyum samar. "Baiklah." ia terpaksa membalasnya. Bersabar, mungkin suatu saat nanti Bella akan membuka pintu hatinya.
Andri kembali bersikap seperti biasa, sudah tidak ada lagi rasa canggung. canda dan tawa kembali menghiasi mereka berdua.
"Permisi!" panggil seseorang di depan sana.
"hei, kau yang tangani, aku mau ke toilet sebentar." ujar Bella, dia berlari ke belakang.
"Kebiasaan!" protes Andri, terpaksa harus melayani pembeli itu sendirian.
🌺🌺🌺
kesabaran membawa kebahagian buat bella dan kel nya
pdhl ms penasarn sm papa ny bella
smg dimas baik3 sj
oh y thor kbr ayhny bella gimn ap sudh meninggl atu msi hdup
kbr ibu margaret gimn thor
msi adlg rhasua yg blm trbingkar tgu aja